Menapaki Jejak Maulid Nabi Muhammad SAW di Beberapa Negara


Perarakan  Gunungan, bagian paling penting dalam perayaan Sekaten(Maulid Nabi)diYogyakarta

Written by Wilhelmina

Rabu 13 Rabiulawal 1435 / 15 Januari 2014

Variety Explorer.com– Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW merupakan peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW, yang jatuh setiap tarikh 12 Rabiul Awal dalam kalendar Hijriyah. Kata mauled atau milad dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW.

(Maulid Nabi di India)

Masyarakat muslim di Indonesia umumnya menyambut Maulid Nabi dengan mengadakan perayaan-perayaan keagamaan seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. Menurut kalendar Jawa bulan Rabiul Awal disebut bulan Mulud, dan acara Muludan juga dirayakan dengan perayaan dan permainan gamelan Sekaten.[1]

Malaysia merupakan negara Islam yang agak maju juga  merayakan Maulidulrasul, meskipun ada beberapa kontroversi tentang perayaannya. Beberapa ilmuan  berpendapat bahwa Maulid tidak harus dirayakan, sementara yang lain menunjukkan bahwa merayakan Maulid merupakan kontribusi positif terhadap praktek-praktek Islam.

Maulid Nabi Muhammad SAW juga dirayakan oleh berbagai negara yang masyarakatnya banyak menganut agama islam, seperti India, England, Rusia dan Kanada . Dan Arab Saudi adalah satu-satunya negara Muslim terbesar dan Maulid BUKAN merupakan hari cuti umum seperti di Indonesia dan Malaysia atau beberapa negara Islam lainnya

Di Arab Saudi, Maulid dirayakan dengan cara karnival, menghias jalan, rumah dan masjid. Penyair merayakan dengan membacakan qasidah al-Burda Sharif, puisi yang terkenal oleh Arab abad ke-13 Sufi Busiri.


Ribuan orang berebut Gunungan (tumpeng raksasa) di Halaman Masjid Besar Keraton Yogyakarta Indonesia

Maulid Nabi di Keraton-Istana  Yogyakarta

Istana-Keraton Yogyakarta menyimpan upacara  tradisi keagamaan yang mengesankan. Yaitu Garebeg Maulud yang diadakan untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.Upacara tersebut dimulai dengan parade gamelan pusaka berikut prajurit pada tengah malam. Suara alunan gendhing menambah suasana magical  tersendiri.[2]

Pada saat bersamaan, digelar pula Pasar Malam Sekaten selama seminggu penuh. Acara berakhir pada malam perayaan Maulud Nabi yang berlangsung di Masjid Besar. Saat hadir pula Sultan Hamengku Buwono X. Yang paling seru terjadi ketika masyarakat berebut sesaji-sesaji yang berbentuk gunungan. Sesuatu yang dipercaya masyarakat dapat mendatangkan berkah dan awet muda.

Menapaki Kembali Jejak Walisongo


Berbicara tentang tradisi keislaman di tanah Jawa, tidak afdhal tanpa melibatkan Walisongo sebagai tokoh penyebar Agama Islam di Pulau Jawa. Kesembilan wali itu ialah Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Dradjad, Sunan Kalijaga, Sunan Kudus, Sunan Muria, dan Sunan Gunung Jati. Peninggalan jejak perjuangan mereka pun hingga kini masih menjadi tujuan wisata ziarah.

Di daerah Cirebon, Jawa Barat, Anda bisa mengunjungi Wukir Sapta Rengga yang menjadi peristirahatan terakhir Sunan Gunung Jati. Termasuk Keraton Kasepuhan Cirebon dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa.
Di Demak, Jawa Tengah, Anda bisa berziarah ke makam Makam Sunan Kalijaga dan Masjid Agung Demak. Masjid yang biasa digunakan para wali untuk bersidang. Sementara itu di Kota Surabaya, Jawa Timur, terdapat makam Sunan Ampel dan Masjid Ampel.

Pustaka ;
[1] aktual.co/wisatahati
[2] garuda-indonesia.com/destination

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s