TKI Satinah menunggu hukuman mati di Arab Saudi


Nur Afriana, menunjukkan foto dirinya bersama ibunya, Satinah, di penjara Saudi.

Rabu 11 Rabiulakhir 1435.
Editor by Wilhelmina

FortunaMedia.com | TKI Satinah menunggu hukuman mati di Arab Saudi,

Tenaga kerja asal Indonesia(TKI) di Arab Saudi, Satinah binti Jumadi Ahmad, kini tinggal menunggu nasib untuk dihukum mati, setelah uang ganti rugi kematian maksimal yang ditawarkan pemerintah Indonesia sekitar IDR.12 bilion ditolak oleh bekas keluarga majikannya.

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan, keluarga ahli waris korban sejauh ini menuntut uang diyad, atau ganti rugi kematian, sekitar IDR.21 bilion.

“Kita bertahan empat juta riyal (Rp12 bilion), kerana ini sudah maksimal,” kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian luar negeri Indonesia, Tatang Razak, kepada wartawan, Selasa (11/02) siang di Kantor Kemenlu, Jakarta, yang juga dihadiri wartawan BBC, Heyder Affan.

Menurut Tatang, pihak berkuasa Arab Saudi masih memberikan waktu sekitar dua bulan bagi keluarga korban yang tinggal di di Provinsi Al Ghasseem untuk merundingkan nilai tawaran uang diyad itu.

“Kalau dua bulan tidak tercapai, keluarganya menolak, maka kemungkinan besar eksekusi akan dilakukan (terhadap TKI Satinah),” kata.

Kemenlu mencatat, jika tawaran itu ditolak, maka Satinah akan dihukum mati pada tanggal 3 April 2014.

Satinah, yang berasal dari Ungaran, Jawa Tengah, divonis hukuman mati pada 2010 karena dianggap terbukti membunuh majikan perempuannya.

Indonesia melalui perwakilannya telah mengupayakan untuk meringankan hukuman Satinah, yang akhirnya berujung pada kesediaan keluarga korban untuk memaafkannya.

Namun demikian, sejauh ini  belum ada kata sepakat tentang uang ganti rugi kematian, sebagai syarat untuk menghindarkannya dari hukuman pancung.

Surat pribadi

Dalam jumpa pers, Kementrian Luar Indonesia(Kemenlu) menghadirkan pula anak kandung Satinah, Nur Afriana, yang berusia 20 tahun, serta kakaknya yaitu Paeri Al-feri.

Menurut Kemenlu, mereka baru saja kembali ke Indonesia setelah menjenguk Sarinah di penjara Arab Saudi, serta melakukan ikhtiar guna membekaskan Satinah, seperti menulis surat pribadi kepada keluarga ahli waris korban.

“Keinginan saya sangat besar untuk berkumpul lagi dan merasakan lagi kasih sayang ibu saya,” kata Nur Afriana, membacakan ulang suratnya, di hadapan wartawan.

Belu diketahui bagaimana tanggapan keluarga korban atas isi surat Nur Afriana, tetapi menurut Anis Hidayah dari NGO-Migrant Care, upaya pemerintah Indonesia untuk memberikan bantuan kepada Satinah termasuk terlambat.

 

“Jadi ketahuannya sudah kritis, tinggal vonis, tinggal bagaimana pilihannya diplomasi pot-potan atau bayar diyat,” kata Anis saat dihubungi wartawan BBC Indonesia, Kinanti Pinta.

Menurutnya, kalau sejak kasus seperti ini ditangani, “banyak (TKI yang terancam hukuman mati) yang bisa dibebaskan.”

Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan, pihaknya sejak awal telah mengupayakan berbagai upaya untuk memperingan hukuman Sakinah, yang hasilnya antara lain ditandai kelonggaran waktu untuk hukuman mati serta negosiasi uang diyat untuk keluarga ahli waris.

Data Kementerian Luar Negeri RI menyebutkan, sejak 2011 hingga awal 2014, setidaknya ada 249 warga Indonesia yang terancam hukuman mati di berbagai negara, termasuk 20 kasus terakhir pada awal 2014 ini.

 

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s