Comet ISON Selamat Lintasi Matahari


Angle-1 – Comet C/2012 S1 ISON in the Cor-2 images on the NASA STEREO Ahead spacecraft. [Image credit: NRL/NASA]

Angle-2 – Comet C/2012 S1 ISON in the Cor-2 images on the NASA STEREO Behind spacecraft. [Image credit: NRL/NASA]


(Angle-3 – SOHO Lasco-2. [Image credit: NRL/NASA]

by Wilhelmina |Freelance Writer-  Malaysia

Variety Explorer.com–HARI Jumaat (29/11/13) dini hari, Komet ISON akan mencapai  jarak terdekatnya dengan Sang Surya Matahari. Ini adalah pertaruhan hidup mati komet, selamat dari shred-renggutan  Matahari atau tamat riwayatnya.

Jarak titik terdekat Komet ISON dengan permukaan Matahari hanya 1,2 juta kilometer. Titik balik perjalanan ISON akan dicapai pada Khamis (28/11/13) jam 18.38 waktu universal atau Jumaat (29/11/13) pukul 01.38 am Makin dekat dengan Matahari, komet akan semakin cermerlang. Namun, jarak yang terlalu dekat dengan Matahari membuat komet itu sulit diamati dengan teleskop optik landas Bumi.

Komet ISON diperkirakan berusia 4,6 jutaan  tahun dan telah melaju selama 5 juta tahun dari luar tata surya ke arah matahari, kata Alex Young dari Goddard Space Flight Centre di Maryland. Beberapa juta tahun yang lalu, ISON melepaskan diri dari awan Oort, sebuah pengelompokan puing-puing antara matahari dan bintang terdekat berikutnya.

“Ini adalah situasi yang sangat dinamis. Kami tidak pernah melihat komet seperti ini datang dari awan Oort dan melintas ke orbit matahari,” kata Battams.


(Awan Oort (Inggris: Oort cloud) adalah awan komet berbentuk sferik yang dipercayai berada sekitar 1xE15 m/50.000 hingga 1xE16 m/100.000 AU dari matahari (sekitar 1.000 kali jarak Matahari ke Pluto).

Komet ISON yang tengah dalam perjalanan menuju titik terdekatnya dengan Matahari berpotensi menyuguhkan pemandangan langit yang menakjubkan. Namun, ada satu syarat yang harus dipenuhi, ISON harus bertahan dari panasnya Matahari.

Isu yang sempat beredar dikalangan astronomer, stargazer dan pencinta astronomi lainnya mendapatkan berita bahwa komet yang dinobatkan sebagai komet paling terang di abad ini telah hancur saat mendekati matahari.

Jika selamat dari gravitasi dan radiasi Matahari, tidak habis menguap, ISON bisa meneruskan perjalanan pulang. Dalam perjalanan balik itu, ISON akan menyajikan atraksi yang menarik di langit subuh di belahan Bumi Utara.

Diperkirakan Komet ISON melaju di tengah suhu 4.900 derajat Fahrenheit atau 2.700 derajat celcius. Dalam perjalanannya mendekati matahari, ISON kehilangan tiga juta tan massa per detik, Kebanyakan astronom telah meramalkan bahwa ISON tidak akan bertahan diperjalanan.

Namun, setidaknya, ada tiga senario nasib komet ISON. Tiap senario bakal menentukan penampakannya.

Tiga Kemungkinan Nasib ISON

Dalam percakapan dengan Kompas.com, Rabu (27/11/13), astronom amatir Indonesia Ma’rufin Sudibyo, mengungkapkan, senario  pertama adalah ISON akan bertahan dari badai Matahari sehingga berperilaku seperti biasa.

Sementara, senario kedua, ISON terpengaruh badai Matahari, tetapi tak langsung menghancurkan. Penguapan air dan debu material komet akan sedikit meningkat tanpa disertai dengan kehancuran intinya.

Bila dua senario itu yang terjadi pada ISON, komet dari Awan Oort itu akan tampak dari pandangan warga Kepulauan Nusantara pada Jumaat (29/11/2013) menjelang fajar. Saat sampai pada titik terdekatnya dengan Matahari, ISON akan tampak cemerrlang dengan magnitude -6 atau lebih.


Comet ISON C/2012S1 from Bosscha Observatory, Bandung, West Java.

Namun, bila senario ketiga yang terjadi, di mana komet terhantam oleh badai Matahari dan intinya hancur, komet hanya akan memiliki magnitude -1 atau -2 saat mencapai titik terdekatnya dengan Matahari. Dengan sendirinya, komet  sulit teramati oleh warga Nusantara  pada Jumat.

Menurut Ma’rufin, bila ISON nanti ternyata selamat, komet tersebut bahkan berpotensi tampak sepanjang hari. Warga Nusantara bisa mengamatinya dengan memakai alat bantu berupa karton yang dilubangi.

Meski demikian, diingatkan bahwa pengamatan harus dilakukan secara hati-hati. Lebih baik bergabung dengan komuniti  astronom amatur setempat. Bila bertahan, ISON akan terletak sangat dekat dengan Matahari.

Setelah Mendekati Matahari, ISON Tak Muncul Lagi?

Para ilmuwan mengatakan, tampaknya komet ISON dari pinggiran sistem tata surya tidak selamat ketika hampir berpapasan dengan matahari yang luar biasa panasnya.

Gambar-gambar dari pesawat antariksa NASA menunjukkan Komet ISON hari Khamis (28/11/13) mendekati sejenak di sekitar matahari, tetapi komet itu tidak muncul lagi.

Dalam konferensi video Google, periset solar Karl Battams dari Angkatan Laut Amerika mengatakan “ISON kemungkinan hancur dalam perjalanan tersebut.”

Phil Plait, seorang pakar astronomi yang menulis blog “Bad Astronomy”, sependapat dan mengatakan “saya fikir komet itu tidak berhasil melewati matahari.”

Begitupun, kata Phil, semua itu bukanlah begitu buruk jika batu komet berusia 4,5 miliar tahun itu pecah berkeping-keping kerana para pakar astronomi bisa mempelajari pecahannya dan mengetahui lebih banyak tentang komet-komet.

Sebelumnya, para pakar sudah memperkirakan bahwa komet ISON kemungkinan besar akan terbakar dan hancur berkeping-keping ketika mendekati matahari, namun beberapa pakar lainnya berpendapat, ada kemungkinan bahwa komet ISON akan selamat dari kehancuran dan menghasilkan pertunjukan bunga api yang hebat.

Kehadiran komet sebenarnya bukanlah hal istimewa. Setiap dekad, banyak komet masuk bagian dalam Tata Surya untuk mengitari Matahari. Saat ini, setidaknya ada tiga komet selain ISON yang bisa disaksikan dari Bumi, yaitu Komet Lovejoy, LINEAR, dan Encke.

Hal yang membuat istimewa Komet ISON adalah ia termasuk salah satu dari sedikit komet yang melintasi Corona Matahari. Corona adalah plasma yang mengitari Matahari dan terbentang hingga jutaan kilometer dari permukaan Matahari. Corona terlihat jelas saat terjadi Gerhana Matahari Total.

Akhirnya Komet ISON Berhasil Melintasi Matahari

Khabar Komet ISON untuk melintasi perihelionnya akhirnya terlihat. Dari citra SOHO Lasco C3 tampak komet ini berhasil melintas dekat matahari, namun terlihat lebih kecil.

Komet dapat diamati kembali pada minggu pertama Desember. Pendeknya waktu antara terbitnya komet dan terbitnya Matahari membuat peneliti  tak leluasa mengamati ISON. Belum lagi, posisinya masih terlalu rendah di dekat horizon sehingga untuk melihatnya perlu  pandangan lepas ke langit timur.

 

Kerana itu, waktu pengamatan terbaik komet ISON berikutnya adalah pertengahan Desember hingga awal tahun depan.

 

Setelah melintasi  Matahari, komet mudah disaksikan di belahan Bumi utara. Namun, penduduk Bumi selatan masih bisa menyaksikan ekor komet. Posisi Nusantara di khatulistiwa membuat hambatan itu tak berarti.

(NatGeo/NASA/ICC,wp.com)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s