Agenda Politik Jaringan Yahudi”Trilateral Commission” di Indonesia[Bag.Akhir]

FortunaMedia.com |Agenda Politik Jaringan Yahudi”Trilateral Commission” di Indonesi[Bag.Akhir]

Sebagaimana prolog sebelumnya, thread ini juga lanjutan dua tulisan sebelumnya yaitu:Jacob Soetoyo-anggota-jaringan-yahudi-Trilateral-Commission-peralatMegawatiJokowiPdipbag-1/
  dan  Jacob Soetoyo-anggotaTrilateral-Commission-asia-pasifikbag-2/

Setiap artikel memang berbeda tajuk, namun koridor topiknya tetap sama. Tak ada maksud apa-apa, selain ingin tulisan ini lebih sexy dalam tampilan sehingga menimbulkan hasrat dibaca. Selamat menikmati, dan tetaplah berfikir merdeka!

Agenda Politik Trilateral Commission,

TC jelas memiliki agenda politik-ekonomi,yang secara teras dibagi dalam dua poin di bawah ini :

 

#1.World Management

 

Dalam bukunya yang berjudul “Technotronic Era” (1970), Brzezinski meramalkan kedatangan jaringan kendali (control-grid) diktator di bawah para globalis: “Mungkin akan segara terlaksana pengendalian atas semua warga negara secara terus-menerus dan pemeliharaan file-file agar tetap up-to-date, yang mengandungi data paling pribadi tentang kesihatan dan perilaku semua warga di samping data lain yang lebih umum.
File-file ini akan menjadi sarana pencarian informasi oleh para penguasa. Kekuasaan akan jatuh ke dalam genggaman orang-orang yang mengendalikan informasi. Institusi-institusi kita yang telah ada akan digantikan oleh institusi-institusi manajemen pra-krisis, yang tugasnya adalah mengidentifikasi krisis sosial lebih awal dan mengembangkan program untuk mengatasinya. Ini, setelah beberapa dekad berikutnya, akan mendorong kecenderungan menuju Technotronic Era, sebuah Kediktatoran yang hanya meninggalkan sedikit ruang untuk prosedur-prosedur politik yang kita kenal. Akhirnya, jika melihat pada akhir abad ini, kemungkinan penggunaan mindcontrol biokimia serta rekayasa genetik pada manusia, termasuk pada makhluk-makhluk yang berfungsi dan berfikir seperti manusia, dapat menimbulkan beberapa pertanyaan sulit.”

 

#2.Controlling World Assets,

Tujuan ini dibagi ke dalam tiga poin :

 

  1. 1. Rakyat, Pemerintahan, dan ekonomi seluruh bangsa harus melayani keperluan bank dan korporat multinasional. Ditegaskan oleh Zbigniew Brzezinski dalam bukunya Technotronic Era
  2. 2. Kontrol atas sumber daya ekonomi sebagai mantra kekuatan dalam politik moden. 

 

Tentu saja, setiap warga negara harus diarahkan/dididik/digiring untuk selalu percaya bahwa demokrasi Barat itu ada, kesetaraan itu ada, betapapun kondisi ketidaksetaraan ekonomi terlihat.

 

  1. 3. Para Pimpinan demokrasi kapitalis, sistem dimana kendali ekonomi dan profit, sekaligus kekuasaan politik, harus bertahan dan bergerak maju melawan sistem demokrasi yang sejati.

 

(Sumber : Holly Sklar, ibid, hal. 5).

Singkatnya, Trilateralisme adalah usaha para elit berkuasa untuk merekayasa ketergantungan dan demokrasi, di dalam negeri (Amerika) maupun di luar negeri.

 

Silahkan Anda renungi, setiap kali Amerika dan sekutu-sekutunya mengatakan “demokrasi” maka maksud tersirat dari kata tersebut yaitu : “Ketundukkan pada pengaruh/kepentingan Amerika.” Bukan demokrasi dalam arti partisipasi rakyat dalam ranah politik.

 

Sejak tragedy WTC 2001, Amerika jelas akan mempromosikan “demokrasi” (ketundukkan pada Amerika) dan akan memposisikan siapapun sebagai musuh yang menentang demokrasi versi Washington. Silahkan baca-baca National Security Strategy.

Mengabadikan America-Centered Transnational Hegemony,

#Era Soeharto :

Sejak era Soeharto, setiap yang akan menjadi RI-1, selalu harus mendapat restu internasional, terutama Amerika.

Soeharto dengan Mafia Berkeley (Frans Seda, Ali Said, Widjojo, dll) membuka lebar-lebar kuku besi Washington di NKRI. Freeport, Caltex, dll memulai perkahwinan Indonesia dengan Liberalisme.

 

Lembaga think-tank yang berpengaruh di era itu adalah CSIS, yang dikomandoi Ali Murtopo. Kader-kader CSIS sekarang : Sofyan Wanandi, Jacob Soetoyo.

 

Kelompok CSIS ini juga dekat dengan Riady Family, (Lippo grup). James Riady pernah muncul sebagai salah satu team sukses Clinton.

 

Ironisnya, Soeharto pun digulingkan oleh induk semang yang dulu mengangkatnya. Lagi, Sofyan Wanandi kali ini berperan dalam posisi yang berbeda : menggulingkan Soeharto melalui krisis ekonomi.

 

Peranan IMF dalam krisis ekonomi ini telah diakui oleh mantan Direktur IMF waktu itu Micahel Camdessus. Dalam wawancara “perpisahan” sebelum bersara dengan The New York Times, Camdessus yang mantan tentara Perancis ini mengakui IMF berada di balik krisis ekonomi yang melanda Indonesia. “Kami menciptakan kondisi krisis yang memaksa Presiden Soeharto turun,” ujarnya.[i]

 

Soeharto jatuh kerana IMF. Pendapat ini antara lain dikemukakan Prof. Steve Hanke, penasehat ekonomi Soeharto dan ahli masalah Dewan Mata Uang atau Currency Board System (CBS) dari Amerika Syarikat.

Menurut ahli ekonomi dari John Hopkins University itu, Amerika Syarikat dan IMF-lah yang menciptakan krisis untuk mendorong kejatuhan Soeharto.

 

Jika pernyataan Camdessus dan Hanke diatas dihubungkan dengan ancaman Sofyan Wanandi yang telah saya singgung di awal thread bahagian (1), ini menunjukkan adanya benang merah antara Sofyan Wanandi – IMF – Krisis Moneter 1998.

 

Artikel Majalah TIME, 3 Nov 1997 yang mengungkap peran spekulator binaan Soros dalam menciptakan krisis moneter di Thailand (termasuk Indonesia)

 

Sebuah artikel majalah TIME 3 November 1997 yang berjudul How To Kill A Tiger, Speculators Tell The Story Of Their Attack Against The Baht, The Opening Act Of An Ongoing Drama,” disusun oleh Eugene Linden secara mencengangkan menuturkan pengakuan pada spekulator dalam mengacak-ngacak mata uang baht dan menciptakan krisis moneter di Asia Tenggara.[ii]

 

Pengakuan para spekulator itu sangat brutal : “Kami seperti serigala di atas bukit melihat ke bawah pada sekawanan rusa,” kata salah satu spekulator mata uang yang membantu mencetus devaluasi yang mengarah pada kejatuhan di pasaran saham yang menyapu dunia beberapa tahun lalu (akhir Oktober 1997 – pen). Akhir 1996, delapan bulan sebelum Thailand akhirnya menyerah dan mendevaluasi baht, sekelompok “serigala” telah berkeliaran. Mereka melihat perekonomian Thailand bukan sebagai salah satu harimau Asia, tapi lebih seperti mangsa yang terluka. Setiap pemangsa mulai merencanakan serangan. “Dengan memusnahkan mereka yang lemah dan sakit, kami membantu menjaga kesihatan kawanan,” kata spekulator itu. Dan pemusnahan pun mereka lakukan. Melalui wawancara dengan anggota “serigala” ini, majalah TIME telah merekonstruksi kisah tentang bagaimana para spekulator melahap mata uang Thailand dan menggerakkan krisis yang sedang berlangsung serta menyebabkan trauma keuangan di seluruh dunia.

 

Di era Reformasi, terjadi pertembungan antara kelompok yang menginginkan keberlanjutan liberalisasi Indonesia melalui reformasi vs kelompok yang tetap pada pemahaman lama : Indonesia harus bersih dari asing. Dari sinilah muncul konflik-konflik dan pertarungan politik sebelum Sidang Istimewa MPRS yang berhasil mendudukkan Habiebie sebagai Presiden ke-3.

 

Pihak pro Liberal tentu tidak senang, makanya Sofyan Wanandi mengancam akan menaikkan nilai dollar jika Habiebie jadi Presiden.

#Era Habiebie :

Pada era yang singkat inilah sebenarnya nilai dollar kembali berhasil diturunkan hingga level Rp. 5000/1 dollar. Tapi tidak ada satu pun media yang mengangkat dan mengapresiasi langkah pemerintah.

Sekaligus ini membantah logika kaum liberalis bahwa sosok Habiebie tidak ramah pasaran.

Di era ini sempat muncul Adi Sasono yang mengusung PER (Pos Ekonomi Rakyat) yang berusaha membantu dan mengangkat ekonomi rakyat kecil dengan bantuan modal dan bimbingan kounseling.

Tapi sayang, lagi-lagi kaum liberalis berulah. Mereka, dengan dukungan media massa, menggelembungkan opini dan citra jika Adi Sasono “anti Cina”. Padahal Adi telah keras membantah jika dia rasis dan anti satu kelompok.

Dia hanya ingin ekonomi masyarakat kecil yang jumlahnya majoriti, tapi minoriti  secara kualiti itu bisa maju. Apa itu salah?

#Era Mega dan Gus Dur :

Di era reformasi, ada beberapa tokoh nasional yang ditawari bantuan dan datang ke Amerika, diantaranya adalah : Amien Rais dan Megawati. Keduanya sama-sama membantah soal tersebut ketika dikonfrontir oleh Metro TV.

Pada era Megawati, jual-jualan asset negara dimulai. contoh Satelindo dll. Orang yang berperanan dalam jual-jualan itu adalah Laksamana Soekardi.

Ada tokoh mafia Berkeley yang berperan penting di era Mega : Boediono (sekarang Timbalan presiden).

#Era SBY :

Sebenarnya SBY tetap presiden yang mendapat restu Washington. Tapi diakhir jawatannya ini ada beberapa hal positif yang bisa kita lihat :

  1. Keberhasilan uji materil UU Migas yang mengatur bagi hasil dan hak majoriti pengelolaan. Aksi ini dilakukan pakar hukum, Prof. Yusril Ihza Mahendra dan diluluskan oleh Mahkamah Konstitusi.
  2. Ditetapkannya regulasi baru yang melarang ekspor bahan mentah. Sikap ini jelas membuat gerah para investor asing di Indonesia, terutama Amerika (Freeport) dan Jepun. Mereka menolak membangun smelter di Indonesia, Jepun bahkan mengadukan tindakan Indonesia kepada WTO.

 

 

#Pasca SBY :

Pihak liberal tentu menginginkan kepentingannya tetap aman di Indonesia. Kerana itu mereka mencari-cari siapa kira-kira kandidat yang menurut mereka ramah terhadap kepentingan mereka.

Jika pertemuan di rumah Jacob Soetoyo adalah bagian dari transaksi kepentingan, maka sosok Jacob Soetoyo yang anggota Trilateral itu jelas merupakan kepanjangan tangan para trilateralis (Amerika, Eropah, Jepun) di Indonesia. Hal ini diperkuat dengan hadirnya Dubes AS dan Britain di pertemuan Isnin  malam tersebut.

Jadi , omong kosong jika pertemuan itu tidak bermuatan politik-ekonomi. Jelas itu dagang kepentingan, kelompok Trilateral menginginkan amannya pasar mereka di Indonesia. Sementara parti dan calon presidennya, ingin memastikan sokongan (politik dan materil) sebagai usaha mengukuhkan misi jelang Pilihan Presiden July 2014 nanti.

Lalu sampai bila kita harus berada diketiak mereka? Selama masih ada orang-orang yang bermental hamba, selama masih ada orang yang tega menggadaikan kepentingan negara demi keuntungan kelompoknya, selama tidak ada keberanian untuk berkata TIDAK, selama itu pula Negara Kesatuan RI tidak akan pernah mencapai kata MERDEKA.

MERDEKA adalah semboyan yang selalu diteriak-teriakan Megawati dan PDIP sejak mereka ditindas Soeharto dulu. Sekarang Mega, Jokowi, dan PDIP menjadi alat kepentingan ‘global’, dan tak lain, mereka adalah jaringan Yahudi, melalui ‘Trilateral Commission’. Sungguh IRONI!

Tamat.

Khamis 16 Jamadilakhir 1435 / 17 April 2014
__________________

Pustaka;

  1. David Rockefeller”. Trilateral Commission. Retrieved 14 March 2013. http://www.trilateral.org/go.cfm?do=Page.View&pid=21
  2. Daniel Estulin, The Bilderberg Group, (Independent Publishers Group, 2005), hal. 138
  3. Majalah TIME, No. 18 Vol. 150, 3 November1999.

4.voa-islam.com/read/intelligent/2014/04/16/29892/

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s