Intimidasi Hak Pelajar Muslimah Bali Berjilbab -Terkumpul 1000 Tandatangan Sokongan


* FOTO: Anita (kedua dari kiri), siswi SMAN 2 Denpasar Bali yang dilarang mengenakan jilbab oleh Guru Besar sekolahnya dan beberapa guru

Editor by Wilhelmina

 

Rabu 06 Rabiulawal 1435 / 08 January 2014

Variety Explorer.com-DENPASAR BALI–Telah terjadi diskriminasi terhadap pelajar muslimah di *SMAN 2 Denpasar-Bali melalui aturan tertulis dan aturan tidak tertulis dari pihak sekolah. Para siswi muslimah dilarang mengenakan jilbab atau tudung/kerudung  yang diwajiban dalam Islam saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolahnya.

Kasus ini di antaranya menimpa siswi bernama Anita, yang saat ini duduk di bangku tingkatan XI SMA itu(peringkat SPM di Malaysia). Gadis cantik yang sebenarnya sudah memakai jilbab sejak *SMP itu tetap ingin memakai jilbabnya ke sekolah. Perjuangannya mendapat jawaban menyakitkan dari beberapa oknum guru, agar Anita bersekolah di sekolah lain saja jika ingin tetap mengenakan jilbabnya.

Dukungan dan sokongan  dari pelbagai pihak untuk membela hak Asasi pelajar Muslim di Bali mulai terlihat setelah setelah 7 hari konsolidasi Team Advokasi Pembelaan Hak Pelajar Muslim Bali dengan NGO- Islam dan tokoh masyarakat. Dukungan/sokongan melalui jejaring sosial juga cukup menggembirakan. Bahkan menurut Team Advokasi yang diketuai Helmi Al Djufri berhasil mengumpulkan lebih dari 1000 tanda tangan untuk petisyen  Online yang kan diikkuti petisyen lapangan.

“Hari ini Team Advokasi akan membuat Petisyen  di lapangan, agar masyarakat semakin tergugah akan kasus yang menimpa pelajar muslimah di Bali,” tutur Helmi yang juga menjawab Timbalan S/U PB PII, dalam rilisnya kepada redaksi Voa Islam Selasa (07/01/2013)

Team Advokasi terus melakukan konsolidasi dengan NGO- Islam dan tokoh masyarakat sejak 1 Januari 2014 lalu.

Team telah bertemu dengan Ibu Yunisiah selaku Ketua Jami’atul Quro wal Hufadz Provinsi Bali, KH. I Ketut Jamal selaku Pimpinan Pondok Pesantren Bali Bina Insani yang berada di Tabanan juga sebagai Pegawai  Mahkamah Agama Kota Denpasar serta pemuka agama Islam lainnya dan Ust. Hasan Basri Ketua DDII Provinsi Bali.

Bahkan sejak lima hari lalu, Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia (PB PII) dibantu Tesm Advokasi sudah melayangkan surat audiensi kepada Ketua Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Provinsi Bali, dan telah mendapat jawaban dari Seksi Data Disdikpora Prov. Bali.

“Hanya menunggu waktu yang tepat untuk menerima audiensi PB PII,” tutur Hilmi dalam rilisnya.

Sementara MUI( Majlis Ulama Indonesia) Cawangan  Provinsi Bali yang telah dikirimi surat oleh PB PII, sudah memberi jawaban menerima audiensi pada Rabu (08/01/2013) besok.

Pejabat Kementrian Agama ( Kemenag) Prov. Bali dan beberapa NGO-Islam tingkat wilayah seperti Muhammadiyah, NU, HTI, dan Hidayatulllah yang sudah dikirimi surat beraudiensi, masih belum memberikan jawaban.

“Namun PB PII( Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia) dan Team Advokasi tetap optimis menunggu jawaban kesediaan dari para pimpinan NGO- Islam,” harapnya dengan serius.

Walau demikian Hilmi dan teamnya tetap optimis para tokoh NGO- Islam akan membantu gerakan pembelaan hak pelajar muslim Bali, kerana kasus pelarangan jilbab di sekolah ini merupakan pelanggaran Hak Asasi Manusia-HAM  dan merupakan tindakan pendangkalan aqidah para pelajar muslim oleh oknum Guru Besar Sekolah dan para guru di SMAN 2 Denpasar Bali.

Konsolidasi gerakan ummat untuk pembelaan Hak Pelajar Muslim Bali sengaja dibangun agar isu-isu Ummat Islam  yang bersentuhan langsung dengan pelajar menjadi tanggung jawab para Ibubapa, Ulama, Tokoh-tokoh, Aktivis Pelajar/Pemuda Islam dan Pegawai Pemerintah.

Arsip;
*SMP ; Sekolah Menengah Pertama -jika diMalaysia setaraf tingkatan I-III.

*SMA: Sekolah Menengah Atas –jika diMalaysia setaraf tingkatan IV-VI.
Sekolah menengah di Indonesia VI(enam) tahun.
Sekolah menengah di Malaysia hanya V(lima) tahun

Pustaka;
voa-islam.com

4 comments

  1. Persoalan dibesar2kan. Ada provokasi apa lagi ini? Semoga aparat kita cepat tanggap dan dapat mencegah kejadian yg tak diinginkan. masalah penerapan pakaian seragam sekolah itu masalah aturan sekolah. Bukan masalah pelarangan jilbab. Jika pakai jilbab sebaiknya tidak disekolah yg pakaian seragamnya tidak berjilbab. Orang Bali karena tak lazim dg jilbab tentu tidak akan mengerti masalah aqidah. Apakah aqidah perlu dipaksakan? Siapa yg mestinya bertoleransi dlm hal ini. Murid yg mau melanggar aturan sekolah, atau gurunya yg mendidik muridnya untuk bisa taat thd aturan?

    • Setuju,….!!! dan Bali itu bukan daerah yg menerapkan syariat islam spt di aceh dan padang. Coba perhatikan siswi di Padang, apakah non muslim diberi toleransi tanpa jilbab?? ah.. munafik… kaum muslim, sekali pun mereka non muslim di sekolah negeri, tidak ada kebebasan untuk berbusana sesuai kondisinya. Dipaksa semua harus berbusana muslim. Bahkan semua aturan di atasnya, UUD 1945, peraturan dan keputusan menteri sekalipun TIDAK BERLAKU dan DIGUBRIS. Di sekolah ada berlaku yg namanya ‘Otonomi Pendidikan’, ya,…sekolah berhak untuk menetapkan peraturan berbusana sesuai kearifan lokal. Dan siswa bersangkutan pertama kali masuk sekolah telah menandatanagani Janji yang mengharuskan bahwa tunduk pada peraturan sekolah. Jadi ikut saja peraturan sekolah, atau out dari sekolah bersangkutan sebagaimana sudah disarankan. Jangan ngeyel…munafik, dan mau menang sendiri dgn memperhatikan ‘simbol agama’ di sekolah itu. Sadarlah… bahwa Indonesia ini ber Bhinneka Tunggal Ika, bukan mau golongan muslim saja disitu. Idioootttt

      • .bro sito,
        Wah, baru tau kalo kondisi-nya seperti itu, saya kira aturan berjilbab hanya untuk pelajar muslimah saja, dan bagi pelajar non-muslimah cukup mengenakan seragam yg sopan saja

        Memangnya tidak ada sekolah non muslim disitu ?

        Atau pindahkan aja anak2 Anda dari sekolah tsb daripada jiwa buah hati Anda terganggu,!..

  2. Kt. Adnyana dan Sunarto(sito) makasih udah mampir komen ya..
    Persoalannya udah tuntas tuhh..setelah diadakan pertemuan serta perbincangan yg cukup harmoni..dan dicari akar permasalahannya.rupanya Ketua sekolah tsb.tidak faham dan mengerti apa makna jilbab bagi sseorang muslimah.
    selepas dijelaskan oleh Team Advokasi sdra Helmi Al Djufri ..ketua sekolah dengan ikhlas mengizinkan pemakaian jilbab itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s