Sejarah Hubungan Khilafah Islam Usmaniyyah (Turki)Dan Kesultanan Acheh Darussalam,

Oleh: Muhammad Ibrahim Hamdani, S.I.P, Staf Peneliti di Pusat Kajian Timur Tengah dan Islam (PKTTI) Universitas Indonesia

Editor by Wilhelmina [ Malaysia]

Variety Explorer.com–SALAH satu warisan tak ternilai dan sangat penting yang dicatat oleh tinta emas sejarah dunia ialah peranan  tidak langsung KeKhalifahan Usmaniyyah (Turki) terhadap penyebaran agama Islam di wilayah Asia Tenggara (Kepulauan Nusantara), khususnya di wilayah Acheh dan sekitarnya. Hal ini merupakan konsekuensi logik dari persahabatan, hubungan diplomatik dan ukhuwwah Islamiyyah yang sangat erat antara Kesultanan Acheh Darussalam dengan Kekhilafahan Usmaniyyah sejak awal abad XVI. Bahkan persekutuan dua negara superpower  Islam tersebut (dua lainnya adalah Dinasti Safawi di Iran dan Dinasti Mughal di India) telah berhasil mengusir penjajah Portugis dari Tanah Acheh dan sekitarnya.

Ekspedisi Kekhalifahan Usmaniyyah ke Acheh dimulai sekitar tahun 1565 ketika Kekhalifahan Usmaniyah berusaha mendukung Kesultanan Acheh dalam pertempuran melawan Portugis yang telah berhasil menaklukkan Kesultanan Malaka. Ekspedisi ini merupakan respons positif Sultan Sulaiman Al-Qanuni/ Sulaiman I/ Sulaiman Yang Agung (1520 – 1566 M) dari Kekhalifahan Usmaniyyah terhadap utusan khusus Sultan Alauddin al-Qahhar (1539 – 1571 M), Husein Effendi, dari Kesultanan Acheh Darussalam sekitar tahun 1564 M atau 1562 M. Fakta ini terungkap dalam buku berjudul “The Cambridge History of Southeast Asia” yang ditulis oleh Nicholas Tarling (hlm 39).

Bahkan persekutuan antara Sultan Acheh dengan Kekhilafahan Usmaniyyah sudah dimulai secara tidak rasmi sejak tahun 1530-an, yakni ketika Sultan Alauddin Al-Qahhar memanfaatkan hubungan baik tersebut untuk memperluas kekuasaannya di wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaya. Kenyataan ini ditulis oleh Azyumardi Azra dalam bukunya, “Islam in the Indonesian World: an Account of Institutional Formation”, (hlm 169).

Fernão Mendes Pinto pun mencatat bahwa Sultan Acheh telah merekrut 300 prajurit Usmaniyah, beberapa orang Abesinia dan Gujarat, serta 200 orang saudagar Malabar untuk menaklukkan Tano Batak(Negeri Batak) pada tahun 1539. Bahkan Kerajaan Aru dan Johor juga telah ditaklukkan oleh Kesultanan Acheh pada tahun 1564 setelah mendapat bala bantuan tentara dari Kekhilafahan Usmaniyyah.

Hubungan diplomatik tersebut terus berlanjut di masa pemerintahan selanjutnya, yakni ketika Sultan Selim II (penerus tahta Sultan Suleiman I) dari Kekhilafahan Usmaniyyah memerintahkan pengiriman armada ke Kesultanan Acheh yang mengangkut sejumlah prajurit, pembuat senjata dan Jurutera bersama-sama dengan pasokan senjata dan artileri yang melimpah.

Armada pertama terdiri atas 15 dapur di bawah pimpinan Laksamana Kordoglu Hizir Reis, namun sebagian besar armada tersebut dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman sehingga hanya 2 kapal yang tiba di Acheh antara rahun 1566 – 1567 M. Bahkan orang Acheh membayar kapal tersebut dengan mutiara, berlian dan rubi. Hal ini dicatat oleh William J. Bernstein dalam bukunya, A Splendid Exchange: How Trade Shaped the World (hlm 191).

Penerus tahta Kesultanan Acheh berikutnya, Sultan Husain Ali Riayat Syah, secara rasmi telah mengakui Penguasa Usmaniyyah sebagai ‘Khalifah Islam’ melalui surat diplomatik yang dibawa oleh Duta Besar/ Utusan Rasmi Kesultanan Acheh kepada Porte Usmaniyyah di tahun 1564 M.

Frans Husken mencatat dalam bukunya, Reading Asia: New Research in Asian Studies, bahwa Pengiriman armada ke Acheh tersebut telah menyebabkan berkembangnya pertukaran kedua negara dalam bidang militer, perdagangan, budaya dan keagamaan. Hal ini terlihat dari alih teknologi pembuatan senjata dari Turki Usmani ke Acheh, sejak awal abad ke-17, seperti meriam perunggu berukuran sedang serta 800 jenis senjata lainnya seperti senapang putar bergagang dan arquebus. Bahkan kapal-kapal Kesultanan Acheh diizinkan untuk mengibarkan bendera kekhalifahan Usmaniyyah.

Dengan demikian hubungan antara Kekhilafahan Usmaniyyah dengan Kesultanan Acheh Darussalam didasari oleh kepentingan politik nasional kedua negara berdasarkan prinsip-prinsip Ukhuwwah Islamiyyah, Kedaulatan Teritorial, Ekspansi Wilayah serta Kerjasama Ekonomi dan Militer. Bahkan Kesultanan Acheh Darussalam bersedia bersekutu dan menjadi vazal (wilayah taklukkan) kekhilafahan Usmaniyyah kerana memerlukan bantuan ekonomi dan militer untuk menghadapi ancaman invasi Portugis dan memperluas wilayah teritorialnya ke seluruh wilayah Sumatera dan Semenanjung Malaka.

Sedangkan Kekhilafahan Usmaniyyah bersedia bersekutu dengan Kesultanan Acheh kerana ingin memperluas pengaruh politik internasional dan wilayah teritorialnya hingga ke kawasan Asia Tenggara. Kekhalifahan Islam terbesr dan terakhir itu juga ingin membantu penyebaran agama Islam sekaligus mendapatkan pengakuan sebagai pemimpin ummat Islam di seluruh dunia.

Pengakuan rasmi Kesultanan Acheh Darussalam terhadap Kekhilafahan Usmaniyyah terlihat jelas dalam peristiwa penganugerahan gelar oleh Sultan Acheh terhadap Laksamana Kurtoglu Hizir Reis, utusan rasmi Sultan Selim II, sebagai Gubernur (Wali) Nanggroe Acheh Darussalam. Peristiwa ini dicatat secara lengkap oleh Metin Innegollu dalam bukunya yang berjudul: “The Early Turkish-Indonesian Relation”.

Bahkan Kekhilafahan Usmaniyyah juga mengizinkan kapal-kapal Acheh untuk mengibarkan bendera Usmaniyyah di kapalnya agar aman dari gangguan perompak asing. Fakta sejarah ini termuat dalam buku berjudul “Sejarah Nasional Indonesia Jilid III,” yang diedit oleh Marwati Djuned Pusponegoro (hlm 54).

Dengan demikian Kesultanan Aceh Darussalam tidak lagi menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sejak menyatakan diri secara rasmi, de jure dan de facto, sebagai wilayah taklukkan (vazal) Kekhilafahan Usmaniyyah dan mengakui utusan rasmi Sultan Selim II, Laksamana Kortuglu Hizir Reis, sebagai Gubernur/ Wali Nanggroe Aceh Darussalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s