Siapa Wie Jo Koh alias Jokowi?,Boneka Asing dan Aseng

Wie Jo Koh alias Jokowi
Wie Jo Koh alias Jokowi

FortunaMedia.com|Siapa Wie Jo Koh alias Jokowi?,Boneka Asing dan Aseng

Pencitraan besar-besaran imej baik-santun dan merakyat calon presiden RI-2014 oleh media-media cetak seperti Kompas,Tempo dan lainnya serta  media TV-swasta yang dikuasai pemodal Cukong Cina Tartar Indonesia.
Maka  banyak yang menyangkal keabsahan Jokowi antek-boneka Asing dan A Seng, terlebih lagi Jokowi ternyata anak Cina, lalu apa kata Sri Bintang Pamungkas?

Beberapa bulan sebelumnya Dr.Ir. Sri Bintang Pamungkas telah mendedahkan adanya konspirasi kolaborasi antara Gerakan Gereja Kharismatik dan kelompok konglomerat Cina di Indonesia dengan sokongan Amerika, Israel, dan Eropah, bertujuan melakukan penguasaan kedaulatan politik atas Indonesia, dan  menjadikan INDONESIA negeri Kristian.

Artikel bersangkutan Anda baca disini;
Gereja-Kharismatik-dan-Gerakan-Politik-Cina-menguasai-Indonesia/

Kelompok Tartar

Menurut politisi kawakan yang pernah keluar masuk penjara di era regim Orde Baru, Dr Ir Sri Bintang Pamungkas, sebagaimana pernah dimuat di Suara Islam edisi 174, di Indonesia terdapat tiga kelompok etnik Cina.
Pertama, adalah mereka yang masih berkiblat kepada pemerintah RRC-Republik Rakyat Cina.
Kedua, adalah mereka yang berkiblat pada pemerintah dan hukum Indonesia dan sepenuh hati lsetia kepada Republik Indonesia.
Ketiga, kelompok Cina Perantauan atau Hoakiauw.

Kelompok Hoakiauw inilah yang terbesar dan mereka hanya menjadikan Indonesia sebagai tempat mencari hidup saja, mereka berlaku seolah-olah Indonesia miliknya, tetapi kekuasaan, hukum dan lain-lain adalah mereka yang punya; singkatnya, hidup mereka seperti benalu.

Hanya saja, mereka punya akar-akar seperti pohon beringin yang menjadikan mereka bisa hidup abadi, meskipun Bumiputra/Pribumi Indonesia mati.Di seluruh dunia, sikap hidup para Tartaris adalah seperti itu; tetapi hanya Indonesia yang dengan mudah ditaklukkan, di samping yang sudah lebih dulu. Kelompok Tartar ini mau menjadikan Indonesia seperti Singapura.

Ketika pujukan untuk pindah ke Jakarta menjadi Gubernur DKI-Daerah Khusus Ibukota-Jakarta itu termakan untuk selanjutnya diperdaya menjadi calon presiden-capres, itulah saatnya Jokowi mulai diperangkap oleh kelompok Tartar itu.

Padahal kejahatan kelompok Tartar, sudah terdeteksi sejak awal 1970-an, dimana mereka para kelompok Cina yang berusaha menguasai Nusantara. Mereka pulalah yang mempengaruhi Jokowi untuk hijrah ke Jakarta dan menjadi capres.

Menurut Sri Bintang, kelompok Tartar ini menjadi kuat setelah bergabung dengan kelompok Gereja Nasrani Kharismatik; atau sebaliknya. Para pendukungnya, antara lain, adalah dari kelompok Lippo Grup dan Ciputra; dan masih banyak lagi yang bisa disebut.

Dan di belakang mereka adalah pemikir dan pemain legendaries di era Orba bahkan sampai sekarang seperti CSIS.(Center Strategic  International Studies), sebagai ‘thin-than’  Merekalah yang berusaha membelokkan Republik Indonesia dari cita-cita Proklamasi 1945.

Dalam sejarahnya, menurut Sri Bintang, keinginan untuk menguasai Nusantara dari para Tartaris ini sudah mulai ada sejak abad ke 5 atau 6 Masehi.

Istilah Tartar mulai muncul ketika pada akhir 1100-an dan awal 1200-an, ketika orang-orang Mongol membangun dinasti di Daratan Cina. Mereka mengikuti gerakan sebelumnya untuk menguasai Nusantara yang kaya dan makmur.

Banyak ekspedisi perang mereka yang dikirim ke Nusantara, termasuk semasa kejayaan Kerajaan Singosari dan Kerajaan Majapahit. Tetapi mereka selalu dikalahkan. Tentara Tartar yang dihancurkan oleh Raden Wijaya, pendiri Majapahit itu, adalah tentara gabungan antara orang-orang Cina dan Mongol. Mereka berjiwa penjajah dan berperilaku kejam sekali.

Namun kemudian pada abad-abad berikutnya, mereka mulai bermigrasi ke Nusantara secara besar-besaran, bebas dan tidak ketara, sesudah jatuhnya Kerajaan Majapahit dan muncullah Kasultanan-Kasultanan Islam; serta bersamaan dengan masuknya para penjajah Barat seperti Portugis, British dan Belanda.

Nafsu bangsa Cina Hoakiauw untuk menguasai Nusantara atau Indonesia itu hidup terus sejak zaman Belanda hingga sekarang. Rosaknya regim-regim penguasa, dimulai dari Soeharto sampai SBY sekarang, yang justru memberikan peluang bagi terwujudnya nafsu penjajahan oleh para Tartaris itu.

Memang diakui, tidak semua orang Cina di Indonesia mempunyai jiwa Tartarisme seperti itu; tetapi jumlah mereka sedikit sekali. Terlebih-lebih, ketika para Tartaris itu bergabung dengan kelompok non-Muslim, khususnya, kaum Nasrani, yang juga sudah masuk ke Indonesia sejak para penjajah Barat masuk Indonesia.

Lebih khusus lagi ketika masuk pada awal 70-an juga, kelompok Nasrani Kharismatik. Kelompok ini berasal dari Orde Pentecosta di Israel, mulai berkembang di United Kingdom, lalu Amerika Syarikat, bahkan diterima oleh Vatikan di samping kelompok Katholik Roma.

Mereka masuk ke Indonesia melalui Timor-Timur kemudian Surabaya.Mereka membangun jaringan besar dan luas di seluruh Indonesia, terutama Jawa, dengan dana luar biasa besarnya.


Kuasa A Seng dan Asing

Banyak rakyat Indonesia yang belum mengetahui, dibalik sikap Jokowi yang kelihatannya merakyat dan selalu memakai baju putih itu, sesungguhnya dia sejak sebelum menjadi Datuk bandar(Walikota) Solo (2005) adalah antek ASeng (Cina Hoakiauw/Cina Perantauan).

Jokowi (Joko Widodo) sesungguhnya masih keturunan Cina asli dari Solo,Jawa Tengah sebab ayah kandungnya adalah Oey Hong Liong dan ibunya Sudjiatmi, perempuan asli Jawa. Bahkan Jokowi memiliki nama asli Cina, Wie Jo Koh dan leluhur Jokowi yang pertama kali datang ke Indonesia pada zaman Belanda bernama Wie Jok Nyam.

Hal itu menunjukkan Jokowi keturunan Cina bermarga-suku Wie, dimana leluhurnya berasal dari daratan Cina. Maka tidaklah menghairankan jika dibelakang Jokowi selalu berdiri tokoh-tokoh konglomerat hitam Cina demi membantu Jokowi agar berhasil merebut kerusi Walikota Solo, kerusi Gubernur DKI Jakarta dan akhirnya nanti tahta RI-1.

Ketika mencalonkan jadi Walikota Solo berpasangan dengan FX Hadi Rudyatmo (Ketua PDIP Solo) tahun 2005, Jokowi didukung habis-habisan dengan pendanaan dari Lukminto, seorang Cina Solo pemilik kilang tekstil terbesar di Indonesia bahkan produknya telah mendunia kerana dipakai sebagai seragam pasukan NATO, PT Sri Rejeki Isman Textile (PT Sritex) yang memiliki kilang  besar di Sukoharjo.Jawa Tengah.

Tidak hanya Lukminto, tetapi para bos Cina lainnya di Solo seperti bos PT Konimex juga ikut mendukung pendanaan untuk kedua pasangan calon Walikota dan Timbalan Walikota tersebut. Sebab sebelum menjadi Ketua PDIP(Parti Demokrasi Indonesia Perjuangan) Solo, Rudy adalah Ketua Persatuan Buruh PT Konimex yang dikenal perusahaan yang memproduksi obat-obatan jenama Konimex tersebut. Akhirnya Jokowi-Rudy berhasil menang pada Pilkada 2005 dan dilanjutkan pada Pilkada 2010.(Pilihan Ketua Daerah)

Demikian pula pada Pilgub(Pilihan Gubenor) DKI-Jakarta tahun 2012 lalu, pasangan Jokowi-Ahok didukung dana triliunan rupiah dari para Cina Hoakiauw dan konglomerat hitam seperti James Riyadi dan Antony Salim, anak konglomerat hitam pendiri Lippo Group Muchtar Riyadi, dan Liem Swie Liong pendiri Salim Group dan BCA(Bank Central Asia).

Padahal Muchtar Riyadi dan Liem Swie Liong serta Syamsul Nursalim dan para Cina Hoakiauw lainnya dikenal sebagai “Para Perompak BLBI”(Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) tahun 1998 lalu yang mencapai jumlah total IDR 660 triliun.

Namun sayangnya, mereka justru “dimaafkan” oleh Presiden Megawati ketika berkuasa 2001-2004 lalu, meski baru mengembalikan 30 peratus hasil jarahannya bahkan ada yang baru mengembalikan 10 peratus saja.

Sekarang yang menanggung pembayaran hutang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) tersebut adalah rakyat Indonesia diangsur melalui Bajet Negara-APBN setiap tahunnya dan itu belum tentu akan lunas hingga 50 tahun mendatang. Sedangkan para anak konglomerat hitam seperti James Riyadi dan Antony Salim sekarang justri berdiri dibelakang Jokowi untuk mengincar kekuasaan dan kembali menjarah negeri ini jika kelak Jokowi akhirnya terpilih menjadi Presiden RI.

Kalau pada Pilgub DKI Jakarta para konglomerat hitam itu telah mencurahkan dana hasil rompakan BLBI puluhan triliun rupiah dan akhirnya berhasil mendudukkan Jokowi-Ahok di kerusi Gubernur dan Timbalan Gobernor Jakarta, maka pada Pilihan presiden(Pilpres) nanti diperkirakan mereka akan mencurahkan  dana ratusan triliun rupiah demi mendudukkan Jokowi di kerusi RI-1 dan mereka menginginkan RI-2 berasal dari tokoh Kristian atau Katolik.

Dana sebesar itu akan disokong para konglomerat hitam di dalam negeri dan luar negeri terutama pada Hoakiauw di Asia Tenggara, dimana mereka sekarang sering mengadakan pertemuan di Singapura. Jadi sesungguhnya masa depan Indonesia sedang ditentukan dari Singapura jika Jokowi sampai berhasil menguasai Istana Negara.

Tidak hanya menjadi antek-boneka aseng, ternyata Jokowi juga menjadi antek asing terutama AS. Terbukti awal 2012 lalu sebelum Jokowi maju untuk pencalonan Gubernur DKI, Dubes AS Scott A Marciel sempat berkunjung ke Solo dan bertemu Jokowi. Diduga keduanya bertemu untuk membicarakan pencalonan Jokowi guna merebut kerusi DKI-1.

Bahkan akhir bulan lalu Jokowi bersama Megawati bertemu dengan para Duta besar negara-negara Barat termasuk AS dan Vatikan di sebuah rumah pengusaha Cina anggota jaringan Yahudi Internasional di Jakarta. Pertemuan yang sesungguhnya rahasia tersebut ternyata berhasil dicium insan media, namun Jokowi tetap tidak mau menyebutkan apa isi pembicaraan antara dirinya dengan para Dubes negara-negara Barat dan Vatikan tersebut.

Namun liciknya Jokowi, untuk meredam kecurigaan umat Islam kalau dirinya sebenarnya antek Asing dan ASeng, Jokowi awal bulan ini sengaja mengunjungi para tokoh Islam dari kalangan NGO-Muhammadiyah dan NGO-NU yang kemudian dilanjutkan dengan mengadakan pertemuan dengan para Dubes negara-negara Timur Tengah di Jakarta.

Hal itu dimaksudkan untuk mengelabui umat Islam Indonesia sekaligus pada Pilpres nanti agar memilih Jokowi, jadi sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.

Dengan demikian sesungguhnya jika Jokowi terpilih menjadi Presiden RI pada Pilpres 9 June nanti, maka akan menjadi momentum untuk mengubah Indonesia menjadi Singapura kedua atau menjadi Indonesia negara satelit RRC-Republik Rakyat Cina.

Pasalnya, kelompok konglomerat hitam Hoakiauw yang menjadi geng Jokowi saat ini sudah menguasai 70 peratus  perekonomoan Indonesia, jika nanti dia berkuasa praktis akan menguasai politik nasional. Jika politik dan ekonomi sudah dikuasai satu kelompok mafia Hoakiaow, maka pertanda akan tamatlah NKRI-Negara Kesatuan RI- dan kemunduran besar bagi umat Islam Indonesia yang saat ini majoriti mutlak hanya 88 peratus.

Dapat dipastikan para konglomerat hitam geng Hoakiauw yang berkolaborasi dengan Kristian dan Katolik Fundamentalis itu akan berusaha keras sekuat daya dan tenaga untuk mengkristiankan dan mengkatolikkan umat Islam Indonesia, yang dulu selalu gagal dilancarkan penjajah Belanda meski mereka berkuasa selama 350 tahun atas Nusantara.

Sebab sesungguhnya mereka telah menunggu 1.000 tahun sejak Kerajaan Singosari, sekarang mereka berfikir sementara Wie Jo Koh sedang berkuasa di Indonesia,bila lagi waktunya kalau tidak sekarang untuk menguasai Nusantara sekaligus mengkristiankan umat Islam sehingga menjadikan Indonesia Negara Kristian Republik Indonesia (NKRI). Naudzubillah min dzalik.

Jumaat 9 Rejab 1435 / 9 Mei 2014
____________________________

Written by Abdul Halim/VOA-Islam
Editor by Wilhelmina.tumblr.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s