#Krisis Politik Ukraine:Gagalnya Senario Revolusi Warna AS di Ukraine

Kemenangan Amerika di Ukraine pada 22 Februari 2014 lalu, menyusul tumbangnya Presiden Victor Yanukovich yang dipandang pro Rusia, nampaknya sekarang berbalik arah menjadi kekalahan.

Ahad 28 Jamadilawal 1435 / 30 Mac 2014

FortunaMedia.com |#Krisis Politik Ukraine:Gagalnya Senario Revolusi Warna AS di Ukraine.

Tumbangnya Presiden Ukraine yang pro Rusia Victor Yanukovich menyusul hasil voting parlimen Ukraine, bagi Presiden Rusia Vladimir Putin justru dia jadikan sebagai momentum untuk menghadapi secara langsung kekuatan kuasa besar yang berada di balik kejatuhan Yanukovich: Amerika Syarikat dan Kesatuan  Eropah.

Tanpa banyak pidato yang berbunga-bunga, Putin langsung menyusun langkah-langkah strategis dan taktis dengan memerintahkan penggerakan pasukan Rusia di perbatasan Ukraine yang berada di dalam wilayah otonomi Crimea. Langkah ini terbukti tidak saja taktikal melainkan cukup strategik. Kerana dengan begitu, Putin telah berhasil mengembalikan kepercayaan diri (self confidence) elemen-elemen masyarakat penyokong Rusia baik di Crimea, Ukraine, dan juga di dalam negeri Rusia itu sendiri. Selain itu, manuver strategik dan taktik Putin yang cukup berani dan tegas menghadapi Amerika dan Kesatuan Eropah, juga telah melemahkan kesatuan dan kemantapan pasukan koalisi oposisi nasional Syria  yang sedang berjuang dan didukung dari belakang layar oleh Amerika dan pakta persekutuan pertahanan negara-negara Eropah Barat (NATO).

Jika kita menelisik kembali peristiwa menjelang kejatuhan Yanukovich, memang ada beberapa kejanggalan.  Sidang parlimen Ukraine pada 22 Februari 2014 memutuskan untuk mempercepat pemilihan umum pada 25 May 2014. Yang berarti pemerintahan Yanukovich dinyatakan demisioner(outgoing). Namun keanehan yang mendasari keputusan parlimen Ukraine yang dimotori oleh parti-parti oposisi tersebut kerana terjadinya serangkaian kerusuhan politik yang terus-menerus terjadi di Kiev, sehingga berakibat tewasnya 77 korban jiwa

Masuk akal jika Presiden Yanukovich kemudian menanggapi aksi sepihak parlimen Ukraine tersebut sebagai vandalisme, aksi para bandit dan bahkan dipandang sebagai kudeta. Dengan kata lain, Yanukovich beranggapan keputusan parlimen Ukraine tersebut bersifat illegal.

Senada dengan Yanukovich, para pegawai pemerintahan Rusia seperti Putin dan Perdana Menteri Medvedev dan Menteri Luar Negeri Lavrov, dengan tak ayal menyebut regim baru pengganti Yanukovich tersebut sebagai “Pemerintahan Brandalan” yang telah merompak kekuasaan Yanukovich yang terpilih secara demokratis.

Para petinggi pemerintahan Rusia di bawah kepemimpinan Putin nampaknya memang cukup beralasan memandang tumbangnya Yanukovich sebagai sebuah konspirasi. Yanukovich sendiri, sebelum pada akhirnya memutuskan meninggalkan negerinya akibat adanya ancaman yang dihadapinya, telah mengecam dibebaskannya pemimpin oposisi dan mantan perdana menteri Yulia Tymoshenko. Tymoshenko, setelah ditahan selama 2,5 tahun kerana melakukan penyalahgunaan kekuasaan.

Dengan dibebaskannya Tymoshenko yang selama ini dipandang tokoh oposisi yang pro Amerika dan negara-negara Kesatuan  Eropah  pada 22 Februari 2014, harus dibaca sebagai pra-kondisi untuk memperkuat legitimasi moral gerakan parti-parti oposisi untuk menumbangkan Yanukovich melalui “kudeta konstitusional”. Voting di parlimen dengan hasil 331 suara versus 1 suara yang menjadi dasar dibebaskannya Tymoshenko, memang cukup aneh dan beraroma rekayasa. Sekaligus mengindikasikan, bahwa pembebasan Tymoshenko merupakan langkah awal dari konspirasi parti-parti oposisi di parlimen untuk menggulingkan Yanukovich.

  Konspirasi penggulingan Yanukovich memang dilakukan secara terencana dan sistematis. Bocoran rakaman pembicaraan antara Asisten Menteri Luar Negeri Amerika Victoria Nuland dan Duta Besar Amerika di Ukraine Geoffrey Pyatt oleh pasukan Cyber Rusia, terungkap adanya upaya untuk mendukung kemunculan figure-figur tokoh oposisi Ukraine sebagai pemimpin baru Ukraine pasca tumbangnya Yanukovich.

Terbongkarnya konspirasi penggulingan Yanukovich, semakin diperkuat dengan terungkapnya bocoran isi email pribadi pemimpin oposisi Vitali Klinsko yang mempertunjukkan dirinya sebagai “agen bayaran” kepentingan asing yang ditugaskan untuk menumbangkan pemerintahan yang sah.

Bocoran yang tak kalah menggemparkan yaitu pembicaraan antara Menteri Luar Negeri Estonia Urmas Paet dengan Ketua  Kebijakan Luar Negeri Kesatuan Eropah Catherine Ashton yang mana dalam pembicaraan tersebut Paet menginformasikan Ashton bahwa kubu oposisi telah membayar penembak-penembak jitu untuk menembaki para demonstran anti Yanukovich dan pihak polis  untuk memancing dan memprovokasi terjadinya kerusuhan.

Jika kita menelusuri  kembali dalih parlimen Ukraine ketika memutuskan percepatan pilihan raya yang berakibat tumbangnya Yanukovich, kerana terjadinya serangkaian kerusuhan politik yang berakibat tewasnya 77 korban jiwa. Maka, bocoran informasi yang berhasil dipintas pasukan Cyber Rusia tersebut, nampaknya cocok dengan modus operandi kejatuhan Yanukovich melalui sidang parlimen.

Senario Kudeta ala Amerika di Negara-Negara Pecahan Soviet Union dan Balkan

Apa yang terjadi di Ukraine dengan tumbangnya Yanukovich, harus kita telusuri ke belakang, kerana fenomena kejatuhan Yanukovich sejatinya merupakan gerakan terencana dan sistematik.

Bermula dari istilah media Barat dalam rangka menggambarkan gerakan massa di negara-negara pecahan  Soviet Union dan Balkan dekad 2000-an ke atas. Revolusi Berwarna atau sering disebut “revolusi warna” kini semakin populer, kerana sesungguhnya bukanlah suatu gejolak biasa namun merupakan setting politik praktis di berbagai belahan dunia mengatas-namakan gerakan rakyat. Unik memang, sebutan bagi setiap gerakan selalu mengambil nama-nama serta mengadopsi warna bunga sebagai simbolnya. Selain berciri tanpa kekerasan (nonviolent resistance), penting dicatat pada awal tulisan ini bahwa  Institusi bukan kerajaan (NGO) memiliki peranan teramat vital dalam gerakan ini. Dengan kata lain, Institusi bukan kerajaan (NGO) termasuk kelompok pemuda serta mahasiswa ialah ujung tombak bagi “senario ganti regim” di suatu negara.

Adapun tuntutan yang diusung dalam revolusi non kekerasan ini berkisar isue-isue global antara lain demokrasi, hak asasi manusia (HAM), korupsi, kemiskinan, akuntabiliti dan lainnya. Ia punya pola-pola bersifat umum kerana berpedoman buku wajib yang sama yakni “From Dictatorship To Democracy”-nya Gene Sharp, sarjana senior di Albert Einstein Institute (AEI). Dan seringkali lambang dan slogan gerakan massa pun sama pula.

Sebagai contoh revolusi yang menerjang bekas negara Pakta Warsawa di Yugoslavia (2000), revolusi mawar di Georgia (2003), revolusi oranye di Ukraine (2004), revolusi tulip di Kyrgystan (2005), revolusi cedar di Lebanon (2005) dan lainnya, termasuk gejolak yang kini tengah melanda Jalur Sutra (Timur Tengah dan Afrika Utara) terdapat kemiripan logo “Tangan Mengepal”, dan slogan singkat yang artinya “CUKUP” sesuai bahasa negara-negara sasaran. Misalnya di Mesir bernama Kifaya (cukup), di Georgia disebut Kmara (cukup), di Ukraine namanya Pora (waktunya), di Kyrgystan berslogan Kelkel (zaman baru) dan seterusnya.

Agaknya slogan dalam revolusi warna itu ibarat “roh gerakan” guna menyatukan semangat massa sekaligus sebagai tujuannya. Artinya kendati tidak selamanya demikian, namun inti maknanya ingin mengakhiri regim berkuasa tanpa harus banyak darah mengucur.

Bahwa hampir semua logo, slogan, taktik bahkan strategi dari gerakan-gerakan selama ini berbasis kurikulum yang bersumber dari bukunya Gene Sharp di atas. Dan ternyata diajarkan oleh Center for Applied Non Violent Action and Strategies (CANVAS), pusat pelatihan bagi pengunjuk rasa tanpa kekerasan yang logonya Tangan Mengepal atau Kepalan Tinju. Konon CANVAS telah melatih para tokoh demonstran di 37-an negara termasuk di antaranya Korea Utara, Belarus, Zimbabawe, Tunisia, Mesir, Yaman, Bahrain, Syria, Iran dan sebagainya.

Begitulah. Melawan regim tanpa senjata merupakan methode baku bahkan menjadi kunci strategi untuk kesuksesan revolusi model abad ini. Sasarannya ialah memanipulasi serta mencuri simpati publik melalui support media massa dan jejaring sosial seperti facebook, blogger, twitter dan lain-lainnya.

Ketika analis geopolitik DR Webster G. Tarpley merasa curiga, bahwa terdapat kesamaan antara revolusi yang kini terjadi di Jalur Sutra dengan pergolakan di Serbia sewatu mengusir Slobodon Milosevic. Itulah yang dulu dan kini berlangsung.

Tidak ada peristiwa terjadi secara kebetulan. Gerakan rakyat di Serbia memang tidak murni sebab disokong Amerika Syarikat (AS) via Central Intellegent Agency (CIA). Juga tak boleh dilupakan adalah peranan  National Endowment for Democracy (NED), NGO “seribu projek”-nya Pentagon yang dibiayai Kongres AS hingga jutaan dolar per tahun.

 

Menurut Prof Michel Chossudovsky, analis dan peneliti pada Central for Research on Globalization (CRG), revolusi berwarna adalah operasi CIA mendukung gerakan-gerakan protes guna memicu perubahan regim di bawah gerakan pro-demokrasi. Tujuan utama ialah menggulingkan pemerintahan sah melalui protes dan kerusuhan sosial.

Adakah tujuan strategik AS dan Kesatuan Eropah di balik tumbangnya Yanukovich? menurut Andrew Gavin Marshall, juga peneliti di CRG, bahwa revolusi warna merupakan awal Perang Dunia III. Menurutnya, itu adalah taktik politik rahasia untuk memperluas pengaruh NATO dan AS ke perbatasan Rusia dan Cina sesuai salah satu strategi dan tujuan membentuk New World Order (Tatanan Dunia Baru), dengan membatasi gerak Cina dan Rusia serta mencegah munculnya tantangan apapun bagi kekuasaan AS di kawasan itu. Agaknya statement kedua peneliti CRG di atas selaras dengan ungkapan Tony Cartalucci,  kolumnis pada RT News Chanel. Ia menyatakan: “Matikan Timur Tengah, anda mematikan Cina dan Rusia, maka anda akan menguasai dunia “. Luar biasa. Tapi benarkah demikian?

Upaya ganti regim di berbagai negara model non kekerasan ini, sudah tentu didukung oleh NGO skala internasional seperti NED, Freedom House, International Republic Institute dan lainnya sebagai ujung tombak, berkolaborasi dengan NGO-lokal di negara yang ditarget.

Beberapa bocoran yang berhasil diungkap oleh pasukan Cyber Rusia tersebut di atas, semakin membuktikan beberapa pandangan para pakar tersebut. Maupun serangkaian pernyataan dari Presiden Putin, Perdana Menteri Medvedev dan Yanukovich, sebagaimana dipaparkan di atas.

Mengapa Terjadi Titik Balik Amerika di Ukraine

Namun senario dan rekayasa penggulingan Yanukovich sepertinya justru menjadi momentum serangan balik terhadap Amerika dan Kesatuan Eropah. Sehingga Menteri Luar Negeri Perancis Laurent Fabius pada Rabu 5 Mac lalu, mengatakan bahwa pihaknya dan Jerman tengah merancang upaya penyelesaian krisis Ukraine. Padahal, Jerman merupakan salah satu elemen penting di Kesatuan Eropah yang sangat berkepentingan dengan jatuhnya Yanukovich.

“Rencana itu mensyaratkan penarikan pasukan-pasukan, perlucutan senjata kumpulan-kumpulan militan, pemenuhan ketentuan-ketentuan konstitusi, dan pilihanraya yang dipercepat, begitu kata Fabius. Pernyataan Fabius tersebut seakan-akan membenarkan atas anggapan lemahnya legitimasi regim pemerintahan peralihan Ukraine saat ini. Yang berarti pula, Fabius memberi isyarat bahwa Yanukovich masih merupakan ketua  pemerintahan yang sah.

Alhasil, pernyataan Fabius tersebut kemudian diikuti sikap negara-negara Kesatuan Eropah yang enggan memberikan sanksi terhadap Rusia, yang merupakan mitra/rakan  bisnis mereka yang tidak bisa diremehkan begitu saja.

Titik balik Amerika juga terjadi di Crimea, menyusul perintah Putin untuk penggerakan pasukan Rusia ke wilayah tersebut. Betapa tidak. Parlimen Republik Otonomi Crimea memecat perdana menteri yang pro regim peralihan Ukraine, lalu mengangkat perdana menteri baru yang pro Rusia, serta menetapkan referendum untuk bergabung dengan Federasi Rusia.

Alhasil, revolusi pro Rusia di Crimea menyebar ke wilayah Ukraine Timur dan Selatan. Menyusul ribuan massa pro Rusia menduduki gedung pemerintahan tempatan kota Donetz. Dewan Kota tersebut mengeluarkan pernyataan tuntutan referendum untuk menentukan masa depan kota industri tersebut. Aksi serupa juga terjadi di Odessa, Kharkov dan kota-kota lainnya.

Bahkan Ketua Staf Angkatan Laut Ukraine dan sejumlah pegawai militer serta sejumlah besar pasukan Ukraine di Crimea, menyatakan sokongannya ke Rusia.

Nampaknya pernyataan Perdana Menteri Medvedev dalam wawancara dengan NBC beberapa waktu lalu, cukup menggambarkan trend yang terjadi menyusul tumbangnya Yanukovich. Medvedev mengatakan, bahwa penguasa baru di Ukraine telah mendapatkan kekuasaanya secara illegal, dan akan berakhir oleh revolusi baru yang menentang mereka.

Dan Medvedev nampaknya memang benar adanya.

_________________________________

Written by Hendrajit dan M Arief Pranoto, Peneliti Senior Global Future Institute.
Editor and shared by Wilhelmina.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s