Dakwah Salafiyah-Wahabi Ditakuti Missionaris Syiah

Ilustrasi

Khamis 5 Rabiulakhir 1435/6 Februari 2014
Written by Wilhelmina

FortunaMedia.com |Dakwah Salafiyah-Wahabi Ditakuti Missionaris Syiah

Membaca kembali dan menelaah artikel “Seorang Muslim, seorang Lutheran”
( http://www.malaysiakini.com/columns/252922) oleh Faisal Tehrani yang kini jadi kolumnis portal MalaysiaKini.


Faisal Tehrani bijak bertaqiyah

Sudah tentu bagi yang ‘awam’ akan terhipnotis dengan kalimat-kalimat beliau seperti ‘hak asasi manusia’ – mazhab/yayasan Ahlulbait atau memojokkan Islam Salafi-Sunni.

Memang sejak Khomeini berkuasa di Iran dan mendaulatkan Syiah Imamiyah pegangan negara Syiah itu- Langkah gencar dikempenkan dengan memusuhi golongan Ahlusunnah Waljamaah-Sunni dengan mengelompokkan umat Islam dengan gelaran-istilah Salafiyah -Wahabiyah .dan menyeru supaya umat Islam Sunni bersatu dengan Syiah.

(Klik baca; https://helmysyamza.wordpress.com/2014/02/05/habib-zain-al-kaff-habib-yang-menjadi-syiah-itu-pengkhianat-ahlul-bait/)

Pada tulisan ini saya hendak membahas isu Salafi dan Wahabi yang selalu muncul dalam tulisan Faesal Tehrani dan penulis ilmiah lainnya

Ditambah belakangan ini  beredar buku berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” (SBSSW) yang dikarang oleh seorang yang mengaku bernama Syaikh Idahram. Buku tersebut berisi gugatan dan caci-maki terhadap apa yang disebut dengan “Gerakan Salafi Wahabi”. Kalau sekedar kritik yang objektif, tentu tak masalah. Kerana setiap orang dan kumpulan bisa saja mempunyai kecenderungan keliru, berlebihan, mau benar sendiri dan menyalahkan orang lain. Namun jika kritik dan celaan tersebut berlebihan dan berbohong bahkan mengandung manipulasi fakta, tentu saja hal ini menimbulkan masalah serius dan fitnah.

Belum reda kontroversi buku pertama sudah muncul buku kedua “Mereka Memalsukan Kitab-kitab Karya Ulama Klasik” (MMKKUK); kemudian muncul lagi, “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi” (USMSW). Maka situasi fitnah pun kian merebak.[1]
Alhamdulillah, sebagai seorang penulis bebas dakwah. saya menyadari betapa bahayanya modus provokasi dan adu domba antar umat Islam ini, serta saya berkeinginan  mencegah tersebar luasnya keburukan-keburukan di tengah umat, dengan izin Allah Ta’ala

Sahabat pembaca  yang dirahmati Allah SWT.

Memang Allah swt. memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya manakala mendapatkan informasi atau berita yang tidak jelas/diragukan kebenarannya hendaklah melakukan pemeriksaan secara seksama sebelum diambilnya sebagai suatu pemikiran / keyakinan [2].

Firman Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. 49 : 6)

Da’wah Salafiyah adalah pelopor gerakan-gerakan ishlah (reformasi) yang muncul menjelang masa-masa kemunduran dan kebekuan pemikiran di dunia islam. Da’wah Salafiyah ini menyerukan agar aqidah Islam dikembalikan kepada asalnya yang murni, dan menekankan pada pemurnian arti tauhid dari syirik dengan segala manifestasinya. Sebagian orang ada yang menyebut da’wah ini dengan Wahabi, kerana dinisbatkan kepada nama pendirinya, yaitu Muhammad bin Abdul Wahab (1115 – 1206 H / 1703 – 1791 M).

Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah seorang ulama yang sangat tegas dan lantang dalam menyerukan tauhid. Ia seorang ulama yang karismatik dan disegani sehingga mampu menda’wahi para penguasa untuk kemudian bekerja sama menghancurkan berbagai kemusyrikan yang ada di masyarakat, seperti dengan penguasa Uyainah yang bernama Utsman bin Muammar atau dengan Pangeran Muhammad bin Su’ud sebagai pengusa Dir’iyah yang kemudian diteruskan oleh putranya yang bernama Sultan Abdul Aziz bin Muhammad bin Su’ud hingga Syeikh meninggal dunia.

Di antara prinsip-prinsip Dakwah Salafiyah :

  1. Pendiri da’wah ini, dalam studi-studinya adalah bermadzhab Hambali.
  2. Menekankan untuk senantiasa merujuk kepada Al Qur’an dan As Sunnah dalam permasalahan aqidah.
  3. Berpegang teguh dengan Manhaj Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.
  4. Menyerukan kepada pemurnian arti tauhid.
  5. Menetapkan tauhid asma dan sifat-sifat Allah tanpa tamtsil (perumpamaan), takyif (pencocokan) dan ta’wail (interpretasi).
  6. Menentang segala bentuk bid’ah dan khurafat.
  7. Menentang segala bentuk ungkapan, petualangan tarekat sufistik yang dimasukan kedalam agama yang tak pernah ada sebelumnya

    .

  8. Melarang berkata-kata tentang Allah tanpa ilmu, berdasarkan firman Allah : “(Mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang kamu tidak ketahui.” (QS. Al A’raf : 33)
  9. Segala bentuk yang didiamkan oleh hukum syara’ adalah dimaafkan. Tak ada seorangpun yang berhak mengharamkan, mewajibkan atau memakruhkan berdasarkan firman Allah SWT, “Janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu, dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur’an itu sedang diturunkan, nisacaya akan diterangkan kepadamu. Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al Maidah : 101

(Disarikan dari buku, al Mausu’atul Muyassaroh Fil Adyaan Wal Madzahibil Muaashiroh, WAMY, edisi terjemahan, hal. 227 – 232)

Sebagai dakwah yang memegang teguh prinsip-prinsip aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka Dakwah Salafiyah tidak mengkafirkan seorang pun dari kaum muslimin kecuali apabila orang itu melakukan perbuatan yang membatalkan keislamannya, sabda Rasulullah saw : “Barangsiapa yang berkata kepada saudaranya (muslim) : Wahai kafir, maka pengkafiran ini akan kembali kepada salah satu dari keduanya, jika dia benar dalam pengkafirannya (maka tidak mengapa), tapi jika tidak maka ucapan itu akan kembali kepadanya” [HR Al-Bukhari)

Jadi prinsip Da’wah Salafiyah terhadap orang Islam secara umum—walau ia melakukan dosa besar sekalipun—adalah tetap menganggap menghargai keislaman mereka apalagi terhadap orang-orang mulia seperti Imam Bukhari, Imam Namawi, Ibnu Hajar, sahabat Rasulullah SAW.

Mereka adalah para Ulama dan Imam besar umat ini yang karya-karyanya justru dijadikan sebagai rujukan dan referensi oleh orang-orang salafi. Imam Bukhari dengan karyanya, “Shahihul Bukhari”. Imam Nawawi dengan karyanya, “Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi”. Ibnu Hajar dengan karya terbesarnya,”Fathul Bari Syarh Shahihil Bukhari”

Wallahu A’lam
Pustaka ;
[1] arrahmah.com
[2] Ustadz Sigit Pranowo, Lc/eramuslim.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s