Expose;Misteri Bola Cahaya-UFO Sebelum Gempa Bumi

Bola cahaya di Cina sebelum terjadi gempa.


Editor by Wilhelmina

Rabu 06 Rabiulawal 1435 / 08 January 2014

Variety Explorer.com–Selama bertahun-tahun, banyak orang yang menjadi saksi cahaya misterius di langit yang muncul sebelum dan ketika gempa Bumi terjadi. Kini, terungkap sudah penyebab munculnya cahaya misteri tersebut.

Selama ini, kemunculan cahaya berbentuk bola api di langit sebelum terjadi Gempa Bumi selalu menjadi misteri besar bagi para ilmuwan.

Kemunculannya sering salah dikira sebagai UFO, atau bahkan halusinasi. Baru-baru ini para ahli geologi mengumpulkan senarai  nyaris muktamad terkait fenomena langka yang masih jadi misteri dan perdebatan para ilmuwan sebagai ‘cahaya gempa’.

Jika memang secara ilmiah demikian, maka salah satu fenomena UFO Lights Ball atau “UFO Bola Bercahaya” akan terpecahkan.

Beberapa jenis gempa bumi di daerah tertentu memang dapat mencetuskan terjadinya kilatan cahaya yang terjadi beberapa detik. Bahkan berhari-hari, sebelum terjadinya gempa.

Bentuknya bermacam-macam. Dari bola cahaya yang melayang, kolom kebiruan yang seakan keluar dari Bumi, atau bentuk sebaliknya dari kilat – dari tanah ke langit. Akhirnya, team ilmuwan dari NASA Ames Research Center dan San Jose State University serius mencari jawabannya.

Gambar Bola Cahaya  gempa bumi diperhatikan di sepanjang pantai barat Tagish Lake, selatan Yukon. Sebanyak tujuh bola berwarna kuning yang dapat dilihat, kewujudan yang paling hampir pada kira-kira 500 meter dari dua orang saksi. Ketiga-tiga bola paling jauh ditunjukkan oleh anak panah putih. Bola mempunyai diameter kira-kira satu meter. Untuk gambar warna asal, lihat laman web (Jasek, 1998). Gambar kredit: Jim Conacher

Untuk menelusuri asal-muasal cahaya misteri itu, para ilmuwan meneliti 65 penampakannya selama 400 tahun terakhir (sejak tahun 1600). Lalu, ditemukan jawaban bahwa cahaya misteri itu berasal dari dalam kerak Bumi, memetik Science Recorder, Sabtu 4 Januari 2014.

 Para ilmuwan mengidentifikasi adanya arus elektrik yang mengalir ke luar dari beberapa jalur patahan gempa Bumi. Kemudian, masing-masing arus elektrik  dari sisi patahan itu saling tarik-menarik dan menciptakan bola api di langit.

 

Untuk diketahui, rata-rata gempa Bumi terjadi pada zon subduksi—tempat the crash lempeng samudera dan lempeng benua. Tapi, kemunculan elektrik itu bukan dari zon subduksi, melainkan dari jalur patahan yang ada di lempeng benua.

 

“Di jalur patahan lempeng benua sangat rawan terjadi gesekan ekstrem, kerana akan membentuk palung yang sangat curam. Gesekan ekstrem itu membentuk elektrik yang mengalir sampai permukaan Bumi dan menciptakan kilatan cahaya setelah terionisasi( terurai menjadi ion-ionize) di udara,” jelas Friedemann Freund peneliti dari NASA Ames Research Center.

Sebelumnya, para ilmuwan tidak yakin adanya cahaya misterius yang muncul sebelum terjadi gempa Bumi, dan belum ada laporan ilmiah yang menjelaskan tentang itu.

Tapi, pandangan itu berubah ketika pada tahun 2007 lalu sebuah kamera berhasil merakam kemunculan dua bola cahaya di langit kota L’Aquila, Itali, dan di kota Pisco, Peru, sesaat sebelum terjadi gempa.

Foto amatur cahaya misteri berbentuk bola yang muncul sebelum terjadi gempa bumi di langit kota L’Aquila, Italy.

Sesaat sebelum bumi bergoncang, pejalan kaki menyaksikan cahaya terang mirip api melayang 4 inchi, di atas trotoar Francesco Crispi Avenue, di pusat kota bersejarah itu.

Selain itu, di tempat yang sama seorang marinir melihat kolom cahaya berwarna biru pucat yang menyembul empat kali berturut-turut dari air pada 15 Ogos 2007, saat gempa berkekuatan 8 skala Richter terjadi. Kamera CCTV di kota juga menangkap penampakan cahaya itu.

Sementara, pada 12 November 1988, bola cahaya ungu bercampur pink bergerak di langit di atas Sungai St. Lawrence, dekat Kota Quebec, Kanada 11 hari sebelum gempa dahsyat mengguncang.

Pada 18 April 1906, cahaya biru melayang di dasar kaki bukit sebelah barat San Francisco, sesaat sebelum gempa dahsyat terjadi. Di selatan kota, di San Jose, sebuah ruas jalannya seakan menyala dalam samar tapi indah warna pelangi.

“Mekanisme yang menyebabkan fenomena itu hanya terjadi dalam kondisi tertentu dan langka,” kata Friedemann Freund, profesor fizik dari San Jose State University sekaligus ilmuwan senior Ames Research Center NASA di Mountain View, California, seperti dikutip dari USA Today, 2 Januari 2013.

 



Screenshot tampilan video di Youtube, tampak benda terbang tak dikenal atau UFO yang berbentuk beberapa Bola Cahaya (UFO Lights Ball) saat gempa bumi di Sendai, Japan, yang menimbulkan gelombang tsunami pada tahun 2011

 

Batuan seperti basal dan gabro, yang terbentuk jauh di dalam mantel Bumi, memiliki cacat kecil dalam kristalnya. Saat batuan seperti itu mendapat tekanan hebat, cacat tersebut menghasilkan muatan listrik.

“Saat gelombang seismik menjalar melalui tanah dan menghantam lapisan batuan tersebut, menekan batuan dengan tekanan yang kuat dan cepat, menciptakan kondisi di mana sejumlah besar muatan elektrik  positif dan negatif tercipta,” kata Profesor Freund. Daya tersebut bisa bergerak bersamaan, mencapai kondisi yang disebut plasma, yang bisa ‘meledak’ ke luar dan memancar ke udara.

Komponen lain yang diperlukan untuk membentuk cahaya gempa diproduksi secara alami, adalah patahan vertikal jauh di dalam kerak bumi — yang dalamnya bisa mencapai 60 mil atau 96 kilometer, bahkan lebih. Magma yang membeku menjadi gabro atau basal naik dari patahan-patahan itu, membentuk tumpukan mirip tanggul-tambak yang tebalnya puluhan hingga ratusan meter.

“Kami berspekulasi bahwa tumpukan tersebut berperilaku seperti corong, memusatkan muatan elektrik  hingga menjadi plasma ter-ionisasi yang solid,” kata Robert Theriault, ketua team studi sekaligus pakar  geology dari Quebec Ministry of Natural Resources, Kanada. “Saat plasma meletup ke udara, ia akan menghasilkan cahaya,” tambah dia.

Kejadian itu yang kemudian langsung menginspirasi team ilmuwan dari NASA Ames Research Center dan San Jose State University untuk mencari tahu asal-muasal cahaya misterius tersebut. Akhirnya hasil penelitian ini diterbitkan di Jurnal Seismology Research Letters pada 2 Januari 2014 lalu.

Pustaka;
 (ICC,wordpress/Science Recorder / dailymail.co.uk).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s