Kisah Suka-Duka Pekerja Warga Asing di Malaysia(01)


Farzana dan sepupunya, Sheela, mengaku kesuilitan mencari kerja.

 

Variety Explorer.com–Beberapa warga negara pekerja asing di Malaysia mengisahkan pengalaman mereka menjadi tenaga kerja ilegal (haram-red) di tengah upaya pihak berwenang /berkuasa  Malaysia memutihkan dan mengusir pendatang asing ilegal.

Apakah benar pihak  Berkuasa  Malaysia terkenal “begitu baik” kepada pendatang/pekerja haram asing? Dan ada sesetengah pendapat mengatakan “sistem imigran dan penguatkuasaan undang-undang kita terlalu lemah dan kurang berkesan,menyebabkan terjadi pelonggokan pendatang/pekerja asing dari pelbagai negara di Malaysia kini yang mencecah hampir 3(tiga) juta lebih

Pada artikel ini  redaksi Variety Explorer.com mencoba menyelami hati nurani mereka (pekerja illegal) serta pengalaman selama bertahun jadi pekerja.pendatang haram- diadaptasi dari wawancara Rohmatin Bonasir Wartawan BBC-Kuala Lumpur.

 

Farzana dan Sheela, tenaga kerja Bangladesh (foto atas)

Semula Farzana tiba di Malaysia dengan menggunakan visa mahasiswa. Ia mendaftarkan diri di sebuah institusi pendidikan  Kuala Lumpur tujuh tahun silam.

Ketika ditanya apa yang telah ia pelajari, ia mengaku lupa. Dari toko ke kedai  ia berpindah kerja dan tanpa kemampuan berbahasa Melayu atau bahasa Inggeris yang memadai, perpindahan tempat kerja itu semakin sering.

“Saya sering ditolak bekerja begitu tahu saya dari Bangladesh. Saya tidak mengerti mengapa itu terjadi,” ungkap Farzana.

Di Kuala Lumpur ia tinggal bersama suami dan kedua anak mereka. Atas bantuan lembaga sosial Migrant Ministry Kelang, anak-anaknya bisa belajar di sekolah komuniti  setempat.

Sheela, sepupu Farzana, menyusul ke Malaysia lima tahun lalu. Sama seperti sepupunya, Sheela bekerja dari satu toko ke toko lain.

“Kemanapun saya mencari kerja, begitu tahu saya orang Bangladesh mereka langsung menurunkan gaji yang ditawarkan. Jika ada pekerjaan dengan gaji 1.500 ringgit, mereka akan memberikan gaji 1.000 ringgit kepada orang Bangladesh,” jelas Sheela.

Apakah Anda tahu penyebabnya?

“Saya tidak tahu. Apa yang salah dengan orang Bangladesh? Apakah orang Bangladesh nakal?”

Asnan, tenaga kerja Indonesia.

Asnan sudah mengeluarkan sekitar 5.000 ringgit untuk proses pemutihan

Setelah tiga tahun menjadi tenaga kerja rasmi, Asnan memutuskan lari  dari majikan kerana gajinya kecil.

Selama tujuh tahun terakhir ia bekerja serabutan. Kini ia memplaster dinding  di sebuah projek pembangunan perumahan ibukota Malaysia.

Namun hidupnya diselimuti ketakutan.

“Saya keluar dari depan pintu mau ke jalan raya, hati saya sangat kecil, kerana merasa tidak punya dokumen. Tapi kalau ketakutan, tidak nekat mencari nafkah, seakan-akan terkurung di dalam rumah, lalu bagaimana keperluan  sehari-hari?

Ia menghindari berpapasan dengan polis  di pinggir jalan, tetapi tidak selalu bernasib baik.

“Walaupun digertak dan dibawa ke sana kemari oleh polis dengan kereta peronda, saya teguh pada pendirian dan ucapan tidak boleh kasar. Siapa saja bisa kasar, tapi saya merasa sudah salah tapi saya pun harus betul-betul merendahkan diri sampai di bawah,” kata Asnan, TKI asal Banyuwangi, Jawa Timur.

“Jadi seakan-akan saya mengambil hati supaya tidak sampai ditangkap dan betul-betul disalahkan. Alhamdulillah mereka tidak sampai membawa saya ke penjara,” tambahnya.

Win, tenaga kerja Indonesia

Selain bekerja di hotel, Win juga membersihkan apartemen-apartemen,

Ia meninggalkan buah hati semasa  berumur lima tahun di Tuban, Jawa Timur. Awalnya ia bekerja di restoran dan memegang dokumen lengkap termasuk permit  kerja.

Ketika pindah kerja, semua dokumen ditahan majikan lama. Selama beberapa tahun terakhir, Win bekerja secara ilegal di Malaysia. Hampir tanpa mengambil hari cuti, ia membersihkan kamar di sebuah hotel berbintang di Kuala Lumpur.

“Di tempat saya kerja, saya tidak langsung bekerja dengan  pihak pengurusan  hotel. Saya melalui agen dan agen tidak sampai menanyakan dokumen seperti pasport  atau  permit  kerja,” kata Win.

Dengan gaji rata-rata 900 ringgit atau sekitar Rp3 juta per bulan, ia mampu mengontrak bilik di Kampung Pandan, hanya sekitar 15 menit naik kereta  dari arah menara kembar Petronas, dan mengirim uang untuk anaknya di kampung.

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s