Umat Ini kelak Mengikuti Bangsa-Bangsa Sebelumnya [2]


Illustrasi


3. Fahaman  Sekulerisme

Variety Explorer.com–AGAMA menurut pandangan Barat adalah hubungan antara manusia dan Tuhannya yang tempatnya ada dalam hati sanubarinya. Jika hati sanubari keluar dari dalam dadanya, maka tidak diperbolehkan melewati pagar-pagar gereja atau tempat peribadatan. Bukan urusan agama untuk memasuki wilayah undang-undang dan aturan negara dan menerapkan ajaran-ajarannya dan hukum-hukumnya pada institusi yang mengatur masyarakat; pendidikan, sosial, ekonomi, kebudayaan, publisistik, managemen, politik, dan hukum.

 

Inilah cara berfikir sebagian kaum muslimin dalam menanggapi tugas dan kewajiban beragama; hanya difahami sebatas amalan hati yang tidak ada sangkut pautnya dengan amalan zahir.  Jilbab,Hijab.Bertudung/Kerudung, Amar Makruf Nahi Mungkar, Jihad fi Sabilillah, Penegakkan Syari’at Islam, Pelaksanaan Hukum-Hukum Hudud; semua itu tidak boleh diberlakukan dengan alasan bahwa itu bagian dari politik yang tidak berhubungan sama sekali dengan urusan agama.

 

Urusan pemerintahan, urusan makan dan minum, urusan nikah dan berumah tangga, urusan pekerjaan di pejabat, eksploitasi alam semesta dan beragam muamalah lainnya dianggap tidak memiliki korelasi dengan hukum Islam.

 

Fahaman  Sekulerisme ini terus dikempenkan melalui berbagai media. Asia Foundation telah memberikan dana yang tidak sedikit kepada komuniti Jaringan Islam liberal Indonesia  untuk menyebarkan fahaman  dan wacana sekulerisme ini.

 

4. Konflik

 

Di antara sifat peradaban Barat adalah bahwa ia merupakan satu peradaban yang mempunyai sifat konflik, tidak mengenal perdamaian dan ketentraman serta cinta kasih. Yaitu suatu konflik yang meresap ke dalam seluruh aspek, beragam bentuknya, bermacam-macam bidangnya, dan berbeda senjata dan gayanya; konflik antara manusia dengan dirinya; konflik antara manusia dengan alam; konflik antara manusia dengan sesama manusia; dan konflik antara manusia dengan Tuhan.

 

Manusia di Barat memunyai konflik melawan fitrahnya sendiri. Jika ia menginginkan hidup secara ideal seperti yang diajarkan oleh agamanya, yaitu Kristian, Idealisme dalam ajarannya mengharuskan ia menghindari kebebasan perilaku seksual; menolak kekayaan, sebab orang kaya tidak dapat memasuki kerajaan Tuhan; menghindarkan diri dari kemewahan, perhiasan duniawi, menerima tanpa membalas kejahatan dengan kejahatan, dan memberikan pipi kiri bila yang kanan dipukul. Jika tidak dapat melakukan demikian – sebagaimana yang dialami oleh kebanyakan orang- maka konflik antara idealisme ajaran agama yang dianut dan realiti  yang dihadapi dalam hidupnya tetap berlangsung dalam dirinya.

 

Manusia peradaban Barat juga berada dalam konflik dengan alam.  Sebab ia bertolak dari pendirian  bahwa alam adalah musuhnya yang harus dihadapi dan dikuasai. Oleh kerananya di Barat ada istilah “menaklukkan alam”, yaitu suatu ungkapan yang jelas arah dan artinya. Sementara Islam memandang alam dengan segala isinya diciptakan oleh Allah untuk keperluan hidup manusia, sebagaimana disebutkan oleh Al-Qur’ an:

 

“Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk kepentinganmu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmat-Nya zahir dan bathin.” (Terj;AlQuran-Surah- Luqman [31]:20).

 

BERSAMBUNG

Naskah Asal; Oleh: Abdur Rahman Al-Wasithi/Islampos.
Editor by Wilhelmina,

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s