# Indonesia “Era Baru Perang Salib Untuk Menghancurkan Islam”.

Potrait: Allahyarham Muhammad Natsir;
Pejuang Islam & Kemerdekaan Indonesia.

Written by Wilhelmina

AWASSS……KAUM .SALIBIS MEMBAJAK ( hijack /plow) NUSANTARA!!!!

Melalui Kristianisasi, kaum Kristian/Salibis  mencanangkan tahun 2020, Indonesia tidak lagi majority Muslim, namun berubah (bertransformasi) menjadi majority kafir Kristian.

Penangkapan dan pembunuhan terhadap para aktivis Islam oleh Densus 88 dan program Deradikalisasi oleh pemerintah: adalah “era baru Perang Salib untuk menghancurkan Islam”.

Variety Explorer.com–Ayat diatas penulis petik dari sebuah portal Islam Indonesia,Apa faedah dan kaitan dengan negara tercinta Malaysia ini,untuk penulis agak selalu menulis dan membahas tentang aktiviti Kristianisasi diIndonesia,

Untuk maklumat pembaca blog ini..apa saja aktiviti berupa sosio-budaya politik-Agama Islam,Ajaran2 sesat dan sebagainya di Indonesia akan ada tempias dan pengaruhnya dalam kehidupan bernegara di Malaysia,

Secara ringkasnya kita tidak boleh ambil remeh atau tak peduli segala perkembengan sosio budaya -politik,agama,ekonomi,pemerintahan  di Indonesia begitu juga sebaliknya.

Seperti kita maklum kita di Malaysia sedang menghadapi sebuah  “krisis kepercayaan” atas desakan pihak pimpinan Gereja Kristian untuk melegalisasi penggunaan kalimah ‘Allah’ dalam media misi dakyah Kristianisasi mereka ‘The Herald’

Seterusnya untuk manfaat bersama khusus bagi pendakwah Islam dan penganutnya di Malaysia ini-penulis lakarkan sebuah pengalaman berharga seorang pejuang Islam dan Kemerdekaan Indonesia Allahyarham Muhammad Natsir- beliau salah seorang putera Minangkabau yang mengabdikan seluruh kehidupannya untuk Islam di Nusantara dan dunia Islam amnya,

Muhammad Natsir seorang pakar Kristolog.

“KADANG-kadang antara Saudara dengan saudara, ada baiknya kita berbicara berpahit-pahit. Yakni yang demikian tidaklah dapat kami lihatkan saja sambil berpangku tangan. Sebab kalau ada harta yang kami cintai lebih dari segala-galanya itu, ialah agama dan keimanan kami.”

Itulah sepenggal pernyataan dari Muhammad Natsir pada khutbah Idul Fitri 1968. Sebuah pernyataan yang kembali ditegaskan Muhammad Natsir. Setelah setahun sebelumnya dalam Musyawarah Antar Agama yang dihadiri berbagai pihak lintas agama, beliau menyatakan pendiriannya,

“Oleh karena itu jangan identitas kami saudara-saudara langgar. Jangan saudara jadikan kami sebagai sasaran  bagi kegiatan pengkristenan.”

(sengaja ucapan beliau penulis tak ubah dari ejaan Indonesia)

Mungkin jika pernyataan itu diucapkan saat ini, maka beliau bisa dituduh tidak toleran. Tapi begitulah adanya Muhammad Natsir. Tidaklah beliau  sungkan (bimbang,waswas,ragu-ragu) berdiri tegak diatas pendiriannya dan menyatakan keberatannya, sekalipun acara ini atas prakarsa Presiden Soeharto saat itu.

Nyatanya sah saja jika ia kita sematkan gelar kristolog. Mengingat tulisannya yang mampu membedah bible secara tajam. Ayat-ayat bible beliau  hamparkan, dipertanyakannya kerancuannya. Di tepisnya cercaan yang dilemparkan kepada umat Islam yang ramai sejak Indonesia belum merdeka.

“Sudah cukup lama kaum Muslimin, berdosa meninggalkan kewajiban mereka mempertahankan dan membersihkan agama mereka dari nistaan yang telah dilemparkan kepada Islam dalam buku-buku dan surat-surat kabar, dalam sekolah-sekolah dan di rapat-rapat umum.”

Pena tajamnya dalam membela Islam memang menghayun kepada siapa saja. Entah pendeta atau para akademik Belanda. Ia juga seringkali mengkritik kebijakan-kebijakan pemerintah kolonial yang meminggirkan umat Islam dan menganakemaskan pihak Gereja.

Tulisan-tulisannya membahas persoalan dengan agama Kristian tidaklah menjadi ibeliau sosok yang buta bertoleransi. Justru ia mendambakan toleransi di Indonesia. Di tahun 1952, ia menyatakan:

“Islam melindungi kebebasan menyembah Tuhan, menurut agama masing-masing. Baik di mesjid maupun di gereja.”

Namun kebebasan itu menurut Natsir, hendaknya dilakukan dengan menghargai agama lain. Menghormati identiti  umat lain. Menurutnya identiti orang-orang Islam jangan diganggu. Perdamaian nasional hanya bisa dicapai kalau masing-masing golongan agama, disamping memelihara  identiti  masing-masing  juga pandai menghormati identiti  golongan lain. Namun gesekan-gesekan terus saja terjadi. Hingga akhirnya terjadilah pengerusakkan Gereja di Makassar.

Ketika J. Lassut, wartawan Sinar Harapan-sebuah media yang berafiliasi dengan Kristian-meminta komentarnya mengenai kejadian tersebut,
Natsir menjawab, “Tidak baik.”

Tapi beliau  menekankan, pengrosakkan Gereja sudah tentu melukai kaum Kristian. Tetapi janganlah dilihat persoalan itu dengan suatu symptomatic approachdengan sekadar melihat gejala yang kelihatan. Harus dicari juga penyebabnya.

Itulah sebabnya ketika Soeharto, pada tahun 1967, memprakarsai Musyawarah Agama, Natsir menyambut hal ini. Beliau pun menawarkan konsep untuk tidak menjadikan umat telah beragama sebagai sasaran penyebaran agama masing-masing. Namun usul ini ditolak oleh pihak Kristian yang salah satunya di wakili oleh T. B. Simatupang. Natsir pun menanggapi penolakan itu dalam khutbah Iedul Fitri tahun 1968,

“Demikianlah seruan kita, dengan tulus dan ichlas. Sekalipun jika saudara-saudara menolak seruan mencari titik pertemuan itu, tidak apa. Kita akan masih dapat hidup berdampingan secara damai dan ragam. Hanya satu saja permintaan kami :

Isyhaduu Bi Anna Muslimun!“

(sengaja ucapan beliau penulis tak ubah dari ejaan Indonesia)

 

Referensi :

Judul : Islam dan Kristen di Indonesia

Penulis : M. Natsir

Editor : Endang Saifuddin Anshari

Penerbit : Pelajar dan Bulan Sabit

243 halaman

Cetakan 1, 1969

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s