Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi ; Apa Itu SYIAH? [01]


Grafik Buku ;Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi

Editor by Wilhelmina
Sabtu 09
Rabiulawal 1435 / 11 January 2014

Variety Explorer.com–Apa Itu SYIAH?

Dikala terbongkarnya ‘kedok kepalsuan’ Syi’ah di Kepulauan Nusantara-atau di Asia Tenggara ini khususnya, kemuncaknya pada tahun 2013-penulis  terpanggil untuk menulis-mengulas tentang isu Syi’ah tersebut,dan mempostingnya di blog ini.ada beberapa tulisan berupa tulisan sendiri dan  juga beberapa artikel review dari penulis serta artikel NGO-Islam yang bergerak memberi pencerahan tentang Syi’ah



Allahyarham Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi

                                 

Sahabat tag aja kalimat Syi’ah di search -kanan atas blog ini .maka Anda baca dan sebarkan untuk kemashalatan Ummah Islam di seantero benua-dunia ini.

 

Sebelum ini umumnya artikel yang penulis paparkan berdasarkan info-makalah dari Ulama- penulis di NGO-Penggerak Anti Syiah yang majority nya selepas kematian Khomeini.

Jadi amat menarik jika kita bahas tentang Syiah ini berdasarkan penulisan seseorang yang hidup sezaman Khomeini,beliau adalah Almarhum Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi *

Sungguh menarik! Betapa tidak, seorang yang hidup di masa Revolusi Iran yang sekaligus sebagai diplomat ulung mampu menampilkan paradigma yang berbeda terhadap Iran dan tentu saja Syiah yang menjadi anutan rasmi negara penabur kesesatan itu. Berbeda kerana pada masa itu, akhir tahun 1970-an, setelah revolusi di Iran meledak, Khomeini berusaha melakukan pendekatan-pendekatan (taqrib) kepada negara-negara Islam-Sunni, dengan dalih menjadi pemersatu. Tepatnya, menyatukan kaum muslimin di bawah payung Syiah

Disebabkan derasnya gelombang taqrib di negara-negara Sunni tidak terkecuali Indonesia, sehingga Rasjidi perlu melakukan counter attack terhadap aliran yang menjadikan caci-makian terhadap sahabat Nabi SAW kategori ring satu (al-mubasy-syirin bil jannah) sebagai bagian dari agama (juz’un min dinihi). Ibarat prisai, Diterbitkannya buku mini dengan judul “Apa Itu SYIAH, Cetakan I. Jakarta: Media Da’wah, 1996” telah membuyarkan lamunan Khomeini sekaligus mementalkan argumen segenap penyokong dan penganut Syiah Indonesia.

Penulis akan memaparkan goresan tinta sang diplomat, ulama, dan politikus itu. Buku ini dimulai dengan kata pengantar oleh penerbit,:

Setiap orang yang mengikuti revolusi Iran banyak merasa tertarik, dan kagum atas kegigihan dan keuletan pelaku-pelaku revolusi itu, yang akhirnya dapat menggulingkan rezim Syah Mohammad Reza Palevi, yang bertahun-tahun lamanya menjalankan pemerintahan monarki yang zalim di negeri tersebut.

Salah seorang tokoh di antara penggerak utama bagi revolusi Iran, yang kemudian memegang pimpinan tertinggin negara Iran, ialah Ayatullah Khomeni. Beberapa tahun lamanya dia diusir dari tanah air yang dicintainya. Pada mulanya ia mukim di Iraq dan terakhir di Paris, tapi ia selalu mengadakan hubungan yang rapat dengan bangsanya. Dengan pidato-pidatonya yang dirakam di atas kaset, Ayatullah Khomeni terus membangkitkan dan memelihara semangat rakyat Iran, sehingga sampai pada satu waktu, dia dapat masuk ke tanah airnya kembali, sebagai pahlawan yang menang dan kemudian memegang kekuasaan.

Seperti diketahui, sebagian besar rakyat Iran, termasuk Ayatullah Khomeni, menganut faham Syiah, satu aliran di kalangan umat Islam yang berbeda fahamnya dengan Ahlussuunnah. Sebagian orang menyangka bahwa perkembangan revolusi Iran itu identik dengan Syiah. Dalam buku kecil ini, tidak ada dasar objektif untuk menarik kesimpulan bahwa revolusi Iran itu identik dengan Syiah. Masalah ini perlu didudukkan secara proporsional. Dalam buku kecil ini  Prof. Dr. H.M. Rasjidi menguraikan secara singkat dan jelas tentang fahaman  Syiah, sejak riwayat permulaannya sampai pada waktu yang terakhir ini. buku ini “Apa Itu SYIAH” diterbitkan dengan tujuan memberikan pengertian tentang aliran Syiah dan menjelaskan perbedaannya dengan fahamam  Ahlussunnah

.

Rasjidi (baca dengan Rasyidi) memulai penulisannya dengan mengangkat Persoalan Siapa Pengganti Nabi Muhammad SAW Sebagai Kepala Negara. Ia menerangkan,

Baiklah kita sama-sama sadar, bahwa agama Islam banyak disalah-fahamkan orang, khususnya di Barat. Sampai saat ini orang selalu mengutip kata Rudolf Otto tentang penjelasannya bahwa agama itu adalah sesuatu yang menakutkan dan menghairankan (tremendum et fascenans).

Gambaran tersebut lebih cocok untuk melukiskan agama-agama primitif yang dianut oleh suku-suku terbelakang. Banyak lagi yang menganggap bahwa agama itu sejajar dengan moral, seperti dikatakan Henri Bergson dalam salah satu karangannya “Leodeux Sources de la Religion”. Dua sumber dari agama dan moralitas. (hlm. 1).

Padahal menurut Rasjidi, Islam tidak dapat disamakan dengan agama primitif, atau sekadar ajaran moral. Ia lebih luas daripada moral. Ia meliputi soal keimanan kepada alam gaib, moral itu sendiri, bermacam-macam ibadat, pemerintahan demokrasi dengan cara musyawarah, hubungan internasional, ekonomi, dan hukum. Hal-hal seperti tersebut itu mungkin masih menjadi bahan cemohan bagi seseorang yang 100% berfikir secara kebarat-baratan, baik dalam masalah hukum, moral, ekonomi, atau soal-soal metafisika

Dalam sejarah Nabi Muhammad—lanjut Rasjidi—ia mendirikan negara Islam di Madinah dengan warga negara yang terdiri dari kelompok Muhajirin –yang mengikuti beliau dari Makkah—dan kelompok Anshar—para penolong dari penduduk setempat—yang terdiri atas suku-suku penduduk Madinah, yakni Aus dan Khazraj.
Nabi SAW juga mengirim surat, antara lain kepada ketua negara dua negara superpower  pada waktu itu, yakni Kerajaan Persia(Parsi) dan Kerajaan Romawi (Rom). Ketika Rasulullah meninggal dunia pada 8 Jun 632 M, timbullah persoalan pengganti beliau. Jabatan Rasulullah ada dua, pertama sebagai Nabi, perantara yang membawa wahyu petunjuk Allah SWT untuk seluruh umat manusia, dan kedua, sebagai ketua  negara. Jabatannya sebagai Nabi tidak perlu diganti, kerana ia adalah Nabi yang terakhir. Tetapi sebagai ketua  negara, secepatnya harus ditunjuk penggantinya. Soal ini adalah soal pokok yang sulit, apalagi negara Madinah baru berumur 10 tahun. (hlm. 2).

Suku-suku dari Madinah—papar alumni Sorbone Francis ini—menunjukkan tanda-tanda ingin mengangkat seorang pengganti dari mereka. Dalam suasana yang kalut, Umar bin Khattab mengulurkan tangannya kepada Abu Bakar agar ia berdiri, dan setelah Abu bakar berdiri Umar mengatakan bahwa ia dengan rela hati akan patuh kepada Abu Bakar sebagai pengganti Nabi atau khalifah. Dengan ucapan itu, semua yang hadir serentak menyampaikan persetujuan mereka. Setelah Abu Bakar rasmi sebagai Khalifah, ia dan Umar serta sahabat-sahabat Nabi lainnya menuju ke rumah Nabi Muhammad untuk mengurus pemakamannya. (hlm. 3).

Pertanyaan selanjutnya adalah, Mengapa Abu Bakar yang Terpilih? Rasjidi menjawab bahwa sungguh banyak tanda yang menunjukkan penghargaan Nabi SAW kepada Abu Bakar. Ketika Rasulullah sakit misalnya, maka Abu Bakar yang diminta oleh Nabi menjadi Imam, memimpin umat Islam melaksanakan salat berjamaah. Abu Bakar, satu-satunya sahabat yang menemani Rasulullah dalam perjalanannya berhijrah ke Madinah, dan beliaulah yang menemani Rasulullah ketika bersembunyi di gua Tsuar, inilah yang menjadi tanda logik bahwa Nabi hanya dapat diganti oleh Abu Bakar.

Lantas bagaimana latar belakang pemilihan itu? Rasjidi menjelaskan, para sahabat telah setuju, dan Abu Bakar kemudian pergi ke masjid mengucapkan pidato pelantikan –dalam istilah sekarang—dengan singkat,

Wahai kaum muslimin! Aku telah kalian angkat menjadi penguasa atas kalian, padahal aku merasa bahwa aku bukan yang terbaik di antara kalian. Kerananya, jika aku bertindak benar, bantulah aku. Dan jika aku bertindak salah, perbaikilah tindakanku. (hlm. 4).

Terdengar dari hadirin ada yang menyambut dengan kata-kata, “Demi Allah! Jika kami melihat suatu kesalahan dari pihakmu, akan kami perbaiki engkau dengan pedang kami.”

Pengangkatan Abu Bakar sebagai Khalifah secara sah ternyata tetap meninggalkan masalah kerana terdapat dasas-desus bahwa Ali-lah yang berhak menjadi khalifah. Kelompok yang cenderung memilih Ali  daripada Abu Bakar kemungkinan didasarkan atas penilaian orang atas sifat-sifat Ali, khsusnya keberaniannya dalam peperangan, atau keakrabannya kepada Rasulullah sebagai anak-bapa saudaranya lantas menjadi menantunya yang dikurniai dua orang cucu lelaki. Hasan dan Husain. Kecenderungan itu kian bertambah ketika Usman bin Affan menjadi khalifah ketiga yang pada akhir jabatannya kurang berhasil mengemudikan negara secara efisien. Dan berakibat terhadap terbunuhnya Usman sendiri. Simpati terhadap Ali juga bertambah ketika ia diangkat menjadi khalifah keempat dan menghadapai negara yang berada dalam krisis wibawa yang telah lama diremehkan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan yang menjadi Gubernur  Syria. (hlm. 5).

Lalu, ada pula orang-orang yang mulai bersimpati kepada keluarga Ali, lama setelah Ali RA wafat. Mereka adalah orang-orang Islam non-Arab yang bersimpati kepada keluarga Ali, kerana selama pemerintaahn Umawiyah berkuasa, mereka merasa diperlakukan sebagai warga negara kelas dua. Dan yang terpenting, Lanjut Prof Rasjidi, sekelompok besar orang-orang Parsi, setelah mereka kehilangan kerajaannya yang megah dan merupakan satu dari dua raksasa penguasa dunia abad ke-7 Masehi, menunjukkan simpati mereka kepada keluarga Ali RA. Ada pun sebabnya, kerana bangsa Parsi  dewasa itu biasa menghormati, menjunjung tinggi bahkan mendewa-dewakan raja-raja mereka. Maka, setelah mereka memandang Kisra (Raja Persia), dan membandingkan dengan keluarga Nabi sebagaimana mereka menilai dinasti Parsi, dan mereka menganggap bahwa jika Nabi wafat, maka ia harus diganti oleh keluarganya. (hlm. 6).

Prof Rasjidi juga memaparkan pendapat Dr. Husain Haikal, penulis “Sejarah Hidup Muhammad” yaang juga menulis Sejarah Abu Bakar dan Umar, bahwa putri Parsi yang terkahir telah dinikahi oleh Husein bin Ali. Atas dasar ini, maka simpati bangsa Parsi terhadap keluarga Ali RA mengandung arti memuliakan orang-orang Parsi, anak cucu Husein yang berdarah keluarga Nabi sekaligus berdarah keluarga Raja Parsi. Di sinilah sebuah pemahaman atau –lebih tepatnya—agama baru berdiri: Syiah.

Bersambung,
_________

Pustaka :
Naskah asal oleh  Oleh: Ilham Kadir MA.(Islampos)
Peneliti LPPI Indonesia Timur-
Berdasarkan petikan buku Apa itu Syiah oleh
Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi

*Biography:

Prof. DR. H. Mohamad Rasjidi, , lahir di Kotagede Yogyakarta 20 Mei 1915 dan meninggal dunia pada 30 Januari 2001. Ia menempuh sekolah rendah  di SD Muhammadiyah Yogyakarta, kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di perguruan Al Irsyad al Islamiyah, Malang, dibawah bimbingan dan asuhan Syekh Ahmad Surkati. Semangat mencari ilmunya makin tinggi, kerana yang mengajar di situ bukan hanya guru-guru dari Indonesia, tapi juga dari Mesir, Sudan, dan Makkah.

Melanjutkan ke University  al Azhar, Kairo. Di sana ia mengambil jurusan Filsafat dan Agama. Setelah empat tahun belajar di situ, ia mendapat gelar Licence (Lc)

Rasjidi melanjutkan kuliahnya di Fakulty Sastra, University Sorbone, Paris. Pada hari Jumat, 23 Mac 1956, Rasjidi akhirnya meraih gelar doktor di university terkemuka itu dengan disertasi-thesis  berjudul l’Evolution de l’Islam en Indonesie ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik terhadap Kitab Centini).

 

Rasjidi adalah Menteri Agama pertama Indonesia pada Kabinet Sjahrir I dan Kabinet Sjahrir II. Ia juga pernah menjawat sebagai Duta Besar RI di Mesir, Arab Saudi dan lain-lain. Sebelumnya di bidang organisasi, ia pernah terlibat di antaranya dalam organisasi PII dan Parti Masyumi (Majlis Syura Muslimin Indonesia). Ia juga pernah aktif sebagai Pensyarah di Sekolah Tinggi Islam (UII) Yogyakarta, Guru Besar Fakultas Hukum UI, Guru Besar Filsafat Barat di IAIN Syarif Hidayatullah dan menjadi Lecture  tamu di McGill University Canada.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s