PTFreeportIndonesia:Emperium Penjajah Neo-Kolonialisme

Penggerudian  tambang Grasberg di Papua,Indonesia Timur

FortunaMedia.com|PTFreeportIndonesia:Emperium Penjajah Neo-Kolonialisme

PT Freeport Indonesia adalah satu-satunya perusahaan korporat penjajah yang masih eksis dan terjaga di tanah Bumi Cendrawasih-Papua Barat, Indonesia Timur. Neo kolonialisme adalah gelaran yang sangat tepat untuk menggambarkan korporat  pelombong emas terbesar di Indonesia ini. Bahkan penggerudian  tambang Grasberg, merupakan tambang emas terbesar di dunia dan tambang tembaga ketiga terbesar di dunia, tidak hanya mengeruk tanah tetapi juga menghakis kemerdekaan rakyat Papua. Akan tetapi apakah ada perbedaan antara Neo Kolonialisme dan Kolonialisme-Imperalialisme ?

 

Jika kita melihat kembali  sejarah bangsa Indonesia, kita pasti sangat ingat dengan Emperium -Kolonialisme yang dilakukan kompeni VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) syarikat perniagaan Belanda dahulu . Jika dilihat dari pola sistem penjajahan, VOC di Nusantara dapat dikatakan tidak secara langsung menjajah Indonesia, kerana VOC menjajah kita melalui para pimpinan atau  penguasa pribumi. Para pemimpin-pemimpin  pribumi inilah yang membiarkan bahkan menjaga agar VOC dapat dengan leluasa menguras rempah-rempah dari tanah Nusantara.

 

Coba bandingkan kompeni VOC yang dahulu menjajah Nusantara dan didukung oleh pemimpin  pribumi, dengan Freeport yang saat ini masih bebas mengeruk tanah Papua dan dibiarkan oleh pemerintah Negara  Kesatuan Republik Indonesia-NKRI-. Jika dilihat dari sisi ini, jelas tidak ada bedanya antara Freeport dan VOC! Keduanya adalah perusahaan korporat penjajah yang didukung oleh penguasa pribumi. Perbedaanya hanya pada masanya, VOC didukung oleh penguasa pribumi, sedangkan Freeport sekarang didukung dan dilindungi  oleh pemerintah NKRI.

 

Selain perbedaan komoditi , hanya perbedaan zaman yang membedakan antara Imperalialisme -Kolonialisme ala VOC (rempah-rempah) dan Neo-Kolonialisme ala Freeport (emas).

Akan tetapi, bukankah katanya Indonesia sudah merdeka? Mengapa masih ada Emperium  penjajah seperti Freeport yang mengeruk emas dari tanah Papua? Bukankah Irian atau Papua Barat adalah bagian dalam NKRI-Negara Kesatuan Republik Indonesia  yang sudah merdeka? Jika sudah merdeka, mengapa Papua masih dijajah oleh Freeport? Mengapa pemerintah RI membiarkan penjajahan Freeport terhadap tanah Papua?

Ironis! Sia-sia darah dan airmata perjuangan TNI-Tentara Nasional Indonesia-TRIKORA Presiden Soekarno tertumpah dibumi Papua untuk pembebasan bumi Irian Barat dari penjajahan Imperalialisme -Kolonialisme Belanda dahulunya.

 

Bukan bermaksud menuduh, tapi berdasarkan fakta yang dituangkan dalam filem pendek  dari filwm dokumentari “Alkinemokiye-2012” ada salah satu fakta yang menarik yang mengundang pertanyaan?!? Disebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, Freeport mengeluarkan dana IDR.711Billion(jutaan dolar US$)  untuk “uang keamanan” (Maaf ;sepatutnya uang ini masuk ke kantong negara) yang diberikan kepada para penguasa pemerintah NKRI. Untuk apa Freeport memberikan uang sebesar itu kepada penguasa pemerintah NKRI? Tentu saja untuk “mengamankan” penjajahan Freeport di tanah Papua!

 

Filem Dokumentar Anak-Bangsa Indonesia “Alkinemokiye2012”

Fakta lain dalam filem Alkinemokiye yang juga tidak kalah menarik adalah demo terbesar yang dilakukan buruh Freeport, pada 15 September 2011. Disebutkan 8.000 dari 22.000 pekerja Freeport Indonesia melakukan aksi mogok menuntut kenaikan gaji- upah dari US $3,5/jam menjadi US $7,5/jam. Akan tetapi bukan kenaikan gaji yang mereka dapat, malah beberapa rakan sekerja mereka yang mati ditembak oleh penembak misterius. Setidaknya sejak bulan Juli 2009 sampai dengan bulan November 2011, 11 buruh dan sub-kontraktor Freeport, mati secara misteri.

 

Film Alkinemokiye bahkan sempat dilarang diputar dalam acara “Screen Below The Wind Festival” di Ubud, Bali, pada 16 November 2012 dahulu. Pelarangan ini langsung dilakukan oleh polis dari Kepolisian Daerah  Ubud Bali , yang langsung berjaga disekitar tempat SBWFestival berlangsung. Meskipun keadaan Festival  Film Dokumentari  se-ASEAN itu sempat menjadi tegang, akhirnya acara langsung dilanjutkan dengan diskusi dengan sutradara film dokumentari Alkinemokiye, Dandhy Dwi Laksono. Mungkin kerana  kedatangan dan pencekalan-sekatan polis juga, Filem Alkinemokiye akhirnya menjadi filem dokumentari  terfavorit dalam acara SBWFest.
 
 
 
  So,kita lihat, Freeport yang sudah membayar “uang keamanan” kepada para penguasa pemerintah NKRI yang korapsi dan tiada peduli nasib anak-bangsa Papua khususnya dan rakyat Indonesia amnya, sangat khawatir dengan kebenaran dalam Filem Alkinemokiye. Sehingga filem dokumentari  Alkinemokiye, yang bercerita tentang perjuangan buruh Freeport, disekat penayangannya dalam SBWFestival.

Saksikan Video Filem ALKINEMOKIYE – FROM STRUGGLE DAWNS NEW HOPE

Pustaka:

-VivaForum.com,
-“Screen Below The Wind Festival” di Ubud, Bali, 16 November 2012.
Author by Wilhelmina.tumblr.com/

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s