Mengungkap Kejahatan Jepun Perang Dunia II,Inspirasi Perjuangan Advocates Ianfu Indonesia(Bag;01)

FortunaMedia.com|Mengungkap Kejahatan Jepun pada Perang Dunia II,Inspirasi Perjuangan para Advocates Ianfu Indonesia(Bag;01)

Rencana pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe untuk merevisi (semakan) pasal-9 perlembagaan Jepun,sehingga memungkinkan Angkatan Bersenjata dan postur pertahanan negaranya bisa lebih agresif, tidak sekadar sebagai pasukan bela diri seperti yang ada sekarang(1)

 

Kekhawatiran tersebut nampaknya tidak terlalu berlebihan. Kantor berita rasmi Korea Utara KCNA dalam tajuk rencananya beberapa waktu yang lalu mengecam Perdana Menteri Abe sebagai wujud kemunculan Adolf Hitler Asia.


Chinese and Malayan girls forcibly taken from Penang by the Japanese to work as ‘comfort girls’ for the troops/Photo by wikipedia.org
[2]

Tak diragukan  lagi sikap politik kantor berita KCNA tersebut mencerminkan kegusaran pemerintahan Korea Utara menyusul rencana pemerintahan Abe untuk membangun kembali angkatan bersenjata Jepun berskala besar dengan dalih untuk menciptakan Stabilitas Regional.

 

Indikasi pemerintahan Abe yang nampaknya akan semakin berkiblat ke kanan juga disuarakan oleh radio suara Jerman Deutsche Welle. Dengan mengutip pakar pengkajian Asia di Hamburg Patrick Kollner, menggambarkan Abe sebagai “hardliner” alias penganut haluan politik garis keras yang konservatif. Kerana Abe merupakan pengasas dirobahnya sebutan “kekuatan pertahanan” menjadi angkatan bersenjata. Dan melalui clause ;pasal-9 perlembagaan, Abe mendesak agar angkatan bersenjata Jepun diberi kuasa untuk membalas tembakan ketika Jepun ikut serta dalam misi PBB.

 

Masuk akal jika kemudian Abe dicap berbagai kalangan di dalam dan luar negeri Jepun, sebagai sosok yang menginspirasi kebangkitan semangat nasionalisme Jepun ala Perang Dunia II. Kerana dalam berbagai pernyataannya selalu menggunakan wacana atau slogan-slogan yang identik dengan Jepun sewaktu menganut fahaman fasisme pada era Perang Dunia II.


Menyusul semakin memanasnya bantahan Korea Utara atas rencana pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe tersebut.Republik Rakyat China-RRC yang memang telah lama ada konflik  perbatasan antara Cina-Jepun.Secara tiba-tiba Cina mempublikasikan 39 catatan rahasia kejahatan Jepun pada Perang Dunia II. Tak tanggung-tanggung lagi ini merupakan konfrontasi terbuka Cina terhadap Jepun.

Studio portrait of Jan Ruff O’Herne, taken shortly before she, her mother and sisters, as well as thousands of other Dutch women and children were interned by the Japanese Imperial Army in Ambarawa. Over the following months, O’Herne, along with six other Dutch women, were repeatedly raped, day and night, by Japanese military personnel/PHOTO by wikipedia.org

Betapa tidak. Menteri Luar Negeri Cina mengundang 20 koresponden asing ke gedung arsip di Provinsi Jilin Utara RRC. Bisa dipastikan manuver Menteri Luar Negeri Cina tersebut akan mencetus kegusaran pemerintahan Jepun di bawah pimpinan Shinzo Abe.

Apatah lagi dalam pernyataannya Mac lalu, Abe telah menegaskan dirinya tidak akan meminta maaf atas apa yang dipandang oleh beberapa negara eks koloni Jepun di Asia sebagai kejahatan perang. Termasuk kejahatan perang tentara Jepun dalam memaksa wanita Asia untuk jadi “hamba seksual” di markas militer Jepun.

Padahal, Cina dan Korea Selatan secara tegas telah menuding Jepun berusaha mengubah catatan sejarah kelam negara Sakura tersebut ketika menjajah beberapa negara Asia. Setidaknya, sekitar 200 ribu perempuan, sebagian besar Korea, telah dipaksa menjadi “hamba seksual” tentara Kerajaan Jepun pada tahun 1930-an dan 1940-an.

Maka itu, manuver pemerintah Cina mempublikasikan 39 catatan rahasia kejahatan Jepun, termasuk sepak-terajang anggota polis militer Jepun di Kwangtung pada 1930-an dan 1940-an, seharusnya bisa menginspirasi elemen-elemen masyarakat di Indonesia,Malaysia, Singapura,Myanmar.dll,khususnya para advokates Ianfu, untuk melakukan beberapa langkah strategik untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah Jepun atas kejahatan-kejahatan perangnya sewaktu menjajah Indonesia dan negara Asean lainnya antara 1942-1945.

Bisa dipastikan bahwa terungkapnya 39 dokumen catatan rahasia kejahatan perang Jepun di Cina, termasuk di dalamnya kebijakan kerja paksa (Romusha) yang diterapkan pmerintah Fasisme Jepun terhadap sekitar 38.900 orang awam  Cina. Menurut catatan, diperkirakan 6800 orang maut akibat kondisi buruk di tambang dan kilang-kilang, kerana dipaksa tentara Jepun untuk menjaga alat perang agar tetap berfungsi.

Meskipun pemerintah Jepun menolak tuntutan pemerintah Cina dengan alasan bahwa Cina tidak berhak lagi mengklaim kompensasi(pampasan) ketika Cina dan Jepun sudah menormalisasi  hubungan diplomatiknya pada 1972, namun isu Ianfu sebagai bagian integral dari kejahatan perang tentara Jepun tetap menjadi sorotan publik dunia antarabangsa, termasuk di kalangan masyarakat Jepun itu sendiri.

Salah satu argument atau hujah yang dijadikan dasar pemerintah Jepun untuk mengelak dari tanggungjawab adalah tidak mengakui hak individu ketika Perjanjian hubungan dua hala dengan negara korban sudah disepakati. Begitulah argument  pihak Jepun  kepada Cina dan Korea. Namun pengadilan di Korea telah menolak logika Perjanjian hubungan dua hala sebagai dalih untuk mengelak dari tanggungjawab terhadap sepak-terajangnya di masa lalu.

Sekilas Perjuangan Para Advocates Ianfu Indonesia

Mari kita mulai dengan press release yang disampaikan oleh para aktivis yang tergabung dalam Jaringan Advokasi Jugun Ianfui Indonesia (JAJI) pada 2006. Dalam sidang medianya, mereka menekankan bahwa dengan terkuaknya masalah Jugun Ianfu (hamba seks jaman Jepun) di Indonesia tahun 1993, belum ada pengakuan secara rasmi dari Pemerintah Indonesia mengenai nasib dan dukungan terhadap perjuangan Jugun Ianfu Indonesia untuk memperoleh Hak Asasi Manusia-nya.

Sampai sekarang nasib Jugun Ianfu hanya diperjuangkan oleh segelitir masyarakat sivil dan lembaga NGO(Organisasi non pemerintah)  di dalam negeri maupun luar negeri untuk menuntut tanggung jawab Pemerintah Jepun atas sistem perhambaan seksual di seluruh wilayah Asia selama perang Asia Pasifik. Tentunya juga termasuk nasib para wanita Indonesia yang jadi korban Ianfu pada waktu itu.

Dari hasil studi seorang wartawati Belanda yang gigih Hilde Janssen dan fotografer Jan Banning ketika  berkeliling Indonesia untuk bertemu para mantan “jugun ianfu yang masih hidup(survivors), terungkap betapa kejahatan perang Jepun yang satu ini, memang nyata adanya. Penemuan  mereka berdua ini kemudian didokumentasikan dalam sebuah buku bertajuk Schaamte en Onschuld. Het verdrongen oorlogsverleden van troostmeisjes in Indonesië” oleh Hilde Janssen dan Jan Banning.

Bersambung,

Rabu 29 Jamadilakhir 1435 / 20 April 2014
___________________________

Tulisan ini berupa artikel analisis dan akan bersambung diartikel berkelanjutan,

dan thread ini dipostkan terdiri beberapa bagian yang belum ditentukan,kerana mengikut perkembangan semasa situasi politik dirantau ini.dan juga untuk tidak membosankan Anda untuk membacanya kerana terlalu panjang.Terimakasih kerana telah membacanya,
____________________________

Rujukan Pustaka:

[1] Hendrajit (Ed.), Japanese Militarism and its War Crimes in Asia Pacific Region (Jakarta: Global Future Institute, 2010).
[2] http://en.wikipedia.org/wiki/Comfort_women

ibid,

Written by Wilhelmina.tumblr.com/

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s