Mithos Keris Mpu Gandring yang terkubur di kawah Gunung Kelud

(Keris Mpu Gandring)

 

Ahad 15 Rabiulakhir 1435/16 Februari 2014

Editor by Wilhelmina

 

FortunaMedia.com | Mithos Keris Mpu Gandring yang terkubur di kawah Gunung Kelud

Kediri Jawa Timur; Gunung Kelud meletus hebat sejak Khamis malam lalu (13/2) sekitar pukul 22.50 WIB(waktu In’sia barat). Abu vulkaniknya menyebar hingga sampai ke Bandung, Jawa Barat dan Nusa Tenggara Barat (NTB)di Indonesia Timur. 3 Orang maut akibat tertimpa bangunan yang roboh lantaran terkena abu vulkanik gunung yang terletak di Kediri, Jawa Timur tersebut.

 

Letusan Dahsyat Gunung Kelud Pernah Terjadi Sejak Tahun 1586, 1901, 1919, 1951, 1966, 1990, 2007 dan Terkini tahun 2014

 

Gunung Kelud / Kloot Volcano atau sering juga dituliskan menjadi Kelut yang dalam bahasa Jawa berarti “sapu”. dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet, atau Kloete, adalah sebuah gunung berapi di Jawa Timur, yang masih aktif.

 

Gunung Kelud memiliki legenda yang panjang di negeri ini. Saat Kerajaan Majapahit berjaya(sekitar tahun1293 hingga1500 M).Gunung Kelud juga sempat meletus. Letusan Kelud menjadi perhatian Raja terbesar Kerajaan Majapahit saat itu:Hayam Wuruk berkuasa dari tahun1350 hingga1389).Bahkan, konon kawah Kelud dijadikan tempat membrangus aura jahat keris Mpu Gandring oleh Raja Kerajaan Singosari (saat itu: bernama Wisnuwardana.

(Kerajaan Singhasari atau sering pula ditulis Singasari atau Singosari, adalah sebuah kerajaan diJawa Timur yang didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222. Lokasi Kerajaan ini sekarang diperkirakan berada di daerah Singosari, Malang)
Keris Mpu Gandring sendiri terbuat dari bongkahan logam yang jatuh dari langit atau meteorit. Bongkahan logam itu diduga memiliki aura yang sangat jahat dan haus darah. Terbukti, nyawa sang empu alias yang membuat keris Mpu Gandring tewas oleh keris ini. Selain itu Mpu Gandring juga menewaskan prajurit Keboijo, Ken Arok dan Anusapati. Setelah membunuh Anusapati dengan keris Empu Gandring, Tohjaya (12491250 Versi Pararaton ) naik tahta menjadi Raja Singosari.

Belum genap setahun menduduki tahta kerajaan sebagai Raja Singosari, Tohjaya tewas dalam sebuah pemberontakan yang dipimpin oleh Ranggawuni yang merupakan anak Anusapati. Ranggawuni yang membalaskan dendam ayahnya tersebut akhirnya menjadi Raja Singosari dan bergelar Wisnuwardhana (1248-1268; Versi Nagarakretagama).

Di masa kepemimpinan Wisnuwardhana inilah perseteruan antar-keluarga dalam dinasti Rajasa berakhir. Wisnuwardhana menikah dengan putri eks kerajaan Kadiri yang tamat riwayatnya setelah dikalahkan oleh Ken Arok, pendiri Kerajaan Singosari.

Berabad-abad silam, Jawadwipa (Pulau Jawa) dikisahkan selalu dalam kondisi tidak stabil. Daratannya terombang-ambing, timbul tenggelam terayun oleh gelombang samudera. Kalangan dewata di kahyangan pening tujuh keliling, hingga akhirnya muncul ide cemerlang dari Betara Guru.

“Jawadwipa(Pulau Jawa) , harus diberi pemberat, biar tidak terus terombang-ambing,” demikian ide cemerlang Betara Guru. “Mahameru yang ada di Jambhudwipa (India), harus dipindahkan ke Jawadwipa,” lanjut sang betara menjelaskan gagasannya.

Para dewata sepakat Gunung Mahameru dipindahkan ke Pulau Jawa. Namun, dalam proses pemindahannya, bagian gunung berguguran di sepanjang perjalanan, hingga menjadi gunung-gunung lain di Jawa. Satu di antara gunung-gunung itu adalah Kampud (Gunung Kelud).

Sementara yang lainnya adalah Gunung Katong (Lawu), Wilis, Kawi, Arjjunai (Arjuno) dan Gunung Kemukus (Welirang). Tubuh Mahameru diletakkan agak miring. Menyandar pada Gunung Brahma (Bromo), hingga akhirnya menjadi Gunung Sumeru (Semeru). Sedang puncak Mahameru didirikan, hingga menjadi Pawitra atau Gunung Penanggungan.

Soal keberadaan Gunung Kelud, konon, kawah gunung itu sebenarnya merupakan kuburan dari keris Mpu Gandring. Meski kebenaran atas kisah ini masih perlu pembuktian, namun banyak penduduk Jawa yang terlanjur mempercayainya.
Tetapi sejarah mencatat, betapa haus darahnya keris ciptaan empu itu.

Selain merenggut jiwa si penciptanya, Mpu Gandring sendiri, juga merenggut jiwa si pemesan, Ken Arok dan beberapa Raja Singosari lainnya. (merdeka.com/Dan berbagai sumber)

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s