Mengenali Ulama berasal dari Minangkabau [2]

Almarhum Buya Hamka

Written by Wilhelmina

Variety Explorer.com- Mengenal dari dekat definisi  Ulama Minangkabau adalah merujuk kepada ahli-ahli /pakar-pakar agama Islam yang dibesarkan -silsilah keturunan atau berasal dari daerah Minangkabau. Tokoh-tokoh tersebut telah terlibat dalam berbagai peristiwa sejarah perkembangan Islam di Kepulauan Nusantara- Timur Tengah  dan di Sumatera Barat (Minangkabau) pada khususnya, baik sebagai pendidik-penyebar /pendakwah  agama maupun sebagai pejuang dalam menentang pemerintahan sekuler Indonesia dan melawan kolonialisme.

#Ulama Minangkabau-Untuk siri kedua ini sambungan siri pertama yang termuat di :
[ https://helmysyamza.wordpress.com/?s=Ulama+Minangkabau ]
penulis akan tampilkan  tokoh yang sangat berjasa dan terkenal dalam pengembangan syiar Islam di Dunia Islam  khususnya di Kepulauan Nusantara ini  yakni :

Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan julukan Hamka, yakni singkatan namanya, (lahir di Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 July 1981 pada umur 73 tahun) adalah sastrawan Indonesia, sekaligus ulama, ahli filsafat, dan aktivis politik.[1]

                                Rumah pusaka yang pernah dihuni Hamka bersama neneknya selama di Maninjau,direnovasi thn 2001 dijadikan Muzium Rumah Kelahiran Buya Hamka

Almarhum Buya Hamka ,yang lebih mesra dengan panggilan Buya dikalangan jamaah pengajiannya dan pengagumnya.
Bagi penulis sendiri Buya adalah Bapak dan Guru dalam bidang ilmu agama dan kesusateraan,filsafat.

Diakhir perjalanan hidupnya dalam suatu tugas penting di Kuala Lumpur untuk menandatangani (MOU) hak pengedaran hasil karya beliau berupa buku-buku agama,sastra,karya umum,filsafat dan lain nya.Penulis sempat bersua muka berjabat-tangan,berfoto,melepas rindu seorang anak kepada bapanya.,saat itu termakbul di Masjid Datok Keramat Kuala Lumpur,Malaysia.

Seterusnya,pada makalah ini penulis tidak akan menyentuh banyak tentang latar-belakang beliau baik seawal muda hingga akhir hayatnya.InsyaAllah mungkin dilain kesempatan pada makalah lain.
Dan kali ini penulis cerita sedikit tentang kisah beliau semasa di penjara oleh regim Presiden pertama Indonesia Almarhum Sukarno,kerana peristiwa itu ada sisi baik untuk kita teladani sebagai pendakwah Islam.

                                         Upacara Pemakaman Sukarno

Ketika Air Tuba Dibalas Air Susu [2]

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

 

Di sepetak ruang. Di sudut lorong-lorong gelap, berkelok, tak tahu di mana ujungnya. Ruangan itu tak kalah gelap. Hanya cahaya dari balik jendela kecil di atas sana yang lariknya menembus, membelai debu-debu beterbangan, menyapa lembaran kertas yang menumpuk. Lembaran yang begitu rapi. Lembaran yang beliau  tulis, selama dua tahun 4 bulan. Di balik jeruji besi, sebuah penjara ,di pinggiran Kota Sukabumi. Atas tuduhan makar, kezaliman regim tirani  tak berdasar.

 

Haji Abdul Malik Karim Amrullah, karib disapa Buya Hamka. Kalam suci Ilahi itu , dengan tekun, beliau  ulang hafalannya. Mengeja ayat demi ayat. Merenungkan satu per satu maknanya, hingga khatam, seluruhnya tergenapi. Ada haru membiru. Ada tangis berlapis senyum bahagia, di sana. Allah terasa begitu dekat.

 

Seperti Ibnu Taimiyyah dulu kala. Berteman secarik kertas, berikut tinta dan pena. Tempat menorehkan tulisan hasil perenungan. Berjilid-jilid karya keluar dari balik jeruji. Orang-orang berdatangan, meminta fatwa. Dari balik jeruji besi itu, dalam gelap ia menjawab. Jadilah berjilid-jilid Majmu Fatawa di sana. Tak ada rasa takut sama sekali. Bahwa penjara baginya, adalah syurga.

 

Malam harinya diisi dengan berdiri, rukuk, sujud. Sungguh, tak ada yang terpenjara di sana. Jiwanya merdeka. Tak ada yang terkekang di sana. Tangannya lincah menulis pesan penuh makna. Alam fikirnya mengembara, merenungi KemahaanNya.
Atau seperti laiknya sahabat seperjuangan di belahan bumi lain, Mesir, Sayyid Quthb. Regim tiran-tyrant  tak mampu membungkam alam fikirnya, meski jasad terpenjara. Bertemankan lembaran kertas, juga pena. Lahirlah karya monumental Tafsir Fii Dzilal Al Quran.

 

Buya Hamka, nyaris serupa. Tafsir Al Quran 30 Juz yang kelak dinamakan Tafsir Al Azhar beliau  rampungkan, ditemani dinginnya jeruji besi, di masa kepemimpinan Sukarno. Regim berganti, orde lama berganti regim yang dinamai orde baru. Tak disangka, Buya Hamka bisa menghirup udara bebas.

 

Hamka dan Sukarno:

 

Setelah bebas dari penjara, Hamka tak tahu kabar Sukarno, penguasa yang memenjarakannya kala itu. Ingatannya melompat ke masa ke belakang. Saat beliau  tanpa tedeng aling-aling mengritik pemerintahan yang akan memaksakan penerapan sistem demokrasi terpimpin.

 

“..Trias Politica sudah kabur di Indonesia….Demokrasi terpimpin adalah totaliterisme…Front Nasional adalah partai Negara…” teriak Hamka menggema di Gedung Konstituante tahun 1959, ketika memajukan Islam sebagai dasar Negara Indonesia dalam sidang perumusan dasar Negara. Tak lama, Konstituante dibubarkan oleh Sukarno. Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), parti tempat bernaung Buya Hamka pun dibubarkan paksa. Para pimpinannya ditangkap, dijebloskan ke balik jeruji.

 

Perbedaan pandangan politik Hamka yang dikenal Islamis, dengan Sukarno yang seorang sekularis, kian menajam dengan penangkapan dan pemenjaraan rival-rival politiknya. Meski begitu, tak ada sumpah serapah yang keluar dari seorang Buya Hamka kepada sang pemimpin kala itu. Saat dijemput paksa untuk langsung dijebloskan ke penjara tanpa proses pengadilan, Hamka hanya pasrah, bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla.

 

Pun setelah bebas, tak ada dendam di sana. Tak ada rasa ingin membalas, menuntut, atau melakukan tindakan membela diri. Padahal, ketika itu, buku-buku karangan Buya dilarang beredar oleh pemerintah. Tak ada rasa kesal di sana. Tak ada mengeluh, atau umpatan. Semua ia serahkan kepada Allah, sebaik-baik penolong.

 

Justru, demikian besar keinginan Hamka untuk bersua Sukarno. Mengucap syukur, kerananya,beliau bisa menyelesaikan Tafsir Al Azhar dari balik penjara. Kerananya, beliau  bisa begitu dekat dengan Allah. Kerananya, jalan hidupnya begitu indah, walau penuh ragam ujian.

 

Sukarno, dimanakah sekarang ia berada? Tak tahu..Begitu rindu, Hamka ingin bertemu dengannya. Tak ada marah dari seorang Buya. Telah lama..telah lama sekali, kalaupun Sukarno mengucap maaf, telah lama hatinya membuka pintu maaf selebar-lebarnya. Bahkan, ada syukur di sana.

 

Tapi dimana? Di mana Sukarno sekarang? Ingin sekali Buya bertemu dengannya. Pertanyaannya terjawab, namun bukan jawaban biasa.
16 Jun 1970, Ajudan Presiden Suharto, Mayjen Suryo datang menemui Hamka di Kebayoran, membawa secarik kertas. Sebuah pesan — bisa dibilang pesan terakhir — dari Sukarno. Dipandangnya lama-lama kertas itu, lalu dibaca pelan-pelan.

 

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

 

Mata begitu bening, seperti halnya kaca membaca tulisan ini. Sebuah pesan, dari seorang mantan pucuk pimpinan negeri. Dimana? Dimana Sukarno sekarang? Begitu rindu ingin bertemu dengannya. Mayjen Suryo berkata, “Ia..Bapak Sukarno telah wafat di RSPAD(Hospital Tentera). Sekarang jenazahnya telah di bawa ke Wisma Yoso.”

 

Mata ini semakin berkaca-kaca. Tak sempat..rindu ini berbalas. Hamka hanya dapat bertemu dengan sosok yang jasadnya sudah terbujur kaku. Ingin rasanya, air mata itu mengalir, namun dirinya harus tegar. Ia kecup sang Proklamator, dengan doa, beliau mohonkan ampun atas dosa-dosa sang mantan penguasa, dosa orang yang memasukkannya ke penjara.

 

Kini, di hadapannya, terbujur jasad Sukarno. Sungguh, kematian itu begitu dekat. Dengan takbir, ia mulai memimpin shalat jenazah. Untuk memenuhi keinginan terakhir Sukarno. Mungkin, ini isyarat permohonan maaf Sukarno pada Hamka. Isak tangis haru, terdengar di sekeliling.

 

Usai Shalat, selesai berdoa, ada yang bertanya pada sang Buya,”Apa Buya tidak dendam kepada Sukarno yang telah menahan Buya sekian lama di penjara?”

 

Dengan lembut, sang Buya menjawab,” Hanya Allah yang mengetahui seseorang itu munafik atau tidak. Yang jelas, sampai ajalnya, dia tetap seorang muslim. Kita wajib menyelenggarakan jenazahnya dengan baik.

 

“Saya tidak pernah dendam kepada orang yang pernah menyakiti saya. Dendam itu termasuk dosa. Selama dua tahun empat bulan saya ditahan, saya merasa semua itu anugerah dari Allah kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan Kitab Tafsir Al Quran 30 Juz. Bila bukan dalam tahanan, tidak mungkin ada waktu saya untuk mengerjakan dan menyelesaikan pekerjaan itu.”

Sungguh, air mata menitis mendengar penjelasan Buya. Begitu luas jiwanya, hingga permasalahan, baginya ialah setitik tinta, yang dititiskan ke luasnya samudera. Tak ada bekas di sana. Tak pernah ada rasa dendam sama sekali. Dengan senyum dan tenang, beliau  jalani semua lika-liku kehidupan.
Wallahumusta’an.
Referensi :
[1] http://id.wikipedia.org/
[2] Naskah asal oleh : Rizki Lesus-Penggiat Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)
Editor by KI Panji Al-Samathrah,

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s