Politik Aussie:“Ujung Tombak”Kolonialisme di Papua Barat!

Perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Hanya sia-sia Lebih baik dalam NKRI-Lihatlah apa yang dialami Timor Leste kini
Perjuangan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Hanya sia-sia Lebih baik dalam NKRI-Lihatlah apa yang dialami Timor Leste kini.

 

 

FortunaMedia.com|Politik Aussie:“Ujung Tombak”Kolonialisme di Papua Barat!

Apabila kita meneliti peta kembali dan mempeta (mapping) Indonesia dari perspektif politik dan keamanan serantau, nescaya kita akan dihadapkan perspektif  ada tiga wilayah “merah” atau masuk kategori rawan, antaranya Aceh di Utara Sumatera, Maluku dan Papua(dulu dikenal dengan Irian Barat atau Irian Jaya) di bahagian Indonesia Timur Kendati ada beberapa daerah lain juga sering bergolak, tetapi bukan faktor ideology, hanya sebatas anarkhisme massa ketika demo-unjuk rasa, perselisihan etnik, dan lainnya lebih bersifat casuistry( permainan kata-kata-luahan rasa), sporadis(sekali-sekala),dan temporary(sementara)

Menyimak latar belakang ketiga daerah tadi —meskipun tidak pelik tapi benar— Dalam  mapping tersebut saya coba membahas  dalam konteks kerawanan daerah-daerah tersebut, lebih diakibatkan gejolak politik masa lalu. Ada sisa api pergolakan segolongan warga terhadap negara, maka jika diibaratkan bara dalam tumpukan jerami, ia dapat menyala kembali bila “angin” bertiup signifikan,ditambah adanya unsur-unsur dukungan bawah tanah dari kekuatan negara asing  dan sesekali akan meletus dalam ujud terorisme, konflik komunal, serta lainnya.

 

Perjuangan aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM)

Dalam membahas atau menyikapi kerawanan daerah-daerah NKRI-Negara Kesatuan RI- pada thread ini saya coba share pada pembaca setia blog ini,khusus tentang perjuangan aktivis OPM-Organisasi Papua Merdeka,yang ternyata hanya sia-sia belaka.

 

Perjuangan OPM ini bukan baru bermula ,tapi sudah sejak zaman kompeni VOC-Belanda menguras rempah-rempah didaerah Indonesia Timur ini untuk dibawa ke Netherland- Contoh tauladan terbaik adalah bagaimana  seorang pejuang bernama Nicolaas Jouwe. Lelaki kelahiran Jayapura, Papua pada 24 November 1923 ini dikenal sebagai satu-satunya orang yang mendesain bendera Bintang Kejora( kini Bendera OPM), dan  disaat mudanya  Nicolaas Jouwe telah terpedaya oleh bujuk rayu Belanda untuk melawan Indonesia. Namun, akhirnya lelaki ini menyadari kekeliruannya yang diawali dengan menyimak pidato Bung Karno pada Sidang Umum PBB berjudul “To Build the New World” pada 30 September 1960.[1]


Nicolaas Jouwe diawal-awal sikap politiknya yang membela Belanda kerana terpedaya oleh tipu-helah Belanda untuk dijadikan Presiden jika Papua merdeka, sehingga menyebabkan Nicolaas Jouwe menyadarinya bahwa pilihannya untuk tetap memperjuangkan Papua Merdeka adalah pilihan yang salah.

Menurut Nicolaas Jouwe, pelariannya ke Belanda merupakan pilihan yang patut disesali. Namun, kini saya menyadari bahwa Papua merupakan bagian integral dari NKRI. Keputusan Nicolaas : “Saya kembali ke Indonesia”. Nicolaas yakin bersama pemerintah Indonesia, ia bisa ikut membantu membangun dan menyejahterakan masyarakat dan rakyat Papua.

 

Menurut Nicolaas Jouwe, saya melihat bahwa “Perhatian pemerintah Indonesia dan kondisi politik sudah berbeda terhadap Papua. Setelah melihat sendiri perkembangan tahap demi tahap, saya akhirnya percaya bahwa Pemerintah Indonesia sangat serius memperhatikan kesejahteraan masyarakat Papua” (tertulis dalam buku karangan Nicolaas Jouwe bertajuk “Kembali ke Indonesia” : Langkah, Pemikiran dan Keinginan  pada halaman xvii).

 

Jika pemimpin Indonesia tidak corruption hasil royalty tambang emas Freeport.Maka aktivis OPM akan berdamai dan letak senjatanya-Negeri Bumi Cendrawasih  aman-damai dan sejahtera akhirnya.
Jika pemimpin Indonesia tidak corruption hasil royalty tambang emas Freeport.Maka aktivis OPM akan berdamai dan letak senjatanya-Negeri Bumi Cendrawasih aman-damai dan sejahtera akhirnya.


Penyesalan Aktivis OPM Asal Papua di Australia

AP adalah nama salah seorang aktivis asal Papua yang tergabung dalam kelompok 43 yaitu sebuah kelompok yang disponsori oleh aktivis Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Australia bernama HW, untuk meminta suaka politik ke Australia pada tahun 2006, telah dinyatakan bersalah oleh mahkamah dan dijatuhi hukuman penjara selama 6 tahun pada akhir April 2014 lalu. Sebelumnya, AP ditahan di penjara Federal Metropolitan Remain Center di Victoria dengan tuduhan kasus “perompakan yang agresif (aggressive burglary), breaking and entering (merosak dan memasuki), insiden penyerangan (incident assault), kejahatan seksual dan pencurian yang dilakukan AP pada 31 Oktober 2012 di Australia[2]


  Ketika ini, AP sedang menjalani hukuman di Kota Melbourne, Australia. AP juga memiliki track record tindak jenayah atau kejahatan yang sangat memalukan, kerana pada tahun 2009 pernah dijatuhi hukuman selama 3 tahun di Queenslands, Australia kerana melakukan pelecehan seksual terhadap dua perempuan, dan konon selama dalam penjara, AP diperlakukan dengan baik dan mendapatkan bantuan hukum yang cukup dari peguamnya, namun ada keinginan AP untuk berkomunikasi dengan kedua ibubapanya di Merauke, Papua tapi belum dapat terlaksana disebabkan  kedua ibubapa AP tidak memiliki alat komunikasi.

Dari kasus ini yang terpenting dan perlu menjadi tauladan dan pelajaran bagi para pemuda, mahasiswa dan pelajar di Papua dan Papua Barat, adalah munculnya pengakuan penyesalan dari AP yang telah datang ke Australia, kerana merasa telah dibohongi oleh HW-tokoh OPM di Australia, HW yang sebelumnya memberikan janji-janji muluk atau rayuan kepada AP untuk mau datang ke Australia, kerana akan memberikan biaya kuliah AP di Australia, namun janji HW tersebut tidak pernah direalisasikan terhadap AP yang menyebabkan AP sebelum terkena kasus hukum sempat menjadi buruh atau pekerja kasar di Australia.

Menurut AP, kepergiannya ke Australia untuk meminta suaka bukan kerana adanya ancaman dari Pemerintah Indonesia, namun kerana tertipu oleh tokoh OPM yang ada di Australia, dan tidak menutup kemungkinan banyak aktivis-aktivis Papua lainnya yang tertipu bujuk rayu aktivis oportunis OPM di Australia ataupun beberapa negara lainnya.

Terbukti kini bahwa pihak asing Amerika dan sekutunya -Belanda dan khusus Australia hanya akan  menjajah Papua untuk membolot hasil buminya.Dengan kedok-topeng HAM konon Indonesia menindas rakyat Papua.

Lihatlah apa yang terjadi dengan Timur Leste -segala janji negara Australia dan sekutunya untuk membebaskan Timor Timur dari kemiskinan.Namun harta kekayaan bumi Timur Leste dirompak habis oleh Australia.baik soal pembahagian peratus royalty minyak yang tidak adil bagi rakyat Timur Timor.


 Sewaktu Timor Leste dekade 2009-an dulu, pasca berpisah dengan NKRI, rakyat kalangan bawah bukannya bertambah baik tetapi dalam banyak hal justru semakin terpuruk. Kita mengira, kondisi ini hanya dirasakan oleh rakyat bawahan, sedang elitnya berpesta pora. Ketika survey non formal menginjak ke kalangan golongan elit, ternyata sama saja. semua rakyatnya jadi negara termiskin di Asia Tenggara .
Anekdotnya: jika bergabung dengan Indonesia masih fifty-fifty, sepinggan makan berdua; dengan penjajah Portugis dahulu diambil sepinggannya; dengan Aussie-Australia lebih parah lagi, diambil semua serak-rak pinggannya![3]

Yang lebih menyedihkan lagi dari kasus AP diatas ini,adalah meskipun AP tercatat sebagai anggota kelompok 43 asal Papua yang berada di Melbourne, Australia, namun sampai saat ini belum ada satupun anggota kelompok 43 termasuk yang bernama-AW yang merupakan pentolan(frontman) kelompok 43 belum pernah mengunjunginya.


  Semoga AP sekarang ini semakin menyadari bahwa dirinya telah menjadi “korban propaganda” pihak OPM khususnya yang ada di Australia melalui tokoh OPM, HW dan AW serta mereka yang tergabung dalam kelompok 43. Dan, mungkin juga AP menyesali sehingga akan menyarankan kepada para pemuda, pelajar dan mahasiswa di Papua atau Papua Barat untuk tidak terjerat bujuk rayu OPM dalam rangka melawan pemerintah pusat Indonesia, kerana tidak menutup kemungkinan, aktivis-aktivis yang tergabung dalam OPM ataupun “sayap politiknya” terus radikal kerana belum merasa tertipu” oleh mentornya ataupun sponsornya, namun kelak jika mereka tertipu maka pintu penyesalan akan merugikannya.

Dari kasus AP ini adalah pelajaran pentingnya yaitu kepergian kelompok 43 asal Papua yang mencari suaka ke Australia bukan kerana mereka terancam keselamatannya di Papua atau Papua Barat, juga bukan kerana adanya ancaman dari pemerintah ataupun alat negara lainnya, melainkan AP selama ini telah “termakan” oleh propaganda-kempen hitam kelompok OPM di Papua ataupun di luar Papua.

Sabtu 17 Rejab 1435 / 17 Mei 2014
________________

Pustaka;

[1/2] Dyah Catherine Diana“Penyesalan Aktifis Asal Papua di Australia”/TGR.COM
[3] M Arief Pranoto, Research Associate Global Future Institute (GFI)/TGR.COM

Author by Wilhelmina.tumblr.com/    

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s