Singapura Yang Nakal,Kini Protes KRI Usman Harun

Merlion Singapura. ©Shutterstock/Twonix Studio

 

Sabtu 7 Rabiulakhir 1435 / 8 Februari 2014
Editor by Wilhelmina.

FortunaMedia.com | Singapura Yang Nakal,Kini Protes KRI Usman Harun

Hubungan Indonesia kembali memanas dengan tetangga terdekatnya, Singapura. Panasnya hubungan Indonesia-Singapura tercetus oleh pemberian nama Usman dan Harun sebagai kapal perang TNI-RI. Usman dan Harun yang pernah mengebom Singapura tentu dianggap musuh oleh Singapura tetapi tidak untuk Indonesia. Kedua sosok ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah kepahlawanan Indonesia.

Reaksi Singapura ini dianggap berlebihan oleh pihak Indonesia. Indonesia pun bersikeras tidak akan mengganti nama tersebut kerana pemberian nama merupakan otority TNI. Singapura yang berpenduduk sekitar 5 jutaan ini harusnya sadar diri sebab sejarah mencatat Singapura kerap kali membuat Indonesia merugi. Bukan hanya soal nama seperti yang dihebohkan Singapura, kerugian yang ditimpakan kepada Indonesia sudah mencakup semua aspek. Mulai dari politik, ekonomi, budaya sampai pertahanan.

Berikut adalah lima (5) kenakalan dan kesombongan  Singapura yang pernah membuat Indonesia meradang.

1. Tak mau jalin perjanjian ekstradisi

 Setelah menunggu selama 28 tahun lamanya, pemerintah Indonesia dan Singapura akhirnya menandatangani perjanjian ekstradisi. Perjanjian ini ditanda-tangani  oleh Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda dan Menlu Singapura George Yeo, yang disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pada 27 April 2007.

Dalam perjanjian ini seolah Singapura memberi angin segar bagi Indonesia untuk menangkap banyak koruptor Indonesia yang bersarang di Negeri Singa itu. Tetapi perjanjian ini nyatanya hanya janji angin-syurga yang diberikan Singapura. Singapura menyertakan perjanjian pertahanan yang amat menguntungkan Singapura. Mereka ingin memakai wilayah Indonesia sebagai tempat latihan mereka perang.

Realisasi perjanjian ini menjadi kian jauh dari kenyataan. Sebab DPR-Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia  tak kunjung mengesahkan  perjanjian ini. Alasannya tak lain kerana Singapura dinilai sewenang-wenang menyertakan perjanjian pertahanan dalam perjanjian ekstradisi tersebut. Betapa tidak, Singapura menginginkan tentaranya bisa berlatih selama 15 hari setiap bulan dengan ketentuan teknikal dipegang oleh Singapura.

“Perjanjian ekstradisi tidak mendapatkan pengesahan dari DPR kerana perjanjian itu dikaitkan dengan perjanjian kerjasama pertahanan. Pada saat itu, DPR menolak banyak sekali wilayah-wilayah Indonesia  yang akan dipergunakan untuk latihan bersama antara Indonesia dengan Singapura,” jelas Marzuki saat bertemu dengan Ketua Parlimen Singapura Halimah Yacob, usai Courtesy Call Presiden AIPA, di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam, Khamis (19/09/13).

Tarik ulur perjanjian ini semakin panjang dan nasib koruptor Indonesia masih berada di tangan Singapura.

2. Buang Limbah

Bukan hanya soal perjanjian ekstradisi, Indonesia pun pernah dibuat geram  dengan tingkah Singapura yang membuang  sampah di perairan Indonesia. Perairan Kepulauan Riau yang sering menerima limbah dari negara Lee Kuan Yew. Hal ini tidak terjadi sekali, aksi buang sampah ini berlangsung terus menerus hingga bertahun-tahun.

Bukan cuma limbah organik, kapal-kapal Singapura juga tanpa rasa bersalah  membuang limbah bahan berbahaya dan beracun. Akibatnya keberadaan biota laut menjadi terancam. Bukan cuma makhluk hidup yang mati, pencaharian nelayan terganggu akibat perbuatan ini.

Pemerintah mengaku tengah mengumpulkan bukti-bukti untuk menuntut pertanggungjawaban Singapura. Pihak Polis dan Tentara Nasional Indonesia(TNI) diharapkan terus melakukan upaya penjagaan dan pencegahan agar hal serupa tidak terulang.

3. Keruk pasir untuk  penambakan

Indonesia pernah dikejutkan dengan eksport pasir besar-besar ke Singapura. Eksport pasir tersebut adalah upaya untuk membuat wilayah Singapura semakin luas. Eksport yang berlangsung selama belasan tahun memberikan dampak yang signifikan terhadap Singapura. Betapa tidak daratan Singapura maju sejauh 12 kilometer dari original base line perjanjian perbatasan Indonesia-Singapura pada 1973. Untuk perbandingan luas Singapura Pada tahun 1975 adalah 596 kilometer kemudian meluas menjadi 774 kilometer pada 2010. 

Projek Penambakan dilakukan di selat antar pulau dan pantai untuk kawasan pelancongan, penghijauan atau bisnis.

Penambakan ini berdampak pada perbatasan Indonesia dan Singapura. Jika program penambakan  terus dilanjutkan dikhawatirkan perbatasan Indonesia- Singapura akan berubah.  Penambakan juga memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Ancaman abrasi harus ditanggung pulau Indonesia yang pasir-pasirnya dikeruk oleh Singapura.

 

Melihat ini keluarlah larangan eksport pasir dari Indonesia. Larangan itu berdasarkan Permendag No 02 Tahun 2007 tentang larangan eksport  pasir dan tanah. Keputusan yang ditandatangani 22 Januari 2007 mempertimbangkan beratnya kerosakan lingkungan akibat penggalian pasir di sekitar Riau.

4. Jual pembantuTKW

Bukan soal politik atau ekonomi saja yang Indonesia dirugikan, Singapura pernah jelas-jelas melecehkan harga diri bangsa Indonesia dengan menjual pembantu-pembantu dari Indonesia layaknya seperti barang-dagangan di pasar. Di negara itu, tepatnya di Bukit Timah Plaza Singapore, ditemukan banyak tabung iklan neon( tube neon billboards)  tentang penjualan pekerja rumah tangga asal Jawa.

Hal itu disampaikan anggota DPR, Eva Kusuma Sundari, yang mendapat informasi dari seorang warga negara Indonesia (WNI) di Negeri Singapura itu, Isnin (5/11/13).

“Tidak saja info yang diiklankan dan syarikat masing-masing Tenaga Kerja Wanita(TKW)  yang ditempel di kaca, tetapi para TKW ini diberi seragam dan diminta duduk berderetan  layaknya barang dagangan dipajang untuk dipilih para pembeli,” kata Eva dalam siaran pers.

Eva mengatakan, iklan tersebut juga memuat sistem ‘pembelian’ TKW asal Jawa dengan cara tidak memberi gaji selama enam bulan.

“Ini menyedihkan, kerana di UEA ( Emirat Arab Bersatu) sendiri pemerintahnya melarang potongan gaji tiga bulan sekali pun. Celakanya, cara ‘menjual’ TKW Jawa yang demikian ini dilakukan oleh banyak agensi di mal-mal seantero Singapura,” ujar politikus Parti Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini.

Menurut Eva, cara ‘penjualan’ TKW di mal Singapura ini nyaris mendekati penjualan budak di zaman pertengahan. Hal ini lebih tragis dari Malaysia dan Jordan yang iklannya berupa risalah-risalah tersembunyi.

“Bedanya (di Singapura) adalah adanya unsur sukarela dari TKW dan ada keterlibatan (kelalaian) negara (pengirim maupun penerima) di dalamnya,” ujar Eva Kusuma.


5. Tempat penyimpanan uang koruptor

Selain Negara Switzerland(Swiss), para mafia dan koruptor sering menjadikan Singapura sebagai tempat aman mereka menaruh uang mereka. Bahkan CNBC menilai dengan cukai yang lebih rendah dari Switzerland , Singapura kini menjadi primadona bagi para penjahat untuk menaruh uang gelap mereka.

Selain cukai yang rendah, pelayanan dan keamanan bank-bank di Singapura juga bisa diacungi ibujari. Uang yang telah pelanggan simpan di Singapura tidak mudah dipindahtangankan.

Beberapa koruptor Indonesia juga kedapatan punya uang yang disimpan di sana. Yang terbaru Anas suspected menyimpan uang senilai IDR.2 trilion di Singapura. Begitu pun mantan rakan sepolitiknya, Nazaruddin yang disebut memiliki uang jutaan dolar di Singapura.

Sumber ; merdeka.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s