Diary Patani [01]:No Justice, No Peace.

Tentara Thailand di sebuah check point

Variety Explorer.com—Punggung t.shirt  hitam yang dikenakan lelaki separuh baya itu tulisannya: No Justice, No Peace. Entah apa maksudnya; pesan yang mengajak perang kepada pihak tertentu, atau keluh-kesah yang terpendam. Saat berbaur dengan massa lainnya menyambut Team relawan R4P (Road for Peace), matanya sesekali menatap sekeliling, seperti ada yang harus ia waspadai. Sampai akhirnya setelah yakin keadaan “aman,” ia pun mengisahkan sesuatu kepada Dr. Ardi, relawan dari Malaysia.

Pemeriksaan yang dilakukan oleh tentara Thailand

“Kawan dia semalam ditangkap. Selepas itu, disiksa dan akhirnya dilempar ke sebuah penggorengan besar dengan minyak yang sudah mendidih,” kata Dr. Ardi kemudian menuturkan kisah yang diperolehnya dari lelaki itu, kepada kiblat.net. Saya tersentak.. Rasa lelah sebenarnya menghempas badan usai shalat Zuhur. Namun saya ingin menggali lebih dalam informasi lelaki itu. Saya segera mengekori  ia yang telah beberapa saat keluar meninggalkan masjid, di tengah hujan yang mulai turun.

Lelaki itu berhenti di bawah bawah pohon bersama tiga orang lelaki lain. Melihat gayanya yang menatap tajam sekitar sebelum berbicara, saya sadar, tak mudah mencari informasi. Setiap orang bisa jadi mata-mata Pemerintah, bahkan orang Melayu sekalipun. Kerananya, orang di sini pun tak mudah memberikan  informasi. Apalagi, mungkin mereka merasa belum kenal betul dengan kami. Saat saya menunggu kesempatan untuk empat mata dengannya, tiba-tiba ia beranjak pergi bersama kawan-kawannya. Saya hanya sempat mengejar, mengajak salaman dan memberi kad nama.


Jalanan Yala penuh dengan pengawasan tentara Thailand

Itulah sekelumit tentang Yala, sebuah kawasan di Selatan,Thailand  yang penuh dengan cek-point yang dijaga tentara atau polis. Setiap mendekati cek point, semua kendaraan harus berjalan pelahan. Dan, tatap-tatap nanar mata Siam pun siap meneliti kendaraan dan seisinya.

Setiap pos cek-point ini dikawal oleh petugas  keamanan berseragam militer dan bersenjata lengkap. Nampak terlihat ada halangan- rintang berupa kawat berduri setinggi 1 meter, pagar-pagar pembatas, pos pengamatan setinggi 4 meter, dan sebuah bungker dari karung-karung berisi pasir yang disusun untuk mengantisipasi adanya baku tembak.

 

Kunjungan  bersama relawan R4P kali ini pada saat yang tergolong aman. Tidak banyak case-fire. Namun dalam kondisi “aman” seperti itu pun masih saja terjadi peristiwa sebagaimana diceritakan lelaki berbaju hitam di atas. Pos-pos cek-point itu memang rata-rata dijaga oleh polis dan tentara berkebangsaan Siam/Thailand. Namun, bukan berarti kaki-tangan Pemerintah dari orang-orang Melayu tiada samasekali.

“Kalau di Syria  kita kenal Syabihah, di sini juga ada sukarelawan yang menjadi milisi sivil,” tutur Dr. Ardi. Orang-orang di sini menyebutnya sebagai “sukarelawan” atau “goni.” Memiliki seragam khusus serba hitam yang berbeda dengan tentara atau polis, dan digaji rasmi oleh pemerintah Thailand.

Selama kunjungan ke Yala, Narathiwat dan Patani, saya jarang bertemu dengan milisi ini. Namun, relawan lain yang berkunjung ke Kampung Kedae, Teluk Kapas, Distrik Yesing, Patani, mendapatkan “sambutan” kurang hangat dari para “sukarelawan” hitam tersebut. Di sini, relawan R4P berkunjung ke bekas pondok yang kini ditutup pemerintah atas tuduhan menjadi pelatihan militer.

“Memasuki gerbang pondok, mereka mencek setiap kendaraan kami. Begitu tahu ada Hasan Kurz, mereka meminta isi beg  dikeluarkan,” tutur Fajar yang mewakili kiblat.net ikut ke rombongan pondok itu. Hasan Kurz adalah warga Turki, sukarelawan IHH Humanitarian Relief Foundation. “Mereka juga selalu mengawasi saat kami berbincang-bincang dengan warga yang tinggal di eks pondok tersebut,” imbuh Fajar.

Wajah Hasan yang tampak asing dibanding rombongan lainnya, jelas memancing rasa penasaran mereka. Relawan IHH asal Turki lainnya yang bertemu kami di Kuala Lumpur bernama Bouraq, juga menceritakan pengalaman pahitnya bersama petugas  keamanan Thailand, saat hendak masuk ke negeri itu. “Para tentara itu tak faham bahasa Inggeris, tapi mereka pura-pura memeriksa secara detail paspory  kami. Menahan kami beberapa saat supaya kami merasa tertekan,” ujar pemuda yang tinggal di Ankara  ini.

Tak hanya di jalan. Di Masjid Agung Yala pun, ketika perwakilan R4P menyampaikan tabligh seputar kondisi kaum Muslimin di Syria, Palestine dan Arakan, banyak sosok-sosok yang tajam mengamati kegiatan kami. Namanya juga di daerah “hangat.” Di Indonesia saja hampir setiap kajian—apalagi dengan tema-tema seperti itu—pasti intel rajin menyimak.

Catatan perjalanan wartawan Tony Syarqi/Kiblatnet ke Patani.
Editor by Wilhelmina (Malaysia)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s