#Syi’ah;Kontroversi Peringatan Hari Raya ‘Eidul Ghadir [2-Habis]


Illustrasi

Editor by Wilhelmina

PERTAMA-tama mari kita kaji kembali sebab-sebab “datangnya”  Hadits ini, mengapa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan semua ini? Apakah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam memerintahkan para shahabat untuk berhenti meneruskan perjalanan hanya kerana ingin mengatakan hal ini? Atau kerana sebab lain?  Yang harus kita ketahui bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sedang dalam perjalanan pulang dari Makkah ke Madinah setelah melaksanakan Haji Wada’. Perjalanan dari Makkah ke Madinah memakan waktu sekitar 6-7 hari, sementara kebiasaan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam perjalanan adalah berjalan di waktu malam dan berehat  di siang hari.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan Hadits ini dalam keadaan semasa berehat , dan  tidak berhenti hanya untuk mengatakan Hadits ini saja. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam berhenti dalam perjalanan hanya dalam rangka istirahat, dan sudah menjadi kebiasaannya, kerana mustahil Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan rombongannya berjalan 5 hari terus menerus tanpa istirahat kerana dalam rombongan mereka terdapat kaum wanita dan mereka sedang dalam perjalanan pulang dari menunaikan ibadah Haji. Oleh kerana itu bisa dimaklumi bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam   berhenti untuk beristirahat di sela-sela perjalanannya.

Yang kedua mengapa Nabi mengatakan Hadits ini? Saat mengatakan Hadits yang menyangkut Saidina Ali ini, yang seperti pendapat Syi’ah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengangkat Ali menjadi khalifah, menurut mereka bahwa Ali adalah khalifah yang harus diangkat setelah Nabi wafat. Tapi kita  tidak  berpendapat demikian, bukan kerana kita  menolak Saidina Ali, tapi hanya semata-mata kera na hal ini tidaklah benar, mengapa?

Jika memang benar maksud Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam adalah mengangkat Ali menjadi khalifah maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pasti mengumumkan pengangkatan Ali pada hari Arafah saat Haji Wada’, saat semua jamaah Haji berkumpul, saat itulah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakannya, hingga jika Shahabat yang kebetulan tinggal di Madinah mengkhianati isi pengangkatan itu dan tidak mengakui bahwa Ali adalah khalifah yang diangkat Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam , Shahabat yang tinggal di kota lain bisa menyaksikannya dan mengatakan bahwa benar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah mengangkat Ali menjadi khalifah setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam wafat.

Mengapa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mengatakan Hadits ini saat Haji Wada’? mengapa Nabi tidak menyampaikannya saat Haji wada? Orang Syi’ah berpendapat bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam takut!! Takut untuk menyampaikan pengangkatan ini, takut para Shahabat penduduk Madinah akan menolaknya, tapi lucunya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan Hadits ini pada penduduk Madinah yang ditakutinya. Mengapa terjadi kontradiksi dalam kenyataan  mereka? Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam takut ditolak Shahabat penduduk Madinah sehingga tidak menyampaikan pengangkatan ini saat Haji Wada’. Tapi Hadits ini diucapkan di tengah-tengah Shahabat penduduk Madinah.

Mengapa Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam takut kepada para Shahabatnya? Para Shahabatnya yang telah berjuang bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ,mereka tinggalkan anak-istri  dan harta untuk berhijrah, mereka berjihad di jalan Allah, mereka berjihad pada perang Badar, Uhud, Khandaq, Hudhaibiyah dan Khaibar. Kemudian setelah itu ikut serta dalam Fathu Makkah dan Perang Tabuk, bagaimana kemudian Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam takut pada mereka? Takut apa? Takut kalau mereka menolak kekhilafahan Ali.

Pendapat kita  tentang sebab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam mengatakan hal itu, bahwa Nabi mengatakan Hadits ini hanya di depan sahabat penduduk Madinah dan tidak mengatakan Hadits ini di depan kaum Muslimin saat Haji Wada’.

Hal ini semakin jelas ketika kita mengetahui letak geografis Ghadir Khum yang terletak 250 km dari kota Makkah. Oleh kerana itu, mereka yang tidak mengetahui hal ini dengan mudah mengatakan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda demikian di depan kaum Muslimin yang sedang menunaikan ibadah Haji. Ibadah Haji dilaksanakan di kota Makkah dan Arafah, bukannya di Ghadir Khum yang jaraknya 250 km dari kota Makkah. Berarti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam ini di depan kaum Muslimin penduduk Madinah.

Mengapa Nabi tidak mengatakan hal ini di depan seluruh jamaah Haji? Para ‘Ulama mengatakan alasannya adalah:

Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sebelum berangkat Haji Wada’ telah mengutus Khalid bin Walid untuk berperang di negeri Yaman, setelah menang, Khalid memberitahu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tentang kemenangan itu dan tentang ghanimah (harta rampasan perang), Khalid meminta Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk mengutus seorang shahabatnya untuk mengambil seperlima bagian NabiShallallahu ‘Alaihi Wa Sallam . Lalu diutuslah Ali untuk mengambil bagian Nabi tersebut dan Nabi menyuruhnya untuk langsung berangkat ke Makkah untuk melaksanakan Haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Setelah Ali sampai di sana dibahagilah harta rampasan itu, 4/5 untuk para mujahidin yang berperang dan 1/5 lagi dibagi 5 bagian, yaitu 1/5 untuk Allah dan RasulNya, 1/5 untuk ahlulbait kerabat Nabi, 1/5 untuk  keluarga Nabi, 1/5 untuk anak yatim, 1/5 untuk fakir miskin, 1/5 lagi untuk ibnu sabil. Setelah itu Ali pergi ke Makkah dengan membawa 1/5 bagian keluarga Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam . Apa isi 1/5 bagian keluarga Nabi tadi? Isinya adalah haiwan ternak, harta benda dan para tawanan baik lelaki, perempuan, maupun anak kecil. Lalu Ali menggauli salah satu perempuan tawanan tadi, Lantas  para Shahabat yang mengetahui hal itu marah pada Ali, mereka melihat Ali keluar dari kemahnya setelah mandi. Bagaimana Ali berbuat demikian? Mengambil salah satu tawanan perang untuk dirinya, yang mestinya dibagi di kota Madinah (atau Makkah) dan bukannya di sini.

Salah seorang  Shahabat yang marah adalah Buraidah ibnul Husain yang melaporkannya pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, tapi Nabi diam saja, Buraidah mengulanginya untuk kedua dan ketiga kali, lalu Nabi bersabda, “Wahai Buraidah apakah kamu membenci Ali?” Buraidah pun menjawab “Ya, wahai Rasulullah”, Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pun menjawab: “Wahai Buraidah janganlah kamu membencinya karena dia berhak mendapat bagian dari harta rampasan perang lebih dari itu”. Lalu Buraidah berkata “Saya tidak lagi membencinya setelah mendengar Nabi melarangku membenci Ali”. (HR. Bukhari, kitab Al Maghazi, Bab Ba’tsu Ali wa Khalid ila al Yaman. No. 4350)

Berarti masalahnya hanyalah intern antara Buraidah dan Ali, mungkin ada juga sahabat lain yang tidak setuju dengan perbuatan Ali seperti itu.

Sebab ke dua: yaitu ketika Ali berangkat dari Yaman menuju Makkah dia membawa unta-unta untuk dijadikan korban. Setelah berjalan beberapa saat, Ali menyuruh Shahabat-Shahabat lain untuk berjalan  terlebih dahulu dan meninggalkan Ali di belakang. Ali melarang mereka menaiki unta-unta rampasan perang dan melarang mereka mengenakan pakaian-pakaian yang juga hasil rampasan perang. Ketika Ali melihat mereka mengendarai unta dan memakai pakaian-pakaian hasil rampasan perang Ali marah pada mereka, dan mereka pun merasa kurang senang. Lalu para Shahabat tadi melaporkan perlakuan Ali pada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Dijawab oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bahwa “Sesungguhnya Ali telah berbuat baik kepadamu, maka janganlah kamu membencinya.” Lalu sahabat pun mentaati Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dengan mencintai Saidina Ali.

Sepulang Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan para Shahabat dari Haji Wada’  dan telah mencapai sebuah tempat yang berjarak 170 km dari kota Medinah dan saat Nabi berehat  beliau mengumpulkan para Shahabat dan memberitahu mereka bahwa “Barang siapa yang mencintaiku maka dia harus mencintai Ali. Wahai mereka yang tidak senang pada Ali, berhati-hatilah, karena barang siapa yang merasa mencintaiku maka dia harus mencintai Ali.”

Orang Syi’ah berpendapat bahwa makna kata maula adalah pemimpin dan khalifah, dan yang benar makna kata maula adalah kekasih atau orang yang dicintai, dengan bukti sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam seterusnya Ya Allah tolonglah siapa saja yang menolong Ali dan musuhilah mereka yang memusuhinya”, وال من والاه و عاد من عاداه  sama dengan من كنت مولاه فعلي مولاه  makna keduanya adalah sama, inilah kesimpulan peristiwa Ghadir Khum.

Makna kata مولى  menurut Ibnul Atsir ada beberapa makna: Rabb, pemilik, penolong, pemberi nikmat, sekutu, pembebas, hamba, anak bapa saudara (paman) dan ipar. Semuanya adalah makna kata maula ,Tapi mereka (Syi’ah) bersikeras bahwa maknanya adalah khalifah.

Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam benar bermaksud mengangkat Ali menjadi khalifah sudah pasti Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam akan mengangkatnya dengan perkataan yang jelas mengarah pada maksud khalifah, bukan dengan kalimat yang memiliki lebih dari 10 makna. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pasti akan menjelaskannya dengan kalimat yang jelas, misalnya dengan perkataan Ali adalah khalifah setelah aku wafat.” Jika Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda dengan kalimat yang jelas bermaksud khilafah tentunya tidak akan pernah ada perbedaan pendapat, tapi semua ini memang tidak pernah ada.

Sementara jika kata-kata maula diartikan sebagai pemimpin dan penguasa maka akan sangat janggal, seperti dalam ayat

فاليوم لا يؤخذ منكم فدية ولا من الذين كفروا مأواكم النار هي مولاكم و بئس المصير

Maka pada hari ini tidak diterima tebusan dari kamu dan tidak pula dari orang-orang kafir. Tempat kamu ialah neraka. Dialah tempat berlindungmu. Dan dia adalah sejahat-jahat tempat kembali.” [QS. Al-Hadid Ayat 15]

Neraka disebut maula di sini kerana orang kafir tinggal dalam neraka dan kekal di dalamnya (apakah neraka bisa disebut “pemimpin” orang-orang kafir?). Sementara itu Ali adalah kekasih dan teman setia orang mukmin sejak jaman Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hingga Nabi wafat, oleh kerana itu Allah Ta’ala berfirman pada Surat Al Maidah ayat 55:

إنما و ليكم الله و رسوله و الذين آمنوا

Sesungguhnya kekasih dan penolongmu adalah Allah, RasulNya dan orang-orang beriman…. “ [Qs. al Maidah: 55]

Setiap orang mukmin adalah adalah bersaudara, saling mencintai dan tolong menolong. Maka anggapan mereka (puak Syi’ah) bahwa arti kata maula adalah pemimpin adalah tidak benar, oleh kerana itu seorang ulama mereka Nuri Ath Thubrusi berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak menjelaskan secara tegas mengenai pengangkatan Ali sebagai khalifah setelah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam  wafat pada hari Ghadir Khum tapi hanya mengisyaratkan dengan menggunakan perkataan yang memiliki makna yang sangat banyak yang memerlukan penjelasan apa sebenarnya yang dimaksud oleh Nabi dengan perkataan itu.”

[Fashlul Khithab Fi Itsbat Tahrifi Kitabi Rabbil Arbab hal 205-206].
[sumber: fimadani]

Tammat

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s