Hukum Merayakan MaulidulRasul-Nabi Muhammad SAW

Editor by Wilhelmina

Rabu 06 Rabiulawal 1435 / 08 January 2014

Variety Explorer.com–MERAYAKAN Maulidul Rasul- Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wa sallam adalah amalan yang utama kerana merupakan ungkapan suka cita dengan kelahiran nabi pembawa rahmat itu, dan juga merupakan ungkapan cinta kepada beliau.

Cinta kepada Nabi adalah salah satu pokok keimanan. Sabda Rasulullah: “Tidak disebut beriman salah satu di antara kalian sehingga aku lebih dicintai olehnya daripada orang tuanya, anaknya dan manusia seluruhnya.” (HR. al-Bukhari)

Diriwayatkan dari Buraidah al-Aslami, beliau berkata : Rasulullah Saw. pernah pergi dalam salah satu peperangan, ketika beliau kembali, ada seorang wanita berkulit hitam yang menyambut kedatangan beliau itu sambil mengatakan, “Ya Rasulullah, sungguh aku telah bernadzar, jika Allah mengembalikan engkau dengan selamat, aku akan menabuh rebana sambil bernyanyi di hadapanmu. Maka jawab beliau, “Kalau benar kamu telah bernadzar, maka tabuhlah, tetapi kalau tidak bernadzar, jangan kamu tabuh”.

Jika menabuh rebana sebagai ungkapan suka cita setelah kedatangan Nabi dari medan perang adalah hal yang disyariatkan, kerana disetujui oleh beliau dan wajib melakukannya jika berupa nadzar, maka mengungkapkan suka cita atas kedatangan (kelahiran) beliau di dunia ini adalah hal yang lebih utama.

Jika Allah meringankan siksa Abu Lahab di neraka pada setiap hari Isnin kerana dulu mengungkapkan suka cita atas kelahiran Nabi Muhammad dengan memerdekakan budak-hamba  perempuannya yang bernama Tsuwaybah, maka kira-kira apa yang akan dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kaum mukminin yang merayakan maulid Nabi?

Para ulama salafussalih sejak abad ke-4 dan ke-5 telah merayakan Maulid Nabi dengan macam-macam ibadah, seperti menyedekahkan makanan, membaca al-Quran, dzikir dan menyanyikan pujian-pujian kepada baginda Nabi. Hal itu telah dijelaskan oleh banyak ulama, seperti Ibnu Jauzi, Ibnu Katsir, Ibnu Dihyah al-Andalusi, Ibnu Hajar dan Jalaluddin al-Suyuthi.

Para ulama juga banyak yang menulis tentang keutamaan perayaan maulid Nabi dengan dalil-dalil yang shahih, seperti Ibnu al-Hajj dalam “al-Madkhal”nya dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi dalam risalahnya yang berjudul “Husnul maqsid fi amal al-maulid.”

[Sumber: Darul Ifta Masriyah, MAJLIS FATWA MESIR/Islampos]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s