Presiden SBY Instruksikan Menlu Marty Natalegawa Panggil Pulang Dubes RI untuk Australia.


Illustrasi

Editor by Wilhelmina

Variety Explorer.com–Kesabaran Indonesia atas Australia sudah habis. Dengan nada kecewa, Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa menyebutkan bahwaAustralia telah meremehkan Indonesia.

“Saya sampaikan jangan diremehkan (Indonesia)! Jangan diperkecilkan sikap kita yang sangat terganggu dengan pemberitaan ini. Justru kerana kita dalam posisi yang betul. Kita meminta pihak Australia untuk memahami,” ujar Marty, saat konferensi pers, di Kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Senin (18/11/2013).

“Terlepas dari masalah kenegaraan dan hubungan antarbangsa, bukankah kita menganggap penting hak privasi,” tegasnya.

Marty melihat, apa yang dilakukan Australia telah merosak hubungan bilateral yang dibina kedua negara. Baik Indonesia maupun Australia, diyakini Marty, melarang adanya penyadapan(intip-dengar/tapping). Oleh kerana itu, apa yang dilakukan Australia sangat mengecewakan.

Sekadar informasi, ini bukan pertama kalinya Indonesia telah dikecewakan oleh Negeri Kangguru. Di tahun 1999, Australia merupakan salah satu negara yang mendukung lepasnya Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selain itu di tahun ini pun selain masalah penyadapan, hubungan Indonesia sempat merenggang. Itu disebabkan ketika Australia menuduh Indonesia menjadi tempat singgah para pencari suaka yang ingin ke Australia.

        Sidang media SBY, Menteri L/N Indonesia Marty Natalegawa

Pada Selasa (19/11/2013) dini hari, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah mengungkapkan sikap tegasnya melalui Twitter, terkait tindakan mata-mata Australia yang menyadap/intip dengar  talipon selulernya, talipon Wanita Pertama Negara Ani Yudhoyono , dan sejumlah pemimpin  penting lainnya.

Dalam tweet-nya, SBY menyebut perlakuan Australia itu menyakitkan, dan ia menginstruksikan Menlu Marty Natalegawa untuk memanggil pulang Dubes RI untuk Australia.

Sebagaimana diketahui, Badan Intelijen Australia menyadap percakapan talipon Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Ani Yudhoyono, dan sejumlah menteri di kabinet.

 

Dokumen rahasia yang dibocorkan mantan pegawai CIA dan kini menjadi ‘wanted’ Amerika Syarikat, Edward Snowden, menunjukkan bahwa Presiden SBY dan sembilan orang lingkaran dalamnya telah menjadi target penyadapan Australia.

Dokumen yang diperoleh stesyen  TV- Australian Broadcasting Corporation (ABC) dan akhbar  The Guardian memperlihatkan bahwa Badan Intelijen Australia melacak aktiviti talipon SBY selama 15 hari pada Ogos 2009 saat Kevin Rudd masih menjawat sebagai Perdana Menteri Australia.

Dokumen yang dikategorikan “top secret” ini dibuat oleh badan intelijen elektronik Australia, The Defence Signals Directorate (DSD), atau yang sekarang dinamai Australian Signals Directorate. Informasi rahasia terbaru ini menunjukkan untuk pertama kalinya sejauh mana penyadapan Australia dilakukan terhadap Pemerintah Indonesia.

Moto DSD, yang tertulis “Bongkar rahasia mereka, lindungi milik kita”, menunjukkan bagaimana intelijen Australia secara aktif mencari cara sebagai strategi jangka panjang mereka untuk terus bisa memonitor aktiviti  percakapan talipon Presiden SBY.

Talipon yang diintip-dengar  termasuk milik  Wanita Pertama Negara Ani Yudhoyono, Timbalan  Presiden Boediono, mantan Timbalan  Presiden Jusuf Kalla, Juru bicara Kepresidenan Dinno Patti Djalal, Andi Mallarangeng, Hatta Rajasa, Sri Mulyani Indrawati, Widodo Adi Sucipto, dan Sofyan Djalil. Nama mereka tertulis beserta brand dan type hand-phone masing-masing.

Salah satu dokumen berjudul “3G Impact and update” menunjukkan sejumlah bagian yang berusaha dipetakan Australia mengenai peluncuran teknologi 3G di Indonesia dan seluruh Asia Tenggara.

Dokumen itu juga mencatat bagaimana DSD memonitor aktiviti  percakapan SBY melalui handset – Nokia. Salah satu halaman berjudul “Indonesian President voice events” menjelaskan apa itu CDR, yaitu semua rakaman data yang bisa memonitor siapa yang ditalipon dan menalipon.

Setidaknya, ada satu kejadian di mana intelijen Australia berusaha menyadap percakapan talipon SBY. Namun, menurut catatan di bagian bawah halaman itu, percakapan berlangsung kurang dari satu menit sehingga tidak cukup untuk mendengar secara utuh.

Informasi awal tentang penyadapan datang dari bekas agen NSA Edward Snowden. Para peneliti  memprediksi dia akan terus melepas informasi penyadapan ini satu persatu, ternyata benar adanya. Tatkala Indonesia bersikap ‘dingin’ atas informasi awal adanya penyadapan oleh Kedutaan Besar  Amerika dan Australia dua minggu  lalu, faktanya beredar info pengintipan  Presiden RI dan lain-lain.

Sumber ; Pelbagai info & Media Online

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s