#Mama Yosepha Alomang;”Perang Melawan Freeport”Emas Ditukar Nasi Bungkus

Mama Yosepha Alomang saat memberikan keterangan kepada wartawan di halaman Balai Polis Daerah Jayapura/Foto:Abeth Abraham Youth(Isnin-13/1/14)
Mama Yosepha Alomang saat memberikan keterangan kepada wartawan di halaman Balai Polis Daerah Jayapura,Papua/Foto:Abeth Abraham (Isnin-13/1/14)

FortunaMedia.com |#Mama Yosepha Alomang;”Perang Melawan Freeport”Emas Ditukar Nasi Bungkus

Nama Yosepha Alomang mungkin jarang terdengar di lingkungan kita di Malaysia. Mama Yosepha demikian panggilan mesra masyarakatnya padanya,begitu punya tempat di hati rakyat Papua. Bagaimana tidak, sudah puluhan tahun atau sejak 1974, Mama Yosepha terus berteriak lantang dan berdiri di garis depan soal kerosakan alam yang terjadi akibat keberadaan syarikat pelombong emas terbesar dunia, PT Freeport Indonesia.


Dengan penampilan wajah yang nampak keras dan tegas. Justru beliau punya kepribadian yang mulia dan lembut hati namun cukup tegas dalam setiap langkah perjuangannya.
Sesungguhnya dalam benaknya masih terukir jelas jauh sebelum syarikat pelombong tambang emas asal Amerika Syarikat itu menjajah Bumi Cendrawasih, kampungnya asri. Burung masih bernyanyi, sawah menghampar, gunung menjulang, dan ladang menghijau.

Tambang Emas Freeport di Papua
Tambang Emas Freeport di Papua

“Kami memang tidak pernah sekolah. Kami ini orang asli gunung,” kata Mama Yosepha Alomang, tokoh perempuan Papua, saat membuka perbincangan dengan wartawan “Kami orang tidak tahu hukum tapi kami punya hati.” Dia begitu kecewa sekaligus marah melihat kesewenangan PT. Freeport telah merosak tanah kelahirannya.

Dengan suara terbata-bata menahan sedih, dia menyebut keindahan masa lalu itu sebagai anugerah Tuhan buat penduduk Suku Amungme, penduduk asli di tanah Papua yang dikuasai Freeport. Kini kampungnya dikitari kerosakan alam.

“Gunung menghijau. sungai jernih hingga bisa lihat ikan dan karaka,” ujar Mama Yosepha dengan logat kental Papua . Karaka adalah sebutan orang Papua untuk ketam-kepiting asal Papua. Ukurannya besar dan bisa lebih dari satu kilogram.

Freeport hanya sebuah malapetaka bagi Indonesia,


Hingga malapetaka itu harus turun di kampungnya. Pada 1967 Freeport menjejakkan kaki di daerah Kepala Burung Papua. Berbekal izin beroperasi melombong dari pemerintah Indonesia di era Presiden Suharto memerintah,

Bergelumang dengan darah dan airmata tentara Indonesia berjuang dibawah perintah TRIKORA-Tentara RI Komando Rakyat-Presiden Soekarno ketika itu .Untuk membebaskan Irian Barat (kini Papua) dari belenggu penjajahan imperialis Belanda.

Justru malangnya disaat Suharto memerintah,beliau dengan kumpulan yang dipanggil “Mafia Berkeley” menyerahkan tanah Papua untuk dijarah hasil buminya hingga kini.Walau telah bertukar ganti beberapa presiden memerintah Indonesia.

Dan kini pihak Amerika bukan saja merompak emas di bumi Papua.malah ingin/akan merampas dan menjajah Papua dengan doktrin pembebasan Papua dari Negara Kesatuan RI-NKRI- dengan menubuhkan gerakan bawah tanah separatis-anarkis seperti kelompok NGO-Papua Merdeka atau POM dengan topeng HAM Agent-agen CIA berkeliaran di Papua bertopengkan mubaligh Kristian dan sebagainya membantu para separatis seperti yang pernah berlaku atas Timor Timur kini dipanggil Timor Leste.yang tetap menjadi negara miskin walau sudah bebas-merdeka dari NKRI.

Jangan lupa Anda baca lebih jelas disini;

Target-Amerika-Sekutu-selanjutnya-adalahPapua-Indonesia-timur/

Freeport biang bencana di Papua

Freeport mulai mengeksploitasi emas di Papua. Bersamaan dengan itu hak-hak rakyat Papua perlahan menghilang. Mereka terusir dari tanah kelahiran lantaran kilauan emas.

Gunung tidak lagi hijau dan hutan tak lagi lebat. Bahkan hilang. Tanah tidak lagi subur. Ikan dan karaka mulai jarang. Mama Yosepha menyebut bencana itu lantaran keberadaan Freeport. “Kalau tanam sayuran daunnya semua kuning,” tuturnya. Hilangnya kesuburan di Papua terasa sejak tahun 1976.

Melihat kondisi memprihatinkan, Mama Yosepha tergerak bersuara. Pada 1974 dia mulai lantang melawan PT Freeport dan menuntut pertanggungjawaban atas kerosakan alam. Apalagi, penduduk di sekitar PT Freeport kelaparan, termasuk merenggut nyawa anaknya berusia tiga tahun. “Kerana Freeport merosak alam, air bersih susah diperolehi dan rumput semua mati.”

Demi memperbaiki ekonomi, Mama Yosepha mendirikan koperasi swadaya untuk warga masyarakatnya. Dia lakukan bersama dengan wanita-wanita lain atas bantuan pihak gereja. Tujuannya memasarkan hasil bumi berupa sayuran. Hasil pertanian itu tidak disambut baik PT Freeport. Syarikat lanun itu malah mendatangkan sayur dari luar Papua.Akhirnya, Mama Yosepha berdemontrasi dengan merosak sayuran dan buah import itu.

PT Freeport setuju pada mulanya  membeli sayuran dan buah hasil pribumi. Namun mereka mengingkari perjanjian itu. Mama Yosepha berhadapan dengan tentara upahan. Tapi dia tidak mundur barang selangkah. Perjuangannya membuahkan hasil. Pada 1981 syarikat pelombong emas terbesar sejagat itu mau membeli hasil pertanian orang Papua.

Mama Yosepha tak puas sampai di situ. Lantaran kerosakan alam dan kesulitan hidup terus menggerogoti(undermine/menyiksa), dia berunjuk rasa di Bandar Udara(Bandara-Airport) Timika menentang kedatangan Freeport. Dia bersama warga Papua membakar ujung landasan bandara selama tiga hari.

Akibatnya, pada 1994, Mama Yosepha ditangkap dengan tudingan menolong tokoh Organisasi Papua Merdeka. Dia dimasukkan dalam tempat pembuangan kotoran manusia. Hukuman itu tidak mampu membungkam Mama Yosepha.

Dua tahun kemudian Mama Yosepha menuntut ganti rugi atas kerosakan lingkungan kepada PT Freeport McMoran Copper & Gold di Amerika Syarikat selama mereka beroperasi. Gugatannya dikabulkan pada 2001 bersamaan dengan dia mendapatkan anugerah Goldman Environmental Prize. Mama Yosepha memperoleh US$ 248 ribu. Uang itu kemudian digunakan untuk membangun perumahan bernama Kompleks Yosepha Alomang’.

Dari fulus hadiah Yap Thiam Hien pada 1999, Mama Yosepha membentuk Yayasan Hak Asasi Manusia Antikekerasan. “Saya akan terus berjuang untuk Papua. Saya tidak takut dengan negara, tentara upahan, dan PT Freeport.” katanya lantang.

Jumaat 16 Rejab 1435 / 16 Mei 2014
____________________

Demikianlah siri pertama dari beberapa episod yang akan saya tampilkan,tentang perjuangan seorang tokoh perempuan Papua,Indonesia Timur.

“Kami memang tidak pernah sekolah. Kami ini orang asli gunung,Kami orang tidak tahu hukum tapi kami punya hati.” memetik kata-kata Mama Yosepha Alomang,

Sengaja saya jadikan thread ini beberapa siri agar tak membosankan Anda pengunjung blog ini kerana terlalu panjang.

Terimakasih.
_______________

Pustaka;

merdeka.com/pelbagai sumber.
Author by Wilhelmina.tumblr.com/

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s