Derita PelarianTan Malaka di Singapura


Tan Malaka. ©2014 Merdeka.com

Rabu 11 Rabiulakhir 1435.
Editor by Wilhelmina

FortunaMedia.com | DeritaTan Malaka di Singapura,Diburu Intel dan Tak punya uang

  Indonesia dan Singapura ketika ini agak bersitegang terkait penamaan KRI Harun Usman. Singapura protes kerana penamaan Kapal Perang Republik Indonesia-KRI Usman Harun diambil dari nama dua anggota KKO yang mengebom MacDonald House di Orchard Road, Singapura, pada 1965.

Dulu, Singapura menjadi salah satu tempat pelarian Tan Malaka dari buruan polis rahasia negara imperialis British, Belanda dan Amerika Syarikat. Bapak Republik Indonesia itu pernah dua kali tinggal di Singapura pada 1927 dan 1937.

Tan datang kali kedua di Singapura meninggalkan Amoy kerana tentara Jepun  telah masuk ke wilayah China itu. Tan Malaka tiba setelah menumpang kapal dari Amoy menuju Hong Kong dan Rangoon, Burma.

Meski kapal itu sempat berlabuh di Singapura, Tan tak langsung turun di kota itu. Sebab, saat itu Tan memiliki tiket menuju Ranggon dan pihak kapal menahan USD 25 dan kad-pas penumpangnya sebagai jaminan agar tak turun di tempat yang tak sesuai dengan tujuan di tiketnya.


Saat itu, Tan harus benar-benar berjimat kerana kondisi keuangannnya yang memprihatinkan. Saat itu, isi dompetnya sudah habis dan ia terancam tak bisa makan alias kelaparan.

“Di manakah saya bisa tinggal untuk mendapatkan pekerjaan pertama kali untuk sumber penghidupan. Inilah pertanyaan yang mendesak di dalam fikiran saya, kerana uang simpanan saya semakin hari semakin habis,” kata Tan Malaka dalam biografinya ‘Dari Penjara ke Penjara Jilid II.’

Tan berupaya mencari pekerjaan. Namun jumlah penganggur saat itu cukup besar. Sementara untuk melamar menjadi guru dia tak memiliki sijil-ijazah British yang berlaku saat itu dan untuk menggunakan sijil Belanda tak mungkin dilakukannya. Sebab, hal itu sama saja membuka rahasianya sebagai seorang pelarian yang sudah terkenal oleh agen rahasia negara imperialis.

Berubahnya kondisi Singapura saat itu semakin membuat Tan bingung. Sebab, saat tahun1927, Singapura masih majority  didiami orang Indonesia dengan komposisi 90 peratus dari jumlah penduduk. Alamat dan lokasi tinggal para sahabatnya pun jelas saat itu.

Namun, pasca-British  masuk, jumlah pendatang ke Singapura yang berasal dari etnik Tionghoa dan Hindustan, India, tak terbendung. Alhasil, komposisi penduduk berubah. Orang Indonesia yang awalnya majority  kini hanya tinggal 5 peratus, bahkan ada yang menyebut 1 peratus saja dari total penduduk saat itu. Tak hanya itu lokasi-lokasi pemukiman warga Indonesia pun tergusur dan diganti oleh para pendatang itu.

Meski demikian, Tan sempat menemui dua orang temannya. Satu orang temannya mencoba membantunya dan menitipkan Tan untuk tinggal dengan saudaranya. Namun sayangnya, saudara sahabat Tan itu ternyata seorang mantan polis British. Hal itu tentu mengkhawatirkan bagi Tan.

Tan lantas pergi meninggalkan rumah tersebut setelah meminta pertimbangan dari sahabatnya. Tan lantas diberi sejumlah uang oleh sahabatnya itu. Tan kembali menemui sahabatnya yang lain, tapi sahabatnya itu kini telah menjadi seorang borjuis yang penuh kemewahan dan sudah tak tertarik dengan semangat kemerdekaan. Meski diterima dengan baik, Tan sadar kehadirannya itu tak diharapkan kerana bisa membahayakan sahabatnya itu. Tan lantas meninggalkan sahabatnya yang memiliki empat istri itu.

“Dalam satu dua minggu saya tinggal di Singapura itu saya coba memasuki pejabat syarikat maskapai-penerbangan yang besar-besar buat mendapatkan pekerjaan juru tulis atau pun ofisboy tapi tak berhasil…. Lain sekali keadaan pada tahun 1937 itu dari 10 tahun lampau. Dahulu mudah saya mendapatkan pekerjaan. Tetapi pada 1937 itu dikatakan dalam surat khabar 4.000 pemuda keluaran sekolah menengah yang menganggur,” kata Tan.

Tan semakin terdesak. Uang di dompetnya benar-benar sudah habis tak tersisa. Letih, kekurangan tidur dan makan membawanya termenung di sebuah bangku di gedung Muzeum Raffles. Tan berandai-andai jika saja sahabatnya Buna ada, selesailah semua kesulitannya. Tiba-tiba tampak di depan mata Tan seorang Tionghoa yang cara berjalannya seperti Buna.

“Saya panggil dia dengan suara agak keras, sambil menggosok-gosok mata saya sendiri. Keduanya kami tercengang atas pertemuan yang tiada disangka-sangka itu. Tiada sanggup kami berbicara berapa lama,” kata Tan.

Keduanya lantas langsung berangkat mencari seorang sahabat yang dikenal keduanya saat masih di Amoy. Sahabat yang tak disebut namanya hanya disebut YY oleh Tan itu punya teman yang memiliki sebuah sekolah. Tan berharap bisa bekerja sebagai guru di sekolah itu. Setelah sempat kesulitan mencari YY, Tan dan Buna akhirnya berhasil menemukannya.

Tan kemudian menjadi guru bahasa Inggris di sekolah rendah itu dan mendapat gaji awal USD 8 per bulan l kemudian naik menjadi USD 10 per bulan. Di sekolah itu, Tan merasa aman dari buruan agen rahasia negara imperialis. Tan pun semakin banyak mengenal orang.

Atas koneksinya yang semakin bertambah, Tan akhirnya bisa mengajar bahasa Inggris dan ilmu bumi di sekolah menengah tinggi. Soal ijazah IBritish  yang tak dimilikinya tak lagi menjadi masalah. Di tempat itu, Tan bisa berkomunikasi dengan orang Indonesia dan mengorek informasi soal perjuangan di Indonesia. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan Tan memilih Singapura sebagai tempat pelariannya setelah Amoy.

Namun, ‘kenyamanan’ itu tak berlangsung lama. Tan harus kembali pergi setelah pasukan tentara fasis Jepun menguasai Singapura. Saat itu British menyerah kepada Jepun  yang berhasil membombardir tentara British  di Singapura melalui udara dan darat.

Tan lantas meninggalkan Singapura menuju Penang pada Mei 1942 dengan menumpangi tongkang alias perahu kecil dan kemudian menuju Medan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s