#Buya Hamka:Segenggam Maaf untuk Mr.Mohammad Yamin


Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah(Hamka)

Written by Wilhelmina

Variety Explorer.com–Tatapannya begitu tenang. Tak ada rasa benci di sana. Tak ada dendam. Hamka benar-benar menjalani kehidupan dengan lapang dada.
Sebelum wafatnya Soekarno(baca; https://helmysyamza.wordpress.com/2013/10/19/mengenali-ulama-berasal-dari-minangkabau-2/)

Seorang tokoh Bangsa Indonesia, Mr.Mohammad Yamin sempat berseteru dengan Hamka. Hal ini bermula dari ucapan-vokal Buya Hamka diGedung Konstituante Bandung, yang menyerukan agar Indonesia berdasarkan Undang-Undang Islam.

Mr. Prof. Mohammad Yamin, S.H.

Mr. Prof. Mohammad Yamin, S.H. (lahir di Talawi, Sawahlunto, Sumatera Barat, 24 Ogos 1903 – meninggal di Jakarta, 17 Oktober 1962 pada umur 59 tahun) adalah sastrawan, sejarawan, budayawan, politikus, dan ahli hukum yang telah dihormati sebagai pahlawan nasional Indonesia. Ia merupakan salah satu perintis puisi moden Indonesia dan pelopor Sumpah Pemuda sekaligus “pencipta image keindonesiaan” yang mempengaruhi sejarah persatuan Indonesia.


Parti Masyumi-Buya Hamka – Mr. Prof. Mohammad Yamin

Parti Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) sebagai pimpinannya,Buya Hamka  mengajukan dasar negara berdasarkan Islam. “..Bila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke neraka … “ lantang Hamka dengan tegas.
Walau akhirnya kemudian hari , Hamka menerima Pancasila dengan tafsiran bahwa Tuhan yang Maha Esa adalah Allah, dan kerana-Nya, berkat rahmat-Nya, Indonesia dapat merdeka hingga saat ini.

 

Tentu saja para hadirin dalam sidang paripurna Konstituante itu terkejut mendengar pernyataan Hamka. Mr. Moh. Yamin sebagai seorang anggota Konstituante turut terkejut atas pernyataan sang Buya. Yamin tidak saja marah, berlanjut menjadi benci. Moh Yamin tidak dapat menahan kebencian- nya baik bertemu dalam acara rasmi, seminar kebudayaan dan sama-sama menghadiri sidang Konstituante, kebencian itu tetap tak dapat dihilangkannya.

 

Suatu ketika saat di rumah, Hamka  kedatangan tamu Buya KH. Isa Anshari. Ulama sekampung dengan kampung Hamka, Maninjau, beliau sudah lama bermukim di Kota Bandung Dalam acara makan siang, Buya KH. Isa Anshari bertanya kepada Hamka, “Apa masih tetap Yamin bersitegang dengan Hamka ?”

 

Sang Buya menjawab, “Rupanya bukan saja wajahnya yang diperlihatkan kebenciannya kepada saya, hati nuraninya pun ikut membenci saya.”

 

Bertahun-tahun setelah dekrit di mana Soekarno kemudian membubarkan Konstituante, Parlimen dan menetapkan UUD ’45 dan Pancasila yang dijiwai Piagam Jakarta sebagai dasar negara, terjadi peristiwa yang luar biasa.

 

Tahun 1962; Mr. Moh. Yamin jatuh sakit parah dirawat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat,( RSPAD) Talipon berdering di Kebayoran. Suara Menteri Chairul Shaleh dari balik talipon membujuk Hamka agar Hamka dapat menemui Moh. Yamin yang sedang di Rumah Sakit. Tentu saja, Hamka dengan senang menyambut seruan itu.

 

“Buya, saya membawa pesan dari Bapak Yamin. Beliau  sakit sangat parah. Sudah berhari-hari dirawat. Saya sengaja datang menemui Buya. Ada pesan dari Pak Yamin, mungkin merupakan pesan terakhir. “ “Apa pesannya?” tanya Hamka.

 

“Pak Yamin berpesan agar saya menjemput Buya ke rumah sakit. Beliau ingin menjelang ajalnya, Buya dapat mendampinginya, sekarang Pak Yamin dalam sekarat.” Sang Buya agak tercengang mendengar pesan Pak Yamin itu.  Teringat kembali sikap bermusuhan dan membencinya.

 

“Apalagi pesan Pak Yamin?” Kembali Hamka bertanya kepada menteri yang ditugaskan Pak Yamin itu. “Begini Buya, yang sangat merisaukan pak Yamin, beliau ingin bila wafat dapat dimakamkan di kampung halamannya yang telah lama tidak dikunjungi. Beliau sangat khawatir masyarakat kampungnya di Talawi tidak berkenan menerima jenazahnya. Kerana ketika terjadi pergolakan di Sumatara Barat, Pak Yamin turut mengutuk aksi pemisah-an wilayah Minangkabau dari NKRI. Beliau mengharapkan sekali Hamka bisa menemaninya sampai ke dekat liang lahatnya.”

 

Sang Buya termenung. Banyak pengalaman pahit yang dirasa oleh Buya selama beberapa tahun ini dengan tokoh yang mengaku wajahnya mirip dengan Patih Kerajaan Majapahit Gajah Mada itu.  ”Kalau begitu mari bawa saya ke RSPAD menemui beliau.”kata Buya Hamka

 

Petang  itu juga langkah kaki Buya tak tertahankan, menuju lorong VIP Hospital RSPAD. Dibukanya pintu itu. Seseorang tengah berbaring lemah. Begitu hati ini bergetar. Wayar-wayar getah  tersambung dengan tubuh Pak Yamin. Belalai-belai alat kedoktoran begitu berseliweran. Ingin rasanya mata ini menangis melihatnya, wajah yang begitu lemah. Dijabatnya tangan Yamin, dan dikucup keningnya, tokoh yang selama ini membencinya.

 

” Terima kasih Buya sudi datang.” Lirihnya sangat lemah. Dari kedua kelopak matanya tampak air mata menggenangi matanya.  “Dampingi saya,” bisiknya lagi. Tangan Hamka masih terus digenggamnya. Air mata mereka berkumpul di sudut matanya. Dibisikkanya kalam Ilahi, Al Fatihah dengan lembut oleh Hamka. Kalimat tauhid yang berulang-ulang dibisikkan,  La ilaha illallah Muhammadan Rasalullah.

 

Sudah lama sekali..lama..kalimat ini, tak terlafaz. Begitu lemah, suara itu mengikuti gerak bibir Hamka. Berulang-ulang, kalimat tauhid itu terlafaz. Genggaman tangan itu semakin kuat. Suaranya tak terdengar lagi. Hanya isyarat genggamanan menguat. Terakhirkali, Hamka membisikkan kalimat “tiada Tuhan selain Allah” ke telinganya. Tidak ada respon. Hamka merasa genggaman Pak Yamin mengendur dan terasa dingin dan terlepas dari genggaman Buya.

 

Seorang doktor datang memeriksa. Doktor itu memberitahu Pak Yamin sudah tidak ada lagi. “Innalillahi wa inna lillaihi rajiun.”Tokoh yang bertahun-tahun sangat membenci Hamka, diakhir hayatnya meninggal dunia sambil bergenggaman tangan dengan sang Buya.

Sungguh,tak ada yang begitu terkenang kecuali dengan akhlak sang Buya. Senyumnya, kelembutannya, ketegasannya dalam hal aqidah. Jiwa maafnya yang selalu terbuka, terlapang. Salam takzim untuk Buya Hamka Rahimahullah. Semoga Allah merahmatimu wahai Buya,!

Naskah asal:
Oleh: Rizki Lesus-Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s