Bangsa Indonesia Mudah Lupa!Senantiasa Ditipu Media Massa

Illustrasi;Manipulasi Media

Sabtu 4 Jamadilakhir 1435 / 5 April 2014

FortunaMedia.com |Bangsa Indonesia Mudah Lupa!Senantiasa Ditipu Media Massa

APA yang kita saksikan sekarang ini di Indonesia berupa Euforia Jokowi bukanlah kejadian pertama dalam kehidupan bangsa ini. Rakyat Indonesia  sudah sangat sering mengalami gegap-gempita pemberitaan semacam itu. Hasilnya, rakyat marhaen ditipu, ditipu, dan kembali ditipu. Para penipu girang kerana mendapat uang, bonus, honor, insentif, dan seterusnya. Sedang sebagian besar rakyat menderita akibat semua penipuan itu

Pangkal masalahnya ialah kerana bangsa Indonesia mudah lupa, mudah ditipu, dan ngangguk saja mengikuti apapun yang diberitakan media. Mereka tidak memiliki nalar kritis, sikap mandiri, atau kedaulatan sikap sebagai manusia merdeka. Para pakar sering mengatakan keadaan ini dengan ungkapan, the short memory lost. Bangsa Indonesia begitu mudah lupa terhadap kejadian-kejadian yang belum lama terjadi.

Kondisi ini lalu dimanfaatkan oleh kaum Virus Bangsa untuk mengelabui rakyat ini, membodoh-bodohkan mereka, menipu, menindas, dan mengeksploitasi sedalam-dalamnya. Para virus bangsa itu adalah: media-media massa, para pemerhati   politik, para politisi, para akademik bayaran, lembaga survei order minded, dan sejenisnya. Mereka ini disebut virus bangsa kerana memang tidak memiliki rasa belas kasihan sama sekali atas nasib ratusan juta anak bangsa yang menderita akibat semua kelakuan mereka. Selagi Gue bisa happy-happy, bodo amat dengan rakyat. Emang mereka mikiran Gue? Begitulah ungkapan tidak tahu malu yang sering menjadi motto kehidupan mereka.

Sampai batas tertentu, para penipu atau virus bangsa itu sampai meyakini hal-hal semacam ini:

 

“Zaman sekarang yang penting duit, duit, duit Bos. Sudahlah tak usah munafik. Kamu suka duit juga kan. Kalau punya duit kamu bisa main cewek, bisa makan di restoran mahal, bisa berpelesiran ke luar negeri, bisa belanja barang-barang branded. Kamu juga nanti dipuja-puja keluarga besarmu, disebut orang sukses.

Kamu dialu-alukan almamatermu, didaulat memberi orasi/pidato ilmiah, diminta mengisi pengajian tentang hikmah Maulid Nabi. Kamu terhormat, kereta minimal Camry, punya chance jadi politisi Parlimen, punya banyak fans, porto folio diterima baik oleh bank, dan sebagainya. Maka itu, sudahlah, tidak usah munafik.

Dalam hidup ini jangan alim sangat. Jangan warak sangat. Kalau mau sukses, kamu harus berani kejam. Kamu harus berani memakai manajemen mafia. Rakyat itu bodoh-bodoh, sampah, tak berguna. Jalan termudah jadi orang hebat,  happy-happy adalah menjual nasib rakyat dan bangsa. Persetan dengan cinta tanah air. Persetan dengan agama. Persetan dengan dosa-neraka. Aku tak peduli. Yang penting happy, happy, happy forever forever.”

Orang-orang begini inilah yang telah sekian lama membuat bangsa Indonesia ini menderita, susah hidupnya, melarat terus, kezhaliman merata, korupsi menggurita. Ya kerana kaum virus bangsa ini sangat banyak, ada di mana-mana. Mereka hidup sehari-hari seperti binatang. Tidak ada nikmat rohani sedikit pun dalam jiwanya. Semakin bertambah syahwat yang mereka teguk, semakin menderita jiwanya. Mereka telah melupakan Allah, lalu Allah pun membuat mereka lupa pada dirinya sendiri. Na’dzubillah wa na’udzubillah min dzalik.

Apakah Anda pernah menyangka, merasa, atau menduga, bahwa kehidupan ini sepenuhnya berada dalam kendali manusia-manusia moral rendah sejenis itu? Apakah mereka berkuasa atas alam kehidupan ini? Apakah mereka bisa menunda kematian atau memperlama kehidupan? Tidak sama sekali. Mereka hanyalah objek kehidupan. Segala hal tetap dan pasti di Kekuasaan Allah Ta’ala.

Manusia-manusia durjana itu bisa senang-senang, tertawa terbahak-bahak, dan terus menipu manusia, kerana belum habis jatah nikmat bagi mereka. Pintu-pintu hedonisme terus terbuka sampai habis jatahnya. Kalau sudah habis…hendak bersembunyi ke mana pun mereka akan dikejar oleh tentara-tentara Allah (para Malaikat-Nya). Itu hanya menanti waktu saja.

Oh ya, mari kembali ke topik semula, rentetan panjang penipuan publik yang biasa dilakukan kaum virus bangsa: media massa sekuler, pemerhati politik, politisi busuk, akademik kangkung bayaran, survei abal-abal, dan sejenisnya. Di sini kami ingin kembali ingatkan fakta-fakta sejarah yang sudah banyak dilupakan bangsa ini. Intinya, gegap gempita pencitraan Jokowi saat ini, ia bukan pertama kali terjadi. Itu sudah sering dan bahkan sering terjadi.

 

Mari kita buka fakta sejarah satu demi satu.

[1]. Tahun 1997 Soeharto menghadapi Krisis Moneter.(disingkat;Krismon) Dia ingin menempuh solusi Krismon secara mandiri. Tapi media-media massa dan para pemerhati ekonomi terus berteriak berkoar-koar: “Minta bantuan IMF! Minta bantuan IMF! Ini sangat darurat. Tidak ada jalan lain, minta bantuan IMF!” Begitulah teriakan media-media dan para pemerhati. Akhirnya Soeharto menyerah. Dia tak sanggup hadapi tekanan opini media. Soeharto pun minta bantuan IMF sehingga ditanda-tangani LoI. Setelah LoI disepakati, ekonomi Indonesia hancur-hancuran, sampai sekarang. Direktur IMF sendiri dengan bangga mengklaim, bahwa dirinyalah yang telah menghancurkan Soeharto.

[2]. Tahun 1998 terjadi demonstrasi massal di seluruh Indonesia. Penggeraknya para mahasiswa kampus. Para demonstran disokong penuh oleh semua media, politisi, pemerhati. Mereka serukan: “Soeharto mundur! Soeharto mundur! Gantung Soeharto!” Puncaknya pada Mei 1998 terjadi kerusuhan besar di Jakarta. Akhirnya Soeharto pun menyerah, dia mundur. Sejak Soeharto mundur, masuklah bangsa Indonesia ke era Reformasi. Faktanya, sejak masuk zaman Reformasi, kehidupan rakyat Indonesia tidak jadi lebih baik.

Sedikit perbandingan data, biar anak-anak muda zaman sekarang tahu. Waktu itu harga beras termahal sekitar Rp. 1000/kg. Sekarang harga beras standart Rp. 10.000/kg. Harga petrol di era Soeharto sekitar Rp. 700,- per liter, sekarang hampir Rp. 7000,- per liter. Di era Soeharto elektrik murah, biaya sekolah murah, buku paketdiberikan/dipinjami oleh negara ( di Malaysia;Buku SPBT), biaya obat/klinik juga murah, mencari pekerjaan mudah, jenjang karier PNS(kakitangan awam)/TNI/Polri jelas dan stabil. Jauh sekali dengan kondisi saat ini. Di era Reformasi, rakyat berpolitik secara bebas, tapi kehidupan sosial kaliren (sengsara).

 

 

[3]. Tahun 1999 Presiden BJ. Habibie mau ikut pencalonan sebagai presiden. Beliau baru memimpin menggantikan Soeharto sekitar 1,5 tahun. Melihat kenyataan itu media-media, pemerhati, politisi, sepakat mengeroyok Habibie. “Jangan Habibie. Dia koruptor. Dia anak emas Soeharto. Pokoknya jangan Habibie.” Banyak sekali seruan untuk menghadang Habibie. Padahal dia terbukti berhasil mengendalikan kondisi bangsa setelah diamuk Krisis Moneter. Alhasil Habibie tak bisa menjadi presiden lagi kerana dibarikade(barricaded-dihalangi) oleh kaum virus bangsa. Yang terpilih justru Gusdur(Abdurrahman Wahid) Namanya Gusdur, sudah lumpuh, buta, kontroversi, tak punya pengalaman memimpin negara. Akibatnya negara morat-marit tak karuan. Nyaris negara ini hancur kalau Gusdur lebih lama memimpin. Padahal media-media massa, pemerhati, politisi, para akademik kangkung, dan sejenisnya itulah yang sebelumnya mengalu-alukan citra Gusdur. Terbukti, dia tak bisa apa-apa. Habibie yang berkualiti ditolak, Gusdur yang tak bisa apa-apa didaulat menjadi pemimpin.

[4]. Kondisi yang mengitari Jokowi saat ini mirip sekali seperti kondisi menjelang Pilihan Raya Presiden-(Pilpres) 2004.  Waktu itu media-media massa, pemerhati, politisi, akedemik kangkung sepakat mengalu-alukan SBY.

“SBY harapan baru indonesia. Orang ini hebat. Santun, tegas, cerdas. Kasihan dia dizhalimi Megawati. Indonesia akan maju di tangan SBY. I love U full.”
Begitulah segala puja dan puji mendukung SBY. MetroTV termasuk yang amat “I love U full” ke SBY. Ini semua terjadi kerana SBY sudah direstui oleh jaringan pengusaha China asal Medan-Jakarta-Surabaya. Apa akibatnya setelah SBY jadi Presiden? Luar biasa, baru saja memimpin Indonesia “diberi hadiah” Tsunami terbesar sedunia. Dan rentetan bencana seolah tak ada habisnya di tangan orang ini. Tahun 2005 SBY naikkan BBM (Petrol) lebih dari 100 peratus. Rakyat semua termengap-mengap.

[5]. Tahun 2009 SBY mencalonkan lagi. Sebenarnya potensi SBY kalah sangat besar, kerana kepemimpinan dia selama 2004-2009 sangat menyengsarakan. Tapi SBY cerdik, dia pandai memanfaatkan media dan lembaga-lembaga survei untuk memenangkan citra. LSI, Saiful Mujani, Deny JA. termasuk yang sangat agressif mendukung SBY. Media-media TV juga terus mengalu-alukan SBY. SBY juga memainkan instrumen BLT untuk merebut simpati rakyat. Dan dia juga masuk ke sistem kalkulasi online KPU (Komite Pemilihan umum) Sistem software KPU inilah yang sangat mengancam proses pilihan raya secara jujur. Setelah SBY jadi presiden lagi, penderitaan rakyat semakin panjang dan lama. Selain itu banyak terkuak kasus-kasus korupsi yang melibatkan elit-elit Parti Demokrat( partinya SBY)

 

 

[6]. Ada kejadian sangat aneh sekitar tahun 2008-2009, yaitu Mega Skandal Bank Century. Ketika itu SBY, jajaran menterinya, Boediono, para pemerhati ekonomi UI, dan media-media partner secara intensif menipu publik: “Kalau Bank Century tidak diberi bailout, nanti akan menyebabkan dampak sistemik. Waktu itu sedang terjadi Krisis Global.”
Padahal nilai aset Bank Century tidak berpengaruh dalam industri perbankan Indonesia. Kalau pun bailout itu dibenarkan, mengapa dana talangan yang semula disepakati sekitar 600 bilion membengkak sepuluh kali lipat menjadi 6,7 trilion? Bahkan pencairan yang trilionan rupiah itu dilakukan di hari Sabtu dan Ahad, tanpa melapor Timbalan Presiden (Jusuf Kalla)? Tetapi SBY dan media-media partner terus berdalih “dampak sistemik”. Ya begitulah, rakyat terus ditipu, ditipu, dan ditipu lagi.

[7]. Media-media massa, pemerhati, para akademik, politisi, juga berperanan sangat kuat dalam menggulirkan opini (opinion rolling) seputar Bibit-Chandra (dua ketua KPK-Komisi Pemberantasan Korupsi)
Waktu itu keduanya sedang berhadapan dengan Susno Duadji. Media mengangkat isu “Cicak Vs Buaya”. Semua media waktu itu sepakat berdiri di belakang Bibit Samad dan Chandra Hamzah. Keduanya menyebut istilah “kriminalisasi KPK”. Alhasil kedua pimpinan KPK mendapat dipensasi hukum. Mereka tidak diadili atas tuduhan apapun. Padahal menurut Muhammad Nazaruddin, Chandra Hamzah pernah datang ke rumahnya, lalu menerima titipan uang. Terbukti kemudian pengakuan Nazaruddin sering terbukti di persidangan. Media-media massa dan pemerhati begitu bernafsu membela Bibit-Chandra, sampai mereka lupa bahwa SBY sudah melakukan campur tangan hukum dengan membentuk team pencari fakta. Itu pelanggaran tatanan kenegaraan.

 

[8]. Ingatlah saat pergantian Ketua PSSI-Persatuan Bola Sepak Indonesia), Nurdin Halid. Kita tak perlu apapun dari masalah sepak bola ini. Hanya ingin mengingatkan betapa bodohnya bangsa ini ketika ditipu media terus-menerus. Waktu itu media massa terus-menerus mendesak agar Nurdin mundur, diganti orang lain. Katanya, “Kalau Nurdin mundur, beres semua masalah PSSI.” Aksi-aksi suporter bola terjadi dimana-mana. Mereka menuntut Nurdin Halid mundur. Begitu hebohnya sampai sebagian penyokong bolasepak asal Surabaya sengaja membuat kemah di Senayan, di depan sekretariat PSSI. Lalu apa yang terjadi setelah Nurdin mundur? Apakah PSSI semakin solid? Apakah urusan sepak bola Indonesia semakin hebat? Ya semua sudah tahu, pengurus PSSI malah pecah dan saling menghujat. Kompetisi PSSI terbelah dua, LSI dan LPI. Konflik semakin tajam. Nasib PSSI tambah runyam. Sampai saat ini, akibat konflik itu masih ada.

[9]. Terkait perkembangan dakwah Islam. Media-media massa, para pemerhati, politisi, akademik, pegawai, dan seterusnya sepakat mengalu-alukan da’i terkenal,Kyai  Aa Gym. Semua TV punya siaran terkait Aa Gym. Kalau bulan Ramadhan tiba, Aa Gym menjadi “raja media”. Aa Gym disukai kerana: tak pernah bilang “orang kafir”, tak pernah bilang “orang sesat”, tak pernah bilang “Syariat Islam”, tak pernah menyinggug perasaan penganut agama lain, dan seterusnya. Tetapi ketika Aa Gym ketahuan melakukan poligami, seketika itu dia dihujat, dihajar habis, diserang sampai tuntas, dizhalimi sedalam-dalamnya. Alhasil Aa Gym merasa “sakit hati” dan tidak seramah dulu ke media-media massa. Masyarakat sebagai pengagum Aa Gym pun tinggal mengikuti saja. Apapun yang dikatakan media massa, mereka amini. Media bilang A, ya diikuti A; media bilang merah, diikuti merah; media bilang ‘kacau’, rakyat pun ikut berseru ‘kacau’. Kok tak merasa malu ya…?!

[10]. Tahun 2012 Jokowi-Ahok jadi kandidat Gubernur DKI-Jakarta. Media-media, pemerhati, politisi, juga ramai-ramai sokong keduanya agar jadi gubernur DKI. Semua sepakat Jokowi-Ahok harus gusur “kumisnya” Foke (mantan gabernor Jakarta). Hanya beberapa lama setelah terpilih jadi gubernur, Jokowi menggelabah. Ahok kerjaannya marah-marah melulu, seperti orang stress. Dan lebih parah lagi, Jokowi akhirnya lebih banyak bekerja untuk PERSIAPAN JADI PRESIDEN, bukan bekerja membereskan masalah DKI Jakarta. Lha, orang ini katanya jujur, amanah, rendah hati, tidak neko-neko(not adventurous); tapi justru kemaruk jawatan. Satu belum beres, sudah nafsu ingin jawatan lain. Kata orang Sunda, ngurauk ku siku. Mau merengkuh apa saja dengan sikunya, kerana saking rakus.

Sampai di sini kita jadi faham, bahwa memang rakyat Indonesia  begitu mudah dibodoh-bodohi. Sedangkan kaum cerdik-cendekiawan, para ilmuwan dan terpelajar, sibuk menyelamatkan urusan ekonomi masing-masing. Mereka tak berani turun ke landasan untuk mencerahi masyarakat. Untuk menyalakan suluh kebenaran. Mereka bersembunyi di balik segala kemapanan dan keenakan hidup yang sudah dinikmati.

Media-media massa, para pemerhati, politisi, akademik kangkung bayaran, dan seterusnya mereka terus-menerus berdzikir dengan kata-kata: “Demi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.” Tapi kelakuan mereka busuk. Moral mereka lacur. Mereka gadaikan kehidupan rakyat dan bangsa, demi memenuhi syahwat hedonismenya. Kaum virus bangsa itu tak henti-hentinya menipu, menipu, menipu, dan menipu rakyat yang kebanyakan pelupa dan tidak kritis.

Ya Allah ya Rabbi, sampai bila negeri Indonesia ini terus dikuasai para penipu, penjilat, dan pengkhianat? Ya Allah haturkan ke tengah kami belas kasihan atas nasib berjuta saudara-saudara kami. Mereka manusia, mereka berharga, mereka punya kehidupan. Ya Allah ya Rabbi, selamatkan kami dan bangsa ini dari segala tipu daya para syaitan berwujud manusia. Ya Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah, wa qinaa adzaban naar. Amin Allahumma amin.

Salam hormat, kasih sayang, dan peduli bagi sesama anak bangsa yang lemah, tercicir, dan menderita. Haraplah kepada Allah Rabbul ‘alamiiin, ada masa depan baik menantimu, Saudaraku.

Walhamdulillahi Rabbil ‘alamiin.
___________________________

Adaptasi dari naskah asal oleh: AM. Waskito, Penulis Invasi Media Melanda Kehidupan Umat,

Shared and Editor by Wilhelmina (Malaysia)

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s