Prof.Dr Kasman Singodimejo; “Singa Podium Islam Sebagai Dasar Negara”


Portrait : Prof.Dr.Kasman Singodimejo

 

Written  by Wilhelmina

Seruan dan komitmen Kerajaan Brunei Darussalam untuk melaksanakan Hukum Syariat Islam ” Hudud’ muktamad tahun 2014 dinegara petro-dolar itu bagaikan suara halilintar disiang bolong ,bagi pemimpin didua negara yang berpenuduk majority Muslim yaitu Malaysia dan Indonesia

Situasi saat ini begitu nestapa , bagi dua negara ‘Malindo’ berpenduduk dan pemimpinnya juga majority  yang beragama Islam.Satu per satu tokoh-tokoh dari parti yang dikenal beragama  Islam terperosok kubangan lumpur korupsi. Umat merasa tak berdaya, kehilangan asa. Bagaimana mungkin para tokoh yang sebagian dari mereka dikenal  memahami Syariat Islam bisa terbuai bujuk rayu korupsi,manipulasi dana/harta negara?

Kesedihan umat Islam, berlawanan dengan tokoh sekuler. Mereka bernyanyi bersama mencemooh para tokoh, serta-tentu saja- menyudutkan Islam yang masuk ke kancah politik. Isu korupsi menjadi pisau menjagal Islam dalam politik.

Sesungguhnya dunia Nusantara ini,Indonesia khususnya pernah punya pemimpin,pejuang,Ulama yang berjuang untuk menegakkan Undang-Undang Syariah Islam dalam Undang-Undang bernegara diantaranya Muhammad Natsir-Prof,Hamka,Ki Bagus Hadikusumo,Prof,Dr.Kasman Singodimejo (sekadar sebut beberapa nama)

Untuk artikel kali ini penulis coba menyibak kembali memori dari perbendaharaan sejarah lampau yang akan kita teladani untuk perjuangan menegakkan Hukum/Undang2 Syariat Islam di bumi Nusantara ini.InsyaAllah.

Kasman Singodimejo (;Singadimeja)

Kasman Singodimejo adalah orang yang diperintahkan oleh Sukarno untuk melunakkan hati Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Umum NGO- Muhammadiyah saat itu, yang tetap berkomitmen dengan tujuh kata dalam Piagam Jakarta, diktum ( judgment-resolution) soal kewajiban menjalankan syariah Islam.

Kesatria saleh dari Purworejo, Jawa Tengah ini merasa ‘bersalah’ atas keberhasilan lobinya tersebut. Kasman menyadari dirinya terlalu praktis dan tidak berfikir jauh dalam memandang Piagam Jakarta. Ia hanya terbuai dengan janji Soekarno yang mengatakan bahwa enam bulan lagi akan ada sidang Majelis Permusyawaratan Rakyat  yang akan dapat memperbaiki kembali semua itu.

Padahal dalam waktu enam bulan, mustahil untuk melakukan sidang perubahan di tengah kondisi yang masih bergolak. Meski Kasman telah mengambil langkah keliru, niat di hatinya sesungguhnya sangat baik, ingin bangsa ini bersatu. “Sayalah yang bertanggung jawab dalam masalah ini dan semoga Allah mengampuni dosa saya,” kata Kasman sambil menetaskan air mata. [1]

Seolah ingin mengobati rasa bersalah penyesalannya pada peristiwa 18 Ogos 1945, pada sidang di Majelis Konstituante 2 December 1957, Kasman tak lagi sekadar menjadi “Singodimejo”, tetapi berubah menjadi “Singa di Podium” yang menuntut Islam sebagai dasar negara.

Dalam pidatonya di sidang Konstituante, Kasman menuntut:

Saudara Ketua, satu-satunya tempat yang tepat untuk menetapkan Undang-undang Dasar yang tetap dan untuk menentukan dasar negara yang tentu itu ialah Dewan Kosntituante ini! Justru itulah yang menjadi way out daripada pertempuran sengit di dalam Panitia Persiapan kemerdekaan Indonesia yang telah pula saya singgung dalam pidato saya dalam pandangan umum babak pertama.

Saudara Ketua, saya masih ingat, bagaimana ngototnya almarhum Ki Bagus Hadikusumo Ketua Umum Pusat Pimpinan Muhammadiyah yang pada waktu itu sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mempertahankan agama Islam untuk dimasukkan dalam muqaddimah dan Undang-undang Dasar 1945. Begitu ngotot- persevere) saudara ketua, sehingga Bung Karno dan Bung Hatta menyuruh Mr T.M Hassan sebagai putera Acheh menyantuni Ki Bagus Hadikusumo guna menentramkannya. Hanya dengan kepastian dan jaminan bahwa 6 bulan lagi sesudah Ogos 1945 kita akan bentuk sebuah Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Majelis Pembuat Undang-undang Dasar yang tetap, maka bersabarlah Ki Bagus Hadikusumo untuk menanti.

Saudara Ketua, kini juru bicara Islam Ki Bagus Hadikusumo itu telah meninggalkan kita untuk selama-lamannya, kerana telah berpulang ke rahmatullah. Beliau telah menanti dengan sabarnya, bukan menanti 6 bulan seperti yang telah dijanjikan kepadanya. Beliau menanti, ya menanti sampai dengan wafatnya…

Gentlement agreement itu sama sekali tidak bisa dipisahkan daripada “janji” yang telah diikrarkan oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia kepada kami golongan Islam yang berada dalam panitia tersebut. Di dalam hal ini Dewan Konstituante yang terhormat dapat memanggil Mr. T.M Hassan, Bung Karno dan Bung Hatta sebagai saksi mutlak yang masih  hidup guna mempersaksikan kebenaran uraian saya ini….

Saudara Ketua, di mana lagi jika tidak di Dewan Konstituante yang terhormat ini, Saudara Ketua, dimanakah kami golongan Islam menuntut penunaian “janji” tadi itu? Di mana lagi tempatnya? Apakah Prof. Mr Soehardi mau memaksa kita mengadakan revolusi? Saya persilakan saudara Prof Mr. Soehardi menjawab pertanyaan saya ini secara tegas! Silakan!

Saudara Ketua, jikalau dulu pada tanggal 18 Agustus 1945 kami golongan Islam telah di-fait-a-compli-kan dengan suatu janji dan/atau harapan dengan  menantikan waktu 6 bulan, menantikan suatu Majelis Permusyawaratan Rakyat untuk membuat Undang-undang Dasar yang baru dan yang permanen,

Saudara Ketua, janganlah kami golongan Islam  di Dewan Konstituante  sekarang ini di-fait-a-compli-kan lagi dengan anggapan-anggapan semacam: Undang-undang Dasar Sementara dan Dasar Negara tidak boleh dirubah, tidak boleh diganti, tidak boleh diganggu gugat! Sebab fait-a-compli semacam itu sekali ini, Saudara Ketua, hanya akan memaksa dada meledak!” [2]

Pidato Kasman di Sidang Konstituante yang sangat berapi-api mengusulkan Islam sebagai dasar negara sungguh sebuah ‘penebusan kesalahan’ yang sangat luar biasa. Dalam pidato-pidatonya di Konstituante itu, Kasman secara detail mengemukakan alasan-alasannya mengapa Islam layak dijadikan dasar negara, dan menantang golongan/kelompok lain untuk mengemukakan alasan-alasannya terhadap Pancasila. Dengan adu argumen ini akan terlihat mana yang benar dan solutif.

Bagi Kasman, Islam adalah sumber mataair yang tak pernah kering dan tak akan ada habisnya  untuk digunakan sebagai dasar dari Negara Kesatuan Republik Indonesia[NKRI]  ini jika negara ini dilandaskan pada Islam. Sebaliknya, Pancasila yang dijadikan dasar negara tak lebih seperti “air dalam tempayan”, yang diambil-diangsur, digali dari “mataair” atau sumber yang universal itu, yaitu Islam.[3]

( sengaja beberapa kalimat Indonesia tidak penulis ubah agar tidak menyalahi makna )

Catatan Kaki:

1 Lukman Hakiem, Perjalanan Mencari Keadilan dan Persatuan: Biografi Dr Anwar Harjono, SH, Jakarta: Penerbit Media Dakwah, 1993.

2 Artawijaya, “Peristiwa 18 Agustus 1945 : Pengkhianatan Kelompok Sekular Menghapus Piagam Jakarta,” dalam http://islam-insyafku.blogspot.com/2009/08/oleh-artawijaya-mohammad-natsir.html

3 Ibid./Sumber ; Gus Uwik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s