Legenda Gunung Kelud;Kisah Khianat Cinta Dewi Kilisuci


(Gunung Kelud yang meletus pada Khamis (13/2/2014) malam, dan memuntahkan sejumlah material, bahkan hingga ketinggian 17 Km)

Ahad 15 Rabiulakhir 1435/16 Februari 2014

Editor by Wilhelmina

 

FortunaMedia.com | Legenda Gunung Kelud;Kisah Khianat Cinta Dewi Kilisuci

Gunung Kelud di Kediri, Jawa Timur meletus sekitar pukul 22.50 WIB-waktu i’sia barat-13/2/14 . Ribuan warga Kediri dan sekitarnya pun diungsikan demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan. Gunung ini terakhir meletus pada tahun 2007 lalu.


Bagi warga Jawa Timur, khususnya Kediri, Gunung Kelud mempunyai legenda panjang. Menurut legendanya bukan berasal dari gundukan(

timbunan)  tanah meninggi secara alami, seperti Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat. Gunung Kelud terbentuk dari sebuah pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap  dua raja sakti bernama Mahesa Suro dan Lembu Suro.

Dihimpun  dari berbagai sumber, kala itu, dikisahkan Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar bukan dari bangsa manusia, kerana yang satu berkepala lembu bernama Raja Lembu Suro dan satunya lagu berkepala kerbau bernama Mahesa Suro.

Untuk menolak lamaran tersebut, Dewi Kilisuci membuat sayembara yang tidak mungkin dikerjakan oleh manusia biasa, yaitu membuat dua sumur di atas puncak Gunung Kelud, yang satu harus berbau amis dan yang satunya harus berbau wangi dan harus selesai dalam satu malam atau sampai ayam berkokok.

 

Akhirnya dengan kesaktian Mahesa Suro dan Lembu Suro, sayembara tersebut disanggupi. Setelah berkerja semalaman, kedua-duanya menang dalam sayembara. Tetapi Dewi Kilisuci masih belum mau diperistri. Kemudian Dewi Kilisuci mengajukan satu permintaan lagi. Yakni kedua raja tersebut harus membuktikan dahulu bahwa kedua sumur tersebut benar benar berbau wangi dan amis dengan cara mereka berdua harus masuk ke dalam sumur.

Terpedaya oleh rayuan tersebut, keduanya pun masuk ke dalam sumur yang sangat dalam tersebut. Begitu mereka sudah berada di dalam sumur, lalu Dewi Kilisuci memerintahkan prajurit Jenggala untuk menimbun keduanya dengan batu. Maka matilah Mahesa Suro dan Lembu Suro.

Tetapi sebelum mati Lembu Suro sempat bersumpah dengan mengatakan.: Yoh, wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung.

Bermaksud;(Ya, orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau).
Dari legenda ini akhirnya masyarakat lereng Gunung Kelud akan selalu melakukan sesaji (persembahan makanan atau barangan) sebagai tolak bala- sumpah itu yang disebut Larung Sesaji.

(Upacara Larung Sesaji Gunung Kelud)

Acara ini digelar setahun sekali pada tarikh 23hb bulan syuro oleh masyarakat Sugih Waras. Tapi khusus pelaksanaan tahun 2006 sengaja dipromosi-meriahkan oleh Bupati Kota Kediri untuk meningkatkan kempen pamor pelancongan daerahnya. Pelaksanaan acara ritual ini juga menjadi wahana promosi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan untuk datang ke Kediri.


(merdeka.com/Dari pelbagai sumber).

Advertisements

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s