Diary Patani [02]”Waterboarding Guantanamo ala Narathiwat”


Makam Sofyan bin Yaqub

Catatan perjalanan wartawan Tony Syarqi/Kiblatnet ke Patani.
Editor by Wilhelmina (Malaysia)

Variety Explorer.com—Sebuah kendaraan Toyota doubel kabin membawa kami menyusuri jalan menuju Narathiwat. Tepatnya di Kampuk Supit Senek, Rusok, Narathiwat. “Perjalanan kira-kira 45 menit,” kata Kholil, warga setempat yang menjadi guide kami. Lelaki 40-an tahun ini juga aktif dalam sebuah NGO- lokal yang memperjuangkan hak-hak sivil penduduk Patani. Duduk memegang kemudi, adalah Shalahudin. Usianya tampak 5 tahun lebih muda dari Kholil. Selama perjalanan, kami asyik berbual.

Mulai kuliner(masakan) khas Patani, hingga cerita Shalahuddin yang pernah ditangkap tentara. “Dia ini pernah ditangkap dan dipenjara,” kata Kholil yang hanya direspon senyum kecil Shalahuddin. Seperti lazimnya aktivis Islam di Indonesia yang dipenjara, di tangan Thailand pun Shalahuddin mendapat siksaan yang sejenis. Ditelanjangi, disetrum(electrocuted) dengan letrik, dan berbagai ragam siksaan lainnya.

Kenderaan kami  berbelok keluar dari jalan raya, menyusuri jalan-jalan kampung yang lebih sempit. Suasana pedesaan yang tak jauh dari umumnya kampung di Indonesia, di mana rumah-rumah berjejer dihiasi aneka macam tanaman. Kereta  berhenti di sebuah rumah mungil dengan tratak terpasang di halaman.

Saat kami turun dari kereta, beberapa lelaki yang duduk di halaman rumah, berdiri menyambut. Sepertinya kedatangan kami telah mereka ketahui sebelumnya. Kami masuk ke dalam sebuah rumah dengan dinding kayu. Ruang tamunya cukup luas, ditambah ruang tengah dan dapur yang menyatu. Di samping ruang tamu ada tangga yang menghubungkan ruangan semacam balkon. Seorang wanita berjilbab jingga, yang belakangan diketahui sebagai isteri salah satu mangsa korban,  keluar dari kamar balkon, dan bergabung dengan ibu-ibu yang ada di ruang tengah.

Hangat. Itulah sambutan yang kami rasakan begitu duduk di tingkat ruang tamu berukuran 7 x 5 meter ini. Kholil kemudian memperkenalkan kami kepada tuan rumah, dan sebaliknya. Setelah itu, kami baru tahu tengah berada di rumah Sofyan bin Ya’qub (28), salah satu korban keganasan tentara Thailand. Saat kami berkenalan dengan Ya’qub, ayah Sofyan, seorang lelaki melintas naik balkon dengan separuh tubuhya terlilit tuala. Sepertinya ia baru selesai mandi. Lelaki yang kemudian bergabung bersama kami itu adik Sofyan, bernama Abdullah.

 

Jejak-jejak Kebengisan

Tak banyak yang kami bualkan, kerana tuan rumah segera mengajak kami berkeliling ke tempat kejadian pembantaian Sofyan. Jaraknya hanya sepelemparan batu dari rumah tempat kami disambut. Melewati jalan setapak di belakang rumah, terlihat sebuah gundukan tanah. Itulah makam Sofyan. Kami sempat berdiri hening sejenak di samping makam itu. Sekadar mendoakan almarhum, dan membayangkan apa yang dialami penghuni kubur itu sebelum berpindah ke alam baka.

Abdullah, ayah Ya’qub mengisahkan, Sofyan sempat disiksa sebelum dibunuh. Matanya (maaf) dicongkel. Perut dan lehernya terburai, akibat sayatan pisau tajam.
Amarah tentara Thailand betul-betul memuncak mengetahui Sofyan, dalam operasi  itu menembak mati seorang tentara berpangkat kolonel dan seorang lainnya. Alkisah, Sofyan yang memegang pistol berisi dua peluru, pura-pura tergeletak di tingkat  dua, di sekitar jasad Ust. Abdul Rahim (38) dan Zulkifli (35) yang telah lebih dulu meninggal, diterjang timah panas tentara Siam.

Saat dua orang tentara naik ke tingkat  dua, Sofyan tiba-tiba mengarahkan pistolnya. Kedua tentara Thailand pun meregang nyawa, seketika. Sofyan yang kini tak bersenjata, akhirnya diseret ke ladang getah  di belakang rumah, disiksa sedemikian rupa sehingga menyusul kedua rakannya ke alam baka. Jasadnya dikembalikan ke rumah itu, di tingkat  yang sama dengan tempat jasad Ust. Abdul Rahim dan Zulkifli tergeletak kaku.

Kurang lebih 30 langkah kaki, kami sampai di rumah tempat perang  itu terjadi. “Lihat, tembok ini sudah disimen halus. Sebelumnya penuh dengan bekas tembakan,” tutur Abdullah, yang kemudian dibantu Kholil menjelaskan kepada kami. Ia lalu menunjukkan beberapa tumpuk asbestos  bekas. “Itu adalah asbes bekas rumah yang hancur ditembaki dari helikopter. Tentara tergesa-gesa mengganti untuk menghapus jejak peristiwa itu,” imbuh Kholil. “Tapi, di dalam rumah masih banyak bekas tembakan yang bisa kita jumpai.”

Benar saja. Atap tingkat  satu yang berupa tuangan konkrit  semen, penuh dengan lobang bekas peluru. Masuk ke dalam rumah, terdapat seonggok monitor yang bolong diterjang timah panas. Beberapa sudut-sudut tembok pun dihiasi lobang-lobang bekas peluru. Kholil merapat ke pojok ruangan, ke arah tangga yang menghubungkan tingkat  dua. “Di tangga inilah, dua tentara Thailand roboh oleh peluru pistol Sofyan,” paparnya. Saya amati anak tangga dari kayu tersebut. Masih terdapat bekas darah yang sudah mengering.

Saya meminta izin untuk naik ke tingkat atas. “Silakan,” jawab Kholil diiringi anggukan Abdullah dan beberapa orang lainnya. Tiba di tingkati dua, bekas  peperangan masih “segar.” Tembok yang mengarah ke halaman bolong dengan diameter hampir 1 meter. Belum lagi lobang-lobang kecil di sekitarnya. Di bawah lobang besar itulah, Ust. Abdul Rahim roboh. Sementara tepat di tengah ruangan, terdapat bekas darah yang mengering. Di situlah tempat Zulkfili ditemukan tewas. Satu meter dari situ juga masih ada jejak darah mongering. Itulah bekas jasad Sofyan.

Dari pemandangan di tingkat  dua tersebut, terlihat betapa dahsyatnya serangan ganas  yang terjadi pada 5 Oktober 2013 silam. Apalagi, ketika seorang pemuda dengan Galaxy Tab 10 inchi-nya menunjukkan kepada saya rakaman video penyerbuan itu. Mirip dengan tayangan TV-One saat Densus 88 menggerebek rumah tersangka teroris. Hanya, penyerangan oleh tentara Thailand ini terkesan serampangan, beda tipis dengan jurus ala pergaduhan kampung. Pemuda tersebut juga menunjukkan foto-foto ketiga jenazah, termasuk Sofyan.

Di antara penduduk setempat yang menyambut dan menemani kami, ada seorang bernama Basri. Ialah saksi hidup peristiwa mengerikan itu. Bahkan lelaki  berumur 35-an tahun itu sempat ditangkap tentara Thailand atas tuduhan terlibat pemberontakan bersama ketiga almarhum. “Saya ditangkap dua kali setelah penyerangan. Pertama, ditahan selama 7 hari. Kedua, ditahan lagi selama 28 hari,” ungkapnya. Tanpa ditanya bentuk siksaan, Basri menunjukkan goresan di pelipis bekas luka yang dialaminya akibat tendangan sepatu boots  tentara.

Basri mengajak kami masuk ke rumahnya yang berada di belakang rumah (Alm) Sofyan. Di sudut ruang tamu terdapat godam(sledge hammer) berukuran sedang. “Saya disuruh terlentang, lalu dada saya dihantam dengan godam ini,” katanya. Ia pun menurut saja ketika Kholil memintanya berbaring, merekonstruksi kejadian yang ia ceritakan. Saya mencoba memegang godam itu. Beratnya kira-kira 7 kg.

 

Waterboarding Guantanamo  ala Narathiwat

Keluar dari rumah, Basri mengajak kami ke halaman belakang. Terdapat semacam bak air dengan genangan air hampir penuh. “Saya disiksa dengan kepala ditenggelamkan di bak ini,” aku Basri. Rupanya, teknik penyiksaan waterboarding ala Guantanamo yang dikecam habis dunia internasional itu, terjadi pula di pelosok Narathiwat yang sepi dari pemberitaan media dunia ini.

Tempat penyerbuan itu tak jauh dari ladang getah . Hanya sekitar 50 langkah. Di situlah tempat penyiksaan yang dilakukan tentara Thailand terhadap penduduk yang mereka curigai dan tangkap. Termasuk terhadap Basri dan Sofyan tadi. Basri mengajak kami  menjejaki ,mengenang kejadian bengis itu. Dari sebuah belukar yang tersingkap, terdapat tanah kosong berukuran 2 x 3 meter. Di situlah Sofyan dibantai dengan keji sampai mati. Tak jauh dari situ beberapa orang juga disiksa, termasuk Basri. Ia menunjukkan sebuah pohon getah, tempat penyiksaan terhadap dirinya. Yang saya ingat, ada 5-6 tempat penyiksaan yang ditunjukkan oleh Basri.

Merasa cukup mengorek jejak pembantaian, kami pun beranjak pulang ke rumah (Alm) Sofyan. Saat berada di belakang rumah, kami berpapasan dua wanita berkerudung pengendara motor. Mereka terlihat membawa bungkusan plastik, hidangan yang akan disajikan kepada kami. “Dia itu janda Ust. Abdul Rahim,” kata Basri kepada kami. Alhamdulillah, kiblat.net dan jurnalis Jitu  lainnya diberi kesempatan mewawancarai keluarga korban.

 

Video penyerbuan di kampung Supit dapat dilihat di : /2013/11/23/polisi-thailand-menyerbu-sebuah-rumah-di-kampung-supit/

Bekas peluru pada sebuah monitor

 

Tembok rumah penuh koyakan peluru


Basri dan penulis di lokasi bekas penyiksaan



Basri menunjukkan tempat kepalanya ditimbul-tenggelamkan. Waterboarding ala Narathiwat?


Basri menunjukkan bekas luka akibat siksaan tentara Thailand


Kondisi rumah sesaat setelah serangan tentara Siam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s