Majelis Syari’ah Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) : Pandangan Terhadap Demokrasi dan Pelakunya

Jamaah Ansharut Tauhid.

Editor by Wilhelmina

Jakarta – Majelis Syari’ah Jama’ah Ansharut Tauhid (JAT) memberikan pandangan rasmi terkait hukum Demokrasi dan pelakunya. JAT menilai demokrasi merupakan sebuah sistem kufur dan bukan sebuah Syura, kerana telah mengambil hak Allah sebagai pembuat hukum. Tetapi, kekufuran demokrasi adalah Syirik Akbar Khafiyah (perkara yang samar) bukan Zhahirah (perkara yang jelas), sehingga penghukuman terhadap pelakunya berbeda-beda.

“Ini yang kita terangkan juga, bahwa kekafiran demokrasi tidak serta merta langsung membuat pelakunya kafir tanpa ada perincian atau tanpa ada penjelasan. Ini hasil rasmi Muktamar JAT di Bima-Pulau Sumbawa province  Nusa Tenggara Barat” kata Anggota Majelis Syari’ah JAT, Ustadz Fuad al Hazimi dalam wawancara bersama kiblat.net, Jakarta, Khamis 10 Oktober 2013.

Dalam hal ini, Majelis Syariah JAT merinci penghukuman terhadap demokrasi dengan membagi ke dalam dua sisi.
Pertama, ashlul hukmi atau dasar penghukuman demokrasi sebagai syirik akbar khafiyah. Akan tetapi, pada sisi Kedua dalam hal tanzilul hukmi alal waqi (aplikasi hukum dalam kekinian) perlu dilihat kondisi masing-masing individu dan masing-masing organisasi.

“Tidak serta merta kemudian kami bersikap parti ini kafir atau organisasi ini kafir, Tanzilul hukmi alal waqi memerlukan banyak kriteria,” jelasnya.

Fuad pun membantah, tuduhan BNPT dalam forum pertemuan organisasi-organisasi Islam, bahwa Ustadz Abu Bakar Ba’asyir telah mengkafirkan semua masyarakat. “Saya sudah tabayun dengan Ustadz Abu, beliau sependapat bahwa demokrasi itu khafiyah dan perlu perincian dalam menghukum pelakunya,” tegas Fuad.

JAT memandang demokrasi sebagai syirik akbar khafiyah, menurut Fuad, berdasarkan kajian yang dipaparkan oleh ulama Mimbar Tauhid wal Jihad, Syaikh Abu Munzhir Asy Syinqithi dalam fatwanya yang berjudul “Apakah Penduduk Mesir Dianggap Kafir Setelah Mengikuti Pemilihan Umum  Legislatif?”.

Dalam tulisan tersebut, ada beberapa alasan mengapa masyarakat Mesir tidak dikafirkan.
Pertama, banyak orang-orang yang berilmu diburu dan suara mereka yang menyampaikan kebenaran tidak sampai kepada masyarakat umum, mereka tidak mendapat akses mendakwahkan tauhid seperti mudahnya orang mendakwahkan demokrasi.

Kedua, majoriti  para syaikh yang terkenal di kalangan masyarakat luas berfatwa akan bolehnya pilihan raya  dan sebagiannya mengatakan wajib, sehingga membuat orang awam bingung terhadap hakikat hukum demokrasi.

Ketiga, Masyarakat umum dalam konteks Mesir dikacaukan oleh undang-undang pasal – 2 yang menyatakan sumber hukum diambil berdasarkan Syari’at Islam.

Keempat, demokrasi merupakan perkara baru, banyak umat yang tidak tahu bahwa demokrasi dapat membatalkan tauhid dan menyelisihi syari’at.

“Ini point yang kami garis bawahi dan merupakan konklusi serta menjadi pandangan JAT dalam memandang demokrasi, Syaikh Abu Munzir berkata; ‘masalah-masalah peran-role  serta dalam pilihan raya  adalah masalah khafiyah dengan alasan yang sudah disebutkan’, ini sangat relevan di Indonesia. Walaupun Syirik akbar namun itu khafiyah(samar)” papar Fuad.

Menurut Fuad, sebagian orang ada yang ketika memandang ashlul hukm demokrasi sebagai syirik akbar, mereka suka menggunakan logika matematika bila 1+1 adalah 2, demokrasi adalah dien barangsiapa yang menggunakan dien selain Islam adalah kafir, maka dia murtad.

“Padahal terkait pelaku demokrasi tidak bisa di-gebyah uyah atau di-generalisir,” cetusnya.

Lebih dari itu, Fuad mengutip perkataan Ustadz Rasyid Ba’asyir yang mengatakan bahwa sebanyak apapun kita memberikan penjelasan kepada umat, umat saat ini tetap dalam keadaan bodoh. Di zaman Ibnu Taymiyah pun demikian, bahkan beliau tidak menghukumi orang yang bertawasul secara umum, beliau tetap memberikan perincian tawasul seperti apa, apakah sudah menyalahi syari’at.

“Bahkan sekarang banyak pandangan yang mengatakan setiap orang yang ke kuburan adalah Quburiyun, Quburiyun adalah musyrikun. Padahal orang yang ke kuburan perlu dirinci kembali sedang apa mereka di sana,” ucap Fuad.

One comment

  1. Disclaimer

    Semua makalah-artikel & fail | journal video, foto-foto,yang dipostkan ke blog Variety Explorer.com adalah untuk bacaan umum semata-mata. Admin tidak berniat sama sekali untuk mempengaruhi fikiran atau menggurui pembaca blog ini. Artikel-artikel yang terdapat dalam blog ini didapati daripada pelbagai sumber seperti website & daripada pelbagai blog. Jika Anda adalah pemilik hakcipta atau pemilik sebarang bahan di dalam blog ini, sila hubungi admin untuk di remove atau memberi kredit ke blog tersebut. Untuk artikel atau entri yang ditulis oleh admin anda bebas untuk menyebarkkannya.
    (tapi jangan lupa kredit atau link-url blog ini ;https://helmysyamza.wordpress.com/Variety Explorer.com)

    Kepada sesiapa yang ingin berkongsi sebarang info-artikel atau cerita yang menarik boleh email terus makalah anda ke email kami:
    helmysyamza@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s