Mafia Fundamentalis Katolik di Lingkaran Jokowi,

FortunaMedia.com |Mafia Fundamentalis Katolik di Lingkaran Jokowi,

 

Tentu banyak yang terkejut ketika Jacob Soetoyo bisa mempertemukan beberapa duta besar negara-negara ‘hiu’ dengan Jokowi dan Megawati. Siapa sebenarnya Jacob Soetoyo?

 

Jokowi

Jacob Soetoyo/Klik baca;Jacob-Soetoyo-AnggotaTrilateral-Commission-Asia-Pasifikbag-2/

Jacob memang lebih dikenal sebagai pengusaha. Tapi, dalam konteks menjadi fasilitator pertemuan Jokowi-Mega dengan para duta-duta besar tersebut, tentu kapasitinya sebagai bagian dari CSIS [Centre for Strategic and International Studies-Indonesia]. Sudah banyak yang tahu bahwa CSIS merupakan lembaga pemikir Orde Baru yang memberikan input strategi ekonomi dan politik pada Soeharto. Tapi, yang belum banyak diketahui adalah hubungan CSIS dengan organisasi fundamentalis Katolik bernama Kasebul [kaderisasi sebulan] yang didirikan oleh Pater Beek, SJ. Tentang apa dan bagaimana Kasebul itu nanti saya akan tulis thread lain,

Pada awalnya, Kasebul didirikan untuk memerangi komunisme. Setelah komunisme [PKI] dihancurkan oleh Soeharto, tujuan Kasebul beralih melawan dominasi Islam. Pater Beek, seorang rohaniawan Jesuit kelahiran Belanda, melihat bahwa setelah komunis tumpas ada lesser evil [setan kecil], yaitu: Islam. Untuk menghancurkan setan kecil tersebut, Pater Beek menganjurkan kaum fundamentalis Katolik dalam Kasebul bekerjasama  dengan para militer Angkatan Darat.

 

 
Selain itu, guna menghadapi ancaman Islam perlu dibentuk lembaga pemikir yang bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah. Maka kemudian dibentuklah CSIS. Pater Beek mempunyai pemikiran sebagaimana diungkapkan Ricard Tanter:
 

“Visi [Pater] Beek pribadi atas peran Gereja, Gereja harus berperanan dalam mengatur negara kemudian memperuntukkan  orang-orang yang tepat untuk bekerja di dalam dan melalui negara.”[1]

Atas visi tersebut maka tugas dibebankan pada CSIS. Lembaga ini menurut Daniel Dhakidae merupakan penggabungan antara politisi dan cendekiawan Katolik dengan Militer Angkatan Darat. Lembaga inilah yang kemudian membekalkan dan menjaga agar Orde Baru menerapkan negara organik versi gereja pra konsili Vatikan II.[2]

 

Siapa tokoh pendiri CSIS?

Siapa tokoh atau sosok yang berperan dalam pendirian CSIS? Sosok tersebut adalah Ali Moertopo. Selama ini dikenal sebagai orang kepercayaan Soeharto, tapi kedekatannya dengan Pater Beek belum banyak terungkap  Ali pertamakali bekerjasama dengan Pater Beek dalam operasi pembebasan Irian Barat [kini;Papua]. Berdasarkan catatan Ken Comboy, saat itu tugas Ali Moertopo sebagai perwira intelijen.[3] Pada saat yang bersamaan, Pater Beek juga berada di Irian Barat. Ia menyamar sebagai guru. Tugas sebenarnya dari Pater Beek adalah menjaga agar proses pembebasan Irian Barat tetap menguntungkan kepentingan Amerika. Tugas ini berhasil. Sebagaimana kita ketahui, sampai saat ini Freeport masih menguasai tambang emas di Papua.

Setelah CSIS berhasil dibentuk oleh Ali Moertopo, tugas pelaksana harian diserahkan pada 3 kader Kasebul: Jusuf Wanandi dan Sofyan Wanandi serta Harry Tjan Silalahi. Menurut Mujiburrahman, Jusuf dan Sofyan Wanandi merupakan kader utama Kasebul yang dididik Pater Beek. Sewaktu mahasiswa dan pergolakan politik tahun 1965, keduanya menjadi bagian penting dari PMKRI [Pergerakan Mahasiswa Katolik Indonesia]. Sedangkan Harry Tjan Silalahi kader Kasebul yang ditempatkan di Parti Katolik sebagai sekretaris jenderal.[4] Tiga orang inilah yang hingga sekarang menakhodai CSIS. Melalui lembaga inilah kebijakan anti Islam dijalankan.

 

 
Pater Beek memang piawai[expert] dalam usaha menghancurkan Islam. Ia tidak hanya memakai orang Katolik seperti Jusuf Wanandi dan Harry Tjan untuk melakukannya, tapi juga memaperalat orang Islam sendiri. Ali Moertopo, misalnya, ia dibesarkan dari keluarga santri[pelajar pondok], tetapi melalui CSIS dan Operasi Khususnya justru memporak-porandakan Islam. Sebut nama lain seperti Daoed Joesoef [baca;Daud Yusuf]. Ia seorang muslim asal Sumatera Timur, tapi berhasil digunakan oleh Pater Beek untuk membuat kebijakan yang merugikan umat Islam. Sewaktu menjawat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, ia melarang sekolah cuti selama bulan  hari Ramadhan dan siswi yang beragama Islam dilarang menggunakan jilbab.[Indonesia sejak merdeka men-cutikan pelajar-sekolah pada bulan ramadhan]



Bahkan tidak hanya itu. Kader Pater Beek dalam Kasebul juga dilatih menyusup dengan pindah agama menjadi Islam. Sebut saja Ajianto Dwi Nugroho. Sewaktu masih mahasiswa di Fisipol UGM ia berpacaran dengan mahasiswi IKIP Yogyakarta [sekarang UNY] yang berjilbab. Sekarang ia menikah dengan janda beranak satu yang beragama Islam. Dan, Ajianto saat ini mempunyai kad pengenalan [I/C-KTP] yang mencantumkan agamanya adalah Islam. Ajianto merupakan kader Kasebul generasi baru yang masuk dalam lingkaran jasmev pada era Pilihan Ketua Derah [Pilkada] DKI/Jakarta untuk memenangkan Jokowi. Sekarang ia bergabung dalam lingkaran PartiSocmed dengan target menjadikan Jokowi sebagai presiden Indonesia. Itulah kehebatan kader-kader Kasebul dalam menjalankan misinya.

Nah, kenapa tiba-tiba Jacob Soetoyo muncul? Tentu saja ini berkaitan dengan persaingan para mafia-cukong/konglomerat di lingkaran Jokowi sendiri. Sudah banyak diketahui, James Riyadi telah menyokong Jokowi sejak awal.

Jacob Soetoyo selain dikenal sebagai pengusaha papan atas, yang belum banyak diketahui, ia adalah pemeluk fundamentalis Kristian. Ia dikenal sebagai pemeluk Kristian Evangelis. Di Amerika, aliran ini dikenal radikal dan fundamentalis. Salah satu pengikutnya adalah adalah keluarga Bush. Sikap anti Islamnya sudah mendarah daging. Ketika menjadi presiden AS, George W. Bush memerintahkan pasukannya untuk membantai ratusan ribu umat Islam di Afghanistan dan Irak.  Inilah yang dianggap sebagai ancaman oleh fundamentalis Katolik dalam lingkaran CSIS. Apalagi James Riyadi secara atraktif lmelalui familinya, bernama Taher, mendatangkan Bill Gates ke Indonesia dengan tujuan agar seolah-olah Jokowi mendapatkan sokongan dari pengusaha papan atas Amerika Syarikat.

Sudah menjadi rahasia umum, walaupun sama-sama memusuhi Islam, antara fundamentalis Katolik dan fundamentalis Kristian terjadi permusuhan yang sengit [pandangan mereka yang Islamphobia tentu saja tak mewakili pandangan majoriti umat Nasrani di Indonesia yang sebagian besar menghargai toleransi].

 

Melihat manuver James Riyadi yang sudah dianggap keterlaluan, maka turun tanganlah Jacob mewakili lingkaran CSIS. Rupanya James melupakan bahwa ada dua jaringan di Indonesia yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Syarikat: CSIS dan PSI [Parti Sosialis Indonesia]. Jaringan CSIS pun unjuk taring. Tidak tangung-tangung mereka mengumpulkan duta-duta besar dari negara berpengaruh antara lain: Amerika Syarikat, China dan Vatikan. Begitu kuatnya pengaruh CSIS sampai-sampai duta-duta besar tersebut mau berkumpul di rumah Jacob Soetoyo yang tidak dikenal sebelumnya. Saking berpengaruhnya pula, Megawati, seorang mantan Presiden RI, bersedia mengikuti senario CSIS. Di sinilah perang di antara mafia cukong-cukong penyokong Jokowi antara faksi James Riyadi [Kristian] dengan faksi Jacob/CSIS/Kasebul [Katolik] mulai ditabuh. Mereka semua melihat bahwa Jokowi akan menang Pilpres[pilihan raya presiden] sehingga masing-masing perlu menanamkan pengaruh sejak awal.

 

Manuver CSIS melalui Jakob ini tentu membuat resah kubu James Riyadi. Pasca pertemuan tersebut media dalam kendali James Riyadi mulai mengungkit-ungkit peranan CSIS sebagai lembaga yang pada era Soeharto ikut mengebiri PDI[parti demokrasi indonesia]. Megawati diingatkan tentang fakta itu.

Tujuan akhirnya tentu saja agar Mega dan Jokowi menjauh dari CSIS sehingga James Riyadi bisa dominan lagi. Tapi jangan sampai dilupakan bahwa kubu CSIS/Jusuf Wanandi mempunyai akhbar The Jakarta Post, sebuah akhbar berbahasa Inggris yang cukup berwibawa, yang bisa melakukan serangan balik. Kita tahu sendiri, sekali memberitakan bahwa Puan mengusir Jokowi dari rumah Megawati, peta politik di internal PDIP berubah drastik. Puan tiba-tiba hilang, Megawati seperti tak memikirkan lagi koalisi, dan Jokowi seperti anak kehilangan induk, ke sana-kemari mencari rakan koalisi.

Tapi, jangan dilupakan faksi Parti Sosialis Indonesia [PSI]. Parti yang didirikan Sutan Sjahrir pada era Seokarno ini memang sudah tak wujud, tapi kadernya sampai saat ini masih bergentanyangan. Tokoh-tokoh PSI seperti Goenawan Mohamad terang-terangan sudah menyokong Jokowi. Ia menggunakan jaringan-jaringan yang dimilikinya seperti Jaringan Islam Liberal [JIL], Majalah Tempo grup sampai orang-orang Kiri yang berhasil direkrutnya seperti Coen Husein Pontoh dan Margiyono—dulu anggota PRD yang kemudian murtad dengan mendirikan Perhimpunan Demokratik Sosialis [PDS]; PDS ini pendiriannya tidak bisa dilepaskan dari sosok Goenawan Mohamad; pendeklarasian organisasi ini dilakukan di Theater Utan Kayu [TUK]Jakarta—yang sekarang melakukan manipulasi-manipulasi terhadap ajaran Marxisme agar bisa dijadikan dalih untuk menyokong Jokowi. Semua itu satu komando untuk menyokong Jokowi.

 

Selain Goenawan, ada faksi PSI yang dikomandoi oleh Jakob Oetama dengan kelompok Kompas-nya. Mereka mempunyai media nasional yang sudah sejak lama telah menggoreng Jokowi melalui pemberitaan-pemberitaannya.  Sebagai sesama Katolik, Kompas group tentu bisa bekerjasama dengan kubu CSIS. Mereka sama-sama pernah dididik oleh Pater Beek. Bahu membahu antara keduanya tentu saja akan menghasilkan kekuatan yang besar dengan jaringan media yang sudah mengakar kuat.

 

Dari lingkaran PSI lainnya ada Yamin. Ia salah satu yang membidani kelahiran Sekretaris Nasional [SekNas] Jokowi. Sewaktu mahasiswa pada tahun 80-an, ia aktif di kelompok kiri Rode yang berada di Yogyakarta. Ia dekat dekat dengan tokoh PSI Yogyakarta, Imam Yudhotomo. Yamin disokong aktivis kiri era 80-an, Hilmar Farid. Ia dulu pernah terlibat dalam masa-masa pembentukan PRD. Mantan istrinya, Gusti Agung Putri Astrid, merupakan kader/rekrut Kasebul yang banyak terlibat dengan aksi-aksi sosial pada era 90-an; ia sekarang menjadi Calon Legislatif[caleg] PDIP dari Daerah pilihan[dapil] Bali. Peranan Hilmar adalah sebagai perumus strategi yang perlu diambil Seknas Jokowi menghadapi Pilpres [Pilihanraya presiden].

 

Faksi PSI lainnya ada Fajroel Rachman. Ia dulu dikenal sebagai aktivis mahasiswa ITB.  Ia dekat dengan tokoh PSI zaman Orde Lama, Soebadio Sastrosastomo. Kelompok Fajroel ini sebetulnya yang paling lemah kerana tidak mempunyai koneksi apa-apa. Makanya ia hanya bergerak di media sosial saja dengan mengandalkan jumlah follower di akaun twitternya.

Di antara faksi-faksi PSI tersebut, yang mempunyai hubungan kuat dengan Amerika Syarikat adalah faksi Goenawan Mohamad. Sebagaimana ditulis oleh Wijaya Herlambang, “Goenawan adalah agen CIA” yang sudah dipekerjakan sejak akhir era Soekarno. Begitu kuatnya hubungan Goenawan dengan Amerika bisa dilihat ketika ia kalah dalam sengketa dengan pengusaha Tomy Winata, Dubes AS turun langsung untuk “mendamaikan” kasus tersebut agar tidak berlarut-larut. Goenawan pula yang dulu ikut memuluskan langkah Boediono menjadi timbalan presiden. Sebetulnya ia ingin mendorong Sri Mulyani maju, tapi parti SRI tidak lolos. Goenawan dan Sri Mulyani memang sangat rapat. Ketika Sri Mulyani diserang Ical [Rizal;pemilik Bakrie Group] dalam kasus Bank Century sampai akhirnya ia mundur sebagai Mentri Keuangan, Goenawan amat marah sampai-sampai mengembalikan Bakrie Award yang pernah diterimanya.


Silahkan mengobrak-abrik semua analisa politik, tetap saja penyokong utama Jokowi ada tiga itu: fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], fundamentalis Kristian [James Riyadi dkk], dan faksi PSI [Goenawan Mohamad dkk]. Nah, mengapa mereka turun bersama-sama menyokong Jokowi?

 

Bangkitnya Islam politik tentu saja dianggap sebagai ancaman. Sepanjang Pemilu Orde Baru, perolehan suara parti Islam dalam Pemilu 2014 adalah yang terbesar. Suara PKB, PAN, PKS, PPP dan PBB bila digabungkan mengungguli parti-parti yang lain. Tentu saja yang dianggap yang paling berbahaya adalah PKS[Parti Keadilan Sejahtera]. Sebelum Pemilu, PKS sudah dikesankan oleh berbagai lembaga survei [termasuk CSIS] tidak akan lolos ke Senayan[parlimen]. Senyatanya mereka masih memperoleh suara 7 peratus—yang bisa jadi jumlah kerusinya bisa menduduki peringkat ke empat di Senayan.

PKS dikenal dengan kader-kadernya/ahli-ahlinya dari kalangan kelas menengah. Kader-kader mereka selain militan juga tidak anti terhadap pendidikan Barat. Bayak kadernya yang kuliah di Amerika Syarikat, England dan negara Eropah lainnya. Walaupun berfikiran moden, mereka dikenal taat menjalankan ajaran Islam, baik yang wajib maupun sunnah. Mereka juga dikenal celik teknologi, berbeda dengan dengan Taliban, misalnya.

Inilah yang menakutkan bagi tiga penyokong Jokowi di atas kalau sampai PKS menjadi parti yang berkuasa. Oleh sebab itu, oleh kalangan PSI, baik faksi Goenawan Mohamad maupun faksi Fajroel, PKS yang menjadi sasaran serangan. Silakan amati sendiri serangan-serangan mereka terhadap PKS di media sosial. Kadang kala serangan terhadap PKS juga dilancarkan lingkaran Kasebul di lingkaran PartiSocmed. Mudah saja, kalau ada serangan kepada PKS, lihat saja latar belakangnya, pasti akan berkaitan dengan tiga komponen di atas: fundamentalis Katolik dan Kristen, serta PSI [ dan orang-orang Kiri yang diperalat tiga penyokong Jokowi tersebut]

Agar tak menyatu, parti yang berideologi Islam dibuat bimbang. Para pemerhati sudah mulai bekerja dengan berbagai argument bahwa poros parti-parti Islam sulit untuk diwujudkan. Terutama PKS yang akan dijadikan target kebimbangan ini. Mereka tak begitu khawatir dengan PKB, misalnya. Sosok Muhaimin Iskandar sudah dikenal sebagai orang pragmatis. Gus Dur saja ia khianati, apalagi umat Islam. PAN dan PPP juga hampir serupa. Sementara PBB suaranya tak signifikan. Tinggal PKS yang sulit dikendalikan. Apalagi sampai saat ini PKS tak mau membicarakan koalisi.

Kalau PKS nantinya akan menyokong Calon Presiden Prabowo, maka PKS akan diserang habis-habisan sebagai parti yang menyokong pelanggar HAM berat. Ini merupakan sasaran tembak yang empuk bagi kalangan PSI untuk menyerang PKS. Semisal PKS mendukung Calon Presiden Ical [Rizal Bakrie], maka akan dihentam sebagai parti yang menyokong parti warisan Orde Baru: Golkar. Sementara itu, bila PKS akan membentuk poros parti Islam, akan diadu domba dengan sesama parti Islam.

Maka diarahkan PKS untuk menyokong Jokowi. Sokongan ini penting untuk memperlihatkan bahwa Jokowi yang didukung Amerika melalui tiga tangannya tadi mendapatkan legitimasi dari parti Islam yang ideologis, yaitu PKS. Maka opini pun diarahkan dengan berbagai argument agar PKS merapat ke Jokowi.

Bila jebakan/perangkap ini berhasil menjerat PKS sehingga kemudian menyokong Jokowi dan tak berhasil membangun poros/kekuatan sendiri, maka hanya ada satu kata jawabannya:Wassalam. Satu benteng Islam/Indonesia itu telah runtuh.!!!


Sebagai penutup, dari semua uraian di atas, Jokowi sebetulnya tidak lebih hanyalah ‘boneka bunraku”. Boneka tersebut dimainkan dalam pertunjukkan sandiwara Jepun untuk menghibur kalangan bangsawan. Dan, bangsawan-bangsawan yang terhibur dengan boneka bunraku bernama Jokowi bila kelak menjadi presiden yang sebenarnya adalah: mafia-mafia fundamentalis Katolik [CSIS/Kasebul], mafia-fundamentalis Kristian [James Riyadi dkk] danPSI [Goenawan Mohamad dkk]—yang ketiganya merupakan kaki tangan pebisnis mafia-mafia Zionis Yahudi di Amerika Syarikat sana.

Pertanyaannya: apakah kita akan memilih boneka bunraku untuk memimpin 250 juta lebih penduduk Indonesia?

Wallahua’lam,

Sabtu 18 Jamadilakhir 1435 / 19 April 2014
_____________________

Adaptasi karya asal oleh: M.Sembodo/tikusmerah.com
Editor by  Wilhelmina.tumblr.com,
______________________

Pustaka;

[1] Tanter, Richard. 1991. Beek, Father J. van. SJ, Appendix 1 of his Intelligence, Agencies and  Trid Word Militarization: A Case Study of Indonesia  [PhD, thesis, MonashUniversity], Australia.
[2] Dhakidae, Daniel. 2003. Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
[3] Comboy, Ken. 2007. Intel, Menguak Tabir Dunia Intelijen di Indonesia, Pustaka Primata, Jakarta.
[4] Mujiburrahman. 2006. FeelingThreatened Muslim-Christian Relations ini Indonesia’s Worder, AmsterdamUniversity Press, Nederland.

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s