Cabaran Iman dan Toleransi Beragama

Editor by Wilhelmina
Sabtu 09
Rabiulawal 1435 / 11 January 2014

Variety Explorer.com–Pada suatu hari jenazah orang Yahudi melintas di depan Nabi Muhammad SAW dan para Sahabat. Nabi Muhammad SAW pun berhenti dan berdiri. Para Sahabat terkejut, kemudian bertanya: “Kenapa engkau berhenti Ya Rasulullah?, sedangkan itu adalah jenazah orang Yahudi”. Nabi pun menjawab :”Bukankah dia juga manusia?” (HR. Bukhari).

Dalam kesempatan yang lain, Rasulullah SAW dengan tegas mengatakan, siapa saja orang Yahudi dan Nasrani yang tidak mengakui kenabiannya, adalah kafir. Rasulullah SAW bersabda:Tidak seorangpun di kalangan umat ini yang mendengar tentangku dari kalangan Yahudi maupun Nasrani kemudian ia meninggal dan tidak beriman dengan risalah yang aku bawa kecuali ia tergolong penghuni neraka” (HR. Muslim).


Inilah toleransi, menghormati tanpa mengakui keimanan non-Muslim. Iman tidak perlu digerus- crushed ,untuk menjadi tolerant. Iman Nabi SAW dan Sahabat sempurna, tapi juga mereka tolerant.

Ketika Rasulullah SAW tiba-tiba berdiri, tentu saja para Sahabat terkejut. Namun, para Sahabat akhirnya faham ternyata Rasulullah SAW tidak mengikuti ritual pemakaman orang Yahudi tersebut. Beliau cuma berdiri, tidak sampai ikut menghantarkan ke liang lahat dengan berbagai ritualnya.

Jadi, toleransi Islam antar umat beragama itu hanya menyentuh ranah-kawasan  sosial. Coba perhatikan, beliau berkata alasannya menghormati; “Bukankah dia manusia”.

Sehingga, toleransi yang melampaui wilayah sosial adalah tidak tepat. Kerana itu, Nabi SAW tidak mengatakan; “Bukankah dia Yahudi”. Sebab, toleransi bukan dengan membenarkan ke-yahudian-nya.

Membenarkan keyakinan agama lain bukanlah disebut toleransi, tapi pluralisasi. Sedangkan term- pluralisme tidak ada dalam kamus Islam.

Setiap Muslim yang beriman, harus komitmen dengan keyakinannya. Para ulama mendefinisikan iman dengan tiga pilar; pembenaran dalam hati (al-tashdiq bi al-qalb), pernyataan dengan lidah (al-iqrar bi al-lisan) dan perbuatan anggota tubuh (al-‘amal bi al-arkan).

Orang yang telah percaya (tashdiq) dianggap benar kepercayaannya jika kepercayaan itu diikuti dengan qabul (penerimaan), muwalah (kesetiaan), dan idh’an (ketundukan). Kerana itu, seseorang yang mengaku beriman tetapi tidak setia dengan ajaran Nabi bahwa Yahudi dan Nasrani kafir, maka pengakuannya otomatik batal. Berarti ia tidak tunduk dan setia dengan Nabi Muhammad SAW.

Terkait dengan ini, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari pernah berfatwa, barangsiapa mengakui ketuhanan Allah akan tetapi ia juga meyakini Dia memiliki anak dan sekutu, maka ia keluar dari agama, berdasarkan kesepakatan ulama’ (Hasyim Asyari,Risalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal. 13). Artinya, pengakuannya batal kerana tidak setia kepada Allah SWT.

Selain ‘toleransi’ yang melampaui batas, toleransi juga kadang dimaknai dengan kebebasan ala liberal. Kaum liberal, menjustifikasi ‘toleransi’ versinya dengan menyandarkan al-Qur’an surat al-Baqarah: 256 yang berbunyi:Laa Ikraha fi al-Dien” (tidak ada paksaan dalam beragama). Atas dasar ayat ini, maka tidak ada hukum memvonis non-Islam. Bahwa, dalam versi liberal, Islam memberikan kebebasan yang mutlak untuk beragama, atau pun tidak beragama. Bebas untuk beragama Islam, atau beragama non-Islam.

Untuk memahami ayat, tidak semestinya kita memakai metode “mutilasi ayat” (memotong-motong ayat tanpa dikaitkan dengan ayat berikutnya). “Mutilasi ayat” sama saja akan ‘membunuh’ kesucian ayat itu.

Ayat di atas harus dibaca utuh. Bunyi ayat lengkapnya adalah; “Tidak ada paksaan untuk (memasuki ) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar dan jalan yang sesat. Kerana itu, barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al-Baqarah: 256).


Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya menjelaskan maksud ayat tersebut. Bahwasannya seseorang dilarang untuk dipaksa masuk agama Islam. Sebab kebenaran Islam itu sangat jelas, terang dan bukti-buktinya jelas. Menurut Ibn Katsir, sebagaimana cukup jelas dalam ayat di atas bahwa percaya kepada Islam merupakan kebenaran. Sedangkan ingkar terhadap Islam adalah kesesatan. Orang yang masuk Islam adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk Allah, sedangkan orang non-Islam adalah orang-orang yang buta hatinya (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-‘Adzim).

Jadi, ayat di atas bukanlah justifikasi kebebasan tanpa batas. Sama sekali ayat itu bukan menjelaskan konsep kebebasan. Justru inti ayat di atas ada di kalimat akhir, yaitu, perbedaan orang yang mendapatkan petunjuk dan orang yang tertutup kesesatan (kafir).

Ketika Islam menegaskan kebenaran risalah Tauhid yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, ia tidak bermakna bahwa umat Islam harus memusuhi dan membunuhi umat agama lain. Sejarah mencatat, bahwa Islam agama yang cukup tolerant dan hormat kepada agama lain. Justru, liberalisme lahir di Barat pada masa orang Barat gagal mendamaikan agama. Kerana tidak memiliki konsep toleransi, maka mereka kebingungan mendefinisikan toleransi.

Sedangka Islam, menguatkan konsep toleransi tersebut dengan mengikatnya dengan konsep al-Tauhid. Dengan kata lain, ketika umat Islam bertoleransi, hendaknya membuat dia lebih meyakini bahwa Allah SWT sajalah Tuhan Yang Maha Benar bukan Tuhan yang lain.[]


Pustaka :
Naskah asal oleh
Kholili Hasib
Institut Pemikiran & Peradaban Islam Surabaya.
Indonesia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s