Brutalnya Kristianisasi di Indonesia [01]

Selasa 24 Rabiulakhir 1435/25 Februari 2014
Editor by
Wilhelmina

FortunaMedia.com |Kisah Nyata Seorang Mahasiswi Yang Diculik Lalu Dimurtadkan

Kes Sebenar Pertama:

 

SUMINAH menghembuskan nafas terahirnya Rabu (19/2/14), pukul 06.30,  di Hospital Darmais, Jalan. S.Parman, Slipi-Jakarta Barat. SUMINAH menderita penyakit kanser payudara kronik setelah sebelumnya ia sempat dirawat di Hospital Palang Merah Indonesia(PMI) Bogor. Kematiannya-pun diperebutkan antara keluarga yang muslim dengan kumpulan misionaris Gereja Kristian Kharismatik Indonesia yang telah memurtadkan Suminah

Keluarganya yang mendampingi Suminah di Hospital Kanser Darmais-Jakarta hingga anak malang ini menghembuskan nafas terakhir adalah ibu kandungnya. Ibu Suminah  mengakui kalau Suminah meninggal secara Islam kerana saat sakaratul maut ia ditalkinkan dan sempat mengucapkan syahadat. Oleh kerana itu keluarga meminta agar dikebumikan secara Islam.

Tapi dari keluarga yang mengaku sebagai Suami, Suminah sudah dibaptis menjadi seorang Kristian dan dia harus dikebumikan secara Kristian. Perebutan mayat  Suminah berlangsung tegang. Namun Kerana ibu Suminah hanya seorang diri berjuang, ia kalah kuat.

Akhirnya ibu Suminah yang menjagai putrinya di rumah sakit terpaksa mengalah. Tak mampu menghadapi tekanan dan ancaman dari kumpulan misionaris Gereja Kristian  Kharismatik yang telah memurtadkan Suminah. Akhirnya Suminah direlakan dimakamkan secara Kristian di Bogor, Jawa Barat.

Kisah nyata yang dialami  keluarga Suminah asal Bukit Tinggi, Sumatera Barat ini, menarik menjadi pelajaran (Ibrah) bagi keluarga yang melepaskan anaknya terutama putri  menuntut ilmu jauh dari lingkungan keluarga. Sebab, di perguruan tinggi terlalu banyak lembaga misionaris yang setiap saat akan mengancam aqidah  mahasiswa. Dan itulah yang dialami Suminah.

Al Kisah, sekitar tahun 2009,  Suminah  menuntut ilmu di sebuah University Pertanian milik pemerintah di Kabupaten Bogor-Jawa Barat. Seperti layaknya mahasiswa mereka akrab dengan aktiviti kemahasiswaan. Suminah pun termasuk mahasiswa yang sangat aktif berorganisasi. Ia memasuki salah satu oranisasi Islam non kampus.

  Suminah juga aktif dalam kegiatan tarbiyah di kampusnya. Seperti melakukan kajian Islam, diskusi dan berbagai kegiatan Islam yang dikelola mahasiwa. Para aktivis kampus memang menjadi incaran-target  misonaris Kristian yang  juga bergerak di kampus kampus.

Ia tak sadar jika aktivitinya menjadi perhatian kumpulan missionaris Kristian  yang beroperasi di kampusnya.

Menurut Ustadz Drs. Abu Deedat Syihabuddin, MH, seorang  pakar Kristologi dari Team Fakta/Forum Antisipasi Kegiatan Pemurtadan di kampus tempat Suminah menuntut ilmu ada lembaga-lembaga Kristian yang sangat aktif menggarap mahasiswa untuk dimurtadkan.
Lembaga itu diantaranya, (Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), Persekutuan Antar Universitas, Navigator, Sion dan Kharismatik).

Suminah  menjadi incaran missionaris kristian  boleh jadi kerana ia anak berasal dari kota Bukit Tinggi Sumatera Barat (Minangkabau) yang terkenal kuat keimanannya dan memiliki nilai jual tinggi di kalangan missionaries jika berhasil memurtadkannya. Sebab jarang sekali orang Bukit Tinggi yang memeluk Kristian.

Tak  jelas bermula ceritanya. Suminah yang cantik dan periang itu tiba-tiba menghilang dari jangkauan keluarga. Tak ada yang tahu kemana perginya Suminah. Keluarga sudah berusaha menanyakan ke kampusnya. Tapi jawaban yang diterima tak ada yang tahu.  Nadiyah bagai hilang ditelan bumi.

Setelah empat tahun berlalu, akhirnya keluarga menemukan Suminah  dalam keadaan sakit kanser payudara di rumah sakit PMI Bogor. Yang membuat hati ibunya hancur adalah putri yang sudah lama ia cari  itu telah berpindah agama. Sudah menjadi seorang Nashrani/Kristian.

Konon katanya Suminah diculik lalu disekap dalam waktu yang cukup lama. Selama dalam penyekapan atau pengurungan Nadiyah dicuci-otaknya dengan ajaran-ajaran Kristian. Entah bagaimana ceritanya Suminah pun dinikahkan dengan cara Kristian.

Mengetahui anaknya telah berbeda keyakinan dengannya,  Ibu Suminah lemah-lunglai. Penglihatannya berkunang-kunang serasa tak percaya kalau anak yang paling ia sayangi itu sudah dibaptis sebagai seorang Kristian.

Dalam suasana kalut ibu Nadiyah nyaris tak mampu menahan berat beban tubuhnya kerana sangat lemah dan terpukul atas nasib yang diderita anaknya. Sudah murtad, sakit kanser payudara stadium 4 lagi.

Ia berusaha menguatkan diri agar tegar menghadapi musibah yang mengguncang hatinya. Dengan sisa-sisa kekuatan yang dimiliki ia berusaha mengajari anaknya itu kembali ke keyakinannya. Tapi pihak keluarga yang mengaku sebagai suaminya Suminah keberatan dengan usaha ibu suminah
.

Melihat penyakit yang diderita Suminah semakin berat, keluarga sepakat untuk memindahkan perawatan Suminah dari Rumah Sakit PMI Bogor ke Rumah Sakit Kanser di Jl. S. Parman, Slipi Jakarta Barat.

Di Rumah Sakit Kanser ini ibu suminah terus mentalkinkan anaknya meski gangguan juga terus datang dari  suaminya dan kumpulan missionaris yang telah memurtadkan. Menjelang ajalnya, akhirnya Suminah menurut ibunya kembali ke Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadah. “Wallahu a’lam”

Kes itu selayaknya untuk diusut tuntas, dan dikenai hukuman berat, serta ditutup lembaganya, agar kekurang-ajaran pihak pemurtad dan semacamnya itu tidak semakin menjadi-jadi dan mengancam umat Islam terutama kaum Muslimah, mahasiswi, dan gadis-gadis Umat Islam.

Kepada kaum Muslimin, Allah SWT mengingatkan kita  melalui Al-Qur’an, “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Adalah menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaga keyakinan kita kerabat kita jangan sampai berpaling dari dien/agama Allah yaitu Agama Islam. Oleh kwrana itu penanaman aqidah di lingkungan keluarga sangat penting. Tak cukup hanya dengan mengajarkan tentang iman kepada Allah tapi juga bagaimana meyakinkan keluarga terhadap iman dan implementasinya(pelaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.

Kita dapat mengambil pelajaran dari turunnya ayat-ayat Makkiyah yang orientasinya tentang keimanan. Selama 13 tahun Nabi Muhammad bin Abdillah Shallallahu’ Alaihi wa Sallam berdakwah di Mekkah sebelum hijirah ke Madinah, Nabi Muhammad Shallallahu’ Alaihi wa Sallam berusaha menanamkan pondasi keimanan terhadap para sahabat. Hasil kita ketahui betapa kuatnya keimanan para sahabat. Mereka tak tergoda dengan pangkat, kedudukan, harta dan wanita.

Salah satu contoh  diantara yang rela mati demi mempertahankan keyakinannya adalah Bilal bin Rabah. Ia disiksa, diseret dipadang pasir hingga tubuhnya luka-luka bahkan ditindih dengan batu yang besar, tapi ia tak mau melepaskan keyakinannya ia tetap beriman kepada AllahSWT.

Padahal jika ia mau menuruti majikannya dengan meninggalkan Iman dan Islamnya, Bilal bin Rabah tak perlu menderita disiksa oleh majikannya. Bahkan ia dijanjikan untuk dimerdekakan. Bilal bin Rabah adalah sosok muslim imannya yang sangat teguh dan kuat.

Bandingkan dengan keimanan generasi Islam sekarang. Mereka sangat goyang atau tak stabil  imannya tak tertancap dalam  hatinya. Iman hanya sekedar simbol keislaman bukan menjadi keyakinan. Itu sebabnya mereka sangat terdedah  dengan  pemurtadan (kristianisasi).

Lihat nasib Asmiranda dan sejumlah artis yang murtad. Mereka dengan mudah menggadaikan imannya hanya kerana seorang kekasih yang telah menggaulinya. Mereka merasa bahwa pindah agama seperti pindah dari parti politik yang sebelumnya parti A kemudian pindah ke parti B. Begitu rapuh keyakinan generasi kita sekarang.

Ada benarnya pernyataan ustadz Abu Deedat Syihabuddin, seorang Kristolog yang aktif menyelamatkan umat Islam yang pernah dimurtadkan
.

Menurut Abu Deedat, aksi-aksi pemurtadan melalui  teknik: Memacari, Menghamili dan Memurtadkan alias Sandi Air Mata atau 3 M sudah menjadi salah satu gaya pemurtadan yang dilakukan missonaris Kristian  di Indonesia.

“Banyak orang yang tak percaya dengan uangkapan itu kerana belum menimpa dirinya. Tapi kalau sudah menimpa dirinya baru sadar kalau keluarganya tak luput dari incaran missionaris untuk dimurtadkan” kata Abu Deedat.

Semoga kisah nyata yang dialami suminah  itu menjadi tauladan-ibrah/pelajaran bagi umat Islam, terutama yang memiliki gadis Muslimah. Perhatikanlah siapa teman gadis kita. Jangan sudah tahu berteman dengan Kristian masih tetap dibiarkan dengan alasan teman biasa.

Padahal jangan-jangan gadis kita sudah menjadi target pemurtadan. Jika gadis kita sudah jatuh cinta apalagi sudah merelakan dan menyerahkan kehormatannya selangkah lagi gadis kita akan murtad. “Kalau sudah jatuh cinta tai kambing terasa coklat” pepatah itu berlaku bagi gadis-gadis Islam yang dimurtadkan. Semoga Allah melindungi kita dan keluarga kita dari aksi-aksi pemurtadan.***

Catatan   : Ini kisah nyata. Jika ada kebetulan nama yang sama yang terlutis dalam kisah ini tak dimaksud untuk melecehkan. Nama Suminah itu bukan nama sebenarnya.
(nahimunkar.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s