Ekonomi Islam :‘Bilakah Dirham Dan Dinar Diberlakukan Kembali?

KENALI DINAR- DIRHAM MU [Dinar-Wakala Induk Nusantara][1]

Written by Wilhelmina

Variety Explorer.com—Dunia kita selama ini telah diatur-ditipu oleh para Bankir Zionis-Yahudi hanya dengan lembaran kertas (baca;https://helmysyamza.wordpress.com/2013/11/22/dunia-kita-diatur-zionis-yahudi-hanya-dengan-lembaran-kertas/)

Seyogyanya kita umat Islam kini kembali kepada penggunaan Dinar-Dirham Emas yang pernah digunakan dengan gemilangnya sejak  zaman Rasulullah SAW,para Khulafurrasyidin,hingga keKhalifahan Turki Uthmaniyah.juga Kerajaan Islam Pasai-Acheh dan seterusnya (baca;https://helmysyamza.wordpress.com/2013/11/15/warga-aceh-temui-coins-emas-lafaz-allah-di-kawasan-paya/)

Seterusnya penulis ‘share’ dengan Anda perkembangan tentang Dinar-Dirham dimasa kini,

Contoh; Uang Emas USA

Ada yang menarik dalam perjalanan kehidupan penulis,tentang masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat Indonesia.dimana masyarakat nya telah lama berdagang-berjualbeli-simpanan pribadi dengan menggunakan ‘uang emas’ yang mereka namakan ‘rupiah emas’.Namun yang menghairankan ‘mereka’ bukan guna Dinar Emas-Dirham yang pernah dipergunakan Kerajaan Islam dahulu,tapi ‘uang emas Amerika’

Menurut sebagian orang-orang tua ,etnik Minangkabau guna ‘uang emas Amerika’ tersebut sejak zaman penjajahan Belanda lagi ,sebagai simbolik penentangan ‘mereka’ terhadap penjajahan VOC-Belanda dengan menolak mata uamg ‘Gulden Belanda’

Dan ada versi lain yang penulis perolehi,dimana masyarakat Minangkabau guna uang emas Amerika itu ,bermula ketika masyarakat Minangkabau memberontak ingin ‘merdeka’ terhadap pemerintahan pusat Jakarta dengan membentuk gerakan ‘PRRI‘( Persatuan Revolusioner Republik Indonesia) sekitar tahun 1957an.Jadi penggunaan mata ‘uang emas’ itu sebagai simbolik penentangan.

Hingga masa kini masyarakat Minangkabau masih menggunakan ‘uang emas amerika-rupiah emas tersebut dalam jualbeli harta seperti rumah-toko-tanah.pinjaman,gadaian,simpanan pribadi dsbnya[2]

Dinar emas[3]

Dinar emas berdasarkan Hukum Syari’ah Islam adalah uang emas murni yang memiliki berat 1 mitsqal atau setara dengan 1/7 troy ounce, sedangkan Dirham perak Islam memiliki kadar perak murni dengan berat 1/10 troy ounce,[1][2] atau setara dengan 3,11 gram.

Khalifah Umar ibn Khattab menentukan standart  antar keduanya berdasarkan beratnya masing-masing: “1 dinar harus setara dengan 15 dirham.”

Wahyu AlQuran  menyatakan mengenai Dinar Dirham dan banyak sekali hukum hukum yang terkait dengannya seperti zakat, pernikahan, hudud dan lain sebagainya. Sehingga dalam Wahyu Dinar Dirham memiliki tingkat realiti  dan ukuran tertentu sebagai standart pernghitungan (untuk Zakat dan lain sebagainya) dimana sebuah keputusan dapat diukurkan kepadanya dibandingkan dengan alat tukar lainnya.

Ibnu Khaldun dalam al-Muqaddimah menyebutkan bahwa terdapat ijma’ sejak awal Islam dan masa para Sahabat dan Tabi’in bahwa sepuluh dirham syariah sepadan dengan tujuh mitsqal (berat dinar) emas. Berat satu mitsqal emas adalah tujuh puluh dua butir gandum, sehingga tujuh-persepuluhnya adalah lima puluh dua-perlima butir gandum. Semua ukuran ini dengan kokoh ditetapkan oleh ijma’Ulama,

Dinar Emas Kerajaan Kelantan


Dinar emas dan Dirham perak

Imam al Ghazali bicara soal dinar dirham[4]:

IMAM al Ghazali, lengkapnya Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al Ghazali, semoga Allah SWT meredhoinya, sangat kita kenal melalui kitabnya Ihya Ulumuddin.

Kitab ini berisikan hampir semua sisi dari dien Islam, menyangkut aspek syariat maupun hakikat, dan mengupas masalah Iman, Islam, dan Ihsan. Tak terkecuali, soal dinar dan dirham pun, disoroti oleh Imam Ghazali. Yang menarik adalah Imam Ghazali mengupas masalah dinar dirham ini sebagai bagian dari Kitab Syukur, pada bagian akhir dari kitabnya yang cukup tebal.

Bagaimana pandangan  Imam-al Ghazali soal dinar dirham ini?

 

Dalam kitab Ihya Ulumuddin pada Kitab Syukur (Ihya Ulum al-Din, Jilid IV, diterbitkan di Beirut: Daar al-Kutub al-Ilmiyah, 1424 H/2003 M, hal.121-122) tersebut Imam al-Ghazali mengatakan, “min ni’amillahi ta’ala kholqu ad-darahim wa ad-dananir wa bihima qiwam ad-dunya”. (Dari sekian nikmat Allah Ta’ala adalah penciptaan dirham dan dinar, dengan kedua mata uang ini maka tegaklah dunia).

Kerana  itu mafhum mukhalafah (pemahaman terbalik) dari pernyataan ini adalah “bila dirham dan dinar tidak diberlakukan maka dunia menjadi tidak tegak atau hilang keseimbangannya”. Al-Ghazali mengungkapkannya dengan “qiwam ad-dunya” (tegaklah dunia) bukan “qiwam al-Ardh” (tegaklah bumi). Dengan demikian, jika dirham dan dinar tidak diberlakukan maka akan membuat kekacauan bagi kehidupan manusia di dunia dan akan berpengaruh terhadap kehancuran bumi
Al-Ghazali juga memberi contoh jual beli yang tidak adil. “Wa kadza man yasytari daron bitsiyabin au abdan bikhufin au daqiqan bihimarin fahadza al asy-ya la tunaasabu fiiha” (dan demikian pula orang yang membeli rumah dengan sehelai pakaian, membeli hamba sahaya  dengan sepatu, atau membeli tepung dengan seekor keledai, maka pertukaran barang-barang tersebut tidak berkesesuaian).

Sepuluh abad setelah al-Ghazali wafat (1111 H), sebagaimana kita alami hari-hari ini, rumah, hamba sahaya, kuda dan seluruh kekayaan alam ini dapat ditukar dengan barang yang lebih murah – bahkan hampir tak ada nilainya sama sekali – dari pada barang-barang tersebut, yaitu dengan kertas-kertas yang bertuliskan dolar, ringgit atau rupiah, dan sebagainya.

Dalam konteks itulah, kemampuan dinar emas dan dirham perak menghasilkan pertukaran yang adil, Imam Ghazali menyebutnya sabagai “satu-satunya hakim yang adil.” Emas dan perak diciptakan Allah SWT sebagai kemudahan bagi manusia dalam bertransaksi guna memenuhi keperluan  hidup. Tanpa dinar dan dirham, transaksi hanya bisa dilakukan melalui barter, yang tidak selalu mudah dilaksanakan, kerana keperluan  satu orang dan orang lainnya tidaklah selalu sesuai dengan barang yang dimiliki masing-masing. Alat tukar umum yang adil, dalam istilah sekarang medium of exchange, sangat diperlukan, dan itu dapat dipenuhi oleh dinar dan dirham.

Al-Ghazali juga mengatakan hikmah tersembunyi dari penciptaan dinar dan dirham tidak akan ditemukan di dalam hati yang berisi sampah hawa nafsu dan tempat permainan syaitan. Sebab, tidak ada yang bisa mengambil pelajaran dari hikmah tersebut kecuali orang-orang yang menggunakan akalnya. Menurut Imam Ghazali, bagi mereka yang mengambil pelajaran dan hikmah tersebut, dinar emas tidaklah bedanya dengan secuil batu yang tak bernilai, meskipun pada saat yang sama dinar emas sangat bernilai.
Dalam pemahaman tersebut dinar emas hanya akan diperlakukan sebagai alat tukar, bukan sebagai harta yang ditimbun-timbun, dalam bentuk apa pun. Implikasinya adalah memanfaatkan emas dan perak untuk keperluan-keperluan lain, seperti sebagai perhiasan atau bejana dan alat-alat lainnya, dinilai sebagai tidak mensyukuri nikmat Allah SWT. Dinar dan dirham seyogyanya hanya digunakan sebagai alat tukar, hingga coin-coin ini akan berpindah dari tangan ke tangan, dan menghasilkan pemerataan kekayaan.

Referensi penulisan:

[1] wakalanusantara
[2] ibid,
[3]  wikipedia-bebas,
[4]  Islampos

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s