Doa Kita Untuk Yala,“Setiap Hari Muslim Pattani Ditembak Tentara Thailand”


Kaum Muslimin saat berkumpul di sebuah masjid di Yala, Thailand Selatan

Editor by Wilhelmina

Variety Explorer.com–NESTAPA muslim Pattani belum jua usai akibat tekanan dari pihak tentara Thailand. Hal itu dapat dilihat dari banyaknya para tentara yang berjaga-jaga di pos penjagaan. Hampir di tiap sudut kota Provinsi Yala, para tentara bersenjata lengkap berdiri untuk memantau kondisi keamanan.

Menurut warga yang ditemui Team Road For Peace, fenomena para tentara “mengawasi” warga sudah mereka rasakan sejak lama. Konflik berkepanjangan antara Pemerintah Thailand dan Muslim Pattani di tiga provinsi berbasis Muslim yaitu Yala, Narathiwat, dan Pattani membuat damai belum benar-benar dirasakan umat Islam[1]

“Setiap hari, ada saja warga Pattani yang ditembak army (tentara),” kata Hassan warga Pattani, kepada Team Road For Peace, Ahad malam (17/11).

Hal inipun sempat dirasakan saat team Hilal Ahmar Society Indonesia, Jurnalis Islam Bersatu, dan Team Road For Peace menyampaikan tentang kondisi Muslim Syria di Yala Mosque Centre. Suara helicopter meraung-raung dari atas masjid dalam waktu beberapa menit.

Suara bising Helikopter hilir mudik menggantung di langit Yala, Thailand.  Malam itu, di atas Masjid Besar Darul Muhajirin, di jantung kota, suaranya berderu kencang. Kelap-kelip merah berpusing-pusing di atas kota Yala. Entah tak tahu mengapa Helikopter tentara itu terlihat mondar mandir. Tapi memang, Yala, kota yang didatangi dalam misi perdamaian ‘Road4Peace’ medio November 2013 dikenal sebagai wilayah konflik, sejak wilayah Melayu ini jatuh ke cengkraman Siam, Thailand, akhir abad 18

“Biasanya jika ada Helikopter berarti ada muslim yang ditembak atau mereka memang sedang mengawasi kita (Road For Peace),” kata seorang relawan yang sudah berkali-kali ke Pattani.

Selain mengganggu ketentraman penduduk, Tentara Thailand juga dinilai kerap menganggu proses pembelajaran di sekolah Islam. Abdullah, seorang pengajar di Mahad Al Bithat Diniyah, mengaku kedatangan tentara Thailand berkali-kali ke Ma’had membuat para pelajar menjadi takut untuk menuntut ilmu.

Dampaknya, dalam beberapa tahun saja jumlah siswa di Ma’had terus menyusut dari 7000 pelajar menjadi 5000 pelajar.
“Mereka jadi takut pergi ke sekolah,” katanya

 

Yala, Pattani, Narathiwat, negeri Melayu di selatan Thailand yang selalu berkisah. Kisah tentang kepahlawanan mereka, melawan kezaliman di sana yang terus terhakis waktu. Hingga kini, ia terus berputar. Ketika , team Jurnalis Islam Bersatu (JITU)/Road for Peace , masuk ke wilayah Yala, dalam dua jam perjalanan dari Sadao, perbatasan Malaysia dan Thailand, begitu memasuki Yala, maka tentara-tentara Thailand  itu menyambut kami dalam pos-pos jaganya[2]

Tiga kali, mobil konvoi Road for Peace yang membawa misi kedamaian di Yala dan Pattani melewati kawat duri yang meng-ular. Tentara-tentara yang melirik ingin tahun siapa saja yang ada di dalamkenderaan sambil menenteng moncong senjatanya.
Di simpang-simpang jalan itu, tentara Thailand bersiaga, mondar-mandir. Yala, ia selalu berkisah. Ketika kenderaan-kenderaan itu tak lagi parking di bahu jalan, tapi malah ditengah, kerana bom siap meletup entah bila di pinggir jalanan, depan toko-toko/kedai-kedai  itu.

 

Kota besar ini, penduduknya  majoriti muslim yang tertindas. Dengarlah penuturan Azman Ahmad dan Majdi Zakaria, lelaki asli Yala-Pattani yang menuturkan kisahnya yang tanpa sebab dimasukkan ke balik jeriji saat Team-JITU mengunjungi sekolah Islam Terbesar di Yala, Thamabita School, atau Mahad Haji Harun. Dengan bahasa kebanggan mereka, Melayu, curahan hatinya tertutur.

“Saya tiba-tiba ditangkap tanpa tuduhan yang jelas, dengan pasal Undang-Undang Istimewa yang dinamakan Undang Poroko (Bahasa Thaiand-semacam UU Subversif_red),” kata Majdi Zakaria. Lelaki muda itu baru keluar tahun 2011 menghirup udara segar setelah lima tahun 10 bulan mendekam di penjara.

Majdi pun tak tahu, mengapa ia di tangkap. Dengan alasan kepemilikan senjata, ia masuk jeruji besi. Kisah Majdi selalu berulang, hingga kini, ketika Team-JITU berada di Yala. Majdi tak sendiri, Azman Ahmad, lelaki  muda ini dituduh akibat menolong keluarga korban penangkapan.

“Dua tahun saya ditahan kerana menolong keluarga korban yang ditangkap, yang kesulitan.” Katanya.
Masih banyak, Azman dan Majdi lainnya yang bertebaran di bumi Nusantara ini. Majdi dan Azman memang lebih beruntung, dibandingkan saudara-saudaranya yang lain.

Lihatlah, penuturan Abdurrahman, guru Sekolah Haji Harun yang kami temui di pusat  Kota Yala itu. “40 orang guru sekolah ini, ada yang ditembak dalam perjalanan, hilang,” kenangnya. “Bahkan murid-murid pun ada yang pernah ditembak,” lirihnya. Dan hal ini terjadi setiap hari di Yala.

Yala, ialah sebuah kisah tentang perjuangan umat Islam melawan kezaliman. Di balik duka mereka, ada senyum yang tersimpul di sana, senyum perjuangan. Wanita berjilbab/berhijab  yang berjalanan di sudut-sudut kota. Lelaki dengan kain sarung  bercakap sepanjang jalan. Anak-anak dengan ketayap-songkok  yang menanti masa depannya.

Yala, ialah sebuah kisah, tentang perjuangan umat Islam melawan kedzaliman. Kumandang adzan maghrib dalam gelap Yala menemani team JITU, merebahkan hati, mengecupkan kening. Berkumpul penduduk muslim Yala dan anggoa team  dalam Masjid Darul Muhajirin di pusat kotanya. Ada senyum di sana, sambutan hangat, ketika kami, dapat bertutur tentang perdamaian.

Ada rasa optimis di sana, ketika kami kisahkan tentang perjuangan umat Islam di Syria, Mesir, Rohingya, Palestine. “Ketika Syaikh dari Syria datang  ke Indonesia, mereka berkata tak memerlukan  harta kami, uang kami, kami hanya perlukan  doa kalian, penduduk Indonesia,” kata M. Pizaro, anggota team JITU dalam rombongan Road4Peace.

Doa, senjata terkuat umat Islam di seluruh dunia. Kumandang adzan Isya’ yang menggema di langit Yala, mengakhiri pertemuan kami Ahad malam itu. Adzannya begitu syahdu. Ya Allah…ini adalah bumi-Mu, Negeri-Mu, ketika orang-orang mengecupkan keningnya kerana-Mu. Panggilan Ilahi, itu terus menggema di Yala. “Mari menuju kemenangan” . Air mata Yala berganti dengan senyum optimis akan doa saudaranya.

Mari selitkan Yala dalam Doa kita. Dalam sujud-sujud kita. Dalam pinta kita. Dalam tangis kita. Selitkan doa untuk Yala.

Allahummansuril ikhwananal mujahidiina fi Yala, Allahummansuril ikhwananal mustadh’afiina fi Yala. Amiin Ya Mujibassailin

Adaptasi  naskah asal oleh ;

1) Pizzaro/islampos
2) Rizki Lesus, wartawan Alhikmah, team Jurnalis Islam Bersatu(JITU) dalam Road4Peace, Ahad 17 November 2013, Yala.

Advertisements

One comment

  1. […] Butiran bening itu berkumpul pada sudut matanya yang sedang berkaca-kaca. Suaranya seakan berat, tertahan, “..terima kasih..” sambil menghela nafas sembari berusaha menyeka air matanya. Ucapan syukur tiada terkira, berkali-kali ucapan terima kasih itu terlafaz. Linangan air mata itu tak dapat disembunyikan, ketika kami, team JITU mengunjunginya di sudut Patani, Wilayah Narathiwa, Rusok-Jaba. Sekitar satu jam dari wilayah Yala.(baca tulisan: https://helmysyamza.wordpress.com/2013/11/18/doa-kita-untuk-yalasetiap-hari-muslim-pattani-ditembak-&#8230😉 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s