MONOPOLI CINA ;Jurang“The Haves”dan“The Poors”Tak Terjembatani Lagi,!

Illustrasi

Isnin 25 Rabiulawal 1435 / 27 Januari 2014

Editor by Wilhelmina

Variety Explorer.Com | MONOPOLI CINA; Jurang“The Haves” dan “The Poors”, Tak Terjembatani Lagi,!

Perdana Menteri Thailand, Yingluck Shinawatra, 46 tahun, terpilih sebagai perdana menteri dalam pilihan raya 2011. Yingluck merupakan adik dari mantan perdana menteri Thaksin Shinatwatra, dan keduanya keturunan Cina.

Thaksin dan Yingluck dengan kekuatan bisnisnya di berbagai bidang usaha, dan keduanya termasuk orang “kaya” di Thailand berhasil menggenggam kekuasaan, sesudah basis ekonomi keduanya mapan di negara gajah putih itu.

Namun, Thaksin digulingkan oleh kekuatan demo-massa, kerana melihat Thaksin ingin memonopoli negara, terutama dibidang ekonomi. Dengan gerakan massa oposisi, dan tuduhan korupsi terhadap Thaksin itu, akhirnya Thaksin yang masih keturunan Cina itu, tersingkir.

Hebatnya, ketika Taksin tersingkir dari jawatan kekuasaan itu, justru yang menggantikan dan memenangkan pilihanraya adalah adiknya, yaitu Yingluck, melalui pilihanraya tahun 2011. Dengan kekuasaan yang dimiliki Yingluck iu, dia berusaha membebaskan segala tuduhan kejahatan korupsi abangnya, Thaksin Shinatwatra.

Inilah yang kemudian membuat masygul, kalangan oposisi yang menggelar aksi besar-besaran, menuntut pengunduran diri Yingluck dari jabatannya sebagai perdana menteri. Kaum oposisi Thailand ingin mengakhiri dinasti “Thaksin” dari kehidupan kekuasaan di Thailand. Tetapi, itu tidak mudah, kerana kalangan keturunan Cina di Thailand sudah menguasai jaringan ekonomi di negeri Gajah Putih itu.

Pada tarikh  2 Disember yang lalu, pemimpin opoisi Thailand,  Suthep memberikan ultimatum dua hari kepada Yingluck meletakkan jawatan. Yingluck menolak mentah-mentah, dan  mengimbau kepada para pengunjuk-perasaan  menghentikan aksi unjuk  rasa mereka. “Para pengunjuk rasa menuntut agar pengaruh jaringan Thaksin pada pemerintah saat ini diakhiri”,  kata Thayer, ahli politik dari Chulalongkom University, menambahkan,  “Mereka tahu bahwa pilihanraya  apa pun hanya akan membuat ‘baju merah’ kembali berkuasa”, maksudnya Yingluck.

Di Philipina, Qorry Aquino yang menjadi presiden Philipina, tak lain keturunan Cina. Qorry turun, sekarang digantikan oleh anaknya, yaitu Benigno Aquino sebagai presiden Philipina. Semua kalangan Cina perantauan di luar Cina daratan, di berbagai daratan Asia, mereka telah memasuki tahapan ketiga, sesudah sukses dibidang ekonomi mereka, sekarang masuk ke dunia politik. Ini   bagian dari proses mengekalkan  kekuasaan ekonomi mereka.

Di Malaysia, Cina di Malaysia jumlahnya sudah 35 peratus. Mereka sudah sangat mapan, dan menguasai ekonomi Malaysia. Mereka mendirikan parti sendiri, Baik pro kerajaan atau oposisi Sebagai parti oposisi. Mereka masuk ke dalam kumpulan oposisi yang dimotori Datuk Seri Anwar Ibrahim, tetapi sebagian mereka juga masih tetap bertahan di Kumpulan Barisan Nasional yang kini memerintah. Mereka sebenarnya sudah majority  seperti di Pulau Pinang. Hampir 70 peratus jumlah orang Cina di Pulau Mutiara itu.

Sementara itu, di Singapura yang dahulunya merupakan bagian dari Malaysia, sekarang sudah menjadi negara sendiri. Di mana 90 peratus penduduknya Cina. Singapura di bawah Lee Kuan Yew, memimpin kumpulan  Diaspora “Cina Perantauan” (Chinese Oversease), dan memiliki pengaruh yang sangat kuat.

Menurut mantan Direktur Jendral Pajak, dan Menteri Keuangan semasa di era Soeharto, Fuad Bawazir, mengatakan,  hampir semua kumpulan  “Cina Perantauan” di mana pun mereka berada, mengikuti agama majority  penduduk setempat. Seperti di Thailand, mereka menjadi penganut Budha. Tidak memilih agama lain. Di Philipina, kalangan Cina menjadi penganut Katholik.

Di Singapura dan Malaysia, termasuk di Indonesia mereka mengalami anomali (penyimpangan), dan menganut agama Kristian atau Katolik. Di Indonesia, dengan sikap mereka yang “anomali” itu, maka mereka menjadi sulit membaur dengan kaum pribumi-bumiputra, dan mereka menjadi “double minority” (minority ganda).

Di Indonesia mereka memasuki phase ketiga, sesudah kemerdekaan di era Soekarno, mereka hanya mempertahankan eksistensi mereka, masuk era Soeharto, mulai masuk ke dunia bisnis dengan membangun hubungan dengan Soeharto dan sejumlah jendral militer, dan mereka mendapatkan kemudahan di bidang usaha, sampai akhirnya mereka menguasai 80 peratus  ekonomi Indonesia.

Sekarang mereka masuk ke dunia politik, seperti Ahok, Hary Tanoe, dan Rusdi Kirana (bos Lion Air), yang mengambil alih Parti PKB, dan langsung mendapatkan jawatan sebaai Timbalan Ketua Umum. Ini sungguh sangat luar biasa, cara-cara mereka golongan Cina ingin mendapatkan kekuasaan melalui parti-parti yang ada-sudah wujud.

Namun, menurut Fuad Bawazir, penguasaan ekonomi oleh orang-orang Cina telah menimbulkan kesenjangan yang sangat luar biasa. Hampir seluruh sektor ekonomi dan bisnis sekarang dikuasai oleh orang Cina. “Masuknya orang-orang Cina  akan sangat mudah meningkatkan tensi (suhu) politik di Indonesia”, tegas Fuad.

Sejak “Reformasi”  rating-gini’, yaitu rating angka kaya-miskin mengalami perubahan yang sangat penting. Di masa Orde Baru( era Suharto), angka indek rating “gini” itu hanya 32 peratus. Sekarang ini, indek  rating gini, sudah mencapai 42 peratus, dan ini sudah merupakan lampu kuning, tegas Fuad. Jika angka indek gini sudah mencapai 45 peratus, maka sudah lampu merah, tambah Fuad.

Jika sudah mencapai lampu merah, maka yang akan terjadi ledakan yang sangat dahsyat, yaitu  konflik sosial, akibat kesenjangan antara kaya-miskin. Inilah harga yang harus dibayar oleh pemerintah, dan kemungkinan peristiwa tahun l997-l998, akan kembali meledak. Menurut Fuad, bahwa dengan    jurang antara “the haves” dengan “the poors”, tak terjembatani, dan orang-orang Cina terus melakukan penguasaan sumber-sumber ekonomi rakyat, dan kini masuk ke ranah politik, maka ini saatnya akan terjadi ledakan politik, dan tidak akan terhindarkan lagi.

Fuad Bawazir, juga menolak dengan keras, di era reformasi sekarang ini, keadilan dan distribusi ekonomi bisa merata, justru ekonomi terpusat di tangan beberapa  segelintir orang, dan umumnya keturunan Cina.
(voa-islam.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s