Tauladan Jatuhnya Andalusia:”Pemimpinnya Hidup Mewah & Glamour”


Lukisan Penyerahan Granada oleh-Boabdil

Editor by Wilhelmina

 “Waspada dirimu dari kemewahan, kerana sesungguhnya para hamba Allah bukanlah orang-orang yang bermewah-mewah.” (HR. Ahmad)

 

Variety Explorer.com-Bagi kaum muslimin, negeri Andalusia adalah sepenggal kenangan yang selalu hinggap dalam ingatan. Kenangan tentang betapa kaum muslimin dan risalah Islam yang dibawanya, pernah menguasai sebuah wilayah di benua Eropah selama kurang lebih 800 tahun atau 8 abad lamanya. Sebuah rentang waktu yang cukup lama, dan meninggalkan kesan yang cukup mendalam.

Andalusia, negeri indah dan eksotik, tunduk dalam pemerintahan Islam dari tahun 92 H/711 M hingga tahun 797 H/1492 M. Kekhalifahan Islam dan Dinasti-Dinasti kaum muslimin, berhasil mengubah wilayah di daratan Eropah itu menjadi simbol kegemilangan peradaban dan kekuatan kaum muslimin. Umat Islam mengisinya dengan tinta emas kejayaan dan keunggulan peradabannya.

Ketika wilayah Andalusia, yang saat ini terletak di Sepanyol dan sebagian kecil Portugal berada di bawah kekuasaan kaum muslimin, jejak-jejak kecermelangan peradaban mereka menjadi rujukan bangsa-bangsa Eropah.[1]

Bangunan-bangunan dengan estetika dan kemegahan tegak berdiri. Ilmu pengetahuan dan penelitian berkembang pesat. Para sejarawan yang meneliti negeri Andalusia banyak menceritakan bagaimana umat Islam yang bermukim di wilayah itu berhasil memberikan sumbangsih bagi peradaban dan ilmu pengetahuan ke segala penjuru Eropah.

Jika hari ini kita mengenal kota-kota indah seperti Barcelona, Madrid, Valencia, Sevilla, Granada, Malaga, Cordova, dan sebagainya yang hari ini terkenal   sebagai basis kelab-kelab  bolasepak  ternama serta menjadi tujuan wisata dunia, maka ketahuilah bahwa pada masa lalu kota-kota tersebut dihuni oleh kaum muslimin, dan berada di bawah pemerintahan Islam.

Namun kejayaan selama kurang lebih delapan abad lamanya, harus berakhir dengan kenangan yang memilukan, ketika Kerajaan Granada yang dipimpin oleh Abu Abdillah Muhammad Ash-Shagir (atau disebut dengan Boabdil dalam logat  Eropah). dari Bani Al-Ahmar, berhasil ditaklukkan oleh aliansi kerajaan- Kristian di Andalusia. Granada jatuh ke tangan Kristian pada 1492 M, diiringi dengan derai  airmata sang penguasa muslim.

Sambil memandang Istana Al-Hambra yang megah dari atas bukit, Abu Abdillah bin Muhammad sang penguasa Granada, berlinang air mata. Sang ibu, Aisyah Al-Hurrah, yang berdiri di sampingnya, mengatakan, “Kini kau menangis seperti seorang perempuan, padahal kau tak pernah melakukan perlawanan sebagaimana layaknya seorang lelaki sejati…”

Apa yang menjadi penyebab runtuhnya kekuasaan Islam di Andalusia?

 

Sejawaran Mesir Dr. Raghib As-Sirjani dalam bukunya berjudul “Qishah Al-Andalus” (Kisah Andalusia) menjelaskan setidaknya ada tiga faktor penting yang menyebabkan kejayaan Islam di negeri Andalusia runtuh dan hanya meninggalkan kenangan yang pahit dan kepedihan

Ketiga faktor tersebut adalah:

(1). Gaya hidup yang mewah dan glamour dari para pemimpin Islam.

(2) Sibuk dengan urusan dunia dan meninggalkan semangat jihad.

(3). Merebaknya berbagai kemaksiatan dan kemungkaran yang dibiarkan.

Terkait dengan sikap hidup bermewah-mewahan dan godaan duniawi pada masa kekuasaan Islam di Andalusia itu, Dr. Raghib As-Sirjani mengatakan,”Ini merupakan faktor yang amat penting, yakni godaan duniawi terhadap pemeritahan Muwahidun dengan banyaknya harta yang mereka miliki. Inilah yang kemudian mendorong mereka bergaya hidup mewah, berfoya-foya, dan saling berseteru memperebutkan kekuasaan..”

Dr.Raghib As-Sirjani melanjutkan,”Tenggelam dalam kemewahan, cenderung pada kesenangan nafsu duniawi, dan bergelimang dalam kenikmatan-kenikmatan sementara. Inilah faktor utama yang mengantarkan kekuasaan Islam pada akhir yang sangat menyakitkan. Masa-masa keterpurukan dan kejatuhan sering terkait dengan banyaknya harta, tenggelam dalam kesenangan-kesenangan, rosaknya generasi muda, dan penyimpangan besar pada tujuan…”

  • Mereka yang bergelimang dalam kehidupan yang gemerlapan  dan terjerembab  dengan gaya hidup yang mewah, hatinya akan mudah dilalaikan dari mengingat Allah Ta’ala, semangat juangnya akan semakin melemah, dan jiwanya menjadi pengecut.
  • Kerana itu, ahli hikmah mengatakan, “Keberanian tidak akan didapati pada orang yang mencintai dunia!”

Dunia memang melalaikan dan membuat para pemujanya menjadi alpa. Harga diri dan prestige-kehormatan,  diukur dengan penampilan yang mewah  dan glamour, banyaknya uang, barang-barang yang mewah, dan harta yang berharga.

Sehingga jika semua itu tak ada, maka orang yang mencintai dunia merasa hidupnya tak berharga dan ber-prestige. Harga dirinya tak melambung tinggi, dan lobi-lobi kekuasaanya tak dihargai. Identiti  Islam yang seharunya menjadi ‘pakaian’ yang menutup rapat tubuhnya berganti menjadi benda-benda yang melambangkan kemewahan. Penyakit al-wahn; Cinta dunia dan benci mati (hubbud dunya wa karahiyatul maut) menjadi penyakit ganas yang bisa melumpuhkan kekuatan umat Islam.

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan dalam berbagai firman-Nya,

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (mentaati Allah), tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sewajarnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.” (Al-Israa”: 16)

“Dan janganlah kamu tujukan pandangan matamu kepada kenikmatan yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan dari mereka, (sebagai) bunga kehidupan di dunia, agar Kami uji mereka dengan (kesenangan) itu. Kurnia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal.” (Thaha: 131)

“Dan bersabarlah engkau (Muhammad) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keredhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (kerana) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia.” (Al-Kahfi: 28)

“Mereka mengambil harta benda dunia yang rendah ini dan berkata, “Kami akan diberi ampun.” (Al-A’raf: 169)

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pun telah mengingatkan, bahwa bergelimangnya harta dan bermewah-mewahan dalam hidup adalah sumber bagi kelalaian. Beliau yang mulia, sosok yang hidup dalam kesederhanaan dan kebersahajaan mengatakan,

“Maka demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan dari kalian. Tetapi yang aku takutkan adalah jika dunia dibentangkan untuk kalian, sebagaimana telah dibentangkan atas orang-orang sebelum kalian. Lalu kalian pun berlomba-lomba mengejarnya, sebagaimana orang-orang sebelum kalian mengejarnya. Hingga akhirnya, (harta itu) membinasakan kalian seperti ia telah membinasakan mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Apabila kalian telah berjual beli dengan cara ‘inah , dan kalian telah mulai mengambil ekor-ekor sapi (kiasan bagi mereka yang sibuk dengan urusan dunia), lalu kalian telah redha dengan bercocok tanam dan kalian meninggalkan jihad, niscaya Allah akan menimpakan kehinaan atas kalian yang tidak akan dicabutnya hingga kalian kembali kepada agama kalian.” (HR. Abu Dawud, 2462. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah)

“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan pada kalian sepeninggalku adalah apa yang akan dibukakan untuk kalian dari keindahan dan perhiasan dunia.” (HR. Al-Bukhari).

Demikianlah, kemewahan dunia bisa membuai dan menjerumuskan manusia pada kelalaian, kelemahan dan kehancuran. Bahkan para sahabat pun pernah diuji dengan gelumangnya harta saat terjadi Perang Uhud, dimana pasukan pemanah yang harusnya bertahan, turun ke bawah memperebutkan harta ghanimah. Ketika mereka sibuk dengan harta tersebut, pasukan musuh menghabisi mereka secara membabi buta. Allah Ta’ala mengingatkan peristiwa ini dalam firman-Nya, “Diantara kalian ada yang menginginkan dunia, dan diantara kalian ada yang menginginkan akhirat…” (Ali Imran:152)

Runtuhnya Andalusia menjadi pelajaran penting, bahwa kekuasaan sehebat apapun, jika ia terjerumus dalam gemerlapan  kemewahan dunia yang melalaikan, akan berakhir dengan keruntuhan. Jika 800 tahun lamanya kekuasaan Islam di Andalusia bisa runtuh dan beralih menjadi emperium Kristian, maka bagaimana dengan negara kita? Renungkanlah…!

Apa tauladan kejatuhan Andalusia buat Malaysia dan Indonesia:

Dalam kontek Indonesia saya telah tulis artikelnya sebelum ini dengan tajuk:
https://helmysyamza.wordpress.com/2013/10/08/capres-2014-agenda-kristianisasi-indonesia-2020/#more-2000
Dimana empayar Kristian dengan kekuatan keuangan dan politiknya  kini berusaha menakluki Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan target pada tahun 2020 merubah Indonesia jadi Negara Kristian Republik Indonesia. Wal ‘iyaadzu billaah.

Dan di Malaysia juga  Budaya, Etika, Integriti hampir lupus samasekali. Sebaliknya digantikan dengan pemerintahan yang apabila berkuasa mencari jalan untuk mengaut kekayaan dan menindas rakyat, supaya mereka kekal berkuasa selama-lamanya.[2]

Tahun demi tahun Laporan Ketua Audit Negara, menunjukkan bagaimana berlaku pembaziran, rasuah, penyelewengan dan menaikkan harga, tender melalui rundingan, akibatnya berbilion-bilion ringgit wang negara hilang, tetapi umat Islam Malaysia seolah-seolah tidak peduli perkara yang berlaku ini.

Pendedahan Audit Negara adalah laporan pada tahun 2012 adalah siaran ulangan yang sering berlaku terutama dalam 20 tahun kebelakangan ini penyelewengan rasuah dan sebagainya, pembaziran wang rakyat dan negara, rakyat tidak ambil tahu dan tidak ambil peduli.

Rasuah dan penyelewengan seolah-seolah irama muzik yang mengasyikkan kepada orang Islam di Malaysia ini.

Itulah sebabnya, terutamanya orang Islam tidak melakukan budaya amal makruf nahi munkar. Inilah usaha kita perlu, kita daulatkan semangat pentadbiran Islam yang berdasarkan al-Quran dan Sunnah, dan orang Islam itu sendiri mesti berani mengambil segala bentuk hikmah yang berlaku di negara-negara lain yang mereka juga antaranya mengambil daripada kehebatan pentadbiran atau pun budaya atau pun tamadun yang dijelmakan oleh pemerintahan Islam yang terdahulu.

Salah satu perkara yang perlu dilakukan untuk mengelakkan pembaziran, penyelewengan, rasuah, antaranya ialah rakyat mesti bersedia menukar pemerintahan jikalau pemerintah itu menyeleweng. Dan pemerintah baru akan membaiki keadaan, jikalau menyeleweng lagi, ditukar pula.

Dan kita berharap  rakyat Malaysia  tidak jemu untuk terus memperkatakan, berjuang, menerangkan kepada rakyat tentang faedah sifat amal makruf nahi munkar yang dijelmakan oleh pentadbiran dan tamadun Islam yang sekarang ini diambil oleh orang lain dan dilaksanakan di negara mereka.

Negara yang sekarang ini paling rendah rasuah ialah Denmark, Sweden, Switzerland, negara-negara Scandinavia. Orang Islam yang selalu menyebut “pemberi rasuah dan penerima rasuah, tempatnya di dalam neraka”, sekarang ini orang Islamlah antara yang paling tinggi mengamalkan rasuah di atas muka bumi ini.

Rujukan Penulisan :

[1]  Pustaka Al-Kautsar dan Pensyarah STID Mohammad Natsir Jakarta
[2]  http://wargamarhaen.blogspot.com/2013/10/benarkah-umat-islam-tidak-senstif/

Editor Pustaka Al-Kautsar dan Dosen STID Mohammad Natsir Jakarta – – See more at: http://www.arrahmah.com/rubrik/pelajaran-dari-runtuhnya-andalusia-bermewah-mewahan-sumber-kehancuran.html#sthash.MNknlzup.dpuf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s