#PrayForMH370:Kehilangan MH370, Cabaran Penerbangan Moden

#PrayForMH370


Isnin 8 Jamadilawal 1435 / 10 Mac 2014

 

FortunaMedia.com|#PrayForMH370:Kehilangan MH370, Cabaran Penerbangan Moden

Pada Pameran Dirgantara Dubai pertengahan November 2013,producer  pesawat Boeing amat bangga berbunga-bunga. Di sanalah raksasa pesawat terbang sivil Amerika Syarikat ini mengumumkan peluncuran pesawat baru 777-X yang merupakan type lebih mutakhir daripada jet laris Boeing 777.

Di Dubai, maskapai Emirates sudah beranjak untuk mengganti 777-300ER-nya dengan 777 generasi lebih baru. Inilah 777 yang berjelajah sekitar 13.000 kilometer, bermuatan 50 tan, dan menggunakan teknologi Boeing 787 yang supercanggih (Flight Daily News, 20/11/2013).

Berita tersebut tentu saja memperkuat reputasi Boeing 777 yang selain laris juga memiliki rekod keselamatan bagus. Kecelakaan terakhir yang melibatkan 777 adalah ketika sebuah pesawat type ini milik maskapai Korea, Asiana Airlines, mengalami musibah menjelang pendaratan di Airport San Francisco, July tahun silam

Sabtu (8/3/2014) lalu, kita mendengar pesawat Boeing 777-200 milik maskapai Malaysia Airlines (MAS) dengan nombor penerbangan MH370 hilang dalam penerbangan dari Kuala Lumpur menuju Beijing. Pesawat ini belum ditemukan hingga hari Isnin pagi ini –10 Mac 2014)

Orang pun bertanya-tanya, bagaimana bisa pesawat yang tergolong besar ini hilang, padahal di dalamnya ada perangkat komunikasi canggih, dalam wujud radio, GPS, dan
sistem komunikasi komputer. Mestinya tidak semudah ini. Demikia kata penulis penerbangan Richard Quest (Tom Watkins, CNN, 8/3/2014).

Pesawat seharga 250 juta dollar AS  ini, tambah Quest, dilengkapi dengan teknologi aircraft communications and reporting system yang ada dalam komputer pesawat. “Alat ini akan melaporkan kepada maskapai bagaimana pesawat berprestasi , misalnya menyangkut kecepatan, simpanan bahan bakar, dan juga daya enjinnya,” tambah Quest.

Quest percaya, meski pihak berwenang belum mengetahui apa yang terjadi dengan penerbangan MH370, ada peristiwa katastrofik-catastrophic/bencana (yang membuatnya hilang).

Analisis semacam itu mudah difikirkan kerana kalau ada kerosakan pada sistem biasa, mestinya pilot—juga alat-alat komunikasi canggih tadi—masih bisa menyampaikan laporan

Kejadian MH370 ini mengingatkan orang pada penerbangan pesawat Airbus A-330—ttpe yang juga tergolong canggih—milik maskapai Air France dalam penerbangan dari Rio de Janeiro ke Paris, Jun 2009. Pesawat hilang kontak dan ternyata terjun ke Samudra Atlantik.

Meski pesawat hilang pada ketinggian jelajah seperti dijelaskan oleh Quest ada presedennya (penyebabnya/sesuatu yg bisa dijadikan contoh), hal ini tetap tergolong langka. Ini pula yang menjadi bahan analisis Reuters/New Straits Times (9/3/2014).


Disebut langka kerana sebenarnya tahap yang berbahaya dalam penerbangan ada pada saat berlepas dan mendarat, dan umumnya pada tahap inilah kemalangan terjadi.


Berbagai teori

Dalam dunia penerbangan, faktor-faktor yang sering disebut sebagai penyebab
kemalangan adalah cuaca buruk, kerosakan sistem pesawat seperti enjin, atau kesalahan pilot. Dalam perkembangan terakhir, kondisi manajemen maskapai juga mulai sering dimasukkan sebagai faktor tambahan.

Dalam hal pesawat Malaysia, teori yang disebut Reuters/New Strait Times adalah mulai dari stall (kehilangan ketinggian) secara mendadak, kejadian mendadak di dalam pesawat yang menyebabkan kelumpuhan elektrik total, hingga jenis yang (penyebabnya) masih sulit difahami.

Pesawat Boeing yang berumur 11 tahun ini hilang kontak dengan petugas pengendali lalu lintas penerbangan 50 minit setelah berlepas  pada pukul 00.40, atau sekitar 222,24 kilometer dari Kota Bharu-Kelantan, yang ada di pantai timur Malaysia. Laman pelacak penerbangan flightware.com memperlihatkan pesawat terbang ke arah timur laut dan menanjak ke ketinggian 35.000 kaki.

Dengan kondisi pada ketinggian jelajah, yang dianggap tahap paling aman dalam penerbangan, dugaan yang dikemukakan sejumlah pilot dan ahli penerbangan seperti Richard Quest di atas adalah adanya ledakan di pesawat sebagai penyebab terjadinya musibah.

Seorang mantan pilot Malaysian Airlines, seperti dikutip Reuters/New Straits Times, mengatakan, penyebab hilangnya pesawat adalah bisa ledakan, serangan petir, atau dekompresi berat. Ia menambahkan, Boeing 777 masih bisa terbang setelah kena serangan petir, atau dekompresi berat, tapi kalau ledakan, tamat sudah.

Namun, belajar dari pengalaman yang diperoleh dari kemalangan pesawat AF 447, di mana kotak hitam baru ditemukan dua tahun setelah musibah, dan hasil penyelidikan diperoleh setahun kemudian, spekulasi terlalu dini tidak selamanya berdasar. Semula kecelakaan diduga akibat serangan badai, tetapi penyelidik menemukan ais yang merosakkan pembacaan sensor kecepatan pada pesawat meskipun seiring dengan itu ditemukan adanya kesalahan pilot.

Pada era terorisme, teori ini juga muncul dalam hilangnya pesawat Malaysia. Seperti banyak disiarkan media kemarin (antara lain Malaysia Chronicle, 8/3/2014), ada salah satu penumpang pesawat MH370 yang bepergian dengan pasport curian. Nama Luigi Maraldi (37) yang muncul di manifes penumpang pesawat yang hilang ternyata dalam keadaan baik-baik saja di Thailand. Ia pada bulan Ogos tahun lalu melaporkan kepada pihak berkuasa di Italy bahwa ia telah kehilangan pasport.

Bagi keluarga para penumpang dan awak, tentu berita pasti yang lebih diharapkan. Inilah yang kini tampaknya dipacu oleh team SAR Malaysia dan sejumlah negara lain yang bekerja sama untuk menemukan pesawat yang hilang. Pesawat Angkatan Udara Malaysia bisa dikerahkan untuk pencarian pada malam hari kerana dilengkapi dengan peralatan penglihat malam.

Penerbangan, di balik kemajuan yang telah dicapai dari sisi teknologi, masih menyisakan hal yang misterius, dengan adanya interaksi pelbagai faktor yang disebut di atas. Namun, dengan segala tantangan yang dihadapi, penerbangan telah menjadi pilar peradaban moden, dengan sokongan industri yang bersifat all out sebagaimana dapat disaksikan dalam pameran kedirgantaraan dunia Dubai pertengahan November 2013 , dan sengitnya persaingan di antara pabrikan pesawat dan maskapai penerbangan.
Sumber;
NIN/KOMPAS CETAK
Editor by Wilhelmina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s