Komisi HAM Perlu Investigasi Operasi Brutal Densus 88

Rumah teres yang diserbu Densus 88 dengan tembakan dan bom kondisinya hancur lebur, bangunannya hanya tersissa 30 %, bagian yang ditutup dengan kanvas plastik itu adalah bagian dari rumah yang hancur. Polis telah mendata kerugian material dan immaterial atas aksi brutal ini Khamis (2/1/2014)

Editor by KI Panji The-Author

Sabtu 02 Rabiulawal 1435 / 04 January 2014

Variety Explorer.com–JAKARTA-Indonesia Police Watch (IPW),Kali ini bereaksi atas kebrutalan Densus 88 di Ciputat. IPW  meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Indonesia (Komnas HAM) melakukan investigasi terhadap operasi penyerbuan secara brutal sebuah rumah petak-teres house  di Ciputat, Tangerang Selatan,Jakarta oleh Team Densus 88 pada malam pergantian tahun baru 2014

“Dalam kasus Ciputat, Komnas HAM harus melakukan investigasi. IPW berharap Komnas HAM mengawasi dengan ketat dan serius cara-cara kerja Densus 88,” kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane laporan Kantor berita- Antara Juma’at (3/1/2014).


      sekira seratusan kaum Muslimin Solo Raya melakukan unjuk rasa menolak kebrutalan Densus 88 di Ciputat Tangerang Selatan, Juma’at (3/1/2014)

Sementara itu ratusan kaum Muslimin Solo Raya dari beberapa elemen umat Islam seperti JAT dan LUIS,   pada Juma’at (3/1/2014) melakukan aksi unjuk rasa menolak kebiadaban Densus 88 di Ciputat, Tangerang Selatan.


(Solo Raya adalah wilayah geografis di Jawa Tengah, Indonesia yang meliputi Kota Surakarta sebagai pusatnya dan dikelilingi dengan wilayah-wilayah satelit).

Mereka menilai sikap represif, militeristik, dan eksekusi mati Desnsus 88 terhadap  6 orang di Ciputat mengingatkan kita pada   kasus brutal sebelum ini seperti di Batu Malang, Temanggung, Wonosobo, Jatiasih, Klaten, Mojosongo Solo, Tipes Solo, Barat PT Konimex Sukoharjo, Bandung, Kebumen, Batang, Kendal, Lamongan, Makasar dan Bima.

“Seolah pola Densus 88 sudah kehilangan kekhususnya sebagai unit khusus Polri yang mestinya procedural dan lebih professional dari polis-polis di daerah,” rilis- release kaum Muslimin peserta aksi.

Kaum Muslimin juga menunjukkan beberapa fakta dan kejanggalan penembakan dan pengeboman di Ciputat Tangerang Selatan, yang menunjukan hal yang kontradiktif dalam penegakan hukum oleh Polri khususnya Densus 88, pada rilis yang diterima redaksi arrahmah menyebut antara lain:

  • 1-Mengapa 6 orang tersebut harus ditembak mati? Apa peranannya? Terlibat Kasus apa? Ini perlu pembuktian, ada saksi, ada bukti. Bukan pernyataan sepihak yang tidak ada hak untuk membela diri terhadap korban. Mestinya asas praduga tak bersalah dikedepankan hingga proses ke mahkamah Di mahkamahpun belum tentu hakim menentukan terdakwa bersalah.

  • 2-Semangat Densus 88 untuk menembak mati mengapa hanya terjadi pada kasus terorisme? Dan tidak terjadi pada penegakan hukum pada kasus lain seperti Korupsi maupun illegal logging? Kapolri (KP) harus menjelaskan mengapa ini hanya terjadi pada korban yang kebanyakan beragama Islam yang taat beribadah? Jangan sampai terjadi isu terorisme hanya sebagai topeng yang dibungkus untuk memerangi, menyiksa dan membunuh kelompok muslim di Indonesia.

  • 3-Mengapa Mabes Polri perlu melacak dan menyebar foto korban dalam rangka mencari data pembanding untuk DNA? Dalam hukum acara pidana (criminal procedural law)  menyebutkan bahwa penetapan tersangka harus jelas identiti dan memiliki 2 alat bukti untuk menguatkan. Mengapa korban terlanjur dibunuh dinihari tanggal 1 Januari 2014 dan baru pada 2 Januari  2014 mencari identiti alamat beserta keluarganya? Bagaimana pula menetapkan tersangka kalau alamatnya belum jelas? Bisa jadi ini justru salah sasaran/target yang dilakukan Densus 88.

  • 4-Dalam  serbuan apalagi Eksekusi mati di Ciputat yang di TKP( tempat kejadian) hanya Densus 88, maka terkait barang buktipun di TKP hanya Densus 88 yang tahu, apakah barang bukti  itu benar di TKP atau keberadaan barang bukti tiba-tiba ada hanya Densus saja yang tahu. Artinya bahwa kesahihan  barang bukti di TKP sangat subjektif, sepihak dan belum tentu benar.


    Sebelumnya Detasemen Khusus-Densus- 88 Unit Antiteror Mabes Polri (Markas Besar Polis RI) melakukan serbuan di rumah kontrakan milik Rahmat di Jalan KH Dewantoro Gang H Hasan RT 04/07 Kampung Sawah Ciputat Tangerang Selatan, Daerah Banten pada Selasa (31/12) malam hingga Rabu (1/1) dini hari. Enam Muslim meninggal dunia, Kenyataan sendiri mulut polis menyebut para korban,adalah ; Daeng alias Dayat alias Hidayat, Nurul Haq alias Dirman, Oji alias Tomo, Rizal alias Teguh, Hendi, dan Ujuh Edo alias Amril

    Nama-nama tersebut kata Ketua Biro Penerangan Masyarakat Divisi Hubungan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Polisi Boy Rafli Amar, merupakan nama yang diperoleh dari Anton, pelaku terorisme yang sebelumnya ditangkap di Banyumas, Jawa Tengah, dan seorang lagi pelaku yang selamat dalam serbuan di Kampung Sawah, Kecamatan Ciputat, Kotamadya Tangerang Selatan, Provinsi Banten.Jawa Barat,


    Perilaku kejam dan sadis begitu dipertontonkan secara massif di hadapan penduduk Kampung Sawah Ciputat saat malam pergantian tahun itu. Bukan sesuatu yang berlebihan kiranya bila elemen masyarakat diantaranya  Jamaah Anshorut Tauhid  mendesak  agar Komnas HAM bertindak.

    “Tindakan pembunuhan yang dilakukan oleh Densus 88 tersebut merupakan tindakan extra judicial killing dan menambah banyak daftar pelanggaran HAM yang dilakukan oleh institusi penegak hukum terhadap ummat Islam, maka kami mendesak kepada pihak yang berkompenten-competent dalam hal ini yaitu Komnas HAM  untuk serius mengusut tuntas kasus ini, kerana hal ini sangat mencederai nilai-nilai agama dan kemanusiaan,” tulis release NGO- JAT(Jamaah Anshorut Tauhid Indonesia)

    Pustaka;
    arrahmah.com
    wikipedia-bebas,id

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s