Apa Pentingnya Israel Mengolah Isu NAZI/Fasisme di Ukraine?[2]

Ahad 5 Jamadilakhir 1435 / 6 April 2014


FortunaMedia.com|Apa Pentingnya Israel Mengolah Isu NAZI/Fasisme di Ukraine?[2]

                                Kumpulan Neo-Nazi Ukraine yang saat berdemonstrasi menggulingkan Presiden Viktor Yanukovych/by.globalresearch.ca

Catatan Redaksi:

Artikel ini lanjutan dari thread “Pasca Krisis Ukraine;Konfrontasi AS-Eropah-NATO VS Rusia01/ yang akan bersambung ke thread berikutnya.Tetapi dengan tajuk berbeda. Tak ada masalah. Masih dalam topik yang berkaitan,hanya sekedar variasi tajuk agar terlihat lebih dinamis dalam tampilan.

Dengan mengkonstruksi kembali poin-poin penting dari tulisan lalu, terungkap betapa penyebab konfrontasi pasca krisis Ukraine dan Crimea antara Amerika/Eropah/NATO dengan Rusia adalah perebutan mendominasi bahan asas terpenting ekonomi Barat yaitu simpanan gas Rusia yang sangat besar.

Sementara itu kaum Zionis Israel juga mengambil peluang dalam krisis Ukraine ini dengan menunggangi isu Nazi/Fasis untuk kepentingannya sendiri.

Setidaknya dua kali kaum Zionis Israel menunggangi isu Nazi/Fasis Pertama di era Perang Dunia II, ketika kaum Zionis memanfaatkan pencitraannya sebagai kaum tertindas oleh Nazi Jerman Hitler, dan kemudian berhasil membujuk AS dan Kesatuan Eropah menyokong berdirinya negara Zionis Israel pada 1948. 

 

Kedua memanfaatkan isu ancaman kaum Nazi dan Ultra Nasionalis di Ukranie, agar warga Yahudi bisa dibujuk keluar dari negeri pecahan  Soviet Union  tersebut, dan menetap di daerah pendudukan Israel di Palestine.

 

Amerika Syarikat dan Kesatuan Eropah nampaknya berusaha menciptakan lingkup pengaruhnya di Ukraine dengan segala cara, bahkan yang paling tidak masuk akal sekalipun. Bayangkan, negara yang mengklaim dirinya sebagai primadona demokrasi, Amerika dan sekutu-sekutu baratnya bersedia bersekutu dengna parti berhaluan Nazi/Fasisme: Parti Svoboda pimpinan Tiahnybok, yang anti Yahudi sekaligus anti Rusia. Hanya kerana bersatu dalam sikap untuk menggulingkan Presiden Ukraine Viktor Yanukovich.

  Sekilas kita imbas ke-era sebelum tercetusnya krisis Ukraine dahulu, Parti Svoboda sejak awal memang mendapat bantuan sepenuhnya dari Washington. Parti berhaluan fasis ini mengembangkan parti neo-Nazi-nya dengan merujuk pada model gerakan neo Nazi yang berkembang di Eropah. Amerika dan Kesatuan Eropah dengan mudah mendukung Parti Svoboda kerana dalam konstalasi politik parlimen Ukraine menjelang kejatuhan Yanukovich, merupakan parti yang menduduki kerusi terbanyak di parlimen. Sementara AS dan Kesatuan Eropah, memang sudah merancang sebuah “kudeta konstitusi” dengan mengandalkan kekuatan-kekuatan politik oposisi yang berada di parlimen Ukraine.

 

Washington sendiri telah memberi konfirmasi bahwa mereka bekerjasama dengan kumpulan-kumpulan fasisme radikal atau neo Nazi di Ukraine untuk menjalankan aksi destabilisasi di negara yang dulunya pernah berada dalam wilayah kedaulatan Rusia tersebut. Bahkan Asisten Menteri Luar Negeri AS Victoria Nuland menyatakan bahwa Washington telah menanam investasi sebesar 5 bilion dolar AS untuk apa yang dia sebut dengan istilah “Mempromosikan Ukraine untuk Masa Depan yang lebih Baik.” Dengan memberi sokongan sepenuhnya terhadap organisasi-organisasi yang dipandang sebagai “pemain kunci” dalam konstalasi politik di Ukraine. Tentunya termasuk di dalamnya, parti-parti berhaluan Nazi atau fasisme seperti Parti Svoboda. Berikut elemen-elemen sayap kanan atau ultra nasionalis lainnya.

Bahkan di dalam organ sayap kanan berhaluan ultra nasionalis seperti UNA-UNSO yang sebenarnya tidak lagi aktif, mereka berhasil menempati posisi-posisi kunci dan strategik dalam kabinet; pertahanan, keamanan, penegakan hukum, pendidikan dan ekonomi.

Khusus tentang Parti Svoboda, Tiahnybok beserta pimpinan lainnya, telah menyerukan pembebasan Ukraine dari mafia Moskow dan Yahudi. Masuk akal jika berbagai kalangan berpandangan bahwa Tiahnybok dan para pimpinan Svoboda lainnya, merupakan tangan kanan utama AS dan Kesatuan Eropah dalam menggerakkan aksi protes dan gelombang demonstrasi anti Yanukovich yang berlangsung selama 3 bulan.

Konsekwensi logik dari kejatuhan Yanukovich dan munculnya parti berhaluan Nazi dan elemen-elemen sayap kanan ultra nasionalis, warga Ukraine yang berasal dari Rusia dan Yahudi, merasa terancam. Kerana itu logik jika Presiden Rusia Vladimir Putin dengan tidak diragukan lagi bersikap agresif dan segera melakukan offensif militer besar-besaran ke Republik Otonomi Crimea yang berada dalam wilayah Ukraine.


Rusia dan Yahudi, untuk perkara menghadapi Nazi dan Fasisme, memang punya pengalaman sejarah yang cukup trauma. Yaitu sama-sama menghadapi penindasan dari Adolf Hitler, pemimpin Nazi Jerman pada Perang Dunia II.

 
Gerakan neo Nazi memang selalu merujuk pada model yang dikembangkan oleh Adolf Hitler melalui partinya National Sozialistiche Deutsche Arbeiterpatei (NSDAP), atau yang kemudian lebih dikenal dengan nama NAZI Jerman yang aktif antara 1920-1945.

 
Yang mengerikan dari Parti Svoboda bagi warga negara Ukraine asli Rusia atau Yahudi di Ukraine adalah, ideologi Nazi dibangun atas dasar sentimen rasial yang meyakini bahwa Jerman merupakan ras-aria yang paling unggul dibandingkan ras bangsa-bangsa yang lain.

 
Kekalahan Jerman pada Perang Dunia II memang menandakan akhir dari kemaraan dan keberadaan parti Nazi Jerman. Namun sepertinya akar ideologi fasisme yang meyakini keunggulan ras aria itu, tidak benar-benar hilang lenyap, melainkan tetap dipelihara benih-benihnya. Pada pasca Perang Dunia II, tetap saja berkembang berbagai gerakan di kalangan anak-anak muda di Eropah yang terinspirasi oleh ideologi Nazi, melalui buku karya Hitler bertajuk Mein Kampf.

Inilah generasi muda yang sekarang kita kenal dengan istilah neo Nazi, yang seringkali melakukan berbagai kerusuhan sosial dengan mengangkat tema beraroma rasisme dan fasisme.

 
Maka itu sulit dimengerti jika AS dan Kesatuan Eropah yang telah menetapkan fasisme dan Nazi sebagai musuh bersama pasca Perang Dunia II, sekarang bergandengan tangan dan bersekutu hanya demi untuk menguasai wilayah geopolitik Ukraine  yang cukup strategik.

 
Nampaknya bisa kita simpulkan bahwa ada semacam kesamaan yang paralel ketika AS menyokong kumpulan Islam radikal al Qaeda demi untuk menguasai Afghanistan dan Irak pada periode 2001-2003, dan sokongan AS-Kesatuan Eropah dalam menyokong parti neo Nazi Svoboda pada saat ini untuk tujuan membangun lingkup pengaruh di Ukraine.

Keterlibatan Israel di Ukraine.
Ketika membahas tentang daerah Kaukasus yang secara geografik sangat berdekatan dengan Rusia, Israel selalu hadir dan menjadi bagian integral dari kepentingan strategik AS dan Kesatuan Eropah untuk melakukan aksi destabilisasi di kawasan Kaukasus. Meskipun Israel tidak tergabung dalam NATO, namun dimanapun NATO melancarkan agenda-agenda strategiknya, maka Israel selalu ada di sana.

 
Sebagaimana diberitakan oleh situs Internasional Business Times (IBT) pada Selasa (18/2) yang mengutip Press TV, bahwa ada keterlibatan mantan perwira militer Israel yang memainkan peran utama dalam berbagai aksi demonstrasi menentang pemerintah di Ukraine. Lelaki yang tidak disebut namanya itu telah memimpin 20 orang militan warga Ukraine. Disebutkan ada tiga yang lain perwira militer Israel kelahiran Ukraine, yang kembali ke Kiev untuk berdemonstrasi.

 
Media-media lokal Ukraine menyebutkan ada para jutawan Israel turut serta mendanai oposisi untuk menentang pemerintah Presiden Yanukovich. Sementara agen intelijen Mossad menjadi salah satu bagian yang memprovokasi terjadinya kerusuhan di Ukraine. Adalah sesuatu yang patut diduga adanya kepentingan yang lebih spesifik bagi Israel di Ukraine, mengingat tingkat keterlibatan dari negara  Zionis di Palestine ,pendudukan itu sangat signifikan.

 

Apa Pentingnya Israel Mengolah Isu NAZI/Fasisme di Ukraina?  

Seperti sudah kita urai sebelumnya, menguatnya parti Nazi Svoboda berikut organ-organ sayap kanan ultra nasionalisnya, pada perkembangannya akan menciptakan kekhawatiran yang meluas di kalangan warga Rusia yang punya trauma sejarah ketika Nazi Jerman pimpinan Adolf Hitler sempat berusaha menginvasi Rusia, maupun warga Rusia keturunan Yahudi. Maka di sinilah Israel dalam konteks perang panjangnya melawan Arab Palestine, memanfaatkan betul kondisi objektif kian menguatnya Nazi/Fasisme di Ukraine.

Menyadari adanya kekhawatiran yang begitu meluas di kalangan warga Rusia keturunan Yahudi terhadap menguatnya posisi politik parti dan organ-organ berhaluan Nazi/Fasis di Ukraine, maka Israel mendapatkan kembali momentum untuk melancarkan projek strategiknya sejak dulu: Yaitu menggiring orang-orang Yahudi untuk pergi dari Ukraine dan menetap di Palestine (daerah pendudukan Israel). 

Berdasarkan tujuan tersebut, Israel kemudian membentuk dan menggiring opini warga Yahudi di Ukraine untuk keluar dari wilayah Ukraine dan bermukim di Palestine yang merupakan daerah pendudukan Israel. Dan bersama warga Israel lainnya yang berurat-akar di Palestine, kemudian bergabung bukan saja sebagai bangsa, melainkan juga sebagai entiti  negara-bangsa Israel.


Dengan meneebar isu adanya ancaman kelompok Nazi/Fasis yang sudah mulai bercokol di parti, parlimen dan bahkan jajaran anggota kabinet dalam pemerintahan, maka Israel kemudian menerapkan gerakan dengan mengusung tema: MARILAH KELUAR DARI UKRAINE  DAN MENETAP di Palestine yang diduduki Israel.

Untuk membaca Perang Asimetris AS, Kesatuan Eropah dan Israel di Ukraine, maka strategik mereka menunggangi isu ancaman Nazi/Fasisme di Ukraine untuk melayani kepentingan strategiknya menjadi menarik untuk diungkap.

Sepintas memang terkesan paradoks dan kontradiktif. Bayangkan. Nazi/Fasis yang dalam era Perang Dunia II telah membinasakan jutaan warga Yahudi di Jerman dan wilayah Eropah Timur pada umumnya, justru Israel saat ini memanfaatkan isu ancaman Nazi/Fasis di Ukraine, untuk kepentingan mereka.

Namun jika kita urai kembali sejarah berdirinya Israel pada 1948 yang direstui British dan Amerika Syarikat, sebenarnya tidak begitu aneh juga kalau sekarang Israel memanfaatkan isu dominasi Nazi/Fasisme untuk melayani kepentingan negeri Zionis agar warga Yahudi yang sedang dilanda ketakutan di Ukraine, kemudian dibujuk oleh Israel agar menetap di wilayah pendudukan Israel di Palestine.

Bukankah Israel dan kaum Zionis juga telah memanfaatkan posisinya sebagai korban kebiadaban Nazi Hitler pada Perang Dunia II untuk dijadikan legitimasi moral mereka untuk mendirikan negara Israel pada 1948?

Bahkan dengan mengeksploitasi kebiadaban Nazi Jerman Hitler terhadap kaum Yahudi pada Perang Dunia II, Israel dan kaum Zionis kemudian mengolah isu tersebut untuk menanamkan rasa bersalah dan berdosa. Sehingga kondisi tersebut dimanfaatkan oleh kaum Zionis untuk mendorong bangsa Eropah dan Amerika menebus rasa bersalah dan berdosanya, dengan menyokong berdirinya negara Israel. Seraya memberikan hak-hak istimewa atas berbagai akses bisnis dan kekuasaan baik di Eropah maupun di Amerika.

Alhasil, dengan membangun pencitraan ketertindasan ras Yahudi, maka Amerika dan Kesatuan Eropah akhirnya berhasil didorong untuk mendukung agenda Zionisme Global mendirikan negara Yahudi di Israel.

Manuver Israel memanfaatkan pencitraan adanya ancaman Nazi/Fasisme terhadap warga Rusia maupun Yahudi di Ukraine, nampaknya cukup beralasan. Rabbi Ukraine, Reuven Azman, telah meminta komuniti-komuniti Yahudi di Kiev untuk meninggalkan kota, jika mungkin keluar dari negara itu, mengingat adanya kemungkinan orang-orang dan lembaga-lembaga Yahudi akan menjadi sasaran penyerangan di tengah kekacauan menyusul keterlibatan aktif Parti Svoboda yang berhaluan Nazi dalam penggulingan Viktor Yanukovich.  Bahkan pimpinan organisasi payung Yahudi Ukraine, Edward Dolinsky, pun telah mengontak Leberman untuk meminta bantuan dari Israel. Meski hingga kini tidak ada pernyataan yang keluar dari Israel.

Meskipun belum ada petunjuk bahwa regim Zionis Israel telah membuka ruang dalam mengarahkan mereka untuk pergi ke Jajahan Palestine, namun diamnya Pemerintah Israel dan Eropah atas situasi Ukraine  yang mengancam komuniti Yahudi disana mengindikasikan adanya pembiaran, hingga yang merasa terancam sangat terpaksa memilih negara tujuan untuk hijrah. Negara tujuan itu sangat mungkin Israel di Jajahan Palestine .

_________________

Sources: theglobalreview.com/ berbagai sumber

Shared and Editor by Wilhelmina.

ARTIKEL INI DARI BERITA YANG MASIH BERLANGSUNG

UNTUK INFO BERITA TERKINI SELANJUTNYA.

AKAN BERSAMBUNG PADA TULISAN BERIKUTNYA

TERIMAKASIH.
FortunaMedia.com

 

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s