Diary Patani [04]”Jangan Lupakan Kami Adik Bungsu Kalian”!


Masjid Krue Se atau  Masjid Krue Se atau Kerisek. Masyarakat muslim menyebut masjid bersejarah ini dengan Masjid Gresik.

Editor by Wilhelmina (Malaysia)

 

Variety Explorer.com—Bagi saya yang tinggal di Indonesia, bangunan tua itu lebih mirip disebut candi ketimbang masjid. Tumpukan batu bata tak berlapis, teronggok dingin di sebuah taman. Beberapa lelaki terlihat rukuk dan sujud di ruangan yang tak lebih dari 10 x 7 m2 tersebut. Itulah Masjid Gresik, bangunan bersejarah yang terletak di tengah kota Patani. Nama sebenarnya adalah Masjid Sultan Muzaffar Syah. Lebih populer disebut Gresik kerana banyak pendatang dari Indonesia.  Salah satunya dari Gresik.Jawa Timur[1]

Pemerintah Thailand menyebut masjid ini Masjid Krue Se atau Krue Sae atau Kerisek. Sedangkan masyarakat muslim sekitar menyebut masjid bersejarah ini dengan Masjid Gresik.

Kalau dilihat selasarnya(breezeway) terbuka sebelum 8 kali dibakar oleh tentara Siam. Di sekitar kawasan ini dulunya banyak meriam Khas Pattani, kemudian di bawa ke Bangkok untuk melembutkan hati rakyat Pattani dibuatlah satu replika meriam mereka di depan masjid itu.

Saat ini Patani merupakan wilayah Provinsi di dalam negara Thailand. Wilayahnya berada di pesisir dan memiliki pelabuhan sehingga banyak orang dari berbagai daerah datang ke sini. Tak jauh dari Masjid itu ada Kampung Gresik. Maka itulah masjid itu sering disebut Masjid Gresik.

Istilah “Gresik”, menurut Imam Masjid Gresik, Syekh Asy’ari, berarti “sunyi”. Diceritakan bahwa Masjid Gresik dahulu adalah Ibu Kota Kesultanan Patani Darussalam. Jika dilihat sejarahnya, Patani dahulu adalah sebuah negara dan bukan merupakan propinsi(daerah/distrik).

Masjid ini sangatlah terkenal dan legendaris. Usia masjid ini sudah sangat tua. Di dalam prasastinya, tertulis “Pintu Gerbang Gresik”, berdiri tahun 877 Hijriah. Artinya usia masjid ini sudah lebih dari 300 tahun.

Masjid Gresik awalnya merupakan tempat ibadah umat Hindu. Di sekitar masjid terlihat dengan jelas bekas bangunan Pura klasik yang tampak lusuh dan tak tersentuh. Namun kemudian, kata Syekh Asy’ari, bangunan tersebut diserahkan oleh Raja Patani kepada Samudera Pasai. Samudera Pasai, atau lebih dikenal sebagai Dato’ Pasei, adalah sosok legendaris yang dikenal oleh pemuka Islam Thailand sebagai penyebar ajaran Islam pertama di Patani dan sekitarnya.

Tidak jauh dari lokasi Masjid Gresik, tepatnya di Sungai Pandan Kerisik, makam Dato’ Pasei disemayamkan. Pada prasastinya tertulis Syech Shafiyuddin al Abbasi. Latar belakang keberhasilannya menyebarkan Islam di Patani bermula dari sebuah sayembara yang diumumkan oleh Raja Patani saat itu. Dikisahkan, Sang Raja sakit keras dan semua tabib di daerah tersebut tidak ada yang berhasil menyembuhkan. Kemudian datanglah Dato’ Pasei menyembuhkan Sang Raja. Hanya kerana izin Allah SWT, Sang Raja akhirnya sembuh, bersyahadat masuk Islam, dan mengganti namanya menjadi Sultan Muzaffar Syah.

 

Boleh dibilang, sejarah Patani kemudian mengarah pada sejarah 200 tahun perlawanan. Di muzeum Amsterdam, konon, ada lukisan masjid itu dengan kubahnya yang terbuat dari emas.

Pada tanggal 28 April 2004, saat perdana menteri Thailand dijawat oleh Thaksin Shinawatra, pasukan militer Thailand mengepung masjid ini selama 7 jam non-stop. Militer Thailand mengepung masjid dengan helikopter, kereta kebal , panser dan dengan kekuatan persenjataan lengkap. Tercatat 128 muslim syahid (InsyaAllah) di halaman masjid. Sedangkan 32 muslim syahid di dalam masjid. Dunia internasional menyoroti dan mengecam peristiwa itu. Sayangnya di media rasmi korban kebengisan tentara Thailand hanya diberitakan 38 muslim.

Foto-foto itu kami ambil pada 15 Juli 2013 saat kami dan rombongan misi kemanusiaan dan perdamaian Road For Peace singgah di Masjid Gresik. Itulah sekelumit jejak nusantara di bumi Patani Darussalam [2]


Chooya, pengurus salah satu NGO- Kemanusiaan Patani.

Di masjid itulah, seluruh relawan Road for Peace (R4P) II ini berlabuh[3]

 

Untuk berkunjung ke dua wilayah korban kekerasan tentara Thailand, rombongan pun terpisah menjadi dua. Pertama, mengunjungi Kampung Supit Senek, Rusok, Narathiwat. Kedua, menuju Kampung Kedae, Teluk Kapas, Distrik Yesing, Patani, dimana sebuah pondok pesantren telah ditutup kerana dituduh melindungi para pemberontak.Dalam rundown yang diterima kiblat.net, Masjid Gresik adalah tujuan terakhir sebelum rombongan bertolak kembali ke Malaysia.

Saya duduk di serambi masjid bersama relawan R4P lainnya untuk acara perpisahan. Bersama kami, ada beberapa kawan-kawan asli Patani. Mereka adalah aktivis HAM yang tergabung dalam beberapa NGO. Yang paling senior di antara mereka bernama Chooya. Lelaki  berumur sekitar 40 tahun itu memberikan kata perpisahan,

Saya masih asyik jeprat-jepret ketika Chooya memberi kata sambutan. Sampai ketika suaranya mulai parau dan intonasinya melirih, saya tertegun menyimak apa yang ia sampaikan. “Terimakasih kepada abang-abang  sekalian. Orang Patani menganggap orang Indonesia sebagai abang  tertua, dan orang Malaysia sebagai abang  tengah. Pesan kami, tolong jangan lupakan kami… Kalian punya adik bungsu di sini. Kami ini adik bungsu kalian…”

Nadanya memang datar. Tapi sorot matanya yang semula tegak, kini mulai tertunduk. Tangan yang sebelumnya menari-nari mengikuti intonasi, kini tergolek di atas lutut. Jari-jemarinya menggores lantai, seperti hendak mengukir kata hatinya yang terdalam. Hening. Semua perhatian tertuju pada bibir pria berpeci ala songkok Jawa-Gresik ini.

“Kami adik bungsu kalian!”

Kata-kata yang menusuk nurani siapapun yang masih peduli terhadap nasib dan kehidupan muslimin di Patani ini. Sebuah simbol bahwa mereka masih tetap kokoh  dengan jati diri sebagai bangsa Muslim Melayu. Tak sudi melebur bersama kaum Budhis Siam.

Istilah “adik bungsu” itu laksana ikrar abadi, tentang persaudaraan antara Muslim Patani, Malaysia dan Indonesia. Menjadi lentera bagi siapapun yang meniti tapak-tapak sejarah, tentang sebuah bangsa yang (dipaksa) hilang.

Saya masih terpaku dengan bait-bait terakhir sambutan Chooya, sambil menyandarkan tubuh ke Kholid yang duduk di samping. Kholid-lah, pria asli Patani, yang menemani sekaligus menjadi “penerjemah” kami ketika menjelajah  ke Narathiwat. Lamunan saya pun buyar oleh sapaan Pak Mustapha Mansoor, ketua rombongan. “Silakan dari Indonesia…. Pak Tony memberikan sambutan,Sejenak saya berfikir, apa yang dapat saya sampaikan di hadapan orang-orang Patani dengan seberat  problem yang mereka hadapi?


“Abang tertua” dan “Abang tengah” berpose sebelum berpisah.

 

Saya tepuk pundak Kholid. “Akhi… sebentar lagi kami balik ke negeri kami. Mungkin secara fisik kita akan berpisah. Tapi tidak untuk hati. Hati dan fikiran kami tetap bersama kalian…” Saat itu, ada gemuruh yang menggumpal di dada. Tak kuasa membahasakan dengan lisan, saya pun mengakhiri dengan salam. Setelah itu, kembali tenggelam dalam sebuah lamunan, yang begitu kaku  untuk diurai. Sementara, mata saya mulai terasa sembab.

Mungkin perasaan yang sama juga dialami Syimir, mahasiswa asal Alor Setar,Kedah  Malaysia. Ia anak muda. Taksiran saya, usianya belum sampai 23 tahun. Menurut seorang relawan Malaysia lainnya, ia memang “dititipkan” ayahnya dalam misi R4P ini agar berlatih dunia kerelawanan.  “Saya belajar sejarah. Tapi saya semakin faham Patani setelah kunjungan ini.” Tampak Syimir mulai tak kuasa menahan air mata yang menganak sungai.  “Saya akan berdayakan sekuat kemampuan saya untuk Muslimin Patani.” Kalimat yang masih saya ingat sampai hari ini, yang ia ucapkan sambil sesekali menyeka matanya..

Matahari sore mulai menjelang. Tiba saatnya kami benar-benar harus meninggalkan negeri Patani dengan segudang kisah dan lika-liku di dalamnya. Tentang agama yang terenggut… tentang budaya dan identiti yang tercerabut… juga tentang nasib sebuah bangsa yang tak kunjung jelas kapan kemandirian dan kemerdekaan akan bersambut.

Enjin kereta  sudah menderu, semua penumpang sudah berpadu. Jalanan bertebar senyum para pemuda dan pemudi Patani yang terus melambai seiring konvoi yang mulai melaju. Senyum itu seperti sebuah pesan yang kuat agar tak melupakan sebuah negeri yang yg menyedihkan. Sementara, dalam lambaian mereka terekam asa dan doa.

Duduk di kerusi belakang Hyundai Matrix biru, saya biarkan jendela terbuka. Meski lambaian putra-putri “adik bungsu” Patani telah hilang ditelan jarak. Sejenak, bebaskan hembusan angin Patani terus masuk menyeruak ke relung-relung jiwa. Mengaduk sejuta rasa dalam nurani, mencipta rima-rima dalam setangkup bait ukhuwah. Jarak, barangkali akan tetap pada tempatnya. Namun, Islam kan terus mempertautkan hati di manapun kita berada.

“Yakinlah kawan, esok ‘kan bertabur asa. Masjidmu ‘kan terus memompakan semangat untuk terus bangkit meraih cita, meski berkali-kali terjerembab. Masjidmu kan mengajari arti sebuah ketegaran. Walau delapan kali dibakar tentara durjana, Masjid Gresik-mu tetap kokoh berdiri meneriakkan lantang sebuah identitas: “Kami adalah Muslim!”

[1/3] Catatan perjalanan wartawan Tony Syarqi/Kiblatnet ke Patani.
[2]
Catatan perjalanan wartawan Fajar Shodiq/muslimdaily.net ke Patani,

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s