AlKisah Mak Eros, Ibu dengan 25 Anak

Juma’at 3 Jamadilakhir 1435 / 4 April 2014


Mak Eros dan anaknya.

FortunaMedia.com |AlKisah Mak Eros, Ibu dengan 25 Anak,

Ada kisah yang menyentuh naluri kemanusiaan siapa saja yang membacanya pada pagi hari jumaat ini atau mungkin saja sahabat pernah menemuinya ditempat terbinanya alkisah ini yaitu seorang ibu yang tabah dan tawakkal kepada Allah SWT diatas kemiskinan hidupnya untuk menghidupi 25 orang anak.

Beliau tinggal menetap  dikawasan Plered  salah satu kecamatan di Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat Indonesia yang sudah lama terkenal sebagai pusat industri ceramik dan tembikar.

Ceramik yang dihasilkan selain untuk pasar dalam negeri juga sebagai komoditi ekspor ke manca negara.

Kembali ke laptop,

Mak Eros menikah kali pertama ketika lulus Sekolah Rendah (SD). “Kalau tidak salah, umur saya 13 tahun,” ujarnya. Tapi dari pernikahan pertamanya, ia tidak mendapatkan anak. Akhirnya mereka berpisah. Mak Eros kemudian menikah lagi. Dari pernikahannya yang kedua, ia memiliki lima orang anak, tapi empat diantaranya meninggal ketika berusia 4-7 tahun. Hanya satu yang masih hidup, namanya Nani. Namun kemudian, suami kedua Mak Eros meninggal dunia. Akhirnya, Mak Eros pun menikah lagi dengan  Asep Sumarna, duda empat anak. “Total, saya punya lima orang anak,” katanya mengenang.

Saat itu ia merasa, lima anak sudah cukup, mengingat penghasilannya (sebagai peniaga keliling) dan suaminya (sebagai tukang becak) terbilang tidak cukup, juga kerana rumah mereka yang luasnya hanya 2×8 meter tidak akan bisa menampung banyak anggota keluarga.
Tapi, rupanya Allah SWT punya rencana lain. Mak Eros kemudian hamil anak pertama dari Encik Asep ketika anak terkecilnya baru berusia 4 bulan. Ia pun gelisah ketika harus mengabarkan kehamilannya kepada sang suami. tapi menurutnya, yang namanya suami-istri, semuanya harus dibicarakan. Mak Eros pun dengan hati-hati bicara pada suaminya, “Kang, yang sabar ya. Saya hamil deui. Maaf.”( “Bang sabar ya ,Saya hamil lagi maaf”)

Ia berfikir dan menduga  suaminya akan marah lalu meninggalkannya kerana hamil. Ternyata dugaannya salah, Bapak Asep malah memegang perut istrinya sambil berujar, “Iya ada bayi lagi. Ngga apa-apa, sampai 50 anak juga tidak apa.” Lega rasanya, mereka pun tertawa bersama

 

Agar roda kehidupan terus berjalan, ia terus membantu suaminya mencari penghasilan tambahan. Penghasilan suaminya sebagai penarik becak paling besar Rp 20 ribu, dan keuntungan Mak Eros berjualan makanan gorengan dan agar-agar keliling kampung sekitar Rp 10 ribu sehari, itu pun dengan jualan tiga kali sehari, setiap pagi, siang dan petang. Anak yang kecil diasuh oleh kakaknya.

Di tengah kesibukannya, Mak Eros hamil lagi dan lagi. Pernah ia melahirkan jam 12 malam, jam 6 pagi sudah mula  keliling kampung jualan lagi. “Alhamdulillah saya sehat-sehat saja. Mungkin ini berkah Allah. Kalau sakit, paling parah ya masuk angin saja,” ujarnya tertawa.

 

Keluarga Berencana Pun Gagal

Waktu anak Mak Eros sudah lapan orang, ia berfikir untuk ikut program Keluarga Berencana (KB), tujuannya sederhana, supaya bisa memperjuangkan anak-anak, paling tidak untuk makan. Agar ia bisa bantu-bantu kerja lagi. Tapi KB ternyata gagal. Mak Eros hamil lagi anak ke sembilan. Setelah melahirkan, ia ikut KB lagi, kali ini yang berupa suntikan. Tapi ia malah mendapat pendarahan dan sempat sakit.  Asep sang suami kasihan melihat istrinya, ia berkata, “Ya sudahlah, nanggung anak sudah banyak, tidak apa-apa. Anak itu sudah bawa rezeki masing-masing. Tidak usah takut tak bbagi makan.”

Setiap hamil, Mak Eros tidak pernah terlintas sedikitpun untuk menggugurkan janin dalam kandungannya. “Jangankan menggugurkan, waktu lahir ada yang minta saja, saya tidak berikan.. Saya mau membesarkan anak-anak saya sendiri. Saya juga tidak mau meminta-minta belas kasih orang. Biar saya dan suami yang berusaha keras menghidupi anak-anak.. Nyaah sae ku saena. Awon ku awona.katanya dalam logat Sunda (Anak itu, kalau baik, disayang kerana kebaikannya. Kalau kurang, disayang kerana kekurangannya). Jadi sayang kalau mau dikasih ke orang. Susah-susah kita mengandung. Kalau soal rezeki mah Allah Maha Tahu. Saya dan Kang Asep menyadari, kerana anak banyak, jadi usaha kita juga ditambah.”

Bukan satu dua orang yang menasihati Mak Eros,agar jangan banyak-banyak punya anak. Dari ibubapanya sampai jiran tetangga, semua bilang begitu. “Saya juga inginnya begitu. Tapi mau bagaimana lagi, saya juga tidak bisa cegah, tidak bisa nolak juga. Ini namanya takdir. Dicegah sekuat tenaga, tidak akan bisa. Saya yakin Allah akan bantu. Allah juga tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya..” jawab Mak Eros mantap.

Ada hal yang lucu, tentang nama-nama anak Mak Eros. Salah seorang anak Mak Eros diberi nama Cucep. Sejarahnya, ketika dalam kandungan Mak Eros yakin Cucep akan jadi anak terakhirnya, maka diberi nama Cucep (Ucu nu Kasep) artinya anak bungsu yang ganteng. Tapi ternyata setelah Cucep, Mak Eros hamil lagi. Waktu anak ke 12, diberi nama Tosin (Atos Salusin) yang artinya sudah selusin(sedozen). Tapi ternyata setelah Tosin, masih ada lagi. MaasyaAllah.

Semua anak Mak Eros lahir dengan normal, tidak ada yang operasi (caesar) dan tidak ada masalah, baik saat dalam kandungan atau saat lahir. Setelah melahirkan pun semuanya normal saja, padahal Mak Eros jualan lagi, bawa dagangan banyak, dan setelah jualan pulang kerumah mengerjakan pekerjaan rumahnya lagi.

Makan Dengan Garam Juga Enak

“Punya anak banyak itu menyenangkan,” kata perempuan yang tinggal di Plered, Purwakarta ini. “Rasanya semangat terus. Meski harus jualan, ngurus anak dan rumah tangga sekaligus. Saya tidak malu punya anak banyak. Saya malah maPunya lu kalau ada anak saya yang nangis dan terdengar tetangga kerana lapar, tidak bisa makan. Makanya saya tidak mau seperti itu, jadi saya semangat jualan terus,” lanjutnya.

Kalau sang suami Asep pulang menarik becak membawa uang Rp 10 ribu, itu hanya cukup buat dua liter beras. Sedangkan sekali masak untuk keluarganya paling tidak enam liter beras untuk sekali makan. “Nanti siangnya saya jualan lagi untuk nyambung makan. Lauknya juga tidak pernah mewah, tempe dan kicap juga sudah alhamdulillah. Pernah juga kerana tidak ada lauk, nasi panas dicamput garam. Itu juga enak..” ceritanya lugu.

Setiap pulang jualan biasanya Mak Eros mencuci pakaian banyak, setelah itu mencuci pinggan, memasak, memandikan anak-anak, kemudian makan bersama. Setelah makan anak-anak Mak Eros mengaji di mushala. Atau kalau pagi, ada yang berangkat sekolah. Anak-anak Mak Eros tidak ada yang diberi bekal uang jajan, minta juga mereka tidak pernah. Kalau lapar, mereka pulang untuk makan. Mereka juga tidak pernah merengek dibelikan barang-barang. Anak-anak Mak Eros memang menyadari betul kondisi ibubapanya.

“Kalau hari raya semuanya kumpul.. Rumah jadi ramai dan riuh. Lebaran, masak daging minimal harus 10 kg. Itu pun tidak harus daging lembu atau kerbau. Tapi daging itik, ayam, pokoknya yang penting daging. Anak-anak juga tidak ada yang protes.. ” cerita Mak Eros sambil tertawa.

“Alhamdulillah, anak-anak sudah besar semua. Bagi saya, melihat mereka bisa mandiri dan bahagia, sudah cukup membuat saya bahagia.. Melihat mereka akur dan bisa kumpul-kumpul, saya sudah bersyukur,” ujarnya terharu.

_________________
Adaptasi dari naskah asal muslimahzone.com
Shared and Editor by Wilhelmina Van Java.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s