#Korupsi ; Akil Mochtar-“Seolah-Olah Bumi Ini Mau Runtuh”

Akil Mochtar Usai Diperiksa KPK

Akil Mochtar selepas  Diperiksa KPK

Reporter by Wilhelmina

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad menilai, kes tertangkapnya Ketua Mahkamah Konstitusi Indonesia  Akil Mochtar yang kini nonaktif kerana diduga menerima rasuah penyelesaian sengketa pilihan raya daerah di MK merupakan “precedent” buruk bagi lembaga peradilan.

“Malu. Sangat memprihatinkan, seolah-olah bumi ini mau runtuh,” kata Abraham Samad di Jakarta, Sabtu 5 Oktober 2013.

Abraham semula tak percaya, seorang ketua lembaga peradilan konstitusi yang keputusannya final dan mengikat itu justru terjerat kes korupsi. “Ini menjadi “precedent” buruk bagi penegak hukum,” ujarnya.

Menurutnya,Komisi Pemberantasan Korupsi( KPK) sebagai lembaga antikorupsi memiliki kewajiban untuk membanteras  kes korupsi di lembaga yang dipimpin Akil Mochtar dan memperbaiki negeri ini dari korupsi.

Sementara itu, ditempat terpisah, mantan Hakim MK, Leica Marzuki, mengatakan, tertangkap tangannya seorang Ketua MK dalam kes korupsi merupakan yang pertama dalam sejarah sejak berdirinya MK pada tahun 2003. “Saya telah bersusah payah membangun martabat, marwah MK tiba-tiba runtuh dalam waktu sedetik,” ujar Leica Marzuki saat ditemui wartawan  di kawasan Kuningan, Jakarta.

Namun Ia mengaku tidak putus asa. Sebab Ia meyakini, hakim-hakim MK lainnya akan bangkit mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga yang pernah menaikkan namanya itu.

Terkait skandal suap di MK, Leica mengakui besarnya kewewenangan MK seringkali membuat pihak-pihak yang berperkara untuk menggoda para hakim dengan iming-iming uang dalam jumlah yang besar. Tapi tidak semua hakim konstitusi bisa dipengaruhi.

“Saya sendiri pernah ditawari, tapi Alhamdulillah, tidak (tergiur),” ujar mantan Hakim Agung ini.

Akil Mochtar ditetapkan sebagai tersangka suap sengketa Pilihan Raya Daerah di Kabupaten Gunung Mas bersama anggota Dewan Perwakilan Rakyat(DPR) Chairun Nisa, Bupati Gunung Mas Hambit Bintih dan Pengusaha Cornelis Nalau.

Sedangkan tersangka untuk kes rasuah sengketa Pilihan Raya Daerah di Kabupaten Lebak, Akil Mochtar, Pengusaha Tubagus Chaery Wiradana dan seorang Lawyer  Susi Turandayani.

Akil, Chairun Nisa dan Susi Tur Andayani sebagai pihak penerima diduga melanggar Pasal 12-c Undang-undang Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP, atau Pasal 6 ayat 2 Jo Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP. Dengan ancaman hukuman maksimum 20 tahun penjara dan denda Rp1 billion

Sementara Hambit, Cornelis Nalau dan Tubagus Chaery sebagai pemberi diduga melanggar Pasal 6 ayat 1- a Undang-undang Tipikor Jo Pasal 55 ayat 1 kesatu KUHP. Dengan ancaman hukuman maksimum 5 tahun penjara dan denda Rp250 juta(sekitar RM.100.000)

Sabtu siang, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan memberhentikan sementara Akil Mochtar dari jawatan ketua MK.
(Kantor Berita Antara)

Pandangan Islam Terhadap Rasuah Dan Penyelesaiannya

Rasuah didefinisikan oleh para ulama fiqh sebagai semua harta/wang yang yang diberikan kepada seseorang pemerintah, hakim, atau pegawai kerajaan dengan maksud untuk memperolehi keputusan mengenai suatu kepentingan yang semestinya wajib diputuskan tanpa pembayaran dalam bentuk apapun.

Pengharaman rasuah adalah jelas berdasarkan nash-nash Al-Qur’an dan Hadis.

Allah swt berfirman: “Dan janganlah ada diantara kalian yang memakan harta benda sebahagian yang lain dengan jalan yang batil, dan janganlah menggunakannya sebagai umpan (untuk menyuap) para hakim dengan maksud agar kalian dapat memakan harta orang lain dengan jalan dosa, padahal kalian mengetahui (hal itu)” [Terj;AlQuran-surah- Al Baqarah (2): 188].

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hurairah ra. bahawasanya Rasululah saw bersabda: “Laknat Allah terhadap pemberi dan penerima rasuah di dalam kekuasaan” .

At Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadis serupa berasal dari Abdullah bin ‘Amr, bahawasanya Rasulullah bersabda: “Laknat Allah terhadap pemberi dan penerima rasuah”

Hadis lain mengenai ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, Al-Bazar dan Al-Hakim, berasal dari Tsuban yang mengatakan: “Rasulullah saw melaknati pemberi , penerima rasuah, dan orang yang menyaksikan rasuah.”

Abu Dawud juga meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang kami berikan tugas untuk melakukan suatu pekerjaan dan kepadanya telah kami beri rezeki (imbalan gaji), maka apa yang diambil olehnya selain itu adalah kecurangan.” Wallahua’lam,

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s