#Ulama Minangkabau;”Buya Hamka – Sikap Tegasnya Terhadap Kristianisasi

Almarhum Buya Hamka

Written By Wilhelmina

Variety Explorer.com – Almarhum Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan gelaran  Hamka,Adalah diantara Ulama Islam Indonesia yang berasal dari daerah Minangkabau (kini;Sumatra Barat) yang terkenal dengan sikap toleransi sesama Ulama dan penganutnya terutama soal perbedaan  mazhab fiqh-nya .namun sangat tegas dengan prinsipnya bila berhadapan persoalan aqidah apalagi  dengan dakyah Kristianisasi di Indonesia.


#Ulama Minangkabau – Di hadapan penguasa, Hamka bicara tegas menolak upaya-upaya Kristianisasi. Ia juga tegas melarang umat Islam mengikuti perayaan “Natal Bersama” yang menggunakan kedok-topeng  toleransi.

Sejatinya sejak era Suharto  upaya Kristianisasi sangat gencar aktivitinya.Apalagi dizaman mantan Presiden Abdurrahman Wahid(GusDur) yang terlalu memberi ruang kebebasan beragama atas topeng demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM)-hingga maraknya kristianisasi seta bergerak bebasnya ajaran-ajaran sesat seperti Ahamadiyah Qadiani-Lahore,Syi’ah,Bahai dansebagainya.

 

Suatu hari menjelang Hari Raya Idul Fitri tahun 1969, dua orang perwira Angkatan Darat datang menemui Buya Hamka. Keduanya membawa pesan dari Presiden Soeharto, agar Hamka bersedia memberikan khutbah Ied di Masjid Baiturrahim, komplek Istana Negara, Jakarta. Hamka terkejut, kerana disamping permintaan tersebut mendadak, beliau hairan mengapa istana memilihnya menjadi khatib, padahal pada waktu itu beliau  dikenal sebagai ulama yang dalam setiap ceramahnya selalu tegas mengeritik upaya-upaya Kristianisasi. Maklum, pada masa-masa awal Orde Baru, gurita Kristianisasi mulai membangun jejaringnya. Baik di tingkat elit kekuasaan, maupun aksi-aksi di lapangan.

 

Atas saran dan dukungan umat Islam, Buya Hamka akhirnya bersedia memenuhi permintaan istana. Umat ketika itu berharap, ulama asli Minangkabau ini bisa menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada para peguasa, terutama dalam menyikapi maraknya Kristianisasi. Inilah kali pertama Hamka, seorang mantan anggota Parti Masyumi(Majelis Syuro Muslimin Indonesia)  berkhutbah di Istana.
Dari atas mimbar, ulama yang juga sastrawan ini menguraikan tentang bagaimana toleransi dalam pandangan Islam. Islam sangat menghargai agama lain, dan tak akan pernah mengganggu aqidah agama lain.

 

Di hadapan Presiden Soeharto dan para penguasa  Orde Baru, Buya Hamka menegaskan secara lantang, “Tapi kalau ada usaha orang supaya kita berlapang dada, jangan fanatik, lalu tukarlah kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa itu dengan tuhan yang maha tiga, atau berlapang dadalah dengan mengatakan bahwa Nabi kita adalah nabi palsu dan perompak di padang pasir, atau kepercayaan kita kepada empat kitab suci; Taurat, Zabur, dan Injil dan Al-Qur’an, lalu disuruh berlapang dada dengan mendustakan Al-Qur’an, Maaf, seribu kali maaf, dalam hal ini kita tidak ada toleransi!” tegasnya.

 

Haji Abdul Malik Karim Amrullah alias Buya Hamka juga menyampaikan bahaya Kristianisasi ia sampaikan di mimbar-mimbar dakwah dan media massa. Melalui Majalah Panji Masyarakat, Buya Hamka membahas bahaya Kristianisasi, modernisasi dan sekularisasi. Dalam rubrik “Dari Hati ke Hati” yang dikelolanya, Buya Hamka juga menjelaskan soal prinsip toleransi dalam Islam.

 

Dalam setiap kesempatan khutbah, Buya Hamka yang prihatin dengan gurita kristianisasi yang sedang menggeliat ketika itu, bersuara lantang di hadapan umat agar mewaspadai sepak terajang kelompok Kristian yang berusaha memurtadkan kaum Muslimin.

“Modernisasi bukan berarti Westernisasi, dan bukan pula Kristianisasi,” demikian ketegasan yang sering diulang-ulang oleh Hamka ketika ditanya para wartawan. Dalam setiap khutbah di Masjid Al-Azhar, Jakarta, Hamka juga menegaskan bahwa misi zending Kristian yang sedang bergeliat pada masa itu telah dirasuki dendam Perang Salib untuk menghabisi umat Islam. “Kristian lebih berbahaya dari Komunis,” ujar Hamka.

 

Ketegasan Buya Hamka terhadap bahaya Kristianisasi kembali beliau  sampaikan di hadapan penguasa Orde Baru, ketika Buya menjawat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dalam rapat dengan Presiden Soeharto pada 1975, Buya Hamka menerangkan di hadapan Presiden tentang fakta-fakta Kristianisasi yang bergeliat setiap hari di masyarakat, dengan berbagai bujukan dan habuan-habuan materi yang menggiurkan.

Hamka juga menyampaikan keprihatinannya tentang berdirinya Hospital  Baptis di Bukittinggi,Sumatera Barat sebagai upaya terang-terangan dalam mengkristiankan masyarakat Minang lewat cara perubatan. Kepada Presiden Soeharto, Hamka mengusulkan agar Hospital  itu dibeli dan diambil alih pemerintah agar bisa dikelola dengan semestinya. Soeharto setuju dengan usulan tersebut, bahkan dengan terang-terangan menyatakan tidak sukanya pada Kristianisasi tersebut

 

Sikap tegas Buya Hamka yang melegenda adalah ketika ia mengeluarkan fatwa haram perayaan natal bersama.
Pada saat itu di lingkungan birokrat yang sudah dikuasai jejaring Kristian memang digalakkan  acara “Natal Bersama”. Buya sebagai Ketua MUI merasa perlu memberikan fatwa agar umat Islam tidak terjebak menggadaikan aqidah hanya semata-mata takut dibilang tidak toleran.

Saat berkhutbah di Masjid Al-Azhar, Buya Hamka mengingatkan kaum Muslimin, bahwa kafir hukumnya jika mereka mengikuti perayaan natal bersama. “Natal adalah kepercayaan orang Kristian yang memperingati hari lahir anak Tuhan. Itu adalah aqidah mereka. Kalau ada orang Islam yang turut menghadirinya, berarti dia melakukan perbuatan yang tergolong musyrik,” terang Hamka. “Ingat dan katakan pada kawan yang tak hadir di sini, itulah aqidah kita!” tegasnya di hadapan massa kaum Muslimin.

 

Keteguhannya dalam memegang fatwa haramnya natal bersama inilah yang kemudian membuatnya mengundurkan diri dari Ketua Majelis Ulama Indonesia. Tak berapa lama setelah fatwa itu dikeluarkan, pada 24 Juli 1981, Buya Hamka wafat menghadap Allah Subhanahu wa Ta’alaAllahyarham Mohammad Natsir, teman karib seperjuangan yang menyaksikan detik-detik wafatnya Buya Hamka kemudian memanjatkan doa tulus bagi seorang pejuang dan pengawal aqidah umat.
Wallahua’lam.

Sumber : Naskah asal ; Editor Pustaka Al-Kautsar dan Pensyarah STID Mohammad Natsir Jakarta

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s