Cara Penyelesaian Haji dan Bayar Hutang

Editor by Wihelmina

Raih Amal Shaleh -Sebarkan Artikel Ini,!

 

Cara Penyelesaian Haji dan Bayar Hutang-Menunaikan ibadat haji merupakan salah satu ibadah dambaan ramai  muslim dan muslimah. Dan ibadah ini diwajibkan kepada mereka yang mampu melaksanakannya, mampu secara fisik, perbekalan, juga tidak terhalang udzur-udzur yang diperbolehkan syari’at. Namun, kerap terjadi seseorang sudah memiliki perbekalan yang cukup dan mampu secara fisik namun ia memiliki hutang. Bagaimana solusinya, manakah yang harus ia dahulukan? Berikut ulasannya, diambil dari artikel konsultasi voa-islam.com.

Perlu diketahuiterlebihdahulu,CaraPenyelesaian Haji dan Bayar Hutang,persoalan hutang sangat penting. Seseorang tidak boleh berhutang kecuali sangat memerlukan. Kerana terkadang hutang bisa menjadi penghalang seorang mukmin dari syurga, sampaipun yang mati syahid. Hal ini disebutkan dalam hadits, ada seseorang datang kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu berkata, “Bagaimana menurutmu Ya Rasulullah, jika aku terbunuh di jalan Allah dalam kondisi sabar, berharap pahala dan mara terus tidak kabur, apakah Allah akan menghapuskan kesalahan-kesalahanku?” Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya.” Namun ketika orang tersebut berbalik, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memanggilnya atau memerintahkan untuk dipanggilkan dia. Lalu Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bertanya, “Apa yang kamu katakan tadi?” Lalu orang tersebut mengulangi pertanyaannya, dan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Ya, kecuali hutang, begitulah yang dikatakan Jibril.” (HR. Muslim)

Imam al-Nawawi rahimahullaah berkata, “Adapun sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam, kecuali hutang, mengandung peringatan terhadap hak-hak sesama manusia. Sedangkan jihad dan kesyahidan serta yang lainnya termasuk amal-amal kebajikan yang tidak bisa menggugurkan hak-hak sesama. Dan hanya bisa menggugurkan hak-hak Allah Ta’ala. (Syarah Shahih Muslim, Imam al-Nawawi: 5/28)

 

Maksud dari hutang di sini, apa saja yang terkait dengan tanggungannya dari hak-hak kaum muslimin. Kerana orang yang berhutang tidaklah lebih patut mendapatkan ancaman dan tuntutan daripada perompak, penyeluksaku, penghianat, dan pencuri.” (Tuhfah al-Ahwadzi: 5/203)

Dan disebutkan dalam hadits lain dari Muhammad bin Jahsy, beliau  berkata, “Kami pernah duduk di tempat jenazah bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau mengangkat pandangannya ke langit lalu meletakkan telapak tangannya di dahinya sambil bersabda, “Maha Suci Allah, betapa keras apa yang diturunkan Allah dalam urusan hutang-piutang?” Kami diam dan meninggalkan beliau. Keesokan harinya kami bertanya, “Ya Rasulullah, perkara keras apa yang telah turun?” Beliau menjawab, “Dalam urusan  hutang-piutang. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya seorang laki-laki dibunuh di jalan Allah kemudian ia dihidupkan lalu dibunuh kemudian dihidupkan lalu dibunuh (lagi) sedang ia memiliki hutang, sungguh ia tak akan masuk Syurga sampai dibayarkan untuknya hutang tersebut.”( HR. Al-Nasa’i dan al-Hakim, beliau menshahihkannya. Imam al-Dzahabi menyepakatinya. Sementara syaikh al-Albani menghassankannya dalam Ahkam al-Janaiz, hal. 107)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَ يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

Siapa yang mengambil (berhutang) harta manusia dan ingin membayarnya maka Allah akan melunaskannya. Sementara siapa yang berhutang dengan keinginan menelantarkannya (tidak membayar), maka Allah akan benar-benar membinasakannya.” (HR. Al-Bukhari)

Dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

Jiwa seorang mukmin tergantung kepada hutangnya sehingga dibayarkan.” (HR. Ahmad dan al-Tirmidzi, beliau mengatakan hadits hasan. Syaikh al-Albani juga menghassankannya dalam Shahih Sunan Ibnu Majah 2/53)

Maka bagi orang yang berhutang hendaknya berniat membayarnya sehingga kalau tidak sampai memiliki sesuatu untuk membayarnya, dan dia mati dengan niat ini, sesungguhnya Alah akan membayarkannya sebagaimana yang disebutkan dalam haidts Maimunah radhiyallaahu ‘anha, Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدَّانُ دَيْنًا يَعْلَمُ اللَّهُ مِنْهُ أَنَّهُ يُرِيدُ أَدَاءَهُ إِلَّا أَدَّاهُ اللَّهُ عَنْهُ فِي الدُّنْيَا

Tidaklah seorang muslim berhutang dengan satu piutang yang Allah mengetahui bahwa dia ingin membayarnya kecuali Allah akan membayarkannya di dunia.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Hakim, beliau menshahihkannya. Imam Dzahabi menyepakatinya sedangkan Syaikh al-Albani menshahihkannya dalam shahih Sunan Ibnu Majah: 2/51)

 

Dari Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

Hutang itu ada dua macam, barangsiapa yang mati meninggalkan hutang, sedangkan ia berniat akan membayarnya, maka saya yang akan mengurusnya, dan barangsiapa yang mati, sedangkan ia tidak berniat akan membayarnya, maka pembayarannya akan diambil dari kebaikannya, kerana di waktu itu tidak ada emas dan perak.” (HR. Thabrani dalam al-Kabir dan dishahihkan oleh al-Albani dalam Ahkam al-Janaiz hl. 5). Beberapa hadits tersebu mengandung ancaman keras meremehkan urusan hutang.

Sedangkan pada dasarnya berhaji itu wajib atas orang yang mampu berdasarkan firman Allah Ta’ala,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah” (QS. Ali Imran: 97)

Makna istitha’ah adalah kemampuan untuk ke sana. Maka siapa yang mendapati jalan melaksanakan haji dan tidak ada yang menghalangi –seperti kerana jauhnya jarak, kondisi lemah, ancaman musuh, sedikitnya air atau perbekalan di perjalanan, lemah melakukan perjalanan-, maka dia wajib melaksanakan haji.  Sedangkan siapa yang merasa tidak mampu dengan sebab-sebab di atas atau sebab lainnya seperti tidak memiliki  nafkah yang cukup untuk keluarga yang ditinggalkan atau tidak ada mahram bagi wanita, maka terkategori sebagai orang tidak mampu.

Dari ulasan di atas, pada dasarnya seorang muslim seharusnya menyelesaikan hutangnya sebelum berangkat haji.

Terdapat beberapa kriteria dampak hutang terhadap kewajibkan haji, sebagai berikut:

Pertama, hutangnya yang harus segera dibayarkan, sedangkan pada saat itu dia tidak memiliki harta yang cukup untuk membayar hutang dan berangkat haji. Maka dia harus mendahulukan hutangnya daripada haji. Kerana sangkutan dengan hamba lebih dikedepankan daripada sangkutan Allah Ta’ala.

Kedua, hutang dengan cara angsuran beberapa tahun, maka tidak menghalangi pergi haji. Misalnya, orang membeli rumah secara kredit dengan jangka waktu sepuluh tahun, dia membayar setiap bulannya sekian. Maka hutang semacam ini tidak mempengaruhi kewajiban melaksanakan haji.

Ketiga, jika ada seseorang yang membiayai hajinya dan menanggung nafkah keluarganya, maka tidak mengapa melaksanakan haji walaupun punya banyak hutang

Keempat, Jika orang yang berhutang minta izin kepada orang yang menghutanginya lalu dia mengizinkannya pergi haji, maka tidak mengapa dia melaksanakan ibadah haji. Dan makna izinnya adalah menerima permintaan penangguhan hutang walaupun tanggungan hutang masih membebaninya. Dan jika meninggal dalam kondisi ini maka dia dalam bahaya yang besar sebagaimana telah disebutkan dalam beberapa hadits di ata.

Kesimpulannya, jika hutang menuntut segera di bayarkan maka dia terkategori sebagai orang yang tidak mampu melaksanakan haji dan dia wajib segera melunasi hutangnya. Adapun jika hutangnya ditangguhkan, maka boleh baginya untuk berhaji walaupun melepaskan diri dari segala tanggungan itu jauh lebih baik dan utama.

(esqiel/muslimahzone)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s