“The Head Hunters Of Borneo”[01]

Menyeberang Sungai Benangan di pedalaman Kalimantan. Litografi oleh C.F. Kelley berdasar lukisan karya Carl Bock. Bock menjelajahi Kalimantan timur dan selatan, dari Kutai ke Banjarmasin. Tentang pengalamannya, dia menulis sebuah buku “The Head Hunters of Borneo” yang terbit pada 1881. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

 

Jum’at 27 Rabiulakhir 1435|28 Februari 2014

Oleh: Mahandis Y. Thamrin

Editor by Wilhelmina

 

FortunaMedia.com |135 Tahun Penjelajahan Carl Bock“The Head Hunters Of Borneo”[01]

Lelaki Norway Penjelajah Kalimantan 1879

Seorang naturalis dan penjelajah Eropah meniti pedalaman Kalimantan.FortunaMedia.com mengutip National Geographic menuturkan kisahnya dalam tiga bahagian.

Carl Alfred Bock, naturalis dan pelancong Norway kelahiran Copenhagen, Denmark. Dia pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan pada 1879. Sebelum menjelajah di Kalimantan, dia telah menjelajah di pedalaman Sumatra pada 1878. Lukisan karya Hans Christian Olsen. (Wikimedia Commons/Tropenmuseum)

“Pada Minggu, 20 July 1879, saya memulai perjalanan dari Samarinda dengan dua perahu ke Tangaroeng [Tenggarong],” ungkap seorang lelaki muda di buku catatannya, “jaraknya sekitar 30 mil perjalanan melalui sungai.”

Lelaki itu adalah Carl Alfred Bock, naturalis dan pelancong kelahiran Copenhagen, Denmark. Meskipun lahir di Denmark, Bock mengikuti kewarganegaraan orang tuanya, Norwegia. Dia pernah melakukan perjalanan ke pedalaman Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan selama enam bulan. Ketika itu usianya masih 30 tahun.

Misinya di Kalimantan merupakan titah dari Gabernor Jenderal Johan van Lansberge untuk melaporkan keberadaan suku-suku Dayak dan menghimpun spesimen sejarah alam untuk beberapa muzeum di Belanda.

Hasil penjelajahannya di Samarinda-Tenggarong-Banjarmasin dan pedalaman Kalimantan, Bock menulis buku berjudul The Head Hunters of Borneo yang terbit pada 1881, lengkap dengan 37 litografi dan ilustrasi. Dalam bukunya yang sensasi  itu dia berkisah tentang peradaban Dayak dan kanibalisme antarsuku.

“Bock memberi kita informasi yang padat tentang suku Dayak dari Kalimantan Selatan,” ungkap Alfred Russel Wallace, seorang naturalis dan penjelajah asal England, beberapa bulan setelah buku itu terbit.

“Kesan umum dari deskripsinya yang didukung potret kehidupan menunjukkan adanya kesamaan nan indah antara semua suku di pulau besar ini, baik dalam karakteristik fisik dan mental,” demikian ungkap Wallace, “meskipun ada banyak spesialisasi dalam kebiasaan.”

 

Bock dalam catatannya telah berjumpa Dayak Long Wai, Dayak Long Wahou, Dayak Modang, Dayak Punan, “Orang Bukkit” dari Amontai, dan Dayak Tring. Dia juga menuturkan upayanya dalam menyingkap kisah lama dari warga setempat tentang manusia berekor. Seorang abdi kepercayaan dari Sultan Kutai A.M. Sulaiman bersaksi pernah menjumpai sosok itu dan menjulukinya dengan “Orang boentoet” (orang buntut-berekor)

“Saya berhasil menyelesaikan perjalanan ini,” ungkap Carl Bock. “Saya menjelajahi route dari Tangaroeng ke Bandjermasin, sejauh 700 mil, melalui  serangkaian bahaya dan kesukaran di suku Dayak.”

Apakah Carl Bock juga berhasil menyaksikan manusia berekor penghuni hutan Kalimantan? Simak kisah selanjutnya petualangan Bock, “Pencarian Ras Manusia Berekor di Kalimantan”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s