Fenomena “Taubat” dari Jalan Jihad [1/2]


Illustrasi

Berbalik atau berpatah arang dari keyakinan atau dikenal juga dengan istilah taraaju’, ternyata telah ada sejak masa Rasulullah saw. Ketika beliau masih hidup dan Al-Qur’an masih turun, fenomena taraaju’ sudah ada. Rajal bin Unfuwah, misalnya.  Ia tak hanya keluar dari Islam, tetapi menguatkan dan menyokong kenabian palsu Musailamah al-kadzdzaab.

Para shahabat menganggap fitnah Rajal bin Unfuwah lebih besar daripada Musailamah, sebab nabi palsu tersebut tidak pernah bertemu dengan Rasulullah dan sebelumnya dikenal sebagai tukang sihir. Kesesatannya lebih nyata sejak awal. Berbeda dengan Rajal bin Unfuwah , dia pernah bertemu dan menggali ilmu kepada Nabi, sehingga ketika dia menguatkan Musailamah fitnahnya lebih besar.

Taraaju’ secara bahasa maknanya mengaku salah, mundur dari kancah perjuangan, mencabut pernyataan, menyesal dan menyatakan kembali. Dalam kancah jihad, taraaju’ merupakan perkara yang sering terjadi, baik pada tingkat individu maupun kolektif.

 

Mereka yang menyatakan taraaju’ berarti mengakui bahwa prinsip yang dipeganginya dalam berkonfrontasi dengan para thoghut itu salah. Mereka kemudian mundur dan meninggalkan medan yang sebelumnya mereka jaga dan bela. Mereka menyesal dan mencabut permusuhan. Mereka kembali kepada posisi sebagai ‘muslim’ yang moderat, insklusif dan tidak lagi memerangi kekafiran.

 

Persepsi Barat dan Program Penjinakan Aktivis Islam

 

Angel Rabasa dkk. dari RAND Corporation dalam bukunya De-radicalizing Islamist Extremists mengklasifikasi model taraaju’ bagi para aktivis Islam yang mereka inginkan. Dan hal itu direkomendasikan untuk diluncurkan dalam bentuk program. Ada dua klasifikasi besar, yakni de-radicalization dan dis-engagement.

 

Pertama adalah keadaan dimana unsur gerakan Islam jihadis yang semula aktif berjihad memerangi Amerika Syarikat  dan sekutu baratnya, berbalik meletakkan senjata. Mereka menganggap bahwa memerangi barat adalah tindakan yang salah. Yang benar adalah bersahabat dengan barat dan menerima dominasinya atas dunia Islam. Penempatan 1juta.500.000 personel tentara AS dari ujung barat Afrika hingga ujung timur Mindanao,Philipina  dianggap sebagai kenyataan yang harus diterima apa adanya.

 

Kedua adalah keadaan dimana unsur jihadis yang semula aktif memerangi AS dan sekutu baratnya, mau menerima kenyataan dominasi barat. Ia meletakkan senjatanya, hidup ‘normal’, tidak mau melakukan perlawanan bersenjata. Perbedaannya dengan yang pertama, ia masih meyakini bahwa jalan untuk membela dan memenangkan Islam adalah dengan jihad fie sabiilillah.

 

Dari dua klasifikasi besar tersebut, ada kondisi pelaku yang dapat ‘dinaikkan’ statusnya dari berhenti, menarik diri dan menyesal, meningkat menjadi  sekutu kolaborasi. Wujudnya ialah membantu musuh Islam ‘menyadarkan’ teman-temannya yang masih aktif mendukung gerakan Islam. Tentu tidak percuma. Semua itu dengan berbagai habuan-habuan  fasilitas, mulai dari jaminan keamanan dari mereka (bukan jaminan dari siksa Allah), kesejahteraan hidup, biaya operasional hingga modal usaha.

 

Musuh juga tahu bahwa sebagian jihadis mau menerima bantuan tetapi tidak mau diajak bekerjasama. Mereka menerapkan prinsip gradasi( perubahan bertahap) perlakuan terhadap musuh dengan baik.

Program  de-radikalisasi yang direkomendasikan para pemikir lembaga penelitian Depsrtmen Pertahanan  AS itu, yang kemudian diadopsi oleh pemerintah negara-negara yang tergabung dalam koalisi memerangi teroris (baca Islam), adalah bagian dari uslub peperangan. Para mujahid tidak boleh rabun dan teledor, apalagi tergiur dengan kucuran proyek ekonomi yang terus ditebar.
Bukankah Allah telah berfirman :

 

“Dan janganlah kamu jual perjanjian (dengan) Allah dengan harga murah, karena sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl 95-96).

 

Tabiat Jalan Islam

 

Jalan penegakan agama Allah dengan jihad bukan hamparan permadani yang terbentang, sebaliknya justru tebaran onak dan duri, serakan tulang-belulang dan tengkorak, ceceran darah dan luka, menanjak menuju puncak ketinggian amal. Barang siapa yang memiliki persepsi penegakan agama adalah hamparan karpet merah dan percikan parfum serta nyamannya istirahat, maka pemahaman itu akan menipunya untuk menjual agama dan saudara-saudara seagama atas nama agama.

 

“Hai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih? Yaitu kamu beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui.” (Ash-Shaff 10-11).

 

Nabi Muhammad SAW  juga telah menggambarkan, “Pokok pangkal urusan adalah Islam, tiang-tiang tegaknya adalah sholat dan puncak ketinggiannya adalah Jihad fie sabilillah.”

 

Tabiat jalan itu juga digambarkan dengan jelas saat Rasulullah menanggapi keluhan sahabat Khabbab bin Al-Art diawal masa kenabian. Ketika itu Khabbab mengadukan penyiksaan yang dialaminya. Nabi saw menjawab, “Pada zaman sebelum kamu ada seorang laki-laki yang ditanam ke dalam tanah, lalu dibawakan gergaji dan diletakkan di kepalanya. Maka digergajilah  tubuhnya menjadi dua. Namun hal itu tidak menghalanginya dari tetap teguh kepada dien-nya. Ada juga yang dipasang sisir besi, sehingga tidak ada yang tersisa daging melekat di tulangnya. Namun hal itu tidak menghalanginya untuk tetap teguh menggenggam agama-nya…”(Al-Bukhari).

 

Memahami tabiat jalan, akan memudahkan seorang hamba untuk mempersiapkan bekal menempuh jalan itu. Apalagi jika hamba tersebut tak berhenti belajar dan memperdalam detail tabiat jalan itu, peluang untuk selamat menempuhnya lebih besar. Juga, ketika suatu saat kerana keterlanjurannya  dan kelalaiannya menyimpang dari jalan, hamba tadi lebih mudah untuk kembali. Begitulah karakter kaum Rabbaniyyun, Allah Ta’ala menyematkan sifat khusus, “bi maa kuntum tu’allimuun al-kitaab wa bi maa kuntum tadrusuun, “tersebab kalian selalu mengajarkan Al-Qur-aan dan senantiasa mempelajarinya”. [bersambung]

Naskah: Rudy N
Editor: Wilhelmina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s