Umat Ini Kelak Mengikuti Bangsa-Bangsa Sebelumnya [1]


Illustrasi : Parsi dan Rom.

Kiamat ini tidak akan terjadi sampai umatku kelak meniru bangsa-bangsa sebelumnya seperti sama persisnya jengkal dengan jengkal dan hasta dengan hasta. ” Maka, ada yang bertanya: “Wahai Rasulullah, seperti bangsa Persia dan Romawi?” Beliau bersabda: “Siapakah manusia itu selain mereka?” (HR. Bukhari (7319) Al-I’tisham bil-Kitab was-Sunnah).

 

Dalam riwayat lain dari Abu Sa’id: “Kami bertanya kepada Rasulullah: “Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Siapa (jika bukan mereka) ?”
(HR. Bukhari (3456) Muslim (2669.

 

Variety Explorer.com–PERSIA dan Romawi (Kerajaan Parsi dan Rom) merupakan dua negara super-power di masa lalu.  Sebelum datangnya Islam, peradaban dan kebudayaan dua imperium itu menjadi simbol bagi sebuah kemajuan dan kemapanan gaya hidup.  Dan kelak di akhir zaman, peradaban keduanya akan kembali memegang kendali dunia, bahkan – sebagaimana nubuwat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di atas, dunia Islam pun akan hanyut dalam peradaban yang diusung oleh keduanya.

lnilah realiti kehidupan yang membenarkan Sabda beliau. Sebagian besar kaum muslimin telah tertimpa fitnah tasyabbuh bil kuffar (meniru gaya dan tradisi orang kafir), dari cara bergaul, berpakaian, tradisi hari raya, bahkan tata cara ibadah mereka banyak ditiru oleh kaum muslimin.

Lima Karakter Peradaban Barat dan Implikasinya terhadap Umat Islam

Ulama Arab terkenal Yusuf Al-Qardhawi memaparkan beberapa point penting tentang karakter peradaban barat ini yang menurut hemat penulis memiliki implikasi yang sangat luas terhadap umat Islam. Dalam bukunya ‘Al¬Islam Hadharatul Ghadd’, beliau memaparkan 5 karakter dasar utama tentang pilar-tonggak  peradaban ini. Berikut kami paparkan secara singkat:

1. Mereka Tidak Mengenal Allah Ta’ala

Peradaban ini tidak mengenai Allah Ta’ala  dengan pemahaman yang benar, yang dapat mengantar pada keyakinan yang benar tentang Yang Maha P+encipta Alam dan Yang Maha Pengatur; Tidak pula Barat mengenal hakekat ketuhanan yang Maha Sempuma, Maha Mengetahui, Maha Kuasa, Maha Berkehendak, Maha Baik lagi Maha Penyayang. Yang demikian disebabkan kerana mereka tidak mengenal kenabian yang membukakan pintu ke sana, dan kewahyuan yang ma’shum, sebagai epistemologi metafizika.

Dari sana pemikiran Barat berjalan sendiri mencari dan menyelidiki “sebab pertama” atau “Penggerak Pertama” atau “Yang wajib adanya”, lalu tersandung dan berhenti pada titik kebingungan. Bahkan, para filosuf yang disebut dalam sejarah filsafat sebagai para filosuf teologi pun yaitu mereka yang mengakui Tuhan secara umum seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles yang menolak atheisme, tidak memunyai konsep tentang Tuhan secara jelas, melainkan satu konsep yang tidak utuh yang banyak bercampur dengan imajinasi skeptikal.

Sebagai contoh Tuhan menurut Aristoteles, seorang yang dipandang filosuf kelas wahid oleh bangsa Yunani kuno, tidak jelas apakah Tuhan seperti yang dikenal oleh kita; Yang Maha Pencipta segala sesuatu, pemberi hidup kepada segala yang hidup, Pengatur segala urusan, Yang Mengetahui segala yang telah lalu dan yang akan datang dan yang sekarang, Yang Maha berbuat menurut kehendak-Nya, Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu? Ataukah Tuhan lain selain Tuhan yang kita kenal?

Jawaban pertanyaan ini dapat dipahami dari salah seorang sejarawan tentang filsafat modern, Wil Durant dalam tulisannya berjudul “Gerlap-gerlap Filsafat”, mengatakan: ”Aristoteles menggambarkan Tuhan dengan satu jiwa yang mengisi Zat diri-Nya dan diri-Nya juga jiwa lain, yang tidak dapat diindra dan sangat rahasia.

Sebab Tuhan Aristoteles tidak melakukan pekerjaan apa pun, tidak memunyai keinginan dan kehendak serta maksud efektifitasnya suci murni sampai tahap yang membuat-Nya tidak berbuat apa pun. Dia sempurna dengan kesempurnaan mutlak, oleh kerananya Dia tidak perlu menginginkan sesuatu apa pun dan kerananya pula tidak berbuat apa pun! Tugas satu-satunya adalah merenungkan inti segala sesuatu dan bentuk segala sesuatu. Oleh kerananya pekerjaan satu-satunya adalah merenungkan Dzat diri-Nya sendiri.

Alangkah menyedihkan Tuhannya Aristoteles! Tuhannya Aristoteles tidak ubahnya seorang raja yang tidak mengatur dan tidak mengikat. Raja bersinggasana tetapi tidak memerintah!”

Tidak mengherankan bila Aristoteles disukai oleh orang-orang British,.  Sebab, Tuhan Aristoteles dengan jelas menggambarkan raja mereka dengan tepat, atau raja mereka adalah duplikat Tuhannya Aristoteles sendiri.” Jika Tuhannya Aristoteles dikatakan menyedihkan, kerana tidak dapat mengatur dan tidak mengikat di alam ini, lebih menyedihkan lagi Tuhannya Plato, yang dinisbahkan kepadanya aliran Neo-Platonisme. Sebab Tuhannya tidak merenung sama sekali sampai pada dirinya sendiri pun tidak.

Karakter peradaban ini dapat kita lihat pada kehidupan kaum muslimin dalam bentuk fahaman-fahaman  sesat dalam persoalan aqidah.

Munculnya aliran sesat, ajaran Sai Baba yang menyamaratakan semua agama dan meng-klaim bahwa setiap manusia memiliki sifat-sifat ketuhanan, Fahaman  Wihdatul Wujud (wihdatul shape -of us and God), Ajaran Trinitas yang dianggap memiliki kesamaan dengan aqidah Islam, semua itu adalah bagian kecil dari fenomena tasyabbuh kaum muslimin terhadap cara berfikir bangsa barat tentang konsep ketuhanan.

Cara berfikir komuniti Islam Liberal yang menganggap adanya wilayah tertentu yang bebas dari Tuhan (sebagaimana yang pernah terjadi di Bandung-Indonesia), atau keyakinan mereka bahwa Tuhan tidak boleh campur tangan dalam urusan-urusan manusia, adalah sebuah contoh kecil bagaimana ajaran  sesat itu telah banyak diadopsi oleh kaum muslimin.

2. Fahaman  Materialisme.

 

IMPLIKASI fahaman  ini adalah timbulnya sikap mempercayai sesuatu hanya pada hal yang memiliki kaitan dengan materi kebendaan, yang akhirnya melebar dalam memberi interpretasi alam, ilmu pengetahuan, dan moral. Fahaman  ini juga mengingkari hal-hal yang bersifat metafisis, hal-hal yang gaib seperti adanya Tuhan Pencipta alam ini, tidak meyakini adanya Rasul yang mendapatkan wahyu; tidak meyakini adanya roh abadi bagi manusia dan tidak pula adanya kehidupan lain setelah kehidupan dunia; tidak meyakini adanya alam lain yang bersifat ghaib selain dunia indrawi sekarang ini; tidak meyakini adanya niai-nilai ideal yang berada di atas manfaat dan kenikmatan kekinian.

Sebab semua ini tidak dapat dilihat oleh panca- indra dan berada di luar jangkauan pengamatan dan eksperimen ilmiah rasional.  Jadi, pemikiran Barat adalah pemikiran materialisme yang mencemooh spiritualitas; indrawi yang tidak menyertakan hal-hal metafisis; realistik yang tidak mempercayai idealisme.

Aliran materialisme ini telah mendominasi kehidupan Barat moden, baik dari sisi teoritis maupun dari sisi praktis, hingga dikenal oleh kalangan terpelajar yang mendalami oksidentalisme moden bahwa agama yang sebenarnya di Barat sekarang adalah materialisme. Agama bukanlah sistem nilai bagi mereka untuk diterjemahkan dalam sikap dan perilaku, dan bukan sistem keyakinan yang harus dipatuhi dan dijadikan acuan bagi model hidup.

Orang Barat moden jika diamati hakikatnya, akan ditemukan bahwa dia adalah seorang penganut materialisme sebagai agama dan pragmatisme sebagai jalan hidupnya. Mereka tidak mempunyai komitmen untuk tunduk pada apa pun, selain kepentingan ekonomi, sosial dan kebangsaan. Yang menjadi sesembahan mereka adalah bukan dari jenis spiritual, melainkan kemakmuran.

“Peradaban Barat tidak menafikan Tuhan secara mentah-mentah, artinya menolak secara mutlak dan terang-terangan, melainkan peradaban ini tidak melihat satu bidang dan satu manfaat pun bagi Tuhan dalam sistem pemikirannya yang sekarang. Demikian orang-orang Eropah moden memunyai kecenderungan untuk menisbahkan kepentingan praktis itu hanya kepada pemikiran-pemikiran yang berada dalam domain ilmu-ilmu yang bersifat emperis, atau ilmu-ilmu yang diharapkan setidaknya dapat memberi pengaruh pada hubungan sosial dalam kehidupan manusia dengan cara yang dapat difahami. Oleh kerana Tuhan tidak berada pada wilayah ini dan itu, maka intelektualitas Barat cenderung untuk menjatuhkan Tuhan dari wilayah konsep-konsep praktis.”

Bangsa moden  – baik yang menganut demokrasi maupun fasisme, kapitalisme maupun borjuisme, industriawan maupun pemikir – mengenal satu agama positif yaitu menyembah pada kemajuan materiil, suatu keyakinan bahwa dalam hidup ini tidak terdapat tujuan lain selain menjadikan hidup itu sendiri lebih mudah dan terus bertambah mudah.

Bentuk kerangka agama ini – yaitu gereja dan tempat peribadatannya – ialah kilang-kilang raksasa, gedung bioskop, laboratorium kimia, tempat-tempat dansa, dan pusat -pusat tenaga elektrik. Sedangkan para pendeta agama ini adalah para bankir, arkitek, bintang film, tokoh industri, dan pilot angkutan udara! Akibat yang tidak dapat dihindarkan dalam keadaan ini adalah; upaya keras untuk mencapai kekuatan dan kenikmatan yang dengan demikian menciptakan kelompok-kelompok yang saling bertikai-berselisih  dengan kekuatan senjata disertai tekad untuk memusnahkan satu sama lainnya bila teIjadi benturan kepentingan masing-masing.

Adapun pada aspek kebudayaan, peradaban Barat telah melahirkan satu jenis manusia yang filsafat moralnya berkisar hanya mengenai masalah-masalah pragmatisme dan yang menjadi pembeda tertinggi antara kebaikan dan keburukan adalah kemajuan materiil, bukan lainnya.

lnilah yang juga tengah melanda sebagian besar kaum muslimin.  Fahaman  materialisme telah meresap dalam setiap pola berfikir dan bertindak. Satu contoh adalah sikap sebagian mereka dalam memandang pernikahan. Hal yang pertama kali terpikir oleh seorang bapak yang anaknya akan dilamar adalah; berapa modal yang sudah disiapkan oleh calon menantunya, lengkap dengan semua perangkat yang bersifat materi. Jarang sekali dari mereka yang lebih mempertimbangkan faktor akhlak dan agama.

Dalam ranah sosial juga demikian. Segala hubungan yang tidak mendatangkan keuntungan materi akan dinomor-duakan. Apapun pilihan amal yang dikerjakan harus menghasilkan materi. Dampak fahaman  ini tentu saja meluas hingga akhimya merosak nilai-nilai persaudaraan Islam. Tidak ada lagi keikhlasan dan pengorbanan. Semuanya telah diukur dengan paramater materi.

Dalam ranah dakwah juga kita dapati fahaman  ini telah merasuk sedemikian dalam. Fenomena dakwah Entertainment dengan pendakwah-da’i  artis yang ada di dalamnya semakin menguatkan dugaan ini. Untuk sekali tampil di panggung, tidak jarang dari mereka yang berani menentukan tarif minimal kepada objek dakwahnya. Para juru dakwah yang paling diminati oleh masyarakat juga telah rosak parameternya. Kualiti  dan isi materi dakwah yang seharusnya sarat dengan penyampaian kebenaran tidak terlalu penting.  Faktor ketampanan juru dakwah, kelihaian membuat orang tertawa terbahak-bahak, dan kemeriahan acara yang digelar telah menjadi tolok ukur bagi sukses dan tidak suksesnya seorang juru dakwah.

BERSAMBUNG

Naskah asal Oleh: Abdur Rahman Al-Wasithi/Islampos
Editor by Wilhelmina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s